Bagian 6 - Pohon Kenangan

1017 Kata
Jinora membuka pagar pembatas sekolah dan lapangan kosong tersebut. Matanya bergerak mencari-cari Raziel. Senyuman Jinora langsung menghias wajahnya saat melihat orang yang sedari tadi ia cari sedang duduk di bawah pohon beringin di tengah-tengah lapangan kosong itu. Jinora langsung berjalan berhati-hati ke arah Raziel yang sedang tertidur dengan buku yang menutupi wajahnya, ia berencana mengagetkan Raziel.   “Ngapain? Kangen beneran?” Ucap Raziel yang ternyata sadar akan kehadiran Jinora, membuat Jinora membatalkan aksinya.   “Cih Najis” Ucap Jinora singkat sambil memutar matanya. Ia melempar pelan atribut yang tadi ia pinjam lalu langsung memutuskan pergi dari tempat itu, moodnya sudah turun karena ucapan Raziel tadi.   “Eh? Makasihnya mana?” Tanya Raziel yang langsung duduk dan menarik tangan Jinora yang baru memutarkan badannya untuk pergi dari tempat itu.   “Iya makasih” Kata Jinora singkat yang hanya melirik Raziel yang masih mengenggam tangannya. Entah mengapa akhir-akhir ini perasaan Jinora suka tidak karuan, terkadang ia senang lalu tiba tiba marah atau sebaliknya.      Tanpa bicara sepatah kata pun Raziel menarik Jinora duduk di sampingnya. Ia mengambil sesuatu dari sebuah totebag di sampingnya, itu adalah kotak makanan yang berisi Roti Bakar yang berisi Coklat dan Keju.   “Apaan sih? Kan udah kelar, gue mau balik” Kata Jinora yang mencoba berdiri namun tangannya di tarik kembali oleh Raziel.   “Di dunia ini gak ada yang gratis. Sebagai gantinya lu temenin gue di sini sekarang, bekal gue kebanyakan kalo gak abis di omeli Nyonya besar” Ucap Raziel sambil menawari Roti Bakar tersebut. Jujur makanan itu terlihat sangat lezat, apalagi Jinora penyuka Keju dan Coklat.   “Tapikan udah masuk, ntar kalo ketauan guru gimana? Gak mau bolos ah gue” Tolak Jinora yang sebenarnya sangat mau makan Roti tersebut. Imagenya jauh lebih penting dari pada Roti-roti cantik itu.   “Dih, dah di tolong juga. Yaudah sana! Tapi nanti kalo masuk neraka gegara belum bayar utang jangan salahin gue” Ucap Raziel yang menutup kembali kotak makanan itu. Jinora meneguk Salivanya dan masih memusatkan pandangan kepada Roti-roti cantik itu. Sejujurnya Jinora sangat ingin roti tersebut, belum lagi perutnya yang mulai bunyi karena lapar.   “Yaudah” Kata Jinora yang langsung mengambil kotak makanan tersebut lalu memakannya. Ia tak bisa menahan senyuman bahagianya saat memakan Roti tersebut, Membuat Raziel ikut tersenyum melihat tingkah gadis itu.   “Tadi katanya gak mau, tapi kok itu sampai hampir abis? Gue aja belum makan sama sekali” Sindir Raziel kepada Jinora yang membuat gadis itu langsung menatapnya Sinis dengan pipi yang penuh oleh makanan, imut sekali menurut Raziel.   “Guhe tuh cungman gak mau siah-siahin makanan tauh!” Balas Jinora sinis dengan pipinya yang penuh oleh makanan.   “Yaudah, makan pelan pelan. Lu habisin aja, gue tadi udah beli uduk di jalan” Kata Raziel dengan wajah datar walau sebenarnya gemas dengan tingkah gadis itu.       Untung saja Jinora terkenal galak dan menyeramkan, jadi ia tidak mempunyai banyak saingan untuk mendapatkan gadis ini. Sejujurnya walau sangat galak seperti Singa, Raziel selalu menganggap Jinora imut seperti kucing. Oleh karena itu Raziel sangat senang membuat Jinora kesal, karena hal itu terlihat sangat mengemaskan baginya.   “A-da air gak? Min-minta dong! uhuk uhuk” Pinta Jinora sambil terbatuk-batuk, tenggorokannya terasa sangat serat.     Raziel dengan sigap langsung memberikan sebotol air mineral di dalamnya. Jinora langsung mengambil minuman tersebut dan menegaknya hingga habis. Ia tersenyum lega, perutnya terasa kenyang karena roti-roti tersebut.   “Nih sekalian, gue gak suka s**u” Kata Raziel yang melempar sekotak s**u coklat yang langsung di tangkap Jinora dengan sigap. Jinora memperhatikan s**u tersebut, itu adalah s**u yang biasa ia minum ke sekolah.   “Lu dapet darimana s**u begini? Bukannya di kantin gak ada yah?” Tanya Jinora sambil menusuk sedotan ke s**u tersebut.   “Tadi ada yang ngasih, daripada sayang kan? Lagian setau gue lu suka minum s**u beginian, yaudah gue kasih” Jawab Raziel sambil mengaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Jinora tidak peduli akan hal itu, ia meminumnya sampai habis. Yang terpenting sekarang perutnya kenyang dan ia bahagia. “Btw, tadi lu di hukum berapa lama?” Tanya Jinora basa basi mengingat kejadian tadi.   “Hm.. 3 jam baris di lapangan? Kurang lebih segitu lah” Jawab Raziel santai sambil memasukan kotak makan dan atributnya ke dalam totebag di sampingnya itu.   “Hm.. Tadi kata Pak Ridwan lu bilang kalo lu yang maksa minjam atribut gue? Makasih yah” Kata Jinora yang sedikit malu namun tulus kepada Raziel.   “Ya gapapalah, lagian lu udah bayar utangnya” Jawab Raziel santai lalu kembali tidur di pohon tersebut.   “Lah lu gak balik?” Tanya Jinora sehabis melihat jam dari handphonenya lalu berdiri dan mengumpulkan sampah yang tadi ia pakai ke dalam sebuah plastik di samping Raziel.   “Ngapain? Kena omel doang, mending gue tidur di sini. Kalo lu gak sayang nyawa sih gapapa” Balas Raziel yang membuat Jinora terdiam seketika, Jinora baru ingat kalau sekarang pelajaran Pak Ferdian.   “I-iya sih, yaudah gue ikutan” Tanya Jinora yang tidak jadi kembali dan duduk di samping Raziel. Ia memutuskan mengikuti ajaran sesat Raziel daripada kembali ke kelas dan di omeli habis-habisan oleh Pak Ferdian, belum lagi kalau Pak Ferdian bilang ke orangtuanya nanti.   “Cie Singa Betina mulai bandel, Kalo image lu ancur gimana?” Ledek Raziel yang sekarang menatap Jinora yang sedang memejamkan mata di sampingnya.   “Yah gue tinggal bilang tadi ke UKS, susah amat. Udah ah gue mau tidur!” Jawab Jinora yang membuat Raziel tersenyum simpul lalu kembali tidur. Tempat itu memang sangat cocok untuk beristirahat, anginnya yang sepoi-sepoi bisa membuat semua orang tertidur.      Jinora yang mulai terlelap tidur tanpa sadar menjatuhkan kepalanya ke paha Raziel, yang membuat Raziel langsung kaget dan pipinya memerah. Jinora memang sangat mudah sekali membuat jantung Raziel berdetak kencang.       Sejujurnya Raziel memang menyukai Jinora dari awal bertemu, namun ia menyembunyikan perasaannya itu dengan berbuat usil kepada gadis itu. Karena menurut kabarnya, Jinora memang sangat susah untuk di dapati. Rata-rata dari orang yang mendekati Jinora gagal duluan karena sikap Cuek dan Galak gadis itu. Namun berbeda untuk Raziel, menurutnya Jinora malah semakin menarik karena adanya sikaf galak dan cueknya.       Raziel memandangi Jinora dengan tatapan lembut, gadis itu sangat cantik sekali. Namun sayang wajah cantiknya di tutupi oleh sifat galaknya, tapi tidak apa-apa karena Raziel sangat menyukai Jinora apapun yang terjadi. Malah ia bersyukur karena kalau Jinora tidak memiliki sifat tomboy dan galaknya itu, sudah pasti banyak pria yang mendekatinya. Yang berarti menjadi saingan Raziel untuk mendapatkan Jinora.   “Semoga suatu hari nanti lu bisa suka sama gue yah Singa Betina” Ucap Raziel tersenyum hangat sambil mengelus kepala Jinora perlahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN