Bagian 10 - Suntikan (2)

1726 Kata
“Jelaskan kenapa kalian bisa di lantai dua? Sedangkan semua siswa dan siswi di larang naik ke lantai dua? Terutama kamu Jinora, kenapa jadi begini sekarang? Ibu kamu pasti marah kalau tau ini?” Tanya Bu Linda mengintrogasi Jinora dan Raziel di ruangannya.      Jinora dan Raziel tidak menjawab, mereka seakan seperti orang bisa. Jinora terlihat sangat tegang bahkan keringat dingin mengucur deras dari dahinya, ia benar benar takut kalau Bu Linda memberitahu ibunya dan hal itu pasti membuatnya kecewa. Berbanding terbalik dengan Jinora, Raziel terlihat sangat santai. Raziel terduduk dengan kaki di lipat sambil senyum-senyum seperti orang bodoh. Ia memang tidak menjawab pertanyaan Bu Linda, tapi hal itu lebih terlihat seperti mengabaikan daripada takut seperti Jinora.   “Ibu sedang bertanya! Bukan bernyanyi, jawab dong!” Ucap Bu Linda dengan tajam sambil memukul meja, kedua orang itu langsung mengalihkan pandangnya ke Bu Linda.   “Sa-saya tadi ke atas buat ambil barang bu, soalnya kemarin kan saya ijin bu. Terus ternyata buku tulis Kewarganegaraan saya ketinggalan di kelas, karena minggu depan ulangan jadi saya harus ambil deh bukunya. Tapi saya takut gak di ijinin satpam, jadi saya nekat deh bu” Jawab Jinora sambil berakting sedih lalu mengambil sebuah buku tulis dari dalam tasnya. Walau itu bukan tujuan sebenarnya, namun buku Jinora memang ketinggalan di kelas dan ia baru menyadarinya saat melempari Raziel dengan buku.   “Baik ibu maafkan, lain kali jangan gitu lagi! Minta izin dulu! Kalo di ijinin kan jadinya gak ribet gini” Kata Bu Linda yang percaya dengan perkataan Jinora.. Jinora langsung tersenyum lebar sambil berterimakasih.   “Hahahaha, gila ngakak banget” Tawa Raziel mengema di ruangan, Ia sudah sejak awal menahan tawanya karena tau kalau Jinora berbohong dan Bu Linda mempercayai itu. Hal itu membuat Bu Linda dan Jinora bingung seketika.   “Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu? Sekarang ibu tanya kamu ngapain ke atas terus bikin rusuh teriak-teriak?” Tanya Bu Linda kepada Raziel yang akhirnya membuatnya berhenti tertawa.   “Saya bu?” Tanya Raziel balik sambil menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi seperti orang bodoh.     Jinora menatap Raziel aneh. Bagaimana mungkin si bodoh ini bertanya pertanyaan bodoh itu? Memangnya ada orang lain selain mereka? Dan lagi kenapa ia tertawa seperti itu?  Oh iya, ia lupa kalau Raziel memang gila.   “Iyalah kamu! Memangnya di sini ada orang lain selain kita bertiga?” Jawab Bu Linda dengan kesal, Raziel memang rajanya membuat orang kesal sepertinya.   “Saya mah.. gabut aja bu, pengen rebahan” Ucap Raziel dengan santai sambil meregangkan badannya. Bu Linda menatap Raziel tidak percaya, kok bisa yah ada anak seperti ini?   “Jinora kamu keluar duluan, sekarang kamu ke UKS. Saya sudah suruh Davin sama Arjuna anterin kamu ke UKS nanti, takutnya kamu benaran takut di suntik dan kabur lagi” Perintah Bu Linda yang di balas angukan Jinora walau dalam hatinya ia takut lalu bangkit namun tangannya di tahan Raziel.   “Kalo saya bu? Saya mau lanjut rebahan atuh. Gak baik kita berduaan di ruangan, nanti ada setannya bu kalo kata guru agama” Tanya Raziel yang masih memegang tangan Jinora, Jinora yang sadar segera melepaskan tangan Raziel yang mengengam tangannya.   “Kamu? Hmm.. KAMU GAK BOLEH PULANG DAN BANTU ANAK ANAK OSIS BERES-BERES SAMPAI SORE” Jawab Bu Linda dengan penuh penekanan di setiap katanya. Hal itu membuat Raziel meringis, padahal ia berencana buat main sama teman-temannya sampai malam.    “Kamu ngapain Jinora? Mau di hukum juga kaya Raziel?” Kata Bu Linda yang membuat Jinora segera keluar dari ruangan, Bu Linda di sekolah memang jauh berbeda dengan Bu Linda saat main ke rumahnya untuk bertemu mamahnya.      Jinora menutup pintu lalu langsung menampakan seseorang yang ia kenal sedang menunggunya, Tapi itu bukanlah Arjuna, Irina, maupun Eliza. Itu adalah Davi, ia tak sangka kalau Davin benar-benar menungguinya. Karena dulu waktu Jinora masih menyukai Davin, ia pernah pingsan dan meminta Davin untuk menungguinya namun orang itu tidak datang sampai pulang sekolah. Sudahlah, itu masa yang kelam bagi Jinora.   “Kok lu di sini? Juna mana?” Tanya Jinora sambil menegok ke kanan dan ke kiri mencari sahabatnya itu.   “Dia tadi ada Rapat, tadinya mau bolos tapi ketauan jadi gue sendirian deh” Jawab Davin dengan wajah datarnya seperti biasa.   “Trus Eliza sama Irina gimana?” Tanya Jinora yang sekarang sudah menatap wajah datar Davin.   “Irina Latihan buat pensi besok, katanya dia mau nari modern dance. Kalau Liza kan ketua PMR, pasti dia di UKS lah bantuin data anak anak yang di suntik” Jawab Davin lagi dengan singkat dan di balas anggukan oleh Jinora.   “Lu juga ngapain di sini? Tumben” Tanya Jinora yang duduk di bangku depan UKS sambil menghadap Davin.   “Lu gak denger? Gue di panggil bunda ke sini. Kalau gak mah, gue juga ogah” Jawab Davin sambil berkecak pinggang melihat Jinora yang malah duduk.      Seperti yang pernah di bilang, Ibu Davin adalah guru di sini sekaligus sahabat ibunya Jinora. Dan orang itu adalah Bu Linda, makannya tadi Bu Linda meminta Davin untuk mengantar Jinora walaupun tau kalau mereka berdua sangat tidak akur. Bu Linda melakukan itu sepertinya karena masih ingin menjodohkan mereka berdua, karena katanya dulu ia dan mamahnya kalau punya anak berbeda gender akan menjodohkan mereka. Namun sayang sepertinya itu hal yang mustahil kalau melihat dari hubungan Davin dan Jinora.   “Dih tumben banget lu, dulu aja ampe pulang gue tungguin” Ledek Jinora sambil tersenyum menyebalkan.   “Bacot lu ah kaya dora, buruan jalan ayok” Kata Davin sambil menarik tangan Jinora untuk bangun sampai gadis itu hampir terjungkal ke depan.   “Dih, orang nanya doang. Dasar cowok gak ada hati” Kata Jinora sambil menatap Davin tajam dan memanggilnya dengan julukannya di sekolah ini. Davin hanya memutar bola matanya malas lalu berjalan duluan meninggalkan Jinora, Jinora langsung berlari mengikutinya.       Ya, Davin memang di juluki ‘Cowok gak punya Hati’ karena sifatnya yang dingin seperti es. Oleh karena itu dulu saat kabar Davin dan Eliza pacaran tersebar. Tidak hanya Jinora, tapi semua orang di sekolah bingung dan tak percaya akan berita tersebut. Karena sifat Eliza yang terkenal lemah lembut, ramah, dan anggun sangat berbanding terbalik dengan Davin yang kasar. Walau begitu sebenarnya mereka adalah pasangan yang sangat cocok, walau tidak seromantis orang-orang lainnya.   “hm.. lu masih takut di suntik?” Tanya Davin sambil berjalan dan tak menatap wajah Jinora. Jinora menatapnya bingung, bagaimana bisa Davin tau hal ini? Perasaan ia tidak pernah memberitahu siapapun selain Arjuna, dan juga ia yakin Arjuna tidak akan memberitahu orang lain.   “Lu tau dari mana?” Tanya Jinora balik ke Davin dengan raut serius. Ia memang kaget Davin mengetahui hal itu, tapi ia lebih kaget Davin yang terlihat sedikit mengkhawatirkannya walau di tutupi dengan raut datarnya.   “Gue gak tau dari siapa-siapa, tau sendiri. Gue tau dari dulu pas lu selalu gak hadir atau pura pura sakit pas mau di vaksin SMP dulu. Dan tadi si Raziel kan teriak-teriak di lantai atas” Jawab Davin yang di balas anggukan oleh Jinora. Ia dan Davin sudah berkali-kali sekelas dari SMP, cepat atau lambat ia pasti tau apalagi melihat sifatnya yang peka.   “Dah sana masuk, jangan kabur dari masalah mulu” Kata Davin memintanya masuk ke UKS. Jinora tak sadar ternyata sudah di depan UKS, ketakutannya kembali menjalar masuk ke tubuhnya. Apalagi saat ia melihat sekolah sudah sepi dan sudah tidak ada yang mengantri.   “Mana berani dia? paling juga abis ini kabur” Celetuk Raziel sambil tersenyum meremehkan yang tiba-tiba muncul, Jinora langsung menatapnya kesal.   “Gue berani ya! Liat aja!” Kata Jinora yang langsung masuk ke ruang UKS membuktikan dirinya.       Jinora masuk ke dalam UKS dengan kesal, bahkan sampai membanting pintu UKS dan hal itu membuat semua orang di dalam langsung menatapnya. Jinora langsung merasa canggung dan meminta maaf. Eliza menertawakannya pelan yang membuat Jinora semakin malu.   “Gak papa, silakan duduk” Ucap seorang dokter perempuan ramah sambil tersenyum manis, Jinora mengikuti permintaannya.   “Oke siapa nama mu?” Tanya Dokter tersebut dengan lembut.   “Ji-Jinora” Jawab Jinora sedikit takut saat melihat benda yang ia takuti di tangan dokter tersebut.   “Oke, ini bakalan sakit sedikit. Tahan ya Nora, kaya di gigit semut saja kok” Kata Dokter tersebut yang membersihkan Pundak Jinora dengan alcohol.      Jinora memejamkan matanya. Ia merasa sebuah benda dingin menusuk pundaknya, namun rasanya tidak sesakit yang ia kira. Ia membuka matanya perlahan dan bingung, kenapa rasanya tidak sesakit waktu ia kecil? Apa selama ini ia di bodohi oleh pemikirannya sendiri?   “Selesai, terima kasih Jinora” Kata Dokter tersebut sambil tersenyum di balik maskernya, Jinora hanya mengangguk dan berterimakasih lalu keluar dari UKS dengan wajah bingungnya.   “No.. Ra..” Panggil Arjuna yang berlari ke arahnya dengan napas tersegal-segal. Namun Jinora abaikan, ia masih fokus dengan pemikirannya.   “Nor? Nor?? Kamu marah?” Tanya Arjuna sambil melambaikan tangan ke muka Jinora, hal itu membuat Jinora tersadar.   “JUNAA” Kata Jinora yang habis itu langsung memeluk Arjuna dengan senyum mereka, Arjuna yang di peluk kaget dengan pipi yang merah.   “Ke-kenapa?” Tanya Arjuna yang bingung dengan sikap Jinora. Jinora melepas pelukannya lalu tersenyum lebar sambil menatap Arjuna.   “Gue seneng banget tadi gue berani di suntik na! terus gue bisa atasin rasa takut gue! Di suntik gak sesakit yang gue bayangin ternyata” Kata Jinora dengan penuh semangat dan tersenyum lebar.   “Pinter, kalo gitu harus di rayain yah!” Kata Arjuna sambil mengelus kepala Jinora pelan, Jinora mengangguk semangat sebagai balasan.   “Yaudah, gue anterin lu yah! Gue ijin dulu ke ruang osis” Kata Arjuna yang di balas anggukan kepala Jinora. Setelah melihat balasannya, Arjuna langsung pergi ke ruang osis.      Saat Arjuna sudah pergi ke ruang Osis, Jinora berjalan-jalan sebentar di Lorong sekolah yang sudah sepi. Sebenarnya selain karena bosan, ia juga mencari Raziel. Ia mencari Raziel untuk memamerkan hal ini dan membuatnya mati kutu karena tadi meledeknya.   “Oy jiel, katanya mau bolos kok lu malah nyapu kek babu di sini” “Eh iya bang, gabut aja sesekali jadi OB”     Jinora yang mendengar suara Raziel langsung mengikuti suara itu. Benar saja di situ ada Raziel yang sedang menyapu lantai dan genknya yang sedang meledekinya. Jinora yang melihat itu tertawa dalam diam, ia tidak menemui Raziel langsung dan lebih memilih untuk melihat mereka dari jauh.   “heleh, gegara lu gue tunggu sampai 3 jam tau gak” Kata teman Raziel  yang sepertinya anak kelas 3.   “Maapin bang, ada urusan yang lebih penting” Jawab Raziel yang masih terus menyapu lantai.   “urusan apasih lu, tiap hari kerjaannya makan boker aja” Canda temannya yang memukul legang Raziel   “Ada seseorang yang harus gue jaga, takutnya kalo gue bolos nanti dia masih ketakutan. Gue gak mau dia takut sendirian” Jawab Raziel dengan serius dan masih fokus menyapu lantai.   “Ow.. Singa betina bukan?” Ledek salah satu temannya dari belakang yang membuat yang lain ikut meledeknya. Raziel yang di ledeki hanya tersenyum dengan pipi merah.   Tunggu.. Bukannya singa betina itu aku? Tapi mana mungkin itu aku? Tapi yang di panggil singa betina itu hanya aku sepertinya di sekolah ini..   “Nor ayok pergi” Kata Arjuna yang mengagetkan Jinora dan menarik tangannya   Sepertinya untuk saat ini Jinora buang saja rasa penasarannya, namun mengapa lagi lagi jantungnya berdetak kencang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN