Bagian 12 - Kerja Kelompok

1209 Kata
Bekasi, 7 September 2015   “Jin.. Jin.. Woy..”     Jinora memutar mata malas, berkali-kali Raziel menganggunya. Jinora lebih memilih untuk mengerjakan tugas daripada mengurusi Raziel. Padahal sekarang semua orang sedang mengerjakan tugas kimia yang lumayan susah dari Pak Fernan, Raziel malah bermain main dan menganggunya.   “Oke, karena sudah mau pulang. Silakan kumpulkan” Ucap Pak Fernan yang meminta semua anak mengumpulkan tugas yang tadi ia berikan. Semua anak bangun dan memberikan tugasnya walau beberapa dari mereka terlihat setengah hati.       Pak Ferdian menghitung bukunya, dan seperti biasa kurang satu buku yaitu buku Raziel. Namun sebelum Pak Fernan memanggil Raziel untuk mengomelinya dan menghukumnya seperti biasa, Raziel sudah bangun terlebih dahulu dari tempatnya. Semua orang kaget melihat Raziel mengumpulkan tugas, bahkan Pak Fernan.   “Wah gini dong! Baru laki ini namanya! Emang kalo yang abis duduk sebelah Jinora langsung pada tobat, haha” Puji Pak Fernan setengah bercanda. Namun Raziel yang di puji hanya menampilkan wajah datar dan kembali duduk, lalu ia memperhatikan Jinora seperti meminta pujian dari gadis tersebut.   “Apa?” Tanya Jinora yang akhirnya sadar kalau Raziel memperhatikannya dari tadi.   “Puji gue juga dong” Pinta Raziel sambil menampilkan wajah sok imut. Ada apa dengan Raziel? Kenapa ia semakin aneh?   “O-oke, Selamat yah Raziel” Ucap Jinora sambil tersenyum singkat dan kembali merapihkan peralatannya.   “Gak gitu, emang gue ulang tahun?” Kata Raziel yang menarik tangan Jinora lalu bersikap seperti anak kecil.   “Terus gimana?” Tanya Jinora yang akhirnya menghadap Raziel sepenuhnya. Raziel langsung tersenyum lebar melihat Jinora yang akhirnya memperhatikannya.   “Usap kepala gue dong!” Pinta Raziel sambil menaruh tangan Jinora yang ia pegang ke atas kepalanya. Hal itu membuat dua orang di belakang mereka terlihat kesal dan cemburu, untung saja mereka tidak menyadari hal itu.   “Raziel, jangan berisik!” Peringat Arjuna yang duduk di belakang mereka yang di sebelah ada Irina yang terlihat bete juga.   “Apasih lu gila yah?” Tolak Jinora kepada Raziel sambil menarik kembali tangannya. Raziel langsung mengerucutkan bibirnya lalu mulai bertengkar dengan Arjuna.   “Lu sih ganggu” Omel Raziel kepada Jinora dengan sinis.   “Lah kalo dia gak mau bukan salah gue dong? Lagian Jinora mana mau sama buaya kek lu” Balas Arjuna sambil tersenyum menyebalkan.   “Udah udah diem. Lu juga salah na gangguin Raziel aja, seterah dia lah mau ngapain. Lagian dia gak berisik-berisik amat, cemburu aja lu!” Bela Irina kepada Raziel walau tadi ia juga cemburu karena Raziel meminta Jinora mengelus kepalanya.   “Oke anak-anak! Perhatikan! Kalian bapak beri tugas kelompok, satu kelompok dua orang dan bebas memilih teman biar gak ribet! Silakan catat tugas tersebut di papan tulis!” Perintah Pak Fernan sambil merapihkan barang-barangnya.   “Jin! Lu bareng gue kan? Sekalian abis ini gue anterin” Tanya Arjuna sambil megang Pundak Jinora, Jinora memutar kepala menghadap ke arahnya lalu tersenyum sebagai tanda setuju.   “Kamu sama aku aja Jiel! Gak ada kelompok kan?” Ajak Irina kepada Raziel namun di abaikan oleh Raziel. Raziel lebih memilih mengajak Jinora daripada menerima tawaran Irina, yang sebenarnya Raziel tau kalau ia sedang mendekatinya.   “Ra sama gue aja yuk?” Ajak Raziel kepada Jinora yang membuat Jinora mengalihkan pandangan kepadanya.   “Apasih lu, orang Jinora sama gue!” Ucap Arjuna sinis kepada Raziel yang di balas tatapan dingin Raziel.   “Gak makasih. Lagian kalo gue gak ada kelompok sekalipun, gue mendingan sendiri daripada sama lu” Tolak Jinora dengan kalimat menusuk namun tenang, hati Raziel masih kuat menghadapi singa betina ini.   “Oh iya! Untuk Raziel dan Jinora, kalian sekelompok yah! Sudah bapak pilihkan!” Kata Pak Fernan yang membuat Jinora terbelalak kaget, sedangkan Raziel hanya tersenyum penuh kemenangan melihatnya. “Kok saya enggak boleh pilih sendiri pak? Bapak mah pilih kasih” Kata Jinora tidak setuju dengan pernyataan Pak Fernan.   “Lah kenapa? Kalian kan sebangku, pasti dekat dong?” Tanya Pak Fernan kepada Jinora.   “Saya udah ada kelompok pak, lagian kasian Raziel pasti mau sama yang lain” Kata Jinora yang di tambah anggukan oleh dua orang di belakangnya.   “Saya gak ada kelompok kok pak! Saya mau sama Jinora” Ujar Raziel dengan suara cukup keras dan bersemangat, Hal itu membuat semua orang menatapnya dan tentu saja membuat Jinora malu.   “Nah kan Raziel setuju, udahlah paling kamu sekelompok sama Arjuna lagi. Gak papa kan Jinora sama Raziel?” Tanya Pak Fernan kepada Arjuna yang di balas anggukan ragu oleh Arjuna. Karena ia tidak punya pilihan lain selain setuju walau hatinya panas melihat hal ini.   “Tapi pak!“   “Gak ada tapi-tapian! Semenjak Raziel duduk sama kamu, dia jadi jarang bolos dan sering masuk kelas. Walau gak pernah ngerjain tugas, tapi sekarang dia udah berhasil ngerjain walau saya tidak tau salah berapa. Tapi intinya dia ada perkembangan lah! Jadi dia harus sekelompok sama kamu” Jelas Pak Fernan memotong Jinora yang akhirnya membuat Jinora pasrah menerimanya.   “Bener tuh Pak!” Tambah Raziel dengan semangat yang membuat seluruh kelas menatapnya lagi. Jinora memutar bola matanya malas, kenapa sih Raziel senang sekali menganggunya?   “Oke-oke, sekarang silakan keluar kelas masing. Terimakasih” Ucap Pak Fernan pamit lalu pergi keluar kelas.     Jinora mencatat tugas tersebut dengan malas. Ia malas sekali berhadapan dengan Raziel, apalagi setelah ia sadar kalau ia mulai menyukai Raziel. Padahal ia awalnya sangat menunggu hari ini agar bisa bertemu dengan Raziel, tapi setelah bertemu dengan Raziel ia malah menjadi sangat malas menghadapinya.   “Kerja Kelompok di mana?” Tanya Jinora yang sudah menulis tugas tersebut dan memasukan kembali bukunya.   “Di rumah gue aja, sekalian gue mau kenalin lu ke tante gue kalau dia udah siap nerima calon gue” Jawab Raziel sambil sedikit mengombal dan tersenyum. Ucapan Raziel membuat Arjuna mendengus kesal dan di balas ledekan Raziel kepada Arjuna, sedangkan Jinora hanya mengabaikannya. Entah kenapa perut Jinora sangat sakit dan moodnya menghilanh, bahkan ia tidak berselera mengomel kepada Raziel.   “Ayok!” Ajak Jinora sambil berdiri dan memakai tasnya, namun Raziel hanya memperhatikannya dan diam di tempat.   “Tunggu apa lagi? Gue ting-“ Ucapan Jinora terpotong saat Raziel seperti memeluknya saat memakaikan jaketnya ke pinggangnya.   “Hah?! Lu mau apa?!” Pekik Jinora kaget saat Raziel mengikat jaket tersebut.   “Lu mens yah? Itu bocor. Gue kasih jaket gue buat nutupin” Ujar Raziel yang membuat pipi Jinora semakin merah karena malu. Jinora langsung memperhatikan bagian rok belakangnya, dan benar saja ternyata ia mens.   “Lu ada pembalut?” Tanya Raziel kepada Irina yang di jawab dengan anggukan oleh Irina. Irina langsung berjalan ke arah Jinora dan mengajaknya ke toilet.   “Ayok ke toilet” Ajak Irina yang di balas anggukan oleh Jinora. Mereka akhirnya pergi keluar kelas dan ke toilet bersama.     Raziel hanya tersenyum lalu membawa tasnya dan tas Jinora. Namun saat ia mengambil tas Jinora, Arjuna langsung mengambilnya lebih dulu.   “Lu gak usah sok ngeselin ganggu hidup Jinora yah!” Peringat Arjuna yang masih memegang tas Jinora, sedangkan Raziel yang di ancam malah tersenyum lebar.   “Kenapa? Gue ngelakuin itu karena suka sama Jinora. Lu cuman orang cupu yang bahkan gak berani ngelewatin batas persahabat kalian mendingan diem aja deh!” Balas Raziel sambil tersenyum dan berjalan mendekat ke Arjuna.   “Lu!” Teriak Arjuna kesal dan mau menonjok Raziel. Walau ucapan Raziel sepenuhnya benar, tapi hal itulah yang membuatnya semakin kesal.   “Apa? Gue salah? Benerkan lu juga suka sama Jinora tapi cuman bisa mendem, dan malah mungkin lu si penganggu hidup Jinora, bukan gue” Ucap Raziel penuh penekanan dan masih tersenyum sinis, hal itu membuat Arjuna diam karena hal itu kemungkinan benar.     Raziel memutar matanya malas lalu mengambil kembali tas Jinora dari tangan Arjuna, kemudian ia langsung keluar kelas meninggalkan Arjuna yang sendirian terdiam dengan wajah yang merah padam karena marah.   “Apa iya gue selama ini malah jadi penganggu? Apa gue harus nyatain secepatnya?”     Arjuna hanya bisa terdiam dalam benaknya. Ia sangat ingin menyatakan cintanya kepada Jinora, namun di lain sisi ia benar benar tidak mau kehilangan gadis itu. Ia harus bagaimana? Kehilangan sahabat atau memendam rasa selamanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN