Bagian 13 - Es Cendol

1120 Kata
 “Udah Selesai?” Tanya Raziel kepada Jinora yang baru kembali dari toilet bersama Irina.      Jinora diam tak menjawab, ia hanya berjalan mendekati Raziel. Sejujurnya gadis itu masih malu akan hal tadi, namun ia juga tidak bisa marah. Walau Raziel dengan sangat santainya berkata perihal ‘bocor’ tadi di kelas, tapi mungkin kalau dia tidak memberi tahu hal itu, Jinora akan semakin malu nantinya.   “Udah Jiel, maaf yah lama” Ucap Irina sambil tersenyum menjawab pertanyaan Raziel kepada Jinora, Raziel hanya menatapnya sekilat dan mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke Jinora lagi.   “Dah Ayo!” Ajak Raziel kepada Jinora sambil menarik tangan Jinora, Jinora hanya diam dan mengikutnya.   “Tunggu!” Teriak Irina yang mengejar mereka sambil memegang Pundak mereka, Raziel berhenti dan menatapnya bingung.   “Gue boleh ikut gak? hehe” Tanya Irina sambil menunjukan senyuman manis andalannya, namun Raziel sama sekali tidak terpikat akan hal itu.   “Bo-“   “Gak, buat apa? Kan lu punya kelompok sendiri” Jawab Raziel memotong ucapan Jinora terlebih dahulu, Irina mengerucutkan bibirnya saat mendengar penolakan dari Raziel.   “Gue bosen aja, lagian kelompok gue belum ada. Boleeh yahh?? Pleasee” Pinta Irina dengan sikap sok imut, tetapi Raziel tetap mengeleng dan menolak.   “Gak, lagian emang gue gak tau lu sekelompok sama Arjuna? Si Arjuna masih di depan tuh, mending lu samperin. Dah yah!” Tolak Raziel yang langsung menarik Jinora pergi dari tempat itu.     Di sisi lain, Irina terlihat santai dan memainkan rambutnya saat Raziel telah menjauh. Senyuman di wajahnya semakin terlihat lebar, baru kali ini ada yang menolaknya. Selama ia hidup baru kali ini ia di tolak, yah kecuali dengan Davin dan Arjuna namun ia tidak tertarik dengan mereka.   “Semakin lu menjauh, gue semakin suka jiel.. Gue gak bakal biarin lu di sia-siain, jadi gue yakin suatu hari nanti lu jadi milik gue. Dan mungkin.. Lu bakal jadi yang terakhir di hidup gue” Ucap Irina sendirian sambil tersenyum. Baru kali ini ia begitu tertarik kepada seseorang, apa mungkin Raziel bisa menjadi cinta pertamanya?   ***   “Lu kenapa sih diem aja? Panik ketemu calon mertua yah?” Tanya Raziel yang sedang mengendarai motor. Ia bingung kenapa Jinora tiba tiba diam saja dari tadi, padahal biasanya gadis itu akan mengomel-omel sepanjang jalan.   “Gak papa” Jawab Jinora singkat sambil menikmati semilir angin di jalan.        Raziel mengerutkan dahinya, yang ia tahu Ketika seorang cewek berkata ‘tidak apa-apa’ itu artinya ‘ada apa-apa’. Raziel memperhatikan Jinora lewat kaca spionnya, Gadis itu sedang memejamkan mata dan menikmati angin yang berhembus.  Hal itu membuat suatu ide muncul di kepala Raziel.   “Kok berhenti di sini?” Tanya Jinora sambil mencoba turun dari motor Raziel. Kenapa Raziel malah berhenti di tukang es cendol?   “Sini gue bantu” Ucap Raziel sambil mengulurkan tangannya. Namun bukannya Jinora memegang tangannya, ia malah melempar helm ke d**a Raziel.   “Gak usah, gue bisa sendiri” Tolak Jinora yang langsung lompat dari atas motor tersebut. Walau sebenarnya ia agak takut juga tadinya karena motor Raziel yang tinggi, namun rasa gengsinya lebih besar daripada rasa takutnya.   “O-oke” Cicit Raziel pelan dan duduk di sebuah bangku samping tukang es cendol. Cewek kalau sedang mens memang seram yah?   “Lu belum jawab pertanyaan gue, kok kita ke sini?” Tanya Jinora lagi sambil ikut duduk di sebelah Raziel.   “Lagian lu dari tadi diem aja, jadi gue ajak ke tukang es cendol deh” Jawab Raziel yang membuat Jinora langsung mengeryitkan dahinya, apa hubungannya ia diam dengan es cendol?   “Emang apa hubungannya?” Tanya Jinora kepada Raziel yang sedang memesan Es Cendol. Seberapa lama pun ia berpikir, jawaban Raziel tidak dapat di terima akal sehatnya.   “Katanya kalau cewek lagi mens situ suka sakit perut jadi gue beliin es cendol” Jawab Raziel sambil tersenyum lebar.    Oke, jawabannya semakin aneh. Bagaimana bisa es cendol berhubungan dengan sakit perut? Lagipula Jinora benar-benar tidak apa- apa, ia hanya.. ia hanya malu dengan kejadian tadi.   “Kan gue udah bilang kalau gue gak papa, lagian apa coba hubungan es cendol sama sakit perut” Ucap Jinora sambil menatap Raziel yang kembali duduk di sampingnya sambil membawa Es Cendol.   “Tapi biasanya kalo cewek bilang ‘gak papa’ itu artinya ‘kenapa-kenapa’ ” Balas Raziel sambil memberikan Es Cendol tersebut ke Jinora.   “Lagian kan gue bukan cewek ‘biasanya’, jadi gue gak gitu” Kata Jinora sambil mengambil Es Cendol dari tangan Raziel. Raziel hanya diam dan memakan Es Cendolnya sambil mendengarkan ocehan Jinora, menurutnya itu jauh lebih mendingan daripada gadis itu hanya diam saja.   “Lu kayanya tau bener tentang cewek, sampe bisa berspekulasi sepihak” Lanjut Jinora sambil meminum es Cendol tersebut.   “Lu cemburu?” Tanya Raziel santai yang membuat Jinora langsung tersedak es batu dengan wajah merah padam.   “Apa-apaan.. siapa coba yang cemburu! Geer lu!” Teriak Jinora dengan wajah merah padam sambil berdiri dan menunjuk-nunjuk Raziel. Padahal Raziel hanya asal bicara, kenapa dia malah menunjukan reaksi seperti itu? Lucu.   “Oke.. Gak usah salting gitu dong! Duduk lagi sini..” Ucap Raziel sambil tertawa kecil dan menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.   “Gue gak Salting” Cicit Jinora kecil yang kembali duduk lalu meminum Es Cendol tersebut agar wajah merahnya bisa tersembunyikan di balik gelas.     “Hahaha, Gue udah selesai nih. Gue bayar dulu” Kata Raziel lalu berdiri dan membawa gelasnya yang hanya bersisa es batu saja.   “Raziel..” Panggil Jinora dengan nada pelan, membuat Raziel segera menengok ke arah Jinora.   “Makasih yah” Ucap Jinora sambil menatap mata Raziel dalam dan menurunkan gelasnya yang kosong. Raziel tersenyum dan berjalan kembali ke arah Jinora.   “Buat? Es Cendol? Atau makasih karena buat lu malu tadi?” Tanya Raziel yang masih tersenyum dan menudukan kepalanya agar lebih dekat dengan wajah Jinora.   “LU TADI SENG- Aw!” Teriakan Jinora berhenti saat gadis itu tidak sengaja menabrakan kepalanya ke dahi Raziel karena mencoba berdiri dari tempatnya.   “Gila sadis emang nih cewek” Cibir Raziel sambil mengelus-elus Dahinya.   “Lu sih! Ngapain deket-deket kepala gue!” Teriak Jinora tak terima di salahkan sambil mengusap usap kepalanya.   “Dih orang gue mau ngambil gelas lu! Biar sekalian!” Ucap Raziel yang mengambil gelas Jinora lalu mengembalikannya kepada Tukang Es tersebut.      Jinora hanya memperhatikannya punggungnya dari jauh sambil meracau kesal. Kenapa sih Raziel gak bisa di ajak serius? Menyebalkan.   “Dah, tadi lu mau ngomong apa? Mau lanjut atau jalan lagi ke rumah gue?” Tanya Raziel yang sudah kembali dari Tukang Es.     Jinora menarikan napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, tanpa berbicara ia kembali naik ke atas motor Raziel. Jinora yakin kalau mereka membahasnya sekarang tidak akan pernah selesai, yang ada mungkin malah terus bertengkar tentang hal-hal tidak berguna.   “Oke..” Ucap Raziel sambil mengangguk dan memakai helmnya, kemudian ia naik ke atas motor dan mulai menyalahkan motornya dan menjalankannya meninggalkan tempat itu.   “Makasih.. Buat segalanya yang lu lakuin” Ucap Jinora sangat pelan sambil menghadap samping, berharap Raziel tidak mendengar tersebut dan suaranya terendam deru motor ataupun angin. Tapi sayang,  lekukan senyuman di bibir Raziel menandakan bahwa pria itu masih sangat bisa mendengar suaranya.   “Sama sama Singa Betina”  Jawab Raziel setengah berbisik sambil menatap kaca spionnya memperlihatkan ekspresi wajah kaget Jinora yang tak lama berubah menjadi senyum malu-malu.     Suasana menjadi hening, hanya angin dan suara jalan yang terdengar. Dua insan di atas motor tersebut terdiam sambil tersenyum dalam diam, memikirkan perasaan satu sama lain dan tengelam dalam kesenangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN