Bekasi, 5 September 2020
Jinora menatap langit yang mendung dari jendela kamarnya sambil menghela napas panjang, Banyak pertanyaan di benaknya, tentang dirinya dan orang baru itu. Ia sudah selesai bersiap-siap tampil ke pentas ini, rencananya ia akan melakukan atraksi untuk perwakilan eskulnya. Ia harus tampil karena ia satu-satunya orang dengan sabuk hitam dengan level Chil DAN sedangkan yang lain bahkan kakak kelas hanya sampai sabuk merah dan hitam polos.
Selain atraksi, sebenarnya ia di minta oleh Arjuna untuk bernyanyi waktu ia mentraktirnya kemarin. Karena sebenarnya Jinora memiliki suara yang bagus, namun hanya keluarganya dan sahabatnya yang tau. Sejujurnya ia mengetahui hal itu, namun ia lebih memilih untuk memendam bakat bernyanyinya. Karena selain ia kurang percaya diri, berrnyanyi mengingatkannya kepada ayahnya yang dulu sangat suka sekali dengan suaranya.
Jinora tersentak kaget saat suara dering handphonenya di saku celananya, ia langsung mengambil dan melihat siapa yang menelfonnya. Senyuman Jinora akhirnya melukis di wajahnya, ia melihat ibunya menelponnya.
“Halo mah, kenapa?” Tanya Jinora sambil masuk ke dalam mobil yang ia pesan lewat aplikasi online.
“Kamu apa kabar sayang?”
“Baik mah, mamah sendiri apa kabar” Tanya Jinora balik sambil tersenyum melihat hujan dari balik jendela mobil.
“Baik dong sayang. Mamah desember nanti pulang, terus nanti pas desember mamah gak ada kerjaan lagi sampai masuk Januari”
“Serius mah?!” Ucap Jinora dengan semangat dan sangat senang.
“Iya, kakak kamu juga kayanya bakal liburan di rumah nanti”
“Yeyy!” Teriak Jinora senang dengan penuh semangat.
“Hahaha, dasar. By the way kamu mau mamah bawain apa?”
“Apa aja deh mah tapi yang enak ama bagus, Jinora siap menampung semuanya”
“Oke sayang. Baik-baik yah di rumah”
“SIAP CAPTAIN!” Jawab Jinora sambil bersikap hormat walau tau ibunya tidak akan bisa melihatnya.
“Oh iya hampir lupa. Hm.. Jinora”
“Iya mah?” Tanya Jinora balik, entah kenapa ia merasa suara ibunya dari balik telepon berubah serius.
“Jadi kemarin mamah dapat telepon dari papah..”
Raut wajah Jinora langsung berubah setelah mendengar kata Papah di kalimat ibunya, ia memilih untuk diam mendengarkan.
“Dan dia bilang mau ajak kamu jerman”
“Terus aku tinggal sama nenek lampir itu dan anak anaknya gitu?” Tanya Jinora dengan nada dingin.
“No honey, kamu nanti tinggal di apartment deket sekolah dan tempat kuliah kamu nanti”
“Terus gunanya aku ke sana buat apa? Jadi penebus dosa dia ninggalin anak anaknya doang gitu?” Tanya Jinora dengan sedikit marah, matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi.
“Enggak gitu sayang-“
“Mah kayanya aku gak enak badan deh, udahan dulu yah” Kata Jinora memotong perkataan ibunya, ia tidak mau menangis saat masih menelpon ibunya.
“Kamu sakit? Gak ke dokter?”
“Enggak mah, kayanya efek kemarin di suntik” Jawab Jinora bohong dengan suara lemas. Namun suara lemas itu bukan acting yang ia buat-buat, kepalanya memang sakit dan badannya juga lemas setelah mendengar perkataan ibunya
“Ok sayang, jangan lupa ke dokter yah kalo makin parah”
“iya mah”
“Untuk ajakan papah mu tadi lebih lanjutnya telepon dia aja yah! Kalo kamu mikirin itu dulu juga gapapa, katanya dia ngasih kamu waktu buat mikirin ini”
Jinora tidak menjawab, ia lebih memilih melihat rintik hujan yang terus mengalir deras dari langit membasahi jalan. Moodnya benar benar turun dan ia ingin kembali pulang dan menangis seperti langit saat ini.
“Hm.. Oke bye sweetheart. Love you”
“Iya, Love you too mam”
Tepat saat panggilan itu terputuskan, setitik air mata membasahi layar handphone Jinora yang masih menyalah. Bagaimana bisa orang itu seenaknya memintanya untuk tinggal bersamanya setelah dengan gampangnya ia meninggalkan Jinora dan keluarga kecilnya? Apa ia tidak tau sebagaimana hancurnya keluarganya setelah ia pergi?
Seberapa mati-matianya ibunya membiayai keluarga setelah orang yang tidak bertanggung jawab itu pergi? Seberapa sakit hati ibunya saat tau selama ini ia berbohong dan ternyata punya istri lain di jerman? Dan lebih parahnya ia pergi meninggalkan keluarga kecil Jinora dan memilih balik setelah semua kebohongannya.
Dan sekarang? Setelah keluarganya Bahagia dan berkecukupan. Ia malah datang kembali dan meminta Jinora tinggal bersamanya. Jinora bahkan masih mengingat jelas bagaimana nenek lampir atau bisa di sebut Ibu Tirinya mengomeli Kakaknya dengan Bahasa Jerman saat ingin menemui Ayahnya diam-diam di bandara.
Karena itu Jinora sampai belajar Bahasa Jerman dan akhirnya ia tau semua sumpah serapah yang wanita itu katakan kepada Kakak dan dirinya yang waktu itu masih belia. Padahal Jinora dan Kakaknya tidak salah, mereka hanya korban keegoisan cinta orangtuanya. Bahkan wanita itu jugalah yang melarang ayahnya menemuinya, sampai akhirnya hal itu membuat ia kehilangan sosok ayah dalam kehidupannya.
“P-pak.. tolong putar balik aja. Nanti saya bayar 2 kali lipat” Kata Jinora dengan suara parau sambil menangis dalam diam. Supir mobil itu mengangguk lalu memutar balikan mobil kembali kea rah pulang.
Dering Handphone terdengar keras mengisi hening di dalam mobil, Jinora hanya melihatnya sebentar dan terlihat jelas itu adalah panggilan dari Arjuna. Ia mengambil napas panjang dan menahan tangisnya sebentar. Walau ia sedang sedih, ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya. Setidaknya ia akan meminta Arjuna memberitahu yang lain kalau Jinora tidak bisa hadir daripada pergi tanpa kata-kata.
“Ha-halo?” Tanya Jinora sambil menyembunyikan suara paraunya.
“Kamu kenapa nor? Kok suaramu gak kaya biasanya”
Memang sulit sekali membohongi Arjuna, dengan suaranya saja ia sudah tau Jinora sedang tidak baik. Sahabatnya itu memang sangat peka dan perhatian kepadanya.
“G-gak papa, gak enak badan aja”
“Ok, gue samperin yah?Lu sendirikan di rumah?” Tanya Arjuna sedikit khawatir dari balik teleponnya.
“Jangan! Lu kan pengurus pensi kali ini, mantan waketos lagi. Kalo gak ada lu ancur nanti pensi kali ini! Gue minta tolong ijinin gue aja ke Sabeum aja” Tolak Jinora yang membuat hembusan napas panjang terdengar dari suara handphone. Maaf Arjuna taoi Jinora benar-benar ingin sendiri kali ini, ia ingin meluapkan semua emosinya nanti.
“Yaudah deh, tapi selesai pensi gue ke rumah lu ya?”
“Iya bawel, udah yah gue mau istirahat”
“Yaudah, istirahat yang bener yah! Bye”
Di saat yang sama Ketika paggilan tersebut terputus, mobil yang Jinora tumpangi sudah sampai di depan rumahnya. Jinora memberikan uang kepada supir tersebut lalu keluar tanpa mempedulikan air hujan yang membasahi tubuhnya. Ia tidak peduli apapun saat ini, ia hanya ingin berlindung di sebuah tempat yang ia bisa tempati untuk melampiaskan emosinya.
“I always want to make everyone happy, but why I never have my true happines?”
***
Raziel memandang penampilan di panggung sambil menguap, membosankan. Sejujurnya Raziel benci hal seperti ini, ia lebih memilih untuk tidur di rumahnya atau nongkrong bersama teman-temannya. Namun rasa malasnya ia pendam karena ingin melihat gadis yang ia sukai naik ke atas panggung. Tapi sudah hampir 3 jam ia di tempat membosankan ini, tidak ada tanda-tanda gadis itu muncul.
“Bukannya atraksi itu harusnya dari pagi yah?” Guman Raziel bertanya sendiri sambil menatap penampilan seseorang yang sedang menari di atas panggung.
“Ok guys! Gimana? Keren kan? Ok sekarang kita sambut yang gak kalah keren! ATRAKSI DARI TAEKWONDO SEKOLAH KAMI!!” Ucap seorang MC dari atas panggung yang membuat rasa kantuk Raziel sirna dan kini sebuah senyuman muncul dari wajahnya.
Namun hal itu berlangsung sebentar saat ia tidak melihat Jinora di segerombolan orang yang memakai baju putih itu. Arjuna kebingungan dan langsung melihat sekitar untuk bertanya, kebetulan saat itu ada Eliza dan Irina yang sedang lewat, namun kali ini tidak ada Jinora di antara mereka.
“Liz! Na! Liat Jinora gak?” Tanya Raziel yang langsung berlari ke arah mereka. Keduanya memiliki reaksi yang berbeda, Eliza terlihat santai namun berbeda dengan Irina yang terlihat senang dan canggung.
“Lu tau nama gue?” Tanya Irina kepada Raziel, ia benar-benar senang ternyata pria ini tau namanya.
“Taulah, siapa yang gak tau lu di sekolah ini?” Jawab Raziel dengan santai yang tak sadar hal itu sudah lebih dari cukup membuatnya Bahagia.
“Lu pada tau Jinora dimana?” Tanya Raziel lagi yang tadi teralihkan dengan pertanyaan Irina,
“Enggak, tapi kata Arjuna sih dia gak bisa tampil karena sakit. Aku nanti ama Irina dan Arjuna bakal jengukin dia sih. Kam-“ Jelas Eliza yang langsung di potong oleh Raziel, padahal ia ingin mengomeli orang itu karena menganggu Jinora terus.
“Oke makasih” Ucap Raziel memotong perkataan Eliza dan pergi tapi tangannya di tahan oleh Irina yang terlihat malu-malu.
“Apa?” Tanya Raziel dingin dan langsung menghempaskan tangan Irina.
“s**u yang gue kasih kemarin gimana? Enak gak?” Tanya Irina sambil memain-mainkan rambutnya. Ya, s**u yang kemarin Raziel kasih kepada Jinora itu pemberian dari Irina.
“Oh itu, makasih yah. Dah!” Kata Raziel singkat dan langsung pergi meninggalkan Irina.
Irina sedikit kesal melihat Raziel yang sangat dingin kepadanya dan cewek-cewek lain, tapi anehnya ia sangat perhatian kepada Jinora. Irina tau kalau Raziel menyukai Jinora, tapi ia yakin cowok itu akan menyerah dengan perasaannya.
Karena ia sangat tau kalau Jinora tak tahan dengan hal cinta-cintaan dan juga kalau di lihat kembali ke masa lalu, sudah banyak sekali cowok yang menyerah mendapati hati sahabatnya. Bukannya ia ingin menjadi perebut tapi lebih baik ia bersama Raziel daripada cowok itu di sia-siakan bukan?