Bagian 5 - Upacara

1533 Kata
“Jin, bangun Jin ayok upacara” “SEMUA SISWA DAN SISWI HARAP TURUN KE LAPANGAN UNTUK MENJALANI UPACARA BENDERA” “Jin..”     Jinora membuka matanya perlahan, ia melihat sekeliling kelas yang kosong dan bersisakan Eliza yang menatapnya lega karena akhirnya gadis itu terbangun juga. Sepertinya Jinora tadi tertidur setelah mengerjakan tugas dan catatan biologi tadi.   “Eh? Kok gue pake jaket sama earphone? “ Tanya Jinora kebingungan sambil melepaskan Earphone yang mati di kedua telinganya dan jaket berwarna abu abu.   “Gak tau aku tadi pas dating sekolah kamu pakai jaket. Eh udah yuk di panggil dari tadi!” Kata Eliza yang langsung menarik Jinora yang membuat gadis itu langsung meletakan asal Jaket tak berpemilik itu. Mereka berdua berlari dan langsung berbaris di lapangan sesuai kelas.    “Tu-tunggu! Dasi, Sabuk, sama Topi kamu mana?” Tanya Eliza yang membuat Jinora langsung panik. Ia baru ingat dari rumah tadi ia lupa membawa atribut upacara, karena ia terlalu senang ingin masuk sekolah kembali.   “Aku lupa yaampun! Lupa aku kalau hari ini tuh hari senin! Kenapa sih aku selalu lupa Hari Senin terus!” Ujar Jinora merutuki kebodohannya, sepertinya hubungannya dengan Hari Senin memang tidak baik. Tapi itu tidak penting sekarang, yang terpenting sekarang ia harus segera mencari artibut sebelum ketahuan guru. “Minjem ama anak Osis atau Padus aja Ra! Lagian pastilah di ruang Osis masih ada stok Atribut” Usul Eliza yang di balas anggukan setuju oleh Jinora. Namun saat Jinora berjalan ke arah Arjuna yang sedang berada di tengah kumpulan anak Osis, hal itu langsung terhalangkan karena ada anak yang terkena Razia oleh Guru-guru killer. Jadi mau tidak mau Jinora harus kembali lagi ke barisannya.   “Gawat Guru-guru udah mulai Razia, tadi gue pas mau lewat ada anak kelas 10 IPS 4 yang kena. Mana pas banget, dikit lagi sampai ke barisan anak anak Osis” Kata Jinora yang baru saja kembali ke barisannya.   “Yaampun, Arjuna! Minjem aja sama Arjuna! Oh iya dia kan Osis dan anak Osis di suruh pakai atribut juga, kamu juga tadi udah ke sana” Kata Eliza yang gagal memberikan usul, ia sekarang ikutan panik karena Jinora.   “Ah Atribut Irina gimana? Dia lomba kan hari ini makannya gak ikut upacara” Tanya Jinora penuh harap sambil mengigiti jarinya.   “Ah iya! Ada sih tapikan anak anak yang lomba taruh tasnya di Ruang Auditorium” Kata Eliza yang memutuskan harapan terakhir Jinora.   “Yah udahlah aku berserah diri aja, gak ada jalan lain” Kata Jinora sambil menghembuskan napas pasrah.   “Eh jangan nyerah gitu aja dong! Kalo gak kamu coba aja baris di tengah, siapa tau kamu beruntung terus gak kelihatan guru kan” Usul Eliza menyemangati Jinora sambil mendorong gadis itu untuk berbaris di tengah.        Memang benar hampir setengah jalan Upacara berlangsung Jinora tidak ketahuan, namun Jinora tetap khawatir karena sebenarnya seharusnya ia cukup mencolok karena lumayan tinggi. Jinora terus mengigiti bibir bawahnya sambil keringat dingin, pupus sudah harapannya untuk menjadi siswi teladan. Padahal ia berencana membersihkan namanya dari insiden tahun lalu, Insiden saat ia kelepasan emosi dan membuat anak orang masuk rumah sakit tahun lalu. Ia juga masih bertekad kuat melawan Davin sebagai Siswa paling berprestasi tahun ini. Ingin sekali ia melihat wajah sombongnya itu merendah.   “Lu kenapa Singa Betina? Panik amat kaya apaan tau” Tanya Raziel yang sedari tadi memperhatikan gadis itu di sampingnya. Jinora yang menoleh langsung membuang muka saat tau itu adalah Raziel, ia tidak mau berdebat sekarang.   “Oh gak pake atribut yah? Gimana nih yang katanya wakil ketua kelas sama anak berpretasi kelas XI-MIPA-1 kok gak pake atribut? Mulai nakal yah anak kesayangan guru” Ledek Raziel yang di balas tatapan sinis Jinora. Kenapa sih orang menyebalkan ini harus berada di sampingnya? Membuat kepala tambah pusing saja.   “Sini” Ucap Raziel yang langsung membalikan tubuh Jinora ke arahnya lalu ia membuka seluruh atribut yang ia pakai.   “A-Apaan sih?!” Tanya Jinora kaget karena Raziel mulai memasangkan dasi kepadanya. Jantung Jinora berdetak begitu kencang karena jarak wajah mereka begitu dekat saat Raziel sedang mengalungkan Dasinya ke Jinora.   “Hei kalian ngapain itu?” Teriak Guru BK yang super killer dari belakang yang membuat Jinora semakin panik dan Raziel mempercepat kegiatannya.   “Nah kelar! Sampai nanti Singa Betina! Kalo gue gak balik artinya gue bolos yah! Kalo lu kangen tanya aja ke temen temen gue” Kata Raziel sambil memakaikan Topi ke Jinora lalu mengusap kepalanya sebentar dan langsung berjalan kearah Guru BK yang memanggil mereka tadi. Padahal sekarang Jinora hampir serangan Jantung karena sekarang Jantungnya semakin berdetak kencang.   “Kayanya aku harus ke dokter lagi deh akhir akhir ini jantungnya makin aneh” Guman Jinora pelan sambil tersenyum senang.   ***   “Kamu nyari siapa sih Ra?” Tanya Arjuna melihat Jinora yang terlihat kebingungan mencari seseorang dari balik jendela.   “Ah gak.. Laper aja” Jawab Jinora sambil tersenyum singkat kepada Arjuna yang kini menepati tempat Raziel, yah walaupun sebenarnya awalnya itu tempat dia.   “Nih makan aja dulu” Kata Arjuna yang diam-diam mengeluarkan sebungkus Roti dari tasnya. Arjuna terlihat sangat khawatir Jinora kenapa kenapa, apalagi sahabatnya itu belum makan dari pagi.   “A-ah iya. Thanks” Kata Jinora yang mau tidak mau mengambil roti tersebut walau sejujurnya perutnya tidak lapar sama sekali.   KRINGGG.. Jinora langsung berlari cepat keluar kelas, bahkan sebelum guru keluar dari kelas. Tetapi Jinora tidak berlari ke arah kantin, ia malah berlari ke arah lapangan untuk menemui orang yang sedari tadi ia tunggu.   “Misi Pak, bapak liat Raziel gak?” Tanya Jinora kepada Pak Ridwan, guru BK super killer yang tadi memergoki Raziel dan Jinora di lapangan.   “Loh? Masih ada atribut kamu yang belum di balikin sama dia?” Kata Pak Ridwan bertanya balik yang membuat Jinora terbingung. Pak Ridwan yang menyadari raut wajah Jinora yang berubah menjadi kebingungan langsung melanjutkan ucapannya.   “Loh? Kok bingung toh? Kata Raziel tadi itu kalian ribut di lapangan karena dia ngambil atribut kamu tapi kamunya gak mau jadinya gak jadi. Gimana toh?” Lanjut Pak Ridwan yang membuat mata Jinora langsung membulat. Raziel sampai berbohong untuk dirinya?   “A-ah iya” Jawab Jinora tak tau lagi harus menjawab apa, ia masih kaget dengan perkataan Pak Ridwan sebelumnya. Kenapa Raziel tiba tiba menjadi baik padanya? Bahkan sampai berbohong.   “Emang tuh bocah gembleng! Lain kali kalo di isengin tuh bocah lapor guru yah! Nanti Bapak hukum dia biar kapok! Kamu juga jangan terlalu deket deket sama anak kaya gitu, sayangkan kalau prestasi kamu ancur karena temenan sama anak kaya gitu” Nasehat Pak Ridwan yang di balas oleh anggukan dan senyuman oleh Jinora, walau sebenarnya hatinya sedikit jengkel dengan perkataan Pak Ridwan.   “Bapak gak tau dia di mana, coba kamu tanya teman teman berandalannya itu di kantin. Kalo Bapak ketemu bapak omelin dia” Kata Pak Ridwan yang akhirnya menjawab pertanyaan awal Jinora sedari tadi. Jinora langsung berterimakasih lalu salim dan pergi meninggalkan tempat itu.   “ah jangan jangan dia beneran bolos kali yah?” Guman Jinora sambil matanya terus mengeliat kesana kemari mencari Raziel. Ia terus mencari dan menanyakan Raziel kepada orang orang yang lewat di depannya, sampai akhirnya ia sampai kantin dan melihat sekumpulan cowok yang sedang berjalan ke arah belakang sekolah.   “Nor mau kemana?” Tanya Arjuna yang tiba tiba muncul dan mengengam tangannya. Jinora langsung kaget dan hampir berteriak.   “A-Aku mau… Ke toilet! hehehe. Sakit perut nih, dah!” Jawab Jinora agak tergagap karena panik lalu langsung pergi meninggalkan Arjuna. Sebenarnya Arjuna tau Jinora sedang berbohong, bagaimana pun mereka sudah bersahabat 10 tahun. Namun Arjuna mencoba tidak memperdulikan itu, ia yakin Jinora mempunyai alasan kuat sampai berbohong seperti itu.   “Sulit banget yah suka sama kamu Ra” Guman Arjuna pelan sambil menatap punggung Jinora mulai menghilang dari pandangannya. Harus sampai kapan ia memendam perasaan ini? Ia ingin sekali menyatakan perasaannya namun takut kalau Jinora malah menjauh darinya.       Di lain sisi Jinora sedang mengikuti segerombolan pria itu yang berjalan ke Gedung lama sekolah yang letaknya di belakang sekolah. Jinora memandangi mereka dengan teliti, namun orang yang ia cari tidak ada di tempatnya. Jinora tidak punya pilihan lain. Daripada ia terus memata-matai mereka seperti penguntit, lebih baik ia segera mendatangi mereka dan bertanya tentang Raziel.   “Misi, lihat Raziel gak?” Tanya Jinora yang memberanikan diri mendatangi mereka, walau sebenarnya ia agak takut karena cewek sendirian. Namun tak apa, jika mereka macam macam Jinora akan menonjok mereka sampai mampus.   “Wih gila euy Jinora dating nyamperin kita” “Mantap kejadian langka nih, anak rajin sekolah nyariin berandalan sekolah” “Hahaha, bener tuh si Raziel sama Jinora. Mantep betul uy”     Jinora mengambil napas dalam untuk mencoba menahan diri atas godaan godaan mereka kepadanya. Ia harus sabar, karena bagaimana pun ia sudah tau hal ini akan terjadi. Dan lagi ternyata benar kata Irina yang bertelepon dengannya kemarin ia saat sakit, katanya berita Raziel mengendong Jinora sudah tersebar luas sehingga mulai banyak gossip yang bilang bahwa mereka berdua sedang dekat.   “Udah gak usah dengerin, gila mereka mah. Lu nyari si Jiel kan? Ada di lapang kosong di belakang tuh anaknya! Lagi bersemedi ” Jawab seseorang yang seperti adalah orang yang ikut di omeli Jinora suruh balik ke kelas saat Jinora bertengkar dengan Raziel.   “Oke, makasih Erlang-ga” Ucap Jinora berterimakasih sambil membaca nama orang itu dari bet nama bajunya lalu pergi meninggalkan tempat itu.       Jinora langsung berjalan ke arah tempat yang di bilang teman Raziel tadi. Tempat itu adalah lapangan rumput kosong yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pohon beringgin besar. Tempat itu memang sudah lama kosong, katanya sebenarnya dulu tempat itu mau di bangun sesuatu namun gagal karena penghuni pohon beringin tersebut marah dan menganggu para pekerja. Namun Jinora tidak peduli dan takut sama sekali, karena tiba tiba perasaantakutnya di kalahkan oleh perasaan lain. Perasaan aneh yang menyenangkan dan berdebarkan saat ia akan bertemu dengan Raziel, walau sebenarnya Jinora tidak tau pasti perasaan apa itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN