Bekasi, 4 September 2015
Hari ini sepertinya adalah hari yang paling Jinora benci dan takuti. Ini adalah hari di mana seluruh siswa dan siswi di suntik vaksin. Jujur walau Jinora terlihat kuat dan menyeramkan, sebenarnya ia hanyalah gadis biasa yang penakut. Selain percaya mistis, Jinora sangat benci dan takut dengan hal yang berbau suntikan dan rumah sakit. Hal itu mengingatkannya waktu ia dulu di rawat berminggu-minggu karena sakit sewaktu masih kecil.
Hal itu juga menginggatkannya kepada orang yang paling ia benci namun juga sayangi, Ayahnya. Ya, Ayah Jinora adalah seorang professor terkenal di bidang Kesehatan. Dulu Jinora sangat menyukai semua hal tentang medis, namun saat kedua orangtuanya bercerai diam-diam lalu ayahnya pergi meninggalkannya. Padahal ia sangat menyayangi ayahnya, Ayah adalah cinta pertama semua anak perempuan bukan?
Selama bertahun-tahun Jinora menunggunya namun Ayahnya tidak pernah datang, karena sebelum ayahnya pergi ia hanya bilang akan ke kampung halamannya di Jerman dan akan segera kembali lagi seperti biasanya. Sampai akhirnya ibunya menceritakan segalanya, pada saat itu untuk pertama kalinya Jinora mengalami patah hati. Oleh karena itu sampai sekarang ia membenci ayahnya dan tak percaya cinta, namun menjaga perasaan bukan hal yang mudah bukan?
“Ra! Ngelamun aja! Kenapa? Ayok baris” Tanya Irina mengagetkan Jinora, gadis itu segera sadar dari lamunannya.
“EH? KOK KITA BARIS?” Tanya Jinora panik saat sadar ternyata telah di Tarik Irina masuk barisan.
“Ditanyain malah nanya balik, kesambet lu?” Ucap Irina sambil menjitak pelan kepala Jinora. Namun Jinora tidak menghiraukan itu, ia sedang fokus mencari jalan keluar untuk tidak di suntik.
“Hmm.. Arjuna mana?” Tanya Jinora sambil memperhatikan sekitar untuk mencari Arjuna. Kenapa? Karena hanya Arjunalah yang tau rahasia dia, dan hanya dia lah yang bisa membantu Jinora.
“Dih, gimana sih? Kan Juna anak OSIS, mereka lagi di ruang osis rapat buat acara pensi hari sabtu besok. Makannya kan kita abis suntik pulang cepet, katanya mau masang panggung nanti” Jelas Irina dengan santai. Sedangkan Jinora sekarang semakin panik, kenapa sih akhir akhir ini ia harus di hadapi oleh situasi yang menegangkan seperti ini?
Jantung Jinora semakin kencang saat orang-orang di depannya mulai masuk ke dalam UKS. Terdengar beberapa jeritan anak cewek yang takut dan menangis karena di suntik, hal itu tentu membuat Jinora semakin takut. Bodoh sekali ia kemarin lebih memilih ikut tonton juniornya olimpiade sekalian Latihan untuk pensi besok, daripada diam di kelas dan mendengar pengumuman. Ia juga kemarin tidak sadar saat Kepala Sekolah membahas tentang ini saat upacara karena terlalu sibuk berdebat dengan Raziel.
“Cengeng banget heran ampe nangis, caper tuh! Eh kok muka lu pucet ra? Sakit lagi?” Tanya Irina yang sadar akan perubahan wajah sahabatnya. Sekarang wajah Jinora memang pucat dan keringat dingin bercucuran di pipinya
“Gu-gue kebelet kencing, dah!” Kata Jinora yang langsung pergi saat tinggal satu orang lagi di depan Irina.
Jinora segera berlari lalu bersembunyi di kelas yang kosong, karena semua anak memang seharusnya tidak boleh naik ke lantai 2. Untung saja tadi Pak Satpam sedang mengobrol dengan guru jadi Jinora bisa naik dan bersembunyi di kelas. Jinora langsung naik ke atas meja lalu menaruh tasnya sebagai alas tidurnya, tak lupa ia memakai earphone lalu mendengar lagu kesukaannya. Ia fokus memainkan Handphone-nya sambil tiduran, ini hal yang nikmat sekali bagi Jinora.
“Ish kok gak di bales! Mungkin masih rapat kali yah?” Guman Jinora kesal saat mengechat Arjuna yang masih tidak Online juga, padahal ia ingin tanya mengapa Arjuna tidak memberitahunya hari ini ada vaksinasi di sekolah.
“Chat siapa?” Tanya seseorang dari bawah meja namun Jinora tidak menyadarinya.
“Ini Arjuna, ngeselin banget masih off juga” Jawab Jinora tanpa menoleh dan belum menyadari asal suara.
“Ohh kirain gue, patah hati aku tuh” Kata seseorang itu lagi dengan nada yang di sok imutkan.
“Hahaha, emang lu si-a-pa?” Tanya Jinora yang tersadar kalau daritadi ia hanya sendiri di kelas ini. Mata Jinora langsung membulat sempurna, ia bergerak berhati hati menurunkan kedua kakinya ke bawah untuk kabur.
“gue… RAZIEL GANTENG” Teriak Raziel yang langsung muncul dari arah bawah samping meja Jinora, seketika Jinora kaget dan membuatnya terpentok dinding di belakang.
“Aw! Sakit!” Ringis Jinora yang kepalanya terpukul dinding, untung saja meja yang duduki dekat dengan dinding jadi ia tidak terjatuh ke lantai, kepalanya bisa bocor.
“Sakit yah?” Tanya Raziel mendekati Jinora, ia mengelus-elus kepala Jinora pelan untuk meredakan sakit. Jinora tidak menjawab dan hanya menatap Raziel diam sambil memegang kepalanya, awalnya Raziel pikir Jinora marah namun tiba-tiba Jinora menghantam kepala Raziel keras sekali dengan dahinya.
“AGH! SAKIT! EMANG DASAR CEWEK JADI-JADIAN!” Teriak Raziel kesakitan sambil memegang kepalanya. Jinora hanya tersenyum penuh kemenangan melihatnya lalu turun dari meja mendekati Raziel, Raziel perlahan menjauh saat Jinora semakin dekat dengannya.
“Denger yah! sampai lu kagetin gue lagi kaya tadi, gak cuman dahi lu yang sakit tapi gue bisa aja sekalian cabut jantung lu hidup-hidup” Ancam Jinora dengan jarak wajah yang dekat sekali dengan Raziel. Raziel meneguk salivanya, Jantungnya berdetak kencang. Entah karena ancaman Jinora atau karena jarak wajah mereka yang terlalu dekat.
“good boy. Now go away! Jangan ganggu gue!“Kata Jinora yang mengelus kepala Raziel lalu mengusirnya sambil berjalan kembali ke meja yang tadi ia tiduri.
“Ok, I will do that. But that just in your dream honey! I just do whatever I want, so I don’t care if you like or not” Kata Raziel yang baru selesai menertralkan irama jantungnya, ia kembali mengodai Jinora dengan membuat gadis itu kesal.
“ISH PERGI GAK?! GUE LEMPAR BUKU NIH” Teriak Jinora sambil mengambil beberapa buku tebal di tasnya.
“Dih orang gue pertama kali di sini, sapa lu ngatur ngatur gue? Pemilik sekolah bukan” Balas Raziel sambil tersenyum kecil. Hal membuat Jinora kesal dan melempar beberapa buku ke Raziel, dan beberapa buku itu mengenai badan Raziel.
“Aw! Eh! Cukup woy!” Ringis Raziel yang malah membuat Jinora semakin semangat melemparinya barang. Bahkan sekarang tidak hanya buku, peralatan tulis juga ikut melayang di buatnya.
“Ka-kalo gue keluar, lu bakal ketauan ngumpet di sini juga!” Teriak Raziel dengan sedikt terengah-engah yang langsung Jinora langsung terdiam sambil mikir.
“Hmm.. bener sih, tapi gue yakin lu gak bakal berani karena lu ngumpet juga” Kata Jinora sambil tersenyum lalu kembali bersiap-siap melemparinya barang barang lagi.
“Oh.. lu ngumpet karena takut di suntik ternyata. Tapi maaf, gue di sini buat rebahan bukan lari dari masalah” Ucap Raziel sarkas, Jinora langsung terlihat sedikit kesal namun segera meredamnya.
“Yaudah, gue gak peduli. Sana pergi! PERGI!!” Usir Jinora yang kembali melempari Raziel barang-barang namun lebih banyak dan cepat, Raziel hany tersenyum lalu lari ke depan Lorong dan berteriak.
“WOI!! JINORA TAKUT DI SUNTIK!!” Teriak Raziel dengan keras dan membuat Jinora terbelalak kaget dan langsung mengejarnya dan menutup mulutnya.
Raziel memang gila, tidak orang itu memang melebihi kata gila. Terlihat jelas orang-orang langsung menatap mereka kearah atas, tidak hanya murid bahkan guru-guru. Pak Satpam langsung berjalan ke arah mereka dari bawah. Jinora sekarang hanya merutuki Raziel dengan tangan yang masih menutup mulut Raziel.
“Lu gila yah? Yang di hukum bukan cuman gue, tapi lu juga! Lu tuh ya- Aw!” Omel Jinora yang terpotong saat Raziel mengigit Jinora dengan mulutnya. Raziel memang tidak waras.
“Yah kan lu yang tantangi gue, gue mah baik turutin kemauan lu” Kata Raziel sambil tersenyum, Jinora langsung menaikan tangannya ingin memukul sampai suatu suara muncul.
“Jinora, Raziel. Ke ruangan ibu sekarang” Ucap Bu Linda, wakil kepala sekolah sekaligus sahabat ibunya Jinora. Jinora langsung diam seketika, sedangkan Raziel tersenyum seperti orang bodoh. Mereka langsung mengikuti jalan Bu Linda.
Sepertinya hari ini adalah hari terakhir Jinora di dunia, hancurlah sudah reputasi Jinora saat ini. Apalagi jika ibunya tau? Hancurlah semua. Jinora tarik semua perkataannya yang memuji Raziel, Raziel adalah orang terburuk yang pernah ia temui. ia sangat membenci pria itu sekarang, apalagi ia hanya tersenyum-senyum seperti orang bodoh
Selamat tinggal dunia, Jinora sepertinya akan pergi duluan ke alam baka nanti.