“Orangtua Jinora akan datang 2 jam lagi, kamu jaga sini bentar aja”
“Baik pak”
Jinora mendengar suara sayup-sayup yang membicarakannya di luar sana. Ia sekarang hanya bisa terduduk menatap rintik rintik air yang mulai turun dari jendela UKS, sungguh ia merasa tidak berdaya. Setelah mengalami hari yang sial sekarang ia malah harus berhadapan dengan ruangan yang ia benci, UKS. Ia sangat benci bau yang menyelimuti ruangan ini juga peralatan peralatan kesehatan yang sebagian besar terbuat dari besi itu. Karena tempat ini mengingatkannya dengan orang yang paling ia benci saat ini, Ayahnya.
Tanpa sadar setetes air mata mulai terjatuh dari matanya lalu mengalir deras seperti rintik hujan di luar sana. Walau tadi ia selalu menetapkan hati untuk membenci pria yang ia sebut ‘papa’ itu, tapi sejujurnya ia sangat merindukan momen kebersamaan mereka. Saat ia di dongengi sebelum ingin tidur, saat ia di manjakan dan di belikan apapun yang ia mau, dan momen momen indah masa kecilnya yang lain. Kalau melihat ke belakang, rasanya ia sungguh Bahagia saat itu.
Hatinya semakin sakit dan sesak setelah mengingat semua kenangan masa kecilnya. Tangisnya yang semakin keras mulai di iringin suara teriakan pelan dari mulut kecilnya untuk meredakan sedikit saja rasa sakitnya. Ia berbohong dengan dirinya sendiri selama ini. Ia tidak pernah membenci pria itu, ia hanya kecewa. Ia juga tidak pernah baik baik saja dengan masalah keluarganya apalagi tidak peduli, ia hanya menyembunyikan itu kepada semua orang termasuk dirinya sendiri.
Setelah menangis hampir setengah jam, gadis itu sangat Lelah dan tertidur. Rasanya semua energinya sudah habis bersama perasaan yang ia tahan selama ini, dan hal itu berganti dengan rasa kantuk juga sakit kepala. Lalu tiba tiba suara pintu terbuka terdengar mengisi ruangan yang kini hening.
CEKLEK.. Seseorang yang sedari tadi hanya mengintip dan menguping dari ruangan itu pun akhirnya masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia mendapati Jinora yang sedang terlelap dengan mata sembab dan hidung sedikit memerah. Tanpa sadar tangannya mulai mengelus rambut hitam panjang gadis itu.
“Gue gak tau apa yang terjadi apa yang lu tahan selama ini sampai mata lu sembab gini” Ucap Raziel yang masih mengelus kepala Jinora dan menatapnya dengan lembut.
“Maaf yah gue keterlaluan selama ini, padahal gue mau cari perhatian lu aja”
“Tapi walau kayanya lu nangis bukan karena masalah ini aja”
“Good night my little lion, have a nice dream” Lanjut Raziel lagi lalu mencium puncak kepala Jinora. Pria itu sadar, ia mulai menaruh lebih perasaannya dari sekedar penasaran menjadi cinta.
***
Jinora membuka matanya perlahan, rasa pusing memenuhi isi kepalanya. Ia melihat sekitar lalu terfokus dengan jam dinding yang menunjukan pukul 16.00 yang artinya jam pelajaran seharusnya sudah selesai. Ia akhirnya berencana ingin bangun namun terhalang saat ia menyadari sebuah tangan memegang erat tangannya. Itu adalah Tangan Raziel yang sedang tertidur di samping ranjang Jinora.
Tanpa sadar, bukannya Jinora menarik tangannya dari genggaman Raziel, gadis itu malah menatap dalam Raziel. Ia baru pertama kali melihat Raziel dari dekat, ia baru sadar kalau Raziel sangat tampan dan imut saat sedang tidur begini. Ia memang tau bahwa pria itu tampan, karena kalau tidak mana mungkin pria menyebalkan itu bisa terkenal walau baru satu bulan lebih di sekolah ini. Tetapi Jinora tidak tau bahwa orang menyebalkan itu bisa setampan sekarang.
Lihat saja Matanya yang lentik, Hidung yang seperti perosotan dan Bibirnya tebal, Jinora sangat yakin kalau Raziel di dandani jadi perempuan, pasti pria itu lebih cantik daripadanya. Andai saja sikapnya tidak sangat menyebalkan seperti setan, pasti pandangan Jinora terhadap Raziel akan berbeda. Ingin sekali rasanya Jinora menukar sosok Raziel yang sedang tertidur saja daripada yang ia temui sehari hari. Pria itu kalau sedang tertidur benar benar seperti malaikat, bukan setan yang biasa ia lihat.
Tunggu sebentar, mengapa Jinora malah memperhatikan Raziel seperti ini? Apalagi sampai memuji pria itu? Pasti tadi saat terjatuh kepalanya terbentur sehingga ia menjadi seperti ini.
Tok tok tok… Suara ketukan pintu membuat Jinora langsung berpura pura tidur karena Raziel yang mulai terbangun. Bisa gawat kalau Raziel tau gadis itu memperhatikannya selama hampir 15 menit.
Raziel terbangun lalu mengusap usap matanya. Ia langsung memperhatikan Jinora yang sedang berpura pura merasa terganggu dengan ketukan pintu. Raziel langsung bangkit dan membukakan pintu untuk orang yang sedari tadi mengetuk pintu.
“Jinora udah bangun?” tanya suara familiar wanita dari depan pintu, dapat sangat di pastikan itu adalah Eliza bersama kedua sahabatnya yang lain. Jinora langsung berpura pura meregangkan badannya seperti baru terbangun dari tidur .
Sebelum Raziel menjawab, Arjuna langsung mendorong Raziel lalu menerobos masuk ke UKS saat melihat Jinora yang sudah terbangun. Irina meminta maaf kepada Raziel akan sikap tidak sopan Arjuna yang di balas anggukan kepala oleh Raziel. Irina dan Eliza pun ikut masuk ke dalam UKS, sedangkan Raziel pergi keluar memberi waktu pada 4 orang sahabat itu.
“Lu gapapa Jin?” Tanya Arjuna sangat khawatir yang di balas anggukan Jinora sambil berpura pura menguap dan mengamati punggung Raziel yang menghilang dari pintu UKS.
“Yaampun Jun, kan gue udah bilang sama lu Jinora gapapa. Lagian sebelumnya lu udah bolak balik UKS 5 kali buat ngecek Jinora. Dasar bucin” Sindir Irina terhadap Arjuna sekaligus mengkode Jinora yang di balas tatapan sinis Arjuna. Sedangkan Jinora tidak terlalu memperhatikan ucapan Irina, gadis itu terlalu fokus memikirkan Raziel yang pergi entah kemana.
“Oh iya tadi aku sama Davin dan di temani Raziel udah minta ijin ke Pak Fernan kalau kamu cedera, ja-
“Kok ada Raziel?” Tanya Jinora yang memotong ucapan Eliza.
“Iya katanya dia ngerasa bersalah sama kamu, jadi dia ikutan deh. Aku harap kamu gak terlalu marah sama dia yah! Dia juga dari tadi jagain kamu di UKS” Jawab Eliza yang membuat mata Jinora membulat dan pipinya memanas. Ternyata pria itu menemani dirinya sejak tadi. Sedangkan di sisi lain Arjuna memutar matanya malas mendengar ucapan Eliza.
“Cih, apaan. Iyalah dia harus tanggung jawab, orang udah ngebuat anak orang celaka kok. Mana gak jelas banget pakai gendong gendong anak orang segala” Nyinyir Arjuna saat Eliza membicarakan sesuatu tentang Raziel. Ini adalah penampakan yang sangat langka, bahkan Jinora terakhir melihat Arjuna seperti ini saat ia kecil.
“O-oke, kalian kok belum pulang?” Tanya Jinora mengalihkan pembicaraan, kalau Arjuna sudah seperti ini lebih baik menganti topik atau tidak sahabatnya itu akan mengerutu terus bahkan bisa sampai berbulan-bulan.
“Gak lah gila aja kita balik pas lu begini. Gue tadi rapat sebentar soalnya pas gue datang lu tidur terus jadi gue tinggal sebentar. Gapapa kan? Lu gak di apa-apain ama tuh cowok lagi?” Jawab Arjuna yang bertanya balik di balas gelengan kepala sambil tersenyum oleh Jinora.
“Kalo aku tadi juga sama. Tadi pas datang pertama kali sama Arjuna kamu masih tidur, seterusnya juga gitu, Jadi aku ke perpus dulu deh urus anak anak eksul sastra, Maaf yah” Kata Eliza sambil tersenyum hangat, oramg mana yang sanggup menahan pesona anak baik ini. Jinora membalasnya dengan senyuman.
“Gue juga sama, tadi lu gue tinggal bentar buat latihan lomba tari bulan depan. Lu sih kebo banget” Jawab Irina setengah meledek yang di balas jitakan kepala oleh Jinora, gadis ini memang selalu santai.
“Makasih banget sayang sayang kuh” Kata Jinora sambil merentangkan tangannya dan di balas pelukan sama ketuga sahabatnya itu. Sungguh tanpa mereka dunia Jinora akan sangatlah suram, ia sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Semoga persahabatan ini akan langgeng sampai tua nanti.
“Misi Jinoranya ada?” Ucap Seorang Wanita paruh baya dari luar UKS sambil mengetuk pintu. Arjuna langsung membukakan pintu untuk orang tersebut.
Betapa bahagianya Jinora melihat Ibu dan Kakaknya datang, ia memang akhir akhir ini jarang bertemu mereka karena mereka sangatlah sibuk. Kakaknya kuliah keperawatan di bandung , dan Ibunya adalah single woman yang merangkap menjadi wanita karir yang mempunyai jadwal super padat. Padahal baru sebulan lebih mereka pergi tapi Jinora sangat kangen.
“Jin kamu kok bisa sampai begini? Lagian sih anak gadis petakilan banget, heran” Omel kakaknya sambil menyentuh kakinya yang sakit hingga membuatnya meringis kesakitan.
“Hai Tan , Kak Hanna” Sapa Arjuna lalu salim kepada Ibunya Jinora yang di ikuti oleh Eliza dan Irina.
“Eh calon adik ipar, eh maksudnya Arjuna” Ledek Kak Hanna yang dulu mengetahui kalau Jinora pernah suka sama Arjuna, Jinora langsung menatap sinis kakaknya itu sedangkan Raziel senyum senyum seperti orang bodoh.
“Dah yuk pulang, kalian juga ikut main sini ke rumah” Ajak Ibu Jinora yang di balas anggukan setuju oleh ketiga sahabatnya itu.
Jinora pun di bantu turun dan berjalan ke luar bersama sama. Ini adalah adegan langka, kapan lagi semua orang yang di sayanginya dapat berkumpul seperti ini? Sungguh bodoh tadi Jinora memikirkan pria itu dan merasa kesepian. Jinora benar benar sangat Bahagia sekarang.
Di lain sisi ada orang lain yang memandangi Jinora dari jauh sambil tersenyum.
“Akhirnya aku bisa liat senyuman kamu lagi singa betina” Ucap Orang itu sambil menatap punggung Jinora menjauh, dan benar orang itu adalah Raziel.