Bagian 14 - Rumah Raziel

1126 Kata
      Raziel memberhentikan motornya di sebuah rumah yang terlihat sederhana namun memiliki halaman yang luas. Raziel langsung turun dari motornya lalu membuka helmnya dan masuk ke dalam rumah tersebut. Jinora ikut membuka helmnya lalu melihat sekeliling, Ia sangat menyukai hawa di rumah ini. Walau rumah ini bisa di bilang sederhana, namun tempatnya  sangat nyaman dan alami karena di penuhi pohon, sesuai dengan selera Jinora.    “BUNDA, JIEL TAMPAN PULANG BAWA CALON!” Teriak Raziel dari depan rumah sambil memukul pagar rumahnya dengan helm di tangannya. Jinora tidak mendengar teriakan Raziel, ia terfokus dengan pemandangan alami rumahnya.   “Ini rumah lu? Bagus banget. Kok bisa sih dapet rumah yang masih deket alam gini?” Tanya Jinora antusias sambil menatap sawah dan waduk tepat di depan rumah Raziel.   Raziel tersenyum simpul, “Orang yang punya rumah di perumahan mewah bisa terkesan gini yah cuman gegara rumah di kampung” Ucap Raziel yang membuat Jinora langsung menatapnya sinis.   “JIEL KAMU KEMANA AJA, BUKANNYA BAN- eh ini neng geulis cakep siapa?”     Jinora menengok ke asal suara, di sana ada seorang wanita paruh baya di depan pintu sambil membawa spatula masak yang sepertinya ia adalah Tantenya Raziel. Jinora tersenyum sopan untuk menyapa, berbeda dengan Raziel yang langsung selonong masuk ke dalam rumahnya dan mendekati wanita tersebut.   “Assalamualaikum bun” Salam Raziel sambil menyalimi perempuan paruh baya tersebut. Bukannya tersenyum atau mengelus kepala Raziel, wanita itu malah memukul kepala Raziel dengan spatula di tangannya.   “Aw! Kok di pukul sih!” Ringis Raziel sambil mengusap usap kepalanya kesakitan. Jinora mendekati mereka dan tertawa kecil karena merasa kekesalannya kepada Raziel sudah di salurkan lewat pukulan itu.   “b***k Gelo! Laina balik bantuan bunda masak, ieu mah ulin wae teu puguh!” Omel wanita itu dengan Bahasa sunda yang membuat wajah Raziel semakin kusut.   “Udah atuh bun, kasian calon gak ngerti. Lagian Jiel kan tadi belajar atuh” protes Raziel yang masih mengelus kepalanya yang sakit karena di pukul.   “Kata siapa gue gak paham? Itu artinya ‘Anak Gelo, bukannya pulang bantuin bunda masak! Kok malah keluyuran gak jelas! Iyakan bunda?” Sela Jinora yang lalu salim kepada wanita separuh baya tersebut, wanita itu langsung tersenyum hangat saat melihat Jinora.   “Pinter pisan euy, namanya teh saha neng geulis?” Tanya wanita tersebut sambil mengelus kepala Jinora ia sedang salim, Raziel menatap mereka iri karena merasa tidak adil.   “Jinora tan” Jawab Jinora sambil tersenyum manis yang membuat kecantikan gadis itu bertambah.   “Ohh Singa Betina yang Raziel suka ceritain itu yah?!” Cetus Wanita paruh baya itu yang membuat Jinora menatap Raziel kesal namun tetap tersenyum.   “Oh enggak, maksud bunda teh kamu suka Raziel ceritain” Jelas Wanita itu dengan cepat setelah melihat ekspresi wajah Raziel dan Jinora.   “Oh gitu tan, emang Raziel ceritain apa?” Tanya Jinora basa basi mencoba untuk bersikap ramah, walau sebenarnya kalau tidak ada Tantenya Raziel sepertinya Jinora akan langsung menonjok perut Raziel.   “Jangan panggil Tan atuh! panggilan bunda aja” Ucap Wanita itu tersenyum ramah sambil memukul Pundak Jinora pelan.   “Oke tan- eh maksud Nora Bunda” Jawab Jinora sedikit grogi dan canggung memanggil wanita itu Bunda. Wanita itu hanya tersenyum dan memaklumi kalau Jinora sedikit grogi.   “Oh iya. Raziel tuh banyak atuh cerita tentang kamu, katanya tuh ada cewek geulis pisan di sekolah barunya! Tapi sayang, katanya dia galak banget sampai di panggil singa betina” Lanjut Bunda dengan seru bercerita membuat Jinora yang tadinya mengira Raziel membicarakan hal buruk tentangnya, sekarang merasa sedikit malu namun penasaran. Raziel yang mendengar Bunda membeberkan rahasianya langsung membulatkan mata kaget.   “Terus Raziel sering mim-“ Cerita Bunda terpotong saat Raziel langsung menutup mulut Bunda dengan kedua tangannya.   “Jangan dengerin Bunda ngomong! Mending masuk yuk!” Potong Raziel yang masih menutup mulut Bundanya lalu berlari masuk sambil menarik tangan Jinora agar ikut masuk dan tidak lagi mendengar seluruh cerita bunda tentang rahasianya.     Jinora langsung menghempaskan tangan Raziel begitu memasuki ruangan rumah tersebut. Awalnya ia mau marah karena Raziel menarik tangannya asal, namun marahnya terpendam saat melihat ruangan tersebut. Mata Jinora jadi teralihkan saat melihat foto-foto seorang anak kecil bergigi ompong tersenyum manis sambil di gendong seorang wanita, yang tiada lain adalah Bunda. Sungguh, Raziel jauh lebih manis saat kecil daripada menjadi pemuda menyebalkan seperti sekarang.   “Raziel mah emang dari kecil item buluk neng, bingung bunda juga kok kamu bisa mau” Celetuk Bunda yang baru masuk ke dalam ruang tamu yang membuat pipi Jinora memerah. Raziel langsung berlari ke arah Bunda.   “Ish Bunda, jangan gitu ah! Nanti calon Raziel kabur” Bisik Raziel sedikit kencang ke kuping Bundanya. Bodoh memang, dia pikir dengan suara sebesar itu Jinora tidak bisa dengar?   “Oh gitu, jadi namanya berubah dari Singa Betina jadi Calon?” Ledek Bunda yang membuat Jinora tambah tersipu malu, sedangkan Raziel malah senyum-senyum malu.   “Udah ish Bun, jangan ganggu urusan anak muda” Ucap Raziel yang langsung mendorong bundanya untuk pergi dari ruangan itu.   “Jin, gue ganti baju sebentar gapapa kan?” Tanya Raziel yang masih mendorong Bundanya untuk ke belakang ikut bersamanya, Jinora tersenyum lalu mengangguk sebagai balasan.     Setelah Raziel dan Bunda pergi, Jinora kembali mengamati foto-foto keluarga di ruangan itu. Ia melihat Raziel kecil sedang tertawa lebar di atas komedi putar, Jinora ikut tersenyum melihatnya. Entah kenapa rasanya itu adalah senyuman Bahagia yang jarang sekali ia lihat, walaupun pria itu sering tersenyum namun rasanya senyuman di foto ini jauh lebih lepas daripada yang biasa ia lihat.      Jinora dengan puas melihat semua foto di ruangan itu, ada foto Raziel menangis tersedu-sedu yang sampai membuat Jinora tertawa kecil melihatnya, sampai foto Raziel kecil yang gagah memakai jaz. Semuanya terlihat normal dan lucu, namun ada satu hal yang menganjal. Kenapa di semua foto ini Raziel bersama bunda? Kemana keluarganya? Padahal rata-rata foto tersebut dari Raziel kecil sampai besar. Bukannya Bunda adalah tante Raziel?   “Udah puas ngeledekin gue dalam hati?” Ucap Raziel yang ternyata sudah mengamati Jinora sedari tadi, Jinora sedikit kaget lalu tersenyum lebar saat melihat Raziel.   “Seneng banget.. kapan lagi ngeliat foto anak nakal di sekolah jadi anak kecil yang giginya ompong. Mana cengeng lagi” Ledek Jinora sambil memertahankan senyuman lebarnya.   “Ledekin aja terus.. Lanjut gak?” Tanya Raziel yang berpura-pura kesal karena di ledeki sambil duduk di atas sofa, padahal dalam hatinya ia berbunga bunga karena melihat Jinora untuk pertama kalinya tersenyum lebar kepadanya.   “Hahaha, nah kan ngambekan lagi anaknya” Ucap Jinora yang masih meledek Raziel lalu duduk membuka laptopnya dan mengeluarkan barang-barangnya.   “Emang ngambekan si Jiel anaknya mah geulis!” Celetuk Bunda yang datang kembali membawa sepiring kue tradisonal dengan seteko sirup dingin.   “Makasih Bunda” Ucap Jinora sambil tersenyum manis.   “Ish Bunda, jangan ganggu Jiel mulu” Rajuk Raziel sambil mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.   “Iya-iya ini Bunda gak ganggu, sok lanjutin PDKTnya” Ledek Bunda yang langsung pergi sebelum Raziel tambah merajuk karena di ledeki terus.   “Ish bunda, jangan ganggu Jiel mulu!” Ledek Jinora yang mengulangi rajukan Raziel tadi, membuat Raziel langsung menatapnya kesal yang membuat Jinora tertawa lebar dan melanjutkan pekerjaannya.      Untuk pertama kalinya Jinora tertawa lepas di depan Raziel. Mungkin Raziel ada sedikit rasa kesal karena di ledeki di hati Raziel, namun tawa Jinora jauh lebih memenuhi hati dan pikirannya sekarang. Oh tidak, sepertinya Raziel semakin menyukai gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN