Jinora melepas helmnya dan menghembuskan napas lega, setelah berjalan mengendarai motor selama 30 menit bersama Arjuna akhirnya ia sampai ke rumah Irina. Ia langsung menaruh helmnya di atas kaca spion, lalu pergi duluan meninggalkan Arjuna yang sedang memarkirkan motornya.
Suara alunan gitar terdengar di indra pendengaran Jinora, Jinora mengeryitkan dahinya lalu berjalan perlahan mengikuti alunan music tersebut. Jinora penasaran dengan seseorang yang sedang menyanyikan lagu dari grup band kesukaannya itu dengan alunan nada gitar yang menurutnya terlihat terlihat lumayan mahir, karena setaunya semua sahabat tidak bisa memainkan gitar dan lagi Irina adalah anak tunggal yang selalu di tinggal pergi keluar kota oleh keluarganya.
“Payphone versi acoustic? Lumayan juga” Batin Jinora dalam hati sambil tersenyum dan menikmati alunan nada gitar yang selaras dengan suara berat seseorang.
“Apa ada orang lain yah?” Guman Jinora sendiri lalu membuka pintu perlahan dan mengintip dari luar.
Mata Jinora langsung membesar saat melihat ternyata seseorang yang memainkan gitar itu adalah Raziel. Di sana kedua sahabatnya berkumpul menikmati alunan music yang Raziel mainkan, bahkan Davin yang biasanya benci suara berisik malah ikut menikmatinya sambil belajar. Jinora mengerjapkan matanya berkali kali, Raziel memang selalu bisa membuat Jinora tercengang.
“ I'm at a payphone trying to call home, All of my change I spent on you..”
“Where have the times gone, baby it's all wrong”
“Bagus banget suara lu Jiel” Puji Irina yang terlihat sangat mengagumi sosok Raziel.
Jinora memperhatikan Raziel dari balik pintu, ia perlahan mulai menikmati pergabungan suara Raziel dengan nada-nada gitar yang di petik dari tangan Raziel. Sedangkan Raziel di sana terlihat sangat menikmati music yang ia buat saat ini. Saat Jinora sedang asik mengamati Raziel dari jauh, Arjuna menarik hoodie-nya hingga membuat Jinora berteriak.
“ Where are the plans we made for tw-“
“EH? Apaan sih?!!” Teriak Jinora kesal kepada Arjuna yang membuat semua orang memperhatikan mereka, terutama Raziel yang menghentikan permainan musiknya.
“Lagian asik bener ngintip, kek mau maling aja lu” Ledek Arjuna yang membuat pipi Jinora memanas, Arjuna yang sadar Jinora malu pun langsung mengusap-usap kepalanya.
Jinora semakin jengkel, mengapa Arjuna mengatakannya dengan frontal sekali sih? Mau di taruh mana muka Jinora nanti kalau Raziel menyadarinya?
“Bi-BISA DIEM GAK!” Pekik Jinora kesal sambil mendorong-dorong badan Arjuna yang kini menghalangi jalan masuknya, namun sayang badan Arjuna lebih besar darinya. Sedangkan Arjuna malah semakin mengerjai Jinora agar gadis itu semakin kesal.
Raziel memandangi mereka berdua dengan datar, walau sebenarnya terganggu melihat kedua sahabat itu begitu dekat. Arjuna yang sadar Raziel cemburu pun tersenyum sombong ke arahnya, membuat Raziel semakin jengkel dan membuang muka.
BUGH.. Satu pukulan melayang ke ulu hati Arjuna, membuat wajah pria itu memerah bahkan ia tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Arjuna pun memegang perutnya sambil berlutut di tepat Jinora, sedangkan Jinora setelah memukulnya malah melewatinya begitu saja seperti tidak terjadi apa apa lalu duduk di samping Raziel.
“Lu gak papa na?” Tanya Eliza yang langsung menghampiri Arjuna khawatir, Arjuna hanya membalas dengan anggukan dan membentuk tanda ‘ok’ di tangannya
“Mampus kan, karma sih ngeledekin gue” Batin Raziel sambil tersenyum dan memperhatikan Jinora yang ada di sampingnya, Jinora yang sadar malah membalas tatapannya dengan tatapan membunuh.
“Kenapa? Lu mau juga?” Tanya Jinora dingin yang membuat Raziel langsung mengeleng dan kembali mempermainkan gitarnya dengan nada asal.
“Lama lama gak punya pacar seumur hidup lu ji” Celetuk Irina sambil mengeleng-geleng kepalanya dan kembali memandangi Raziel. Jinora hanya diam tidak peduli dengan perkataan Irina.
Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Arjuna mampu membangkitkan dirinya lalu duduk di samping Jinora. Rasa sakitnya tidak seberapa dengan hal-hal yang dulu Jinora pernah lakukan, gadis itu memang ekstrem dan tidak terduga. Jangan heran kalau suatu hari nanti ada seorang lelaki yang mengaku sebagai korban kemarahan tangan Jinora.
Karena hal seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari Arjuna, terutama terutama untuk Davin. Karena terkadang kalau mereka sedang bertengkar lagi dan Jinora malas berdebat dengannya, Jinora akan membalas perkataannya dengan tangannya. Walau begitu gadis itu tidak pernah menghajar perempuan dan orang yang lebih lemah, ia pasti melakukannya atas sesuatu hal yang orang tersebut lakukan terlebih dahulu kepadanya.
“Masih sakit?” Tanya Jinora kepada Arjuna yang duduk di sampingnya.
“Gak gapapa elah, gue kan udah kaya samsak lu” Jawab Arjuna setengah bercanda.
“Lu ngomong gitu seakan-akan gue suka nyiksa orang aja”
“Yah kan emang” Balas Arjuna singkat, tanpa sadar perutnya kembali di pukul pelan oleh Jinora hingga ia meringis kembali.
Raziel hanya menatapi kedua sahabat itu bercanda dengan perasaan cemburu, tiba-tiba ide cemerlang muncul untuk menganggu mereka. Raziel memasukan gitarnya kembali ke dalam tasnya, lalu bangun mendekati piano besar di depannya.
“Katanya Jinora jago main piano, emang iya?” Tanya Raziel yang membuat Jinora langsung mengalihkan pandangannya ke Raziel.
“Eh iya tuh ra, udah lama aku gak liat kamu main piano” Tambah Eliza yang ikut berbicara, membuat yang lain mengangguk.
“Gak ah, gue terakhir main piano udah lama banget. Udah lupa not-notnya gue” Tolak Jinora yang sebenarnya memang sedang tidak mood bernyanyi atau malah melakukan apapun.
“Apaan, orang lu terakhir pas perpisahan SMP yah! Itu baru 2 tahun yang lalu” Ucap Irina yang di tambah anggukan semangat oleh yang lain, hal iytu membuat Jinora semakin tidak bisa berkelit lagi.
“Ayo Ra, gue pengen liat lu nyanyi nih” Tambah Arjuna yang ikut-ikutan meminta Jinora bernyanyi, Jinora mengeleng tanda tidak ingin. Semua orang di sana semakin meminta Jinora memainkan Piano, tetapi tetap saja gadis itu tidak mau.
“Atau jangan-jangan lu sebenernya gak bisa yah? Masa kalah sama gue yang modelan begini bisa main gitar” Tanya Raziel yang sengaja membuat Jinora panas. Suasana hening dengan orang-orang yang menatap Jinora penih harap, Jinora menghembuskan napasnya lalu mendekat kearah Raziel.
“Minggir.. sini gue coba” Ucap Jinora singkat yang membuat Raziel tersenyum lalu kembali duduk ke sofa. Semua orang langsung fokus kepada Jinora.
Jinora menarik napasnya panjang lalu dengan perlahan ia menekan beberapa not di sana sebagai pemanasan. Suara nada lagu All Of Me pun memenuhi ruangan, tak lama suara alunan piano itu di tambah oleh suara merdu yang keluar dari mulut Jinora.
“What would I do without your smart mouth?”
“Drawing me in, and you kicking me out”
Semua orang terdiam dan menikmati suara dan alunan piano dari Jinora, bahkan tanpa di sadari Davin ikut menikmati itu. Apalagi Arjuna yang langsung memandangi gadis itu penuh kagum sambil tersenyum lebar, sedangkan Raziel hanya terdiam dengan senyuman manisnya melihat Jinora. Memang.. Raziel tidak salah memperjuangkan gadis ini.
“You've got my head spinning, No kidding…”
“I can't pin you down”
Lantunan lagu keluar kembali dari mulut dan gerakan tangan Jinora yang piawai memainkan alat music tersebut. Jinora memang sangat malas sampai hampir rasanya ingin membencinya, tetapi bagaimana pun Jinora tidak pernah bisa terlepas dengan hobinya dan bakatnya saat masa kecil itu. Tapi kalau di pikirkan, Jinora agak sedikit merindukan hal seperti ini.
“What's going on in that beautiful mind”
“I'm on your magical mystery ride”
“And I'm so dizzy, Don't know what hit me”
“But I'll be alright”
Tanpa Jinora sadari, kedua orang yang menyukainya itu semakin menyukai gadis itu. Arjuna mengalihkan pandanganya kearah Raziel yang menatap Jinora penuh kagum, ia menghembuskan napas kasar lalu tersenyum perlahan.
“Mungkin udah saatnya gue ngelepas lu yah ra” Batin Arjuna sambil menatap Raziel dan Jinora bergantian dan tersenyum. Mungkin memang sudah saatnya Arjuna melepaskan Jinora bukan?, Arjuna menghembuskan napas dan kembali menatap Jinora.
Malam itu di penuhi kebahagiaan, kebersamaan, dan rasa pelepasan. Ini adalah malam yang tidak terlupakan, terutama untuk Jinora sendiri. Karena entah kenapa Jinora merasa mala, ini tidak akan terulang kembali selamanya. Ia merasa sesuatu hal yang buruk nanti akan datang dan menghancurkan segalanya, entahlah.. mungkin Jinora terlalu berlebihan.