"Kenapa kau membunuhku?" Tiga kata dari Pram itu menohok kerongkongan Bara. Belum sempat ia tersadar dari keterkejutannya melihat Pram yang kini berada tepat di depannya, pertanyaan dari pria itu semakin membuat kerutan di dahinya bertambah jelas. Bara masih terkesiap menatap Pram dalam jarak sedekat ini, tetapi dengan gerakan mendadak Pram mendorong Bara hingga kembali tergeletak di atas sofa. Pria itu menindih Bara sambil mencengkeram kerah kemeja Bara yang sudah kusut sejak semalam. Sepasang mata Pram menajam, dan Bara bisa merasakan kemarahan Pram yang memuncak. "Ap-apa maksudmu? Siapa yang membunuh siapa?" balas Bara masih kebingungan. Emosi Pram semakin memuncak kala pertanyaannya justru dibalas dengan pertanyaan balik oleh Bara. Namun, pria itu justru tertawa sinis sebelum kemud

