Bagian 15 - Perjanjian

1414 Kata
“Lu pasti bingung yah tadi?”      Pertanyaan Raziel yang mengisi keheningan membuat Jinora langsung mengalihkan pandangannya dari layar kaca laptop dan menatap Raziel yang sibuk menulis bagian di buku dan tidak melihat ke arahnya sama sekali.   “Bingung kenapa?” Tanya balik Jinora yang lanjut mengerjakan tugasnya di laptop.   “Bingung soal foto gue yang cuman ada bunda sama keluarganya” Jawab Raziel yang masih terfokus dengan bukunya. Jinora langsung mengalihkan pandangannya lagi ke arah Raziel yang masih fokus menulis, tak lama sebuah senyuman terlukis di wajah Jinora.   “Hm.. gimana yah? Bingung sih..” Ucap Jinora sambil meregangkan badannya yang pegal karena sudah mengetik berjam-jam.   “Terus? Lu gak kepo gitu? Nanya ke gue?” Tanya Raziel yang bingung, karena biasanya kalau orang-orang yang ia bawa ke rumah pasti akan bertanya tentang hal itu.   “Gimana yah? Bukan hak gue buat nanya hal itu. Lagian itu masa lalu dan kehidupan lu, gue gak berhak cari tau tentang hal itu. Karena bisa aja itu sesuatu memori yang gak mau lu bahas. Daripada kepo tentang masa lalu seseorang, mendingan jalanin aja masa depan bersama orang itu kan? Toh waktu terus berjalan” Jawab Jinora dengan tenang dan kembali mengetik di laptop tersebut.    Ucapan Jinora membuat Raziel tersenyum walau masih terfokus untuk menulis. Raziel memang tidak salah pilih menyukai Jinora sejak awal pertama kali bertemu, gadis itu berbeda dari wanita yang ia pernah temui. Biasanya entah itu teman dekat atau bahkan orang yang di kenalnya akan bertanya tentang hal itu, walau Raziel selalu mengalihkan pertanyaannya atau hanya diam tidak menjawab. Tapi Jinora beda, dan hal itu membuat Raziel semakin menykainya.   “Lagian gue juga baru kenal beberapa bulan sama lu, yakali nanya nanya hal kaya gitu. Dan lagi lu juga gak bakal mau cerita hal itu ke orang yang bar ulu kenal kan?” Lanjut Jinora yang masih menatap layar laptopnya dan tak sadar dengan Raziel yang tersenyum karena ucapannya.   “Gue mau kok” Ucap Raziel yang membuat Jinora langsung mengalihkan pandangannya ke Raziel.   “Mau apa?” Tanya Jinora bingung, ini tidak seperti yang Jinora bayangkan. Ia pikir Raziel akan mengatainya sok puitis atau situasi menjadi canggung.   “Cerita ke elu” Jawab Raziel yang mendekat ke Jinora, membuat Jinora sedikit menjauh karena jarak Raziel yang sangat dekat dengannya.   “Gak usah lah, lagian gue yakin kok lu punya alasan buat sembunyiin hal itu” Ucap Jinora yang kembali fokus ke laptopnya, namun tiba-tiba Raziel menarik Pundak Jinora pelan untuk menatap ke arahnya.   “Tapi gue gak mau sembunyiin itu dari lu” Ucap Raziel yang masih memegang Pundak Jinora dan mendekatkan wajahnya ke Jinora.   “O-oke..” Kata Jinora sambil menjauhkan wajahnya dari Raziel dan melepaskan tangan Raziel dari pundaknya.   “Ortu gue cerai waktu gue kecil, ibu gue selingkuh karena bapak gue bangkrut. Pas di tinggal ibu, bapak jadi mabuk-mabukan dan gak jelas.. gue juga bingung” Cerita Raziel sambil perlahan menundukan kepala yang membuat Jinora menatapnya dalam, Raziel benar-benar bercerita tentang hal itu.   “Terus karena hal itu Bunda gue ambil gue dari bapak, makannya gue dari kecil lebih deket sama Bunda daripada keluarga sendiri. Terus bunda tiba-tiba pergi ke Bekasi buat kerja katanya, dan gue di titipin ke bapak. Emang sih setelah bertahun-tahun, ekonomi keluarga membaik tapi bapak gue tetep gak berubah.. dia malah semakin kasar sama gak jelas. Bayangin aja, siapa anak yang gak sakit hati ngeliat bapaknya nyewa banyak cewek terus mabuk-mabukan” Cerita Raziel dengan mata yang penuh emosi. Jinora jadi ikut merasa sedih melihat Raziel yang biasanya tersenyum lebar jadi seperti ini.   “Jadi gue berbuat nakal sepuasnya dan akhirnya gue kembali deh sama Bunda di sini, dan ketemu lu” Ucap Raziel mengakhir ceritanya sambil tersenyum menatap Jinora yang membuat kedua insan itu saling bertatap mata dalam waktu yang cukup lama.   “Err.. gue bingung mau bereaksi gimana..” Ucap Jinora sambil memutuskan pandangan mereka dan mengalihkan pandangannya ke arah.   Raziel tersenyum hangat, “Gue gak perlu reaksi lu kok, dengan lu dengerin cerita gue udah lebih dari cukup” Ucap Raziel dengan hangat membuat Jinora kembali menatapnya dalan.   “Kenapa lu cerita ini ke gue” Tanya Jinora yang masih menatap pemilik manik mata hitam itu, ia benar benar bingung dan penasaran kenapa Raziel menceritakan ini kepadanya? Dari yang ia tau tidak ada satupun seseorang di sekolah yang tau latar belakang keluarga Raziel. Mereka hanya bilang Raziel anak nakal yang di usir keluarganya karena membuat ulah terus, tapi tentu saja Jinora tidak peduli dengan gossip murahan seperti itu.   “Gimana yah? Mungkin lu udah jadi orang istimewa di hidup gue” Jawab Raziel sambil tersenyum, kali ini senyuman Raziel tidak menyebalkan dan malah lebih terasa hangat dan tulus.     Jinora meneguk salivanya, ia merasa bingung sekaligus canggung. Ia bahkan tak tau harus berbicara apa lagi, ia sudah cukup kaget dengan cerita dan ucapan Raziel tadi. Raziel yang menyadari hal itu segera menjauh dari Jinora dan menulis kembali. Keduanya terdiam, suasana menjadi hening dan canggung. Karena bingung harus berbuat apa lagi mereka kembali mengerjakan tugas masing-masing.     Tanpa sadar waktu terus berlalu dalam keheningan tersebut dan membuat keduanya telah menyelesaikan tugas. Raziel mengalihkan pandangannya kearah jam dinding rumahnya yang menunjukan angka 7 yang berarti mereka sudah berjam-jam mengerjakan tugas ini.   “Lu gak di cariin pacar lu jam segini?” Tanya Raziel yang akhirnya memecah keheningan. Jinora yang baru meregangkan badannya pun bingung.   “Pacar?” Tanya Jinora balik sambil menatap Raziel bingung. Perasaan Jinora tidak punya pacar, bahkan ia tidak pernah pacarana semasa hidupnya.   “Si cowok bawel yang kemana mana bareng lu” Jawab Raziel sambil membereskan barang-barangnya dan menghindari kontak mata dengan Jinora. Entah kenapa ia baru malu sekarang melihat Jinora, padahal tadi ia sendiri yang membuat suasanan menjadi canggung.   “Oh Juna.. Dia sahabat gue dari kecil bukan pacar gue kali. Gosip dari mana tuh, gak bener amat” Kata Jinora santai dan ikut membereskan barang-barangnya.   “Gimana yah, lu berdua nempel terus sih kaya perangko. Apalagi keliatan banget si Pendek suka sama lu” Ucap Raziel yang sebenarnya sedikit cemburu dengan kedekatan Jinora dan Arjuna, dengan gampangnya pria itu bisa mengelus kepala dan dekat dengan Jinora. Sedangkan Raziel? Boro-boro mengelus kepala gadis itu, baru berjarak beberapa meter dari gadis itu saja badannya sudah di pukuli.   “Hah? Juna suka sama gue? Lucu banget lu! Orang gue sahabat dari kecil sama dia, yaiyalah deket” Ucap Jinora sambil tertawa mendengar pernyataan aneh Raziel.     Raziel menghembuskan napasnya. Selain galak, gadis ini memang sangat tidak peka. Kasian sekali nasib si Pendek itu, walaupun Arjuna adalah saingannya ia tetap salut dengan keteguhan hatinya kepada Jinora. Tapi tidak apa-apa, artinya saingannya semakin berkurang.   “Tapi kalau boleh jujur sih.. tapi jangan bilang siapa siapa lu!” peringat Jinora yang di balas anggukan oleh Raziel, walau sebenarnya Raziel sedikit panik dengan ucapan Jinora selanjutnya. Takutnya ucapan tersebut malah akan membawanya kecewaan karena membuat semakin minim peluang keberhasilannya mendekati gadis itu   “Gue dulu kecil pernah suka sama dia, yah bisa di bilang dia cinta pertama gue” Lanjut Jinora secata gamblang yang tidak sadar ucapannya membuat Raziel kecewa, benar saja perkiraan Raziel tadi kalau Jinora akan mengatakan sesuatu yang membuat peluangnya berkurang. “Tapi yah itu kan waktu kecil, sd lagi! Cuman cinta monyet! Lagian dia sahabat gue, gak mungkin lah jadi pasangan gue” Tambah Jinora sambil tersenyum manis lalu tertawa kecil. Seketika perasaan kecewanya menghilang, berganti dengan senang karena peluangnya bertambah.   “Berarti kalau gue bisa?” Tanya Raziel sambil menunjuk dirinya sendiri dan menaikan satu alisnya.   “Kalau musuh sih biasanya berakhir jadi bahan tonjokan ama omelan gue doang. Kalo gak itu yah, dia masuk rumah sakit dan gak bakal pernah ketemu gue lagi” Jawab Jinora santai namun menusuk. Raziel hampir saja lupa kalau ia berhadapan dengan Jinora, gadis galak yang di takuti satu sekolah.   “Kok musuh sih? Kan kita temenan?” Tanya Raziel setengah merengek sambil cemberut dengan sikap sok sedih.   “Emang iya yah? Gue gak nganggep tuh” Jawab Jinora santai dan bangkit dari tempat sofa dengan tas yang sudah terpasang di badannya. Ucapan Jinora membuat Raziel menarik napas panjang, sulit sekali memang mendapatkan gadis ini.   “Tapi kalo lu mau jadi temen gue ada syaratnya” Lanjut Jinora sambil melirik ke arah Raziel, membuat Raziel dengan semangat langsung mendekatinya.   “Apa?! Apa?!” Tanya Raziel dengan semangat membuat Jinora tersenyum simpul.   “Lu harus janji jangan buat ulah lagi dan jadi anak baik-baik, gue gak mau punya temen yang kerjaannya bolos sama buat ulah doang” Syarat Jinora sambil mengacungkan jari kelingkingnya dan tersenyum manis. Jinora pikir Raziel akan menolaknya atau memikirkan hal itu dulu, namu ternyata Raziel malah langsung mengaitkan jari kelingkingnya dengan semangat.   “Nah berarti kita temenan! Sekarang gue anterin pulang yah?” Ajak Raziel yang di balas senyuman dan anggukan dari Jinora. Setelah mendapatkan respon setuju Raziel langsung masuk kembali ke dalam untuk meminta ijin ke Bunda.   “Ini hari yang aneh, tapi gue baru sadar.. gak semua yang aneh itu buruk, terkadang menyenangkan” Batin Jinora sambil tersenyum simpul melihat foto Raziel di pigura besar yang sedang tersenyum. Tanpa sadar, Jinora ikut larut dengan perasaannya yang mulai menyukai seseorang yang dulu musuhnya itu. Benar sekali, Raziel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN