Tigapuluh satu : White Horse

1256 Kata

Berkat posisi Bara yang menjabat sebagai manager umum, kini Pram sudah duduk di depan monitor ruang kamera pengawas. Hanya menyisakan dirinya dan Bara di ruangan yang gelap tersebut. Bara menghela napas sambil merentangkan kedua tangannya ke atas, meregangkan punggungnya yang terasa pegal. Pria itu melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan. Kemudian beralih menatap Pram yang masih serius menatap tayangan manusia yang berlalu-lalang di dalam monitor tersebut. "Kau ingin yang dingin atau panas?" tanya Bara tak juga membuat Pram berpaling. "Dingin. Aku agak mengantuk," balas Pram seperlunya. "Tentu saja. Kau 'kan tidak pernah tidur." Bara mengangguk sambil berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas agar terlihat rapi, karena penampilan adalah yang utama. Tentu saja sebab diusiany

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN