Bagian 7 - Pulang Bareng

1280 Kata
“Hm..” Leguhan kecil keluar dari mulut Jinora, gadis itu akhirnya tersadar setelah sudah tidur berjam-jam. Matanya mengerjap-ngerjap sambil meregangkan badannya. Ia sadar bahwa ia masih berada di lapangan kosong tadi, namun kali ini tidak ada Raziel di sisinya. Jinora meneriakan nama Raziel dan mencari-cari Raziel di sekitarnya, namun nihil karena batang hidung pria tidak tidak kelihatan juga.   “Ninggalin gue kali yah? Tapi kok tasnya masih di sini?” Guman Jinora sendiri yang masih mencari-cari Raziel.   “Yaudah lah tunggu aja sambil main Handphone, HAH JAM SETENGAH 6?!” Ucap Jinora setengah berteriak saat melihat angka di atas layar handphone-nya.       Jinora langsung berlari meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Raziel ataupun barang-barangnya, ia lebih khawatir pada barang-barangnya. Ia takut Tasnya masih di kelas ataupun di buang, ya walaupun tidak mungkin juga di buang. Siapa yang mau menganggu gadis itu? Orang-orang pasti masih mau hidup tenang.      Saat sampai di kelasnya, ia tidak dapat melihat tasnya di kelas. Bahkan ia sudah berputar-putar mencari tas hitam kesukaannya itu, namun nihil. Hingga akhirnya ada sebuah notifikasi masuk ke handphonenya, itu dari sebuah nomor yang tidak di kenal.              +62xxxxxxxxxx             Blokir / Tambah   Kalo udah bangun langsung ke depan Kalo gak bangun juga, emang kebo banget lu Jangan sampai ketahuan guru,  gue tadi bilangnya lu ijin sakit soalnya       Tanpa tau dari siapa nomor tersebut, Jinora langsung tau bahwa itu dari Raziel. Jinora langsung menutup Kembali pintu kelas dan mematikan lampu, lalu turun ke bawah. Sejujurnya ia sedikit jengkel kepada Raziel, kenapa orang itu tidak membangunkannya sampai sore begini?   “eh, Neng Nora! Kenapa masih di sini atuh? Bukannya lagi sakit?” Kata Mang Cecep, cleaning service sekolah ini. Jinora langsung pucat, bodoh ia menampakan dirinya terang-terangan seperti ini.   “Uhuk, iya pak tadi barang saya ada yang ketinggalan” Kata Jinora dengan suara yang di buat serak dan pura pura batuk. Jinora langsung berakting pura-pura sakit dan memegang kepalanya yang tidak pusing sama sekali.   “Eh iya, istirahat aja neng. Udah sana pulang, keburu malem nanti makin sakit loh” Kata Mang Cecep yang termakan dengan acting Jinora. Jinora langsung mengangguk lalu pergi keluar sekolah, ia berjalan cepat agar tidak bertemu guru-guru.     Jinora langsung mengechat Raziel sambil mencari-carinya, ia juga menambahkan nomor orang itu agar tidak ribet lagi mencari-carinya nanti.                Anak Gila                                 Lu di mana?                                 Buru gue mau balik   Liat depan lu     Jinora langsung mengalihkan pandangannya dari layar handphone. Terlihat jelas Raziel memakai helm di atas motornya sambil memperlihatkan dua bungkus makanan kearah Jinora, dengan cepat Jinora langsung berjalan ke arahnya.   “Lu bawa motor ke sekolah? Baru tau gue” Kata Jinora langsung kepada Raziel, ia memang selama ini tidak terlalu memperhatikan pria itu. Ia pikir Raziel hanya anak yang sok jagoan padahal tidak bisa apapun.   “He’em, naik gue anterin” Jawab Raziel sambil memberi kode meminta Jinora untuk naik ke atas motor, namun Jinora mengabaikan hal itu.   “Ngapain? Lu kan belum ada SIM. Lagian gue cuman mau ngambil tas gue doang kok, nanti baliknya naik Gojek” Tolak Jinora sambil menadahkan tangannya meminta tasnya kembali dengan wajah datar.   “Gak, lu nambah utang satu lagi sama gue. Naik sini” Ucap Raziel yang masih kekeh meminta Jinora naik ke atas motornya sampai membuka helmnya.   “Itu mah salah lu sendiri kenapa gak bangunin gue. Udah sini tas gue balikin!” Kata Jinora yang tak mau kalah dan terus meminta tasnya kembali.     Raziel frustasi, gadis ini benar benar keras kepala lagi. Padahal Raziel tadi sengaja kembali ke kelas dan belajar sebentar untuk mengabarkan kalau gadis itu sakit dan harus di pulangkan, bahkan ia harus memohon kepada ketua PMR untuk memberikan surat palsu itu. Untung saja Ketua PMR itu pacar sahabatnya dan dekat dengan Jinora, jadi dia langsung membantunya walau banyak rintangan dulu yang harus Raziel lewati.      Ya walaupun sebenarnya benar juga kata Jinora kalau ini salahnya juga, tapi Raziel tidak tega membangunkan Jinora yang sedang tertidur. Wajahnya yang menjadi sangat polos dan cantik itu bahkan sanggup membuat Raziel memperhatikannya berjam-jam. Tapi kalau tau gadis itu akan sekeras kepala ini, mungkin ia akan langsung membangunkan bahkan meninggalkannya.   “Yaudah seterah lu aja, nih tasnya. Tapi hati-hati, jam segini biasanya banyak orang aneh yang lewat. Apalagi sekolah kita sepi gini kalo malem, dah ya gue duluan!” Ucap Raziel yang melempar tas Jinora dan langsung di tangkap dengan sigap oleh Jinora.       Jinora langsung terdiam pucat di tempat, semua yang Raziel katakan itu memang ada benarnya. Sekolahnya berada di ujung gang dan suka sepi, bahkan banyak yang bilang kalau malam suka banyak orang mabuk yang lewat. Ia juga tidak tau menunggu Gojek sampai kapan, apalagi baterai handphonenya sudah sedikit.      Raziel yang paham dengan wajah Jinora yang berubah langsung memakai kembali helmnya lalu menyalahkan motornya. Belum sempat berjalan lebih dari 10 meter Jinora langsung berteriak memanggilnya, ia langsung tersenyum penuh kemenangan di balik helm sambil memberhentikan motornya.   “EH TUNGGU! GUE IKUT!” Teriak Jinora yang langsung membuat Raziel berhenti, ia langsung memakai tasnya lalu berlari kearah Raziel dan melompat ke atas motornya.   “Udah? Pegangan” Kata Raziel memastikan sambil modus meminta Jinora untuk pegangan.   “Dih ogah, nih yah gue naik tuh karena kasian lu sendirian. Nanti di godain cabe-cabean di jalan, atau malah badut mampang. Gue tuh bukan cewek gampangan, gue ga- AHH!” Ucapan Jinora langsung terpotong karena Raziel langsung mengebut menjalankan motornya, frngan refleks Jinora langsung meluknya dengan erat.   “Makannya jangan bawel” Kata Raziel yang masih mengebut, hal membuat Jinora langsung mengerucutkan bibirnya dan masih pegangan. Walau Jinora bisa di bilang lumayan tinggi, namun motor ini masih terlalu tinggi buatnya.     Raziel tertawa penuh kemenangan di balik helmnya, kapan lagi bukan ia bisa berjalan bersama gadis super keras kepala ini bukan?    ***   “Nah belok sini kan?”   “Iya” Jawab Jinora sambil mengangguk menjawab Raziel yang memastikan jalan, jangan lupa kedua tangannya yang masih memegang Raziel dengan kuat.      Raziel masih tersenyum lebar di balik helmnya, ia benar-benar menikmatinya saat ini. Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah rumah tingkat berwarna cerah itu, Raziel turun terlebih dahulu lalu membantu Jinora turun dengan membuat tangannya sebagai pegangan.     Suasana langsung hening dan canggung, jujur ini pertama kali bagi Raziel mengantarkan cewek ke rumahnya. Walau Raziel mungkin terlihat seperti anak nakal yang mempunyai cewek di mana-mana, namun sejujurnya ia hanyalah cowok yang tidak pernah pacaran dari lahir dan sangat malas berurusan dengan perempuan, kecuali Jinora tentu saja. Begitupula dengan Jinora, ia tidak pernah di di antarkan pulang oleh cowok selain keluarganya, kecuali Arjuna dan Davin.   “Gue balik yah” Kata Raziel yang memecah keheningan sambil naik kembali ke atas motornya, Jinora mengangguk setuju membalasnya.   “Oh iya, nih. Gue tau lu sendirian di rumah pasti gak ada makanan ama cemilan, lu juga belum makan siang” Kata Raziel memberikan sebungkus dimsum dan nasi goreng dan juga sebuah jus mangga, Jinora langsung menerimanya dengan canggung.   “Makasih.. Gak mau masuk?” Tanya Jinora basa basi walau sebenarnya ia sangat ingin Raziel segera pergi agar ia tidak terjebak dalam situasi canggung ini.   “Gak lah, udah jam segini. Lu juga sendirian, gak baik” Tolak Raziel yang membuat Jinora sedikit lega, ia pikir Raziel akan mengiyakan untuk meledeknya karena pria itu sangat bisa membaca pikiran Jinora walau hanya melihat mukanya.   “Dah yah gue balik yah singa betina, salam buat ibu lu” Pamit Raziel sambil mengelus kepala Jinora pelan, untuk pertama kalinya Jinora membiarkannya bahkan mengangguk mengiyakan Raziel. Raziel lagi-lagi tersenyum di balik helmya, ia langsung pergi dengan motornya setelah pamit.     “Gila, jantung gue diem dong! Masa gitu doang baper” Omel Jinora pada dirinya sendiri, kakinya terasa lemas dan rasanya seperti banyak kupu-kupu di perut dan dadanya.   Tidak, Jinora belum siap. Ia belum siap menyukai seseorang lagi, apalagi orang itu Raziel. Pasti ini karena  Raziel habis kebut-kebutan, ini pasti bukan perasaan yang ia benci itu.   Tolong tuhan, Jinora belum siap menyukai dan akhirnya merelakan lagi. ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN