Bagian 18 - Rahasia dalam Persahabatan

1416 Kata
   Jinora merapihkan barang-barangnya lalu memasukannya ke tas, setelah semuanya siap ia menghembuskan napas panjang lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia menyalahkan air shower nya ke hangat, lalu mulai membiarkan dirinya masuk ke dalam ketenangan. Ia sangat bingung sekarang dan mulai sadar kalau ia mulai menyukai Raziel.      Mungkin hal ini bagi beberapa orang adalah hal yang tidak penting untuk di pikirkan. Tapi berbeda dengan Jinora, gadis itu kini mulai sangat berhati – hati dalam memberi perasaan kepada seseorang, dan entah kenapa ada suatu firasat yang mengatakan bahwa ia seharusnya tidak menyukai Raziel.      Kepalanya pun di penuhi pertanyaan, bagaimana kalau Raziel selama ini hanya berniat menjailinya? bagaimana kalau semua ini hanya Jinora yang merasakannya sendiri? Bagaimana kalau saat ia memberikan hatinya, ia malah akan sakit kembali? Entahlah mungkin Jinora hanya mempunya pikiran rumit, tapi firasatnya tidak pernah salah.       Selain masalah percintaan, Jinora juga memikirkan tawaran untuk pindah ke Jerman. Ibunya dan Kakaknya pasti sebentar lagi kembali pulang ke Bekasi, dan sudah sangat pasti mereka akan menanyakan hal itu. Di satu sisi kebencian Jinora terhadap Ayahnya dan keluarga barunya sangat besar. Tapi di sisi lain sebenarnya itu peluang yang bagus untuk masa depan, dan sudah sangat pasti Ibu dan Kakaknya berpikir jalan itu yang terbaik.     Jinora memutar kerannya lalu memakai baju mandinya, kemudian gadis itu mengambil pakaian biasa dan memakainya. Ia hanya memakai celana jeans dan memakai kaus lalu menimpalinya dengan hoodie berwarna abu-abu. Seperti biasa gadis itu tidak suka suatu hal yang rumit, ia lebih suka memakai suatu hal yang nyaman ketimbang suatu hal yang membuatnya menarik namun meribetkan.   TIN.. TIN.. Suara Klakson motor membuat Jinora kaget, dengan cepat ia langsung membuka jendela untuk melihat siapa yang datang. Namun perasaan senang dan mendebarkannya hilang saat melihat seseorang yang datang bukanlah orang yang ia harapkan.   “Apa sih gue masa berharap Raziel, udah gila kali yah?” Guman Jinora sendiri sambil mengacak – acak rambutnya sendiri, ia kembali menutup jendela lagi kemudian kembali mempersiapkan diri.   “Neng Nora.. Ada mas Juna dating neng” Teriak Bi Asih dari bawah, Jinora yang mendengar itu mempercepat tangannya mengambil barang-barang yang ia perlukan untuk menginap di rumah Irina.   “Bi tolong bilang Juna tunggu sebentar” Balas Jinora lalu mengambil tasnya dan berjalan cepat ke lantai bawah. Saat ia sampai di bawah, di sana terlihat Arjuna sedang duduk di sofa sambil memainkan handphonenya. Arjuna sadar Jinora sudah turun langsung menyapanya dengan senyuman hangat.   “Hai! Gue pikir nanti gue naik ojek sendirian hehe” Sapa Jinora yang mendekat ke arah Arjuna lalu duduk di sampingnya.   “Berarti lu bayar gue yah ra?” Kata Arjuna sambil tersenyum kecil dan memasukan kembali handphone-nya ke saku celananya.   “Gak dong kan lu ojek gratisan gw” Ucap Jinora sambil tersenyum lebar menampilkan gigi-giginya yang putih, Arjuna langsung mengacak-acak rambutnya gemas.   “Oke, mau jalan sekarang neng?” Tanya Arjuna dengan dialek seperti tukang ojek, Jinora tersenyum dan mengangguk, kemudia keduanya bangkit dari sofa dan berjalan keluar rumah tersebut.   “Bi Nora pamit yah! Nora mau nginep di rumah Irina” Pamit Jinora sambil berteriak di depan pintu masuk rumahnya.   “Bi! Juna juga ijin pamit yah” Tambah Arjuna yang ikut pamit dari depan rumah lalu berjalan keluar terlebih dahulu daripada Jinora yang masih mengikat tali sepatunya.        Arjuna langsung menyalahkan motornya kemudia memanaskannya terlebih dahulu. Jinora melihatnya kagum, karena memang jarang sekali seorang Arjuna memakai motornya, kecuali untuk hal-hal yang penting. Karena Arjuna tidak suka membuang-buang uang dan menambah polusi di dunia, ia lebih suka menaiki sepedanya, jalan kaki atau menaiki kendaraan umum.   “Tumben banget pakai motor. Ciee kaya mau ngedate aja” Ledek Jinora sambil menyengol perut Arjuna dengan sikutnya.   “Pengen aja gitu, dah cepet naik” Jawab Arjuna singkat sambil menyuruh Jinora naik, Jinora hanya tersenyum iseng lalu menaiki motornya.   “Wih gila, baru sadar gue lu juga rapih banget kaya mau kondangan” Ucap Jinora yang masih iseng meledeki Arjuna. Ia tidak tau saja Arjuna sudah malu di buatnya, karena sejujurnya ia memang sengaja memakai pakaian rapih karena takut kalah dari Raziel.   “Terus lu harum banget masa kaya abis mandi parfum” Tambah Jinora yang semakin membuat Arjuna malu.   Arjuna yang sedikit tanpa aba-aba langsung menjalankan motornya dengan mengebut,    “EHH GILA LU JUN! GAK GUE KASIH BINTANG YAH!” Teriak Jinora kaget dan langsung memeluk Arjuna erat, Arjuna yang di peluk tersenyum lebar dan terus mempercepat kecepatan motor.    “SUMPAH YAH! GUE TABOK LU YAH!” Ancam Jinora yang masih menutup matanya sambil memeluk Arjuna erat.       Arjuna tidak memperdulikan itu dan masih menjalankan motornya dengan cepat, Jinora yang sadar di hiraukan mulai memukuli dan mencubiti Arjuna dari belakang membuat Arjuna meringis lalu akhirnya memperlambat laju motornya.   “Sakit Jin! Aw!”   “BERHENTI NGEBUT GAK! BER- eh? Kok kita ke sini?” Omelan Jinora berhenti saat Arjuna mengambil jalur lewat kanal yang di depannya mengarah laut, sudah lama Jinora tidak ke sini.   “Yah gapapa, gue pikir lebih cepet lewat sini kalo jalan besar pasti macet” Jawab Arjuna yang sebenarnya melewati tempat itu agar memperlambat waktu untuk bisa terus bersama Jinora.   “Heleh bilang aja lu mau lama-lama kan sama gue?” Celetuk Jinora asal yang sebenarnya tepat sasaran dan hal itu membuat Arjuna sedikit kaget.   “Dih, gue lewat sini tuh biar kaya gini nih” Arjuna melepas kedua tangannya dari pegangan motornya sambil tertawa usil, tentu saja hal itu membuat Jinora memekik kaget.   “Gila kali lu! Yang bener ah!” Omel Jinora sambil menarik tangan Arjuna kembali tapi sang pemilik tangan terus mencoba meloloskan diri, sampai akhirnya Arjuna menyerah karena Lelah dan benar-benar takut kalau ia kehilangan keseimbangan.   “Tapi yah jun, gue udah jarang banget sih liat lu gini” Kata Jinora yang membuat Arjuna menatapnya bingung sambil tersenyum lewat kaca spion.   “Apanya yang jarang?”   “Ya.. Lu udah jarang banget bercanda kaya gini, akhir-akhir ini lu keliatan serius banget gak bisa di ganggu. Apalagi kalau ada Raziel, pasti lu langsung ngehindari gue gitu” Ucap Jinora mengungkapkan pemikirannya selama ini kepada Arjuna, Arjuna yang mendengarnya langsung tertegun dan terdiam.   “Apa gue keliatan banget yah?” Batin Arjuna sambil masih menatap jalan dan hanya mendengarkan Jinora tanpa berniat membalasnya.   “Lu sebenernya kenapa sih?” Tanya Jinora yang menatap Arjuna lewat kaca spion yang terlihat sedang fokus menyetir motornya.   “Gue cemburu sama lu dan Raziel” Jawab Arjuna dalam hatinya dan masih mencoba memfokuskan diri untuk menyetir.   “Oh gue tau! Lu suka yah sama seseorang?!” Setelah mendengar ucapan Jinora, Arjuna langsung mengerem motornya mendadak. Untung saja saat itu jalanan sepi jadi mereka tidak apa apa.   “ISH LU MAH YANG BENER AH!” Omel Jinora sambil memukul punggung Arjuna. Tanpa menjawab, Arjuna langsung kembali menjalankan motornya.   “Kalo liat reaksi lu tadi berarti bener nih! Siapa nih Jun? Cerita cerita dong” Kata Jinora penasaran sambil menusuk-nusuk pundak Arjuna dengan jarinya.         Tanpa sadar Arjuna langsung menghembuskan napas kasar. “Bodoh sekali.. tadi aku hampir mengira Jinora mengetahuinya” Batin Arjuna dalam diam.   “Dih di kacangin! Siapa sih? Irina? Melody? Kaka kelas? Adek kelas? Alumni?” Tanya Jinora yang semakin penasaran tapi terus di hiraukan oleh Arjuna.   “Orangnya itu lu bodoh.. Olive Roselyn Jinora adalah orang yang gue suka hampir 8 tahun” Jawab Arjuna dalam hatinya. Daripada mengungkapkan isi hatinya, Arjuna malah  memilih berbalik bertanya kepada Jinora.   “Lu sendiri gimana? Gue liat lu juga kaya banyak pikiran gitu” Tanya Arjuna balik tanpa menatap Jinora balik. Jinora tertegun lalu menundukan kepalanya, memang Arjuna akan selalu tau apapun yang gadis itu sembunyikan.   “Nanti.. kalau gue udah siap gue kasih tau” Ucap Jinora dengan nada yang berubah jadi mengecil, Arjuna hanya tersenyum hangat dan menatap gadis itu lewat kaca spionnya.     Memang benar seperti kata Jinora kalau ia sedang menjauhinya dan mencoba berhenti menyukainya, karena ia sadar kalau Jinora tidak akan pernah bersama dan lagi ia tau kalau gadis itu mulai menyukai Raziel. Walau Arjuna menjauhinya, ia selalu mengamati dan memperhatikan Jinora. Dan tentu saja waktu 8 tahun mereka bersahabat membuat Arjuna menjadi sangat tau apa saja tentang Jinora.      Ia sangat tau kalau Jinora sedang sedih, Bahagia, menyimpan rahasia, bahkan jatuh cinta. Ia juga tau kalau dulu Jinora pernah menyukai Davin, oleh karena itu Arjuna mendaftar menjadi osis tahun lalu agar tidak kalah dari Davin. Bahkan ia tau kalau dulu Jinora pernah menyukainya, tapi waktu itu ia masih kecil dan takut kalau ia menyatakan perasaannya malah menghancurkan semuanya jadi ia memilih memendamnya dan menjalani semuanya seperti biasa dan berharap perasaan itu akan menghilang. Tapi tidak, perasaan itu tetap ada bersamaan dengan perasaan pengecutnya yang takut kehilangan semuanya.     “Kalau gitu gue bakal ungkapinnya nanti pas lu cerita juga” Kata Arjuna sambil tersenyum, Jinora menatap punggungnya lalu mengacungkan jari kelingkingnya ke wajah Arjuna.   “Janji?” tanya Jinora sambil mengoyang-goyangkan kelingkingnya di wajah Arjuna.   “Janji” Jawab Arjuna lalu mengigit jari Jinora hingga membuat Jinora meringis kesakitan   “KOK DI GIGIT SIH? JOROK BANGET” Omel Jinora sambil membersihkan kelingkingnya ke baju Arjuna. Arjuna hanya tertawa karena mengerjai Jinora padahal dalam hatinya ia bingung.   “Ya.. saat itu gue bakal ungkap semuanya ra.. dan gue berharap lu gak akan pernah menjauh dari gu   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN