'Seperti angin, hadirmu mungkin tak akan lagi sanggup kusaksikan dengan sepasang netra ini. Namun, tetap saja kau ada ... kau nyata ... kau bukanlah sekedar mimpi atau pun ilusi. Kau angin, yang membawa seluruh luka di hati ini pergi. Seperti senja sore itu, hadirmu begitu singkat lenyap digantikan gelap yang membelenggu. Kau indah ... terlalu indah untuk kumiliki sendirian. Kau adalah senja yang senantiasa hadir dalam setiap luka pada tetes air mata juga gelak tawa bahagia. Kau suguhan swargaloka pada sepasang mata tajam sehitam jelaga itu untukku. Tanpa sepatah kata, tanpa canda tawa kau lenyap dalam pergantian waktu. Pada malam kelam yang panjang, sosok hangat pelukmu akan senantiasa kurindu. Senantiasa menemani diri ini dalam tangis pilu. Pada senja yang sebentar lagi lenyap digan

