The Forrest Beast

1258 Kata
Selesai makan, Riki kembali beristirahat di pondokannya. Pikirannya melayang-layang dalam lamunan akan banyak hal, namun perlahan kantuk mulai menyerang dan dia pun mulai tertidur dan terlelap.   Dalam tidurnya, Riki bermimpi melihat hutan yang sangat rimbun semuanya hijau gelap, hutan tersebut bernyanyi tak henti-hentinya, perlahan pohon-pohon hijau itu bergeser menampakkan wujud seorang wanita di baliknya. Riki menghampiri sosok wanita itu dan seketika wanita itu berbalik tubuhnya menghadap Riki. Dan yang dilihatnya adalah sosok yang sangat menyeramkan, wajahnya begitu menakutkan, sekejap sekelilingnya berubah, pepohonan itu berubah menjadi pohon-pohon mati, dedaunannya rontok dan rantingnya mengering. Wajah wanita itu semakin menyeramkan menyerupai iblis, setan, entah apa yang lebih menakutkan lagi. Matanya menyala-nyala, giginya besar dan rambutnya menjulur panjang berantakan. Dari tangannya, wanita itu menembakkan api yang membakar ranting-ranting kering hingga hancur menjadi abu. Riki berlari ketakutan, dia hanya bisa berlari dan berlari, dia tidak menyadari sekelilingnya semakin gelap, pekat, hitam legam semakin suram. Tiba-tiba kakinya tak lagi merasakan jejak, sepertinya di bawah kakinya hampa. Riki merasa terombang-ambing dalam ruang hampa udara, hingga kesadarannya pudar.   Dia terbangun di atas tempat tidurnya, cuaca gelap, mendung menjelang hujan, udara semakin lembab. Entah apa yang dipikirkannya, dia mengambil pedangnya dan pergi dengan menunggangi kudanya. Dia memacu kudanya berlari menembus hutan, merambah semak-semak hijau dan mencari jalan setapak. Semakin masuk semakin gelap, karena langit tertutup rimbunnya pepohonan. Riki turun dari kudanya dan memperhatikan sekitarnya, entah apa yang membuatnya menuju ke hutan tersebut di waktu tengah malam ini. “Tidak kusangka, ternyata hutan ini begitu indah, aku baru kali ini merasakan sesuatu yang lain, seperti ada hawa mistik tersendiri. Teknologi manusia semakin maju, hutan dibabat untuk tempat tinggal dan kebutuhan hidup, hutan seperti ini semakin langka. Tidak heran kalau semakin lama, Mononoke hanya akan dianggap mitos.” Tiba-tiba dari semak-semak tebal seekor hewan raksasa muncul, mendengus dan menggeram melihat Riki. Spontan Riki terkejut melihatnya, sosok banteng raksasa berdiri di hadapannya dengan mata merah menyala dengan naluri binatangnya memburu Riki. “Gila!! Mononoke kah?” Riki perlahan mundur hendak menjauh, kudanya meringkik ketakutan hendak kabur. Riki berusaha bergerak perlahan untuk tidak menarik perhatian hewan buas itu. Riki melompat ke atas kudanya dan memacunya secepat mungkin, namun banteng raksasa itu lebih cepat dan menjatuhkan Riki dengan kudanya. Riki terpelanting di antara pepohonan, sementara kudanya berlari ketakutan meninggalkannya. Banteng raksasa itu mendengus ke arah Riki. “Tenanglah hewan raksasa, aku tahu kau penunggu hutan ini, aku hanya ingin lewat, biarkanlah aku pergi.” Namun binatang itu tidak menanggapi kata-kata Riki, hanya geraman dan dengusan saja yang terdengar. Aumannya menggelegar di hadapan Riki, dia menyeruduk tempat Riki jatuh. Riki melompat menghindar, pohon besar yang ditabrak oleh hewan buas tadi seketika rubuh. Riki mengeluarkan pedangnya dan memutuskan untuk melawan. “Baiklah hewan buas, akan kuhadapi taringmu dengan pedangku jika kau tidak enyah dari hadapanku!” Ketika hewan buas itu menyeruduk, Riki melompat dan menghajar hewan tersebut dengan ayunan pedangnya. Besi berkilau itu merobek kulit sang binatang buas dan auman besar terdengar. Hewan itu semakin marah dan mengamuk, dengan darah menetes dia kembali menyerbu. Riki berguling dan kali ini melukai kaki depan binatang itu. Binatang buas itu mengaum merintih menahan sakit, namun kemudian wujudnya berubah. Dia berdiri dengan kaki belakangnya dan bentuk tubuhnya berubah menyerupai manusia berkaki dan berkepala banteng. Hewan buas itu kini lebih layak disebut monster. Monster itu mematahkan sebuah dahan dan di tangannya dahan itu berubah menjadi sebuah gada. Kali ini pedang Riki harus mengadu gada maut tersebut. Monster itu kembali menyerang Riki, kali ini tenaga Riki kalah dengan tenaga ayunan gada monster tersebut, hingga pedangnya terlepas dari tangannya dan menancap di sebuah pohon. Ayunan berikutnya menyusul, kali ini Riki hanya bisa menghindar. Riki berusaha meraih pedangnya namun sulit menjangkaunya karena monster tersebut menghalanginya. “Sial!!!” Tiba-tiba langit meneteskan air, dari sela-sela pepohonan air turun, hujan deras terdengar rintik-rintik di dedaunan lebat yang menutupi hutan tersebut. Di bawah hujan, sosok monster itu semakin mengerikan, matanya merah menyala dengan sederet taring putih haus darah dan lapar akan daging segar. Monster itu kembali menyerang Riki, namun kali ini Riki tidak dapat menghindar. Sepenggal ayunan gada menghajar tubuhnya, melemparkannya ke udara, hingga sekelilingnya terasa berpusing dan semakin gelap, sementara tubuhnya terasa ringan melayang-layang. Riki tidak mampu mengendalikan tubuhnya yang melayang-layang lemah di udara, hingga akhirnya Riki merasakan tubuhnya terhempas membentur tanah. Ketika tubuhnya mendarat di tanah, hanya sakit dan nyeri yang dirasakannya di sekujur tubuhnya, kepalanya masih pusing seakan tanah di sekelilingnya berputar begitu cepat. Sekuat tenaga dia berusaha bangun dan mengusahakan dirinya tetap sadar, namun ternyata kondisi tubuhnya berkata lain. Riki hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Monster itu berdiri di hadapannya, memegang gada mautnya dan siap menjadikan Riki sebagai santap malamnya. Sesaat ketika monster itu mengangkat gadanya dan siap menghujamkannya kepada Riki, sebuah anak panah melesat dan menancap tepat di tengah-tengah d**a monster itu, terdengar auman yang sangat dahsyat. Menyusul satu anak panah lagi melesat dengan kecepatan luar biasa, kemudian lagi, lagi dan lagi, bertubi-tubi hebatnya semua anak panah itu menancap tepat di d**a monster itu. Belum pernah Riki melihat ada jago panah dengan akurasi dan kecepatan sehebat itu. Hingga monster itu terpukul mundur menahan sakit dengan aumannya yang menggema ke seantero hutan. Samar-samar Riki melihat seorang pemuda bertubuh kecil melompat dengan lincahnya, menerobos semak tebal dan menarik tubuhnya yang tak berdaya. Kemudian pemuda itu mengambil Katana Riki yang menancap di pohon dan menghujamkannya ke perut mosnter itu, membelahnya hingga ke d**a tanpa ampun. Banjir darah berwarna hitam pekat mengucur dari perut monster itu yang kemudian jatuh bertekuk lutut tidak berdaya. Pemuda itu hendak menghabisi monster itu dengan sekali tebasan pedang di kepalanya, namun sesaat hendak melakukannya dia melihat darah hitam yang keluar dari tubuh monster itu semakin mengental bagai lendir pekat dan mengeluarkan cacing-cacing besar berwarna kemerahan. Mata monster itu kosong tubuhnya terlihat perlahan membusuk, dan cacing-cacing besar berwarna kemerahan itu semakin banyak keluar dari tubuhya. “TATARI!! Itu tatari!! Jangan sampai bersentuhan dengannya!!” Riki berusaha teriak namun suaranya semakin melemah dan pandangan matanya semakin kabur dan gelap. [Tatari = Arwah jahat yg merasuki tubuh dan membuat siapapun yang dirasukinya menjadi hilang kendali dan berbuat jahat.] Pemuda itu menjauhi tubuh busuk monster itu dan menyeret Riki pergi dari sana. * * * “Anda sudah sadar tuan?” “Ah, kepalaku sakit sekali, di mana ini?” “Anda tadi pingsan.” “Aikawa? Mengapa kau ada di sini?” “Aku mengikuti anda karena khawatir anda pergi sendiri ke hutan ini tanpa tujuan.” “Aikawa, tadi aku sedang bertarung dengan monster hutan ini, dan aku… Ah!! KAU YANG MENOLONGKU YA??” “Ehehehe, aku hanya membawa anda karena anda pingsan setelah melawan monster itu.” “Aikawa, kau yang telah menolongku kan? Kau telah menyelamatkan nyawaku.” “Tuan, itu biasa saja, aku hanya kebetulan, lagipula aku ini kan bukan prajurit, aku tidak punya ilmu berta…” Belum habis Aikawa berbicara, Riki memotongnya, “Astaga, mengapa kau tidak pernah bilang kalau kau jago memanah?” “Ah, biasa saja koq.” “Tapi kau telah menyelamatkan nyawaku, aku berhutang kepadamu.” “Aku sangat senang bisa membantu anda.” “Kau? Aku yang berhutang kepadamu, aku pasti akan membalasnya.” “Anda adalah orang pertama yang baik kepadaku, sudah sepantasnya aku melayani anda sebaik-baiknya.” “Ah, sudahlah, mulai sekarang kau bukan pelayanku, kau adalah temanku.” “Terima kasih tuan.” “Sebaiknya kita pulang sekarang.” “Omong-omong apa yang anda lakukan di sini tuan?” “Tidak ada, aku hanya bermimpi buruk.” “???” Aikawa sedikit heran dengan jawaban Riki. “Ah, lupakan saja, ayo kita kembali.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN