Bagian 16 - Cemburu? Janji?

1375 Kata
    Bekasi, 7 September 2015 “Hai Nor, bareng siapa? Mau bareng?”     Jinora menengok ke arah sumber suara, ia melihat Arjuna sedang menaiki sepedanya yang sudah lumayan lama Jinora tidak lihat. Jinora tersenyum memberi tanda bahwa ia menerima ajakan Arjuna, daripada ia menunggu Ojek Online atau Bus lebih baik bersama Arjuna. Arjuna yang melihat reaksi Jinora membunyikan bel sepedanya berkali kali memberi tanda agar Jinora cepat naik sambil tersenyum.   “Tumben lu bawa sepeda? lama banget gue gak liat nih sepeda” Tanya Jinora sambil mengusap-usap Sadel sepeda tersebut sebelum menaikinya.   “Bosen aja, pengen sekalian olahraga” Jawab Arjuna sambil tersenyum memperhatikan Jinora yang sedang menaiki sepeda tersebut.   “Hati-hati, pegangan! gue jalan yah!” Peringat Arjuna lalu menjalankan sepeda tersebut saat Jinora sudah menaikinya. Jinora dengan santai menuruti Arjuna dengan memegang pinggang sahabatnya itu, padahal di lain sisi jantung Arjuna rasanya mau lepas karena berdegup kencang.   “Gaya banget sampai gitu! Padahal kan yang ajarin lu naik sepeda tuh gue” Protes Jinora setengah bercanda sambil mengingat masa kecilnya bersama Arjuna.   “Yah itu waktu kecil! Dulu juga lu lebih bongsor dari gue, pas besar malah menciut jadi lebih pendek dari gue” Balas Arjuna dengan senyuman yang masih setia melekat di bibirnya.      Selama perjalanan mereka bercerita banyak hal, dari kisah masa kecil mereka sampai berita skandal artis yang heboh di internet. Memang benar kata orang, Ketika dua orang sahabat di pertemukan pasti tidak ada satupun yang bisa menghentikan mereka. Tanpa terasa mereka sudah sampai sekolah, Jinora menemani Arjuna memarkirkan sepedanya sambil bercanda-canda. Karena terlalu asik bercanda, mereka tidak sadar ada seseorang yang memerhatikan mereka sejak awal dengan tatapan tajam tidak suka.   “Tapi Jin, gue mau nanya deh serius” Ucap Arjuna berubah menjadi serius sambil kembali mendekati Jinora karena selesai memarkirkan sepedanya. Jinora seketika menghentikan tawanya dan memperhatikan Arjuna.   “Lu sekarang deket yah sama Raziel?” Tanya Arjuna yang sedikit hati hati menyembunyikan perasaan cemburunya.   “Mm.. Bisa di bilang iya sih tapi enggak juga” Jawab Jinora dengan santai dan berjalan beriringan dengan Arjuna.   “Menurut gue mendingan lu gak usah deket-deket sama dia deh” Ucap Arjuna yang membuat Jinora menghentikan langkahnya dan memperhatikan sahabatnya dengan curiga.   “Kenapa?” Tanya Jinora yang seperti mengintrogasi Arjuna, karena Arjuna yang Jinora kenal itu tidak pernah ikut campur dalam pertemanan Jinora dan ia jarang sekali tidak menyukai orang lain.   “Yaaa.. Gak papa sih, cuman kan lu tau sendiri kalo Raziel tuh anaknya gimana” Jawab Arjuna yang masih mencoba menyembunyikan tujuan utamanya agar Jinora menjauhi Raziel. Jinora menatapnya bingung.   “Lah? Emang lu tau Razielnya anaknya gimana?” Tanya Jinora lagi yang tanpa sadar terlihat membela Raziel. Tanpa mereka sadari, seseorang yang mereka sedang obrolkan sedang menguping dan mengikuti mereka.   “Gak tau sih.. Tapi kan dari cerita orang orang tuh Raziel bandel bahkan sampai di keluarin dari sekolah lamanya” Jawab Arjuna yang sedikit gugup. Sepertinya Jinora mulai curiga dengannya, semua itu terpampang jelas dengan raut wajah Jinora yang semakin serius dengan alis yang tertekuk.   “Sejak kapan seorang Arjuna Fernandes Gilang Samudra dengerin kata orang? Bukannya lu paling benci gossip yang gak tau kebenarannya gitu? Lagian yah Jun, gue sebenernya Raziel anaknya baik cuman yah gitu ketutupan sama sifat jeleknya” Terang Jinora sambil terus menatap Arjuna dalam untuk mencari tujuan utama Arjuna membahas hal ini, karena gelagat sahabatnya tidak seperti biasanya.   “Tapi Ra-“ Ucapan Arjuna terpotong saat seseorang yang sebenarnya sedari tadi bersembunyi menguping pembicaraan mereka muncul.   “Hai Teman! Apakabar?” Sapa Raziel yang melewati Arjuna begitu saja seakan-akan pria itu tidak terlihat dan hanya ada Jinora di situ.   “Apasih jel, norak tau gak!” Ucap Jinora yang sedikit geli dengan sapaan Raziel namun tawa setelah ucapannya mengartikan bahwa Jinora tidak terlalu memperdulikan sapaan Raziel.   “Kan bener kita temenan sekarang” Kata Raziel sambil tersenyum manis dan mengambil alih tempat Arjuna yang seharusnya beriringan dengan Jinora.   “Iyasih, tapi lebay banget yah. Bisa-bisa orang ngira kita pacaran lagi” Ucap Jinora yang tanpa sadar kembali berjalan, melupakan Arjuna yang masih memperhatikan mereka dengan kesal dan berakhir mengekori mereka dari belakang.   “Kan gue sapanya ‘Hai Teman’ bukan ‘Hai Pacar’, jangan jangan lu yang mau yah di kira pacarana sama gue!” Ledek Raziel dengan pede sambil menunjuk nunjuk Jinora dengan ekspresi menyebalkan.   “Dih Najis yah! Mendingan gue jomblo seumur hidup daripada sama lu” Sanggah Jinora sambil memberi penekanan di setiap katanya, Raziel hanya tertawa kecil karena ledekannya berhasil membuat gadis itu kesal.   “Tapi tumben lu masuk sekolah! Mana rapih bener! Ciee udah jadi anak rajin” Ucap Jinora yang kembali meledeki Raziel.      Benar seperti ucapan Jinora, hari ini Raziel sangat rapih seperti biasanya. Ia memakai baju sekolah dengan atribut lengkap dan membawa tas, mungkin terlihat normal jika untuk anak sekolah biasanya. Tapi tidak untuk Raziel yang biasanya ke sekolah numpang absen lalu bolos, bahkan sering sekali ia tidak membawa tas dan bolos dari pagi.   “Iya dong! Kan cowok harus tepatin janjinya!” Kata Raziel sambil bersikap sok jantan dan tersenyum sombong. Berbeda dari biasanya, kini Jinora tertawa melihat aksi konyol Raziel dan tentu saja hal itu membuat seseorang di belakang mereka menjadi panas.   “Hm.. Ra gue duluan yah. Mau ke ruang osis katanya suruh kumpul” Ucap Arjuna kepada Jinora namun tidak peduli dengan Raziel lalu berjalan ke depan lebih cepat daripada mereka.   “Lah? Sejak kapan dia di sini?” Tanya Raziel sok bingung padahal tau sedari tadi Arjuna berada di sana dan tentu saja tau kalau Arjuna pergi karena cemburu.     Jinora hanya tersenyum singkat lalu memperhatikan punggung Arjuna yang menjauh. Jinora baru sadar sedari tadi sikap Arjuna aneh tidak seperti biasanya. Ia menjadi merasa sedikit kurang tenang, Ada apa sebenarnya dengan Arjuna?   ***   “Kita ngapain sih ke sini?” Tanya Jinora bingung sambil melihat sekeliling yang penuh dengan segerombolan anak lelaki yang kemarin ia temui saat mencari Raziel.      Tadi saat istirahat Jinora di ajak Raziel ke suatu tempat, dan Jinora mengiyakan hal tersebut daripada terdiam menunggu Arjuna yang tidak paling juga dari pagi. Lebih baik Jinora menyejukan pikirannya daripada diam tanpa kepastian, namun ternyata Raziel malah menambah bebannya dengan membawanya ke tempat teman-temannya.      Bukannya Jinora mendiskriminasi siswa atau bagaimana, tapi ia paling benci suatu tempat yang penuh asap rokok dan sesak. Seperti yang kita tau, Jinora dulu pernah masuk rumah sakit sewaktu kecil dan hal itu membuat Jinora sedikit trauma dengan rumah sakit. Penyakit yang di derita Jinora saat itu adalah paru-paru basah, dan hal itu membuat Jinora tidak tahan dengan asap rokok.   “Bentar aja, gue mau ngomong ama mereka” Pinta Raziel dengan sedikit memelas menatap Jinora.   “Bukannya gimana, tapi gue gak kuat asap rokok begini” Ucap Jinora yang menutupi hidungnya dan mencoba mengatur napasnya.   “Lu gak kuat asap? Yodah lu tunggu depan aja. Oh iya ini pake jaket gue” Kata Raziel yang memberikan jaketnya dengan memasangnya ke Pundak Jinora lalu pergi mendekati teman-temannya.   “Apa hubungannya jaket sama gak kuat asap rokok juga” Batin Jinora sambil memperhatikan jaket yang Raziel berikan.      Ini adalah jaket yang kemarin Raziel pinjamkan kemarin, ternyata jaket tersebut sudah Raziel cuci. Jinora memperhatikan Jaket tersebut lalu mengendusnya perlahan. Aroma jaket tersebut seperti aroma laut dengan bunga, menenangkan. Tidak seperti parfum baju pria biasa yang biasanya beraroma kuat dan menyengat. Tapi tunggu sebentar, aroma jaket ini sangat familiar padahal baru kali ini Jinora memperhatikan jaket tersebut secara detil.      Jinora mengingat-ingat kapan ia mencium bau ini. Aha! Jinora ingat kalau jaket ini adalah jaket yang ia pakai untuk tidur setelah menulis catatan Raziel. Berarti yang kemarin memakaikannya Earphone dan jaket adalah Raziel? Benar juga, bukannya hari itu Raziel memakai Earphonenya? Pipi Jinora seketika memerah, ia tak sadar kalau Raziel sering sekali memberi perhatian kepada Jinora.   “HAH?! LU GAK BISA IKUT TAWURAN?!!”     Jinora terbangun dari lamunannya, ia melihat ke arah sumber suara yang di sana ada seorang kakak kelas meneriaki Raziel.   “Maaf bang, tapi gue gak mau ikutan hal beginian lagi. Cari orang lain aja”   “Tapikan lu posisinya penting, lu jago berantem anjir! Kenapa sih lu tiba tiba begini?”   “Gak papa, gue cuman mau berubah aja. Lu cari penganti aja, dah yah! Gue mau balik ke kelas lagi”     Raziel pergi dari tempat itu dan kembali berjalan ke Jinora yang membuat Jinora bingung. Raziel  Mata Jinora memperjelas kalau gadis itu sedang bingung dengan apa yang terjadi. Raziel yang paham dengan tatapan bingung Jinora hanya bersenyum dan berkata,   “Bukannya gue udah bilang kalo gue bakal jalanin janji gue” Ucap Raziel dengan lembut sambil tersenyum hangat. Pipi Jinora langsung memanas dan hatinya tak karuan mendengar hal itu. Raziel yang melihat reaksi Jinora hanya tertawa kecil lalu menariknya pergi dari tempat itu.   “Kenapa lu jadi gini sih? Gue jadi makin gak bisa nolak perasaan gue yang semakin menyukai lu”  Batin Jinora dalam diam sambil memperhatikan Raziel yang masih mempertahankan senyuman hangatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN