Bekasi, 4 Desember 2015
Jinora menutupi mulutnya yang tidak berhenti menguap karena kantuk tak tertahankan, apalagi sekarang mata pelajaran Sejarah Wajib yang sangat membosankan. Tapi Jinora hanya bisa bersabar, toh sebentar lagi waktu pulang. Jinora menatap sekelilingnya untuk mengurangi rasa kantuk, rata rata semua anak sudah pada terlelap dalam dunia mimpi karena penjelasan guru sejarah yang seperti mendongeng. Bahkan Irina juga sudah tertidur di belakang, berbeda dengan Arjuna yang masih fokus dengan penerangan guru.
Senyuman kecil mulai terlukis di wajah Jinora saat melihat teman sebangkunya ternyata sudah terkantuk-kantuk sambil terus mencoba menyalin semua penjelasan guru. Raziel memang sudah berubah akhir-akhir ini, ia sekarang tidak pernah membuat ulah dan menjadi siswa teladan. Raziel memegang janjinya dengan sangat baik, walau ia masih sedikit membiaskan hal itu tetapi ia sangat berusaha keras. Lihat saja sekarang bagaimana dirinya yang terkantuk-kantuk mendengarkan guru, padahal biasanya ia sudah tidur atau malah bolos.
“Baik anak-anak, kita akhiri pertemuan kita hari ini. Jangan lupa belajar lagi di rumah, karena senin nanti kalian mulai UAS semester 1”
Jinora kembali memfokuskan dirinya ke guru tersebut sambil mengangguk-angguk, berbanding terbalik dengan Raziel yang malah terjatuh dari pangkuan tangannya karena tidak kuat menahan kantuk. Setelah guru tersebut meminta semua anak berdoa lalu pergi, semua murid berteriak kegirangan dan berhamburan keluar kelas.
“AKHIRRNYA!!” Teriak Irina yang akhirnya terbangun dan sadar bahwa guru tersebut sudah pergi.
“Akhirnya apaan, orang lu tidur mulu dari tadi” Ejek Arjuna yang membereskan buku-bukunya di meja, Jinora ikut tersenyum melihat tingkah mereka.
“Jiel.. Bangun..” Ucap Jinora sambil mengoyangkan punggung Raziel pelan, membuat Raziel perlahan membuka matanya.
“KITA MAIN YUK!” Teriak Irina tiba-tiba yang sontak membuat seluruh orang yang di kelas kaget, termasuk Raziel yang akhirnya bisa membuka mata sepenuhnya.
“Gila sih, itu mulut atau toa?” Sarkas Jinora setengah meledek sambil menutupi telinganya yang sakit mendengar teriakan Irina, Irina hanya tersenyum lebar mendengarnya.
“Lu juga padahal suaranya gede banget, ngelebihin toa malah” Celetuk Raziel yang sudah tersadar sepenuhnya, orang itu selalu saja senang meledeki Jinora.
“Gue gak ikut yah! Mau belajar” Tolak Davin yang mendekati mereka bersama Eliza, Jinora berdecih sambil memutar bola matanya.
“Siapa yang ngajak lu?” Sarkas Jinora kepada Davin yang hanya di tatap datar oleh pria dingin tersebut. Seperti biasa, mereka memang selalu seperti Tom and Jerry.
“Oh gitu? Gue juga ‘gak mau ngebuang waktu berharga gue buat hal gak jelas’, apalagi ada lu” Balas Davin dengan memberi penekanan di setiap katanya, Jinora menatapnya sinis dengan kesal.
“Yaudah kan gue bilang, GAK ADA YANG NGAJAK LU!” Teriak Jinora dan menekan semua kata di perkataannya sambil menunjuk-nunjuk Davin, yang di perlakukan seperti itu hanya tersenyum sinis kepada Jinora.
“Eh udah-udah gak papa! Gue juga mau ajak Raziel, lagian kita sekalian belajar gitu maksudnya” Lerai Irina yang sekaligus melancarkan jalannya untuk mendekati Raziel, Orang yang di bahas malah tidak peduli dan sibuk memberesi barang-barangnya.
“Dih kok ngajak dia? Gue gak mau ah! Lagian emang dia mau?” Protes Arjuna yang masih saja tidak suka dengan Raziel.
“Lah? Emang gue bilang gak mau? Kalo ada Jinora mah gue mau aja” Kata Raziel santai dan akhirnya menimbrung mereka.
“Dih?! SKSD banget lu!” Ucap Arjuna sinis tidak suka, tetapi Raziel tidak peduli dan malah semakin dekat dengan Jinora bahkan merangkulnya. Ia sengaja membuat Arjuna semakin kesal, dan hal itu berhasil.
“Apasih Jun, sensi amat! Orang gue yang ngajak” Ucap Irina membela Raziel membuat Arjuna semakin kesal kepada orang itu.
“Yaudah gue gak usah ikut, gue juga mau belajar” Kata Arjuna yang sehabis itu langsung berjalan pergi meninggalkan mereka.
“Bagus lah, kalo gitu gak bakal ada yang gangguin gue sama Jinora lagi” Celetuk Raziel yang membuat Arjuna berhenti dan kembali lagi.
“Gak jadi, gue ikut” Ucap Arjuna singkat dengan wajah kesal, hal itu membuat hampir semua orang (kecuali Raziel dan Davin tentunya) tertawa kecil akan sikap Arjuna.
“Dasar Bucin! Yaudah nanti jam 5 kumpul, yang cewek nginep aja udah” Kata Irina yang di balas anggukan oleh mereka semua.
“Kamu ikut Dav?” Tanya Eliza kepada Davin yang membuat semua orang diam melihat kearah mereka.
“Yah kalo kalian belajar juga, gue ikut. Asal belajar juga” Ucap Davin singkat yang membuat hampir semua orang, terutama Arjuna dan Eliza tersenyum lebar.
“Belajar mulu hidupnya, dasar robot” Celetuk Jinora yang hampir memulai pertengkaran mereka lagi, namun untung saja di pisahkan terlebih dahulu oleh Eliza.
“Jin..” Intrupsi Eliza membuat Jinora diam dan Davin tersenyum penuh kemenangan.
Semuanya tertawa dan membahas rencana mereka ke rumah Irina, rencananya mereka akan bakar-bakaran dan bersenang-senang sebelum ulangan akhir semester. Sedangkan Davin tetap mengotot untuk tetap ada sesi pembelajaran dan di turuti oleh mereka semua, seorang Davin memang tidak bisa di pisahkan oleh buku dan pelajaran. Sedangkan para perempuan nanti akan menginap sambil bergossip semalaman.
Setelah semuanya selesai mereka memisahkan diri untuk pulang dan mengambil barang-barang yang di perlukan. Seperti biasa Eliza dan Davin pulang duluan yang menyisakan Arjuna, Irina, Jinora, dan Raziel.
“Mau balik sama gue gak? Gue bawa sepeda lagi nih” Ajak Arjuna kepada Jinora yang di balas senyuman oleh gadis tersebut.
“Serius? Mau lah gila! Ulululu, sayang Arjuna” Ucap Jinora menerima ajakan Arjuna sambil memeluknya singkat, tanpa Jinora tau hal tersebut membuat Arjuna hampir terkena serangan jantung dan tentu saja membuat orang di sampingnya cemburu.
“Jiell.. Tolong anterin gue dong” Pinta Irina yang tiba-tiba ada di samping Raziel, Raziel memutar bola matanya malas.
“Lu siapa gue? Gue bukan supir lu” Tolak Raziel dengan dingin yang bahkan tidak menatap Eliza, yang membuat gadis itu langsung membatalkan rencananya untuk pendekatan dengan Raziel.
“O-oke..” Lirih Irina yang sedih. Untuk pertama kalinya gadis itu merasa ingin menyerah mendapatkan cowok, melihat sikap Raziel yang sebegitunya kepada Jinora dan sikap Raziel yang seperti membencinya membuat ia semakin yakin tidak dapat mendapatkan Raziel.
“Udahlah na, cowok kaya gitu mah di kasih hati minta jantung” Celetuk Arjuna yang membuat Raziel semakin kesal kepada pria itu, apalagi ia sedang terbakar api cemburu.
“Maksud lu apa sih dari tadi ngajak ribut?!” Teriak Raziel kesal dengan wajah merah sambil memukul meja dengan keras, hal itu membuat Jinora dan Irina kaget seketika.
“YA! AYOK SINI!” Balas Arjuna yang menantang Raziel dan mendekatinya. Sebelum pertengkaran itu di mulai, Jinora segera melerai mereka.
“UDAH! UDAH! KAYA BOCAH TAU GAK?” Teriak Jinora yang melerai mereka dan membuat mereka menghentikan aksinya. Raziel menghembuskan napas kasar, Jinora yang mengetahui hal itu mendekati Raziel perlahan.
“Jiel.. Lu temen gue kan?” Tanya Jinora perlahan dan mendekati Raziel, Raziel membalasnya dengan anggukan.
“Nah, kalo lu udah jadi temen gue itu artinya lu temennya sahabat-sahabat gue juga” Kata Jinora selembut mungkin agar tidak memancing emosi Raziel. Entah ada apa dengan pria itu yang tiba-tiba kesal, padahal tadi baik baik saja.
“Gue gak mau temenan sama si Pendek” Tolak Raziel dengan nada yang seperti anak kecil. Jinora semakin gemas di buatnya, padahal dulu ia sangat membenci pria di depannya ini. Tapi sikap Raziel akhir-akhir inilah membuat Jinora merubah pandangannya terhadap Raziel, dan sadar kalau lelaki itu sebenarnya baik dan mungkin sedikit mengemaskan.
“SAPA JUGA YANG MAU TEMENAN SAMA LU?!” Teriak Arjuna di belakang yang mendengar percakapan Raziel dan Jinora.
“Tuh kan ra liat sendiri, dia yang nyari ribut dari tadi” Kata Raziel yang lebih mirip mengadu kepada Jinora seperti anak yang mengadu ke ibunya.
“Gak papa, dia mah emang gitu. Awalnya galak kaya anjing liar tapi aslinya baik banget kaya anak anjing” Ucap Jinora yang sengaja memperbesar suaranya agar Arjuna mendengarnya.
“Kok Anjing sih ra!” Ucap Arjuna tidak setuju di bandingkan dengan Anjing, Jinora hanya tertawa saja melihatnya.
“Yodah gue ikutin permintaan lu” Kata Raziel yang akhirnya setuju sambil mengelus kepala Jinora pelan, senyuman lebar langsung terlukis di wajah Jinora setelah mendengar itu. Sedang Arjuna menatap mereka dengan perasaan cemburu dan langsung memisahkan mereka.
“Dah yuk Ra balik! Nanti kelamaan kita beli barang-barangnya! Lagian gak guna ngobrol ama orang gak berguna” Ajak Arjuna yang menarik tangan Jinora untuk lebih dekat dengannya.
“Dih gue juga mau balik kali, dadah anjing” Ucap Raziel yang meledek Arjuna sambil berjalan keluar dari kelas namun saat badannya sudah keluar kelas, ia kembali lagi.
“Mau ngapain lagi sih?!” Ucap Arjuna kesal melihat Raziel kembali, padahal tadi ia sudah senang orang itu pergi
“Dih apasih? Geer lu! Orang gue mau ajak Irina bareng” Kata Raziel sambil memberi tanda untuk mengikutinya dan Irina langsung senang lalu mengikuti Raziel lalu mereka keluar bersama.
Jinora yang melihat itu entah kenapa seperti ada perasaan kesal dan kosong di hatinya, padahal ia yang meminta Raziel tidak terlalu kasar kepada teman-temannya. Berbeda dengan Jinora, Arjuna terlihat sangat senang ketika Raziel pergi. Jinora menarik napas panjang dan membuyarkan semua perasaan dan pemikiran tidak jelasnya lalu mengajak Arjuna untuk pergi.
“Yuk Puppy ku kita pulang” Ajak Jinora setengah meledek kepada Arjuna yang membuat Arjuna mengerucutkan bibirnya kesal dan Jinora tertawa melihatnya lalu pergi duluan meninggalkannya.
“Gue bukan anjing yah ra” Protes Arjuna terhadap Jinora yang tetap tertawa melihat Arjuna yang kesal.
Setidaknya dengan tawa, ia dapat bersembunyi dari perasaan aneh yang sebelumnya menghantuinya. ia benar-benar takut kalau prasangkanya benar. Ya, prasangka kalau ia mulai menyukai Raziel dan cemburu melihat Raziel dengan Irina.