Bagian 11 - Kegilaan Raziel

1297 Kata
Cahaya matahari sore yang menyinari kamar Jinora membuat gadis itu mulai membuka matanya. Matanya sangat bengkak karena sehabis menangis, kepalanya juga sangat sakit. Jinora bahkan tidak sanggup untuk bangun dan ke dapur walau ia belum makan dari pagi.   “Acaranya udah selesai belum yah?” Guman Jinora sambil menatap langit-langit kamarnya.   TOK TOK TOK.. Jinora mendengar suara dentuman dari kacanya, seperti ada yang melempari kaca kamarnya dengan batu. Jinora perlahan bangkit walau kepalanya sedikit pusing, mungkin saja itu Arjuna dan yang lain. Ia membuka jendela atasnya, lumayan terkejut jinora saat melihat seseorang itu bukan Arjuna maupun teman-temannya.   “Lama banget sih, hampir gw lempar pake batu bata” Ucap seseorang yang sedari tadi melempari kaca kamarnya dengan batuan kecil.   “Lu ngapain ke sini jel?” Tanya Jinora kepada orang itu, ya orang itu adalah Raziel.   “Masa gak boleh sih jengukin pacar eh calon” Kata Raziel sambil tersenyum menyebalkan seperti orang-orang yang suka mengoda cewek di jalan.   “Huft.. dah yah gue males. Cepet bilang ada apa?” Tanya Jinora lagi dengan suara yang agak serak.   “Tumben biasanya ngomel, beneran sakit toh” Ucap Raziel setengah meledek sambil mengikat sebuah kardus pada seutas tali. Jinora sedang malas mengomel, ia memilih untuk menutup kembali jendela. “Eh! Tunggu! Tangkep nih!” Teriak Raziel yang sudah menyelesaikan barang rakitannya lalu melemparnya ke arah Jendela kamar Jinora. Untung saja Jinora sigap mengambilnya, kalo tidak mungkin barang itu bisa pecah.   “Ini apaan? Dih kok lu lapisin streofoam?” Tanya Jinora yang bingung karena pinggiran kardus itu di lapisan streofoam bukan streofoam yang melapisi barang di dalam kardusnya.   “Buat jaga-jaga aja, siapa tau barangnya ancur” Jawab Raziel sambil tersenyum bangga, padahal itu ide yang aneh sekali.     Jinora hanya tersenyum kecil dan tertawa dalam hatinya, seketika ia lupa kalau kemarin ia sangat kesal pada orang itu. Jinora membuka kardus tersebut, dan ternyata isinya adalah berbagai macam obat. Dari obat sakit kepala, maag, dan mual sampai betadine, obat jerawat, dan kasa. Jinora mengeryitkan dahinya, Raziel ingin dia jualan obat?   “Jiel.. ini apaan? Obat buat apa?” Tanya Jinora sambil menunjukan betadin dan obat jerawat.   “Jadi gini, tadi gue nyariin lu pas pensi. Sampe nungguin siang-siang oy panas, mana gak ada tukang es lagi. Tapi pas penampilan atraksi gak ada, yaudah gue tanyain ke temen temen lu. Nah katanya lu sakit, yaudah karena gue tampan hati dan fisik jadi gue bawain lu obat ama makanan deh” Jelas Raziel dengan gaya bodoh khasnya yang membuat senyuman mulai terlukis di wajah Jinora. Walau sebenarnya tadi ia sangat pusing dan sedih, tapi entah kenapa semuanya langsung menghilang.   “O-oke, terus ini kenapa ada betadin, obat sembeli? Apalagi ini juga obat jerawat?!” Tanya Jinora lagi sambil memperlihatkan obat-obatan aneh di dalam kardus tersebut.   “Kan gue gak tau lu sakit apa, yaudah gue bawain semua” Jawab Raziel singkat dan santai, ia merasa cukup bangga karena ide cerdasnya yang membeli semua obat-obatan di apotik tadi,   “Yah tapi kenapa ada obat jerawat?! Gak mungkin lah gue ijin gegara jerawat doang” Kata Jinora yang sangat bingung dengan jalan pikir absurbnya Raziel, sepertinya ia memang alien.   “Ya sapa tau jerawatnya di hati, ginjal, atau otak kan?” Kata Raziel sambil tersenyum bodoh.   “Gak ada jerawat kaya gitu yaampun! Kalo masuk organ mah tumor kali” Ucap Jinora memukul kepalanya pelan melihat jawaban aneh Raziel.   “Yaudah sapa tau tu-“   “MULUT LU MAU GUE JAIT YAH?! SEMBARANGAN!” Potong Jinora sambil berteriak walau suaranya serak, hal itu membuat Raziel tersentak kaget namun tak lama raut wajahnya menjadi senyuman.   “Ciee dah galak lagi” Ledek Raziel dengan menyebalkan sambil menunjuk nunjuk Jinora dengan gaya yang alay.   “Udah ah capek ngobrol sama lu, btw makasih yah!” Kata Jinora yang mau menutup pintu sambil tersenyum singkat kepada Raziel.   “EH TUNGGU! INI BANDREK AMA SOP IGA!!” Teriak Raziel sambil mengengam plastic hitan dan mencoba mengikatnya dengan kain. Jinora langsung bersemangat saat mendengar kata makanan, mumpung perutnya sedang lapar.   “GUE LEMPAR YAH!” Teriak Raziel yang membuat Jinora langsung membuka Jendela kamar dan memberhentikan aksi gila Raziel.   “JANGAN LAH! NANTI PECAH!” Teriak Jinora yang memberhentikan aksi gila Raziel. Raziel dengan wajah tak bersalah langsung berhenti dan menatap Jinora bingung.   “Terus gimana ngasihnya?” Tanya Raziel kepada Jinora dengan wajah bingung, orang ini bisa normal gak sih? Kan Jinora tinggal turun kebawah atau sebaliknya, Raziel yang naik ke atas.   “Yaudah gue turun dul-“   “Jangan!! Gue pake tangga itu aja” Potong Raziel sambil menunjuk tangga besi yang ternyata sedari tadi ada di tembok rumah Jinora. Tau begitu tadi Raziel manjat saja, tapi tidak apa-apa tadi ia terlihat keren.   “Kenapa sih lu suka memperumit hidup? Gue turun aja lah. Lagian itu tangga gak bener-bener sampai atas tau!” Tolak Jinora yang mau berjalan ke bawah namun lagi-lagi aksinya terpotong karena Raziel.   “JANGAN! Gue gak mau lu kecapean! Kan lu lagi sakit!” Ucap Raziel yang membuat Jinora langsung membeku. Biasanya saat orang lain mengatakan hal seperti itu Jinora akan jijik atau langsung memukul orang tersebut, namun entah kenapa saat Raziel yang bilang hal tersebut pipi Jinora langsung memerah.   “Gue naik dulu bentar! Lu ambil sapu atau alat panjang yang lain, takutnya tangan gue gak sampai” Kata Raziel yang sudah mengambil tangga dan mengarahkannya ke kamar Jnora. Jinora juga dengan cepat langsung mengambil sapu untuk membantu Raziel.   “Nih Ra!” Ucap Raziel sambil memberikan plastic tersebut namun tidak sampai kamarnya, dengan sigap Jinora langsung mengambilnya dengan sapu. Beruntung makanan dan minuman tersebut selamat dari ide aneh Raziel.     Jinora langsung membuka plastic tersebut, benarnya saja isinya adalah Bandrek dan sop iga yang di bungkus plastic. Untung saja ide gila Raziel untuk melemparnya tidak jadi, kalau tidak pasti makanan dan minuman ini terbuang sia-sia. Jinora tersenyum lebar saat mencium aroma dari makanan dan minuman tersebut, tanpa sadar Raziel ikut Bahagia melihat senyuman manis Jinora.   “Oke gue balik yah! Dadah!” Teriak Raziel yang keluar dari halaman depan Jinora.   “Ma-makasih yah!” Teriak Jinora kepada Raziel walau agak malu-malu.   “APA?! GAK DENGER?!” Teriak Raziel menanyai Jinora lagi walau sebenarnya ia bisa mendengar ucapan terimakasih Jinora sebelumnya.   “MAKASIH!” Teriak Jinora lagi yang berhasil di bodohi Raziel, bisa terlihat Raziel tertawa kecil walau dari jauh.   “APAA?? GAK DENGER” Tanya Raziel lagi meledeki Jinora tapi kali ini Jinora tidak mengulangnya dan menutup Jendelanya, dari senyuman Raziel sudah ketahuan kalau orang itu hanya meledekinya.      Setelah suara motor menyala lalu menghilang dari indra pendengaran Jinora, Jinora mengitip kembali dari balik jendela. Raziel benar-benar sudah pergi, dan entah mengapa hal tersebut membuat Jinora sedikit kecewa. Jinora akhirnya memilih turun dan membuka makanan dan minuman tersebut ke dalam mangkuk dan gelasnya.    Ia memakan makanan tersebut sampai habis, rasanya sangat lezat. Baru kali ini ia sedang tak enak badan namun di berikan makanan enak. Biasanya kalau ia sakit hanya di berikan teh hangat dan bubur, namun kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya ia senang merasa sakit.   TING TONG.. Suara bunyi bel membuat Jinora dengan cepat langsung membuka pintu tanpa memperdulikan kakinya yang terpentok meja makan. Ia langsung membuka pintu dengan senyum lebar dan napas terputus-putus, namun sayang orang itu bukan orang yang ia harapkan.   “H-hai nor! Lu kenapa ngos-ngosan gitu?” Tanya Irina yang sedikit kaget dan bingung karena Jinora sampai membuka pintu dengan keras.   “Eh kalian? Gak papa, hehe” Kata Jinora yang tersenyum lebar, namun hal ini terlihat aneh bagi sahabat-sahabatnya.   “Kamu gak papa kan? Tumben aneh banget” Ucap Eliza sambil masuk ke dalam rumah Jinora di ikuti oleh yang lain.   “Gak papa hehe. Kalian mau apa? Gue kasih minuman yah, bentar~” Ucap Jinora dengan ramah dan masih tersenyum lebar.   “Bentar, lu kan masih saki- tuh kan panas banget. Duduk aja, biar gue yang ambil minum sekalian buatin lu sop” Kata Arjuna sambil memeriksa badan Jinora yang sangat panas lalu mendudukannya di sofa.        Teman-temannya yang lain ikut memeriksa dan benar suhu Jinora sangat panas, pantas saja ia bersikap aneh. Irina dan Eliza hanya bisa berharap semoga Jinora tidak semakin aneh karena sakit, apalagi kalau sampai gila seperti di televisi.     Di lain sisi Jinora hanya tersenyum Bahagia, ia juga tidak tau mengapa menjadi seperti ini. Bahkan rasa pusingnya dapat di kalahkan oleh perasaan Bahagia ini. Perasaan aneh yang datang setelah Raziel menjenguknya tadi, Apa benar Jinora mulai menyukai orang freak itu? Jinora sendiripun tidak tau, ia hanya ingin menikmati momen saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN