Bagian 4 - Si Bodoh yang Aneh

1279 Kata
Bekasi, 28 September 2015      Krettt.. Jinora memasuki sekolah dengan mendorong gerbang besi yang setengah terbuka itu.  Gadis itu merinding seketika melihat pemandangan sekolah yang sangat berbeda daripada yang biasa ia lihat. Gelap dan Sunyi, itulah kata yang tepat untuk mendeksripsikan tempat ini sekarang.   “Gelap banget, jam berapa sih? Ah.. pantes baru jam segini” Guman Jinora sendiri sambil menatap angka 05.00 di atas layer handphonenya.       Memang salah Jinora sendiri yang datang terlalu pagi. Tapi bagaimana lagi, gadis itu sudah sangat rindu sekolah karena sudah 4 hari tidak masuk sekolah setelah insiden itu. Ia sangat bosan di rumah saja karena rumahnya sangat sepi, hanya ada dirinya, bibi, dan kucing peliharaannya. Ibu Jinora memang kembali kerja lagi di luar kota saat Jinora sudah di bawa ke dokter dan di urut, begitu pula kakaknya yang harus melanjutkan kuliahnya lagi di Bandung.       Jinora menghentikan langkah kakinya yang sedang menyusuri Lorong sekolah yang terlihat suram dan menyeramkan itu. Ia mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya. Jinora memberanikan diri dengan membalikan badan. Namun sayang, tidak ada seorang pun di sana. Akhirnya Jinora melanjutkan perjalanannya lagi ke kelasnya dengan berjalan lebih cepat, entah itu memang mahluk halus atau hanya ilusinya belaka yang penting ia harus menjauhi mahluk yang mengikutinya itu.      Sebenarnya sekolah ini memang di kenal angker karena dulu 2 tahun yang lalu kabarnya ada anak yang bunuh diri karena stress UNBK. Namun kabar itu masih simpang siur, karena hampir semua ceritanya memiliki akhir yang berbeda, ada yang bilang gadis itu bunuh diri karena hamil, ada juga yang bilang gadis itu bunuh diri dengan melompat dari atas lantai tiga namun tidak berhasil dan akhirnya memutuskan dengan bunuh diri di rumahnya dengan minum obat obatan, dan sebagainya. Selain itu ada kabar lain kalau sebenarnya sekolah ini bekas tempat perang bangsa melawan penjajah, dan hal itu di buktikan dengan kuburan-kuburan di samping masjid sekolah yang rata rata meninggal tahun 1800-1900 an.      Cukup, Jinora semakin merinding setelah mengingat semua cerita horror itu. Jinora langsung berlari cepat mengiringi tangga sampai sempat tersandung lalu memasuki kelas. Setelah sampai, Jinora mengatur deru napasnya lalu menyalahkan lampu dan menutup pintu agar mahluk itu tidak bisa masuk. Setidaknya sekarang ia aman di dalam kelasnya sendiri dan lagi suara langkah itu sudah menghilang. Walau Jinora di kenal galak dan jago berantem oleh teman teman sekolahnya, namun aslinya gadis itu lumayan penakut dan memiliki hati yang lembut. Apalagi ini pertama kalinya ia di ikuti mahluk halus seperti itu, Jinora bukan Mister Tukul yang malah senang bertemu hantu.   “A-man juga” Kata Jinora sambil tersenyum lega dengan napas yang masih terputus-putus. Jinora memutuskan untuk duduk di bangku dan tidur dahulu sebelum pelajaran di mulai sembari menjernihkan pikirannya dari kejadian mistis tadi.   Tok.. Tok.. Jinora langsung memberhentikan aktivitasnya saat ingin memasang Earphone-nya ke telinga. Jinora menatap sekitar mencari sumber suara tersebut, sampai akhirnya suara itu terdengar lagi dari arah samping badannya yang ia tau itu adalah jendela yang menghubungkan kelas dengan Lorong. Jinora meneguk salivanya, tubuhnya kembali menegang. Apa mungkin mahluk itu mengikutinya sampai sini? Tidak membayanginya saja sudah ngeri.   TOK, TOK, TOK, TOK… Suara ketukan yang semakin keras membuat Jinora mau tidak mau menghadap kea rah sumber suara itu, semoga sehabis ini Jinora tidak akan di culik atau di makan mahluk itu. Ia masih ingin bersekolah, menikah, dan mempunyai keluarga sendiri dahulu sebelum mati.   “AHHHHH” Teriak Jinora saat melihat muka konyol seseorang yang menempel di kaca, itu adalah Raziel.   “HAHAHAHAHAHAHA, GILA NGAKAK BANGET. SINGA BETINA TAKUT AMA SETAN, HAHAHAHAH” Tawa Raziel terbahak bahak, terlihat jelas kalau pria itu Bahagia sekali melihat Jinora ketakutan seperti ini. Jinora menatapnya dengan muka sinis lalu menutup jendela dengan tirai, sia sia ia ketakutan seperti orang bodoh dari tadi.       Raziel masih tertawa lebar sambil memasuki kelas lalu duduk di sebelah Jinora. Jinora langsung melotot sambil berkacak pinggang menatap pria itu duduk di sebelahnya, bangku yang seharusnya milik sahabatnya itu.   “LU NGAPAIN DUDUK DI SAMPING GUE?! GAK PUNYA BANGKU LU? JANGAN JANGAN LU SEBENERNYA EMANG SETAN?” Omel Jinora sambil berteriak teriak seperti ibu kos yang memarahi penyewa yang telat bayar uang sewa. Raziel yang mengusap air matanya berhenti tertawa lalu menatap Jinora sambil tersenyum menyebalkan.   "Hum.. gimana yah? Sekarang ini jadi bangku gue, jadi gue punya bangku dan bukan setan" Ucap Raziel singkat sambil tersenyum penuh kemenangan. Mata Jinora langsung membulat sepenuhnya mendengar ucapan pria di depannya itu.   "APA APA-AN LU? PEMILIK SEKOLAH LU? LAGIAN INI BANGKUNYA JUNA, AWAS!"  Teriak Jinora sambil mendorong dorong Raziel, namun hal itu tidak berefek apa karena badan Raziel jauh lebih besar darinya,   “Gini yah Singa Betina, kemarin nih kelas di rolling nah kebetulan banget gue dapet di sini, dan karena lu gak masuk jadinya lu gak di pindahin. Paham??" Jelas Raziel kepada Jinora yang membuat Jinora langsung membeku di tempat. Melihat Jinora terdiam saja, pria itu malah mengambil dan memakai Earphone Jinora tanpa ijin gadis itu.      Jinora masih terdiam memikirkan nasibnya. Kenapa semenjak Raziel datang kesialan terus datang kepadanya? Apakah ini yang Namanya ‘Sudah jatuh tertimpa orang gila’? dan dari sekian banyak orang gila di dunia ini mengapa harus Raziel? Kenapa harus pria yang membuatnya bolak balik BK dan kakinya cedera? Sungguh malang sekali nasibnya.   “Nih gue pinjemin buat lu, anggep aja rasa bersalah gue kemarin ngebuat kaki lu cedera, walau sebenernya itu salah lu sendiri sih bukan gue” Kata Raziel memberikan buku catatan dan latihan biologi. Jinora tersadar langsung mengerjap-kerjapkan matanya, ini serius Raziel yang memberikan buku kepadanya? Sebuah buku?   “Itu apa?” Jinora tau itu pertanyaan bodoh karena jika di lihat dari sisi mana pun itu tetap sebuah buku, Namun Jinora masih tak menyangka seorang Raziel yang tercap sebagai anak nakal dan malas itu memberikan Jinora sebuah buku.   “Buku lah, aneh. Kemarin kan lu gak masuk beberapa hari dan banyak banget tugas sama catatan dari guru, karena gue bosen gak ada bahan bercandaan buat jailin orang jadi gue kerjain deh. Nih lu salin cepet keburu masuk!" Jelas Raziel yang langsung memberikan buku itu ke tangan Jinora.   “L-lu beneran Raziel kan?” Tanya Jinora yang memastikan orang di depannya ini manusia atau bukan sambil mengamati buku dari Raziel. Karena kalau di pikir-pikir ini aneh sekali. Seorang Raziel yang selalu telat bahkan membolos sekolah sekarang berada di depannya saat matahari belum muncul sekalipun, dan lagi sekarang Raziel malah memberikannya sebuah buku yang memiliki catatan rapih dan lengkap bahkan lebih bagus daripada miliknya.   “Iyalah gila, jangan jangan kepala lu kebentur yah pas jatuh kemarin? Jadi aneh gini” Jawab Raziel tanpa memandang Jinora dan sibuk memandang langit langit kelas mencoba untuk tidur sambil mendengarkan music dari earphone Jinora.    “Lagian tumben banget lu berangkat jam segini, kan gue curiga”   “Suka suka gue lah mau berangkat pagi, sore, malem, bahkan petang. Lu siapa ngatur ngatur gue?” Jawab Raziel santai yang sekarang sedang memejamkan matanya mencoba untuk masuk ke dalam mimpi. Sedangkan Jinora masih menatap Raziel tidak percaya.          Jinora terus mengamati Raziel yang sedang memejamkan mata dari setiap inci. Menurut Jinora, Raziel saat tertidur terlihat jauh lebih manusiawi daripada saat dia bangun. Sayang sekali wajah malaikatnya di isi oleh jiwa seperti iblis itu. Tunggu? apa Jinora mulai ikutan menjadi orang aneh seperti dia? kenapa Jinora lagi lagi menganggumi pria itu seperti ini? Sial, sepertinya benar kepalanya ikut terbentur saat jatuh kemarin.   "Daripada lu liatin gue gitu kaya mau nerkam gitu, mending kerjain tugas sekarang deh. Soalnya pelajaran Bu Rena yang pertama, kalau lu mau di hukum sih gapapa" Ucap Raziel yang ternyata belum tertidur. Jinora langsung kaget lalu mengalihkan pandangan dan mulai mengerjakan tugas dan catatan dari Raziel.        Ya sudahlah Jinora tidak peduli dengan keanehannya, toh pada dasarnya dia memang aneh. Dan lagi apapun itu mahluk di depannya ini, toh Raziel dan mereka se-spesies. Jadi lebih baik ia mengerjakan tugas seperti yang Raziel katakan.   Tapi tunggu sebentar? Kenapa rasanya jantungnya kembali berdebar -debar seperti ini? Apa ia benar benar kesambet setan? Atau ada hal lain?   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN