Beautiful Bird in Golden Cage

1073 Kata
Riki sedang berjalan dan melihat seorang wanita yang berada di mulut jendela sedang memandangi pemandangan di luar. “Ah, bukankah itu tuan putri Asuka?” ucapnya dalam hati. Asuka melihat ke arah Riki di taman yang sedang melewati jendela kamarnya. “Ah, anda, tuan Kokunosaki bukan? Kepala pasukan ayahku yang baru.” Riki memberi hormat dengan membungkuk, “Maafkan atas ketidaksopanan saya tuan putri Asuka.” “Wah, kenapa kita jadi bicara di luar begini, ayo mainlah ke kamarku.” “Ah—maafkan saya, tentu saja itu akan menjadi tidak sopan untuk saya.” “Ah, kenapa? Aku kan tidak punya teman yang seumur denganku. Hidupku juga mungkin tidak lama lagi.” “A—apa maksud anda hidup tidak lama lagi.” “Kau tahu kan, anak wanita akan dijodohkan, mana aku tahu akan menjadi istri siapa, bisa saja aku akan menjadi istri salah satu dari pendekar-pendekar feodal yang kasar itu.” “Oh, maafkan aku.” “Tuan Kokunosaki, bolehkan kita bertemu lagi?” “Tentu saja.” Riki mengangguk. “Besok-besok akan kuminta kau untuk mengawalku jalan.” “Baiklah.” Riki kembali mengangguk. “Hehehe kau lucu sekali, aku yakin kalau kau adalah orang yang baik, tidak seperti pendekar-pendekar feodal itu.” “Terima kasih, tapi dari mana anda bisa menebak semudah itu, bisa saja aku ini orang yang jahat.” “Tuan Kokunosaki, atau boleh kupanggil tuan Riki saja? Aku bisa melihat kalau kau adalah orang yang baik dari tatapan matamu. Kau tidak seperti mereka.” Riki tersenyum, “Terima kasih.” * * * Broken WingsMalam itu adalah malam yang sepi, di mana bulan tak menampakkan sinarnya, awan tebal menyelimuti langit malam. “Ibu, di manakah engkau berada? Mengapa kau tinggalkan aku di sini?” Tiba-tiba Asuka merasakan tempat tidurnya dinaiki oleh seseorang. “Aduh, siapa itu?” “Halo anakku…” “Ayah, KAU!?” Betapa terkejutnya Asuka melihat ayahnya tanpa busana sehelai pun dengan tubuh tuanya yang keriput dan kurus. Kemaluan pendeknya yang sudah keriput itu berdiri tanggung dengan buah zakar yang sudah sedikit turun. Lelaki tua itu berada di hadapannya dengan tatapan mata nakal, tangannya menggerayangi kaki Asuka menembus rok kimono tidurnya. “Sudah saatnya… Aku menginginkanmu… Kau sudah cukup matang untuk melakukannya, ayolah…” “Ayah, apa maksudmu!?” Pria tua tidak tahu malu itu menarik baju tidur Asuka hingga tersingkaplah kimono tidurnya dan mempertontonkan beberapa bagian tubuh Asuka yang terbuka di hadapan laki-laki tua mata keranjang itu. Mata jalang Taiki langsung mendelik jalang dan jelalatan memelototi kaki mulus yang terbuka dari belahan paha hingga pinggulnya itu. Nafsu bandot tua bangkanya langsung menderu-deru, lidahnya terjulur, napasnya mendengus-dengus. Taiki semakin liar menarik kain tidur Asuka dan kini terpampang jelas tubuh sintal Asuka di hadapannya. “AYAH, DEMI TUHAN AKU INI PUTRIMU!! APA YANG KAU LAKUKAN!! TOLOOONGG!! TOLOONG!!” “Berteriaklah, tidak ada yang akan mendengarmu, aku sudah menyuruh orang-orang pergi menjauh dari tempat ini, hanya ada kita saja yang akan bersenang-senang malam ini sayangku…” “KAU GILA!! LAKI-LAKI TUA TIDAK TAHU DIRI!!!” Asuka meronta dan melawan, namun Taiki lebih kuat dan menindih tubuh Asuka. Tangan tuanya yang keriput dan kering menembus s**********n Asuka dan bermain di dalamnya. “LAKI-LAKI TUA GILA, HENTIKAN, LEPASKAN AKU!!” Asuka meronta sekuat tenaga dan jatuh dari tempat tidur, Taiki mengejar dan menjambak rambutnya, Asuka menjerit. Tanpa ampun Taiki meninju kepala gadis itu hingga terjembab di lantai dan mulai mengambil gadis itu tanpa ampun. “Ahh… Ahh… Ah… A—ayy—ahh… ss—sakit!!! Hentikan!!” Rasa perih dan sakit yang luar biasa tidak tertahankan membuat Asuka tidak bisa berbuat apapun selain berteriak dan mengerang minta ampun. Tak sampai semenit, Taiki kejang-kejang sembari menggeram-geram serak, cairan berwarna putih encer dan agak kekuningan berantakan di lantai bercampur darah segar milik Asuka. Laki-laki tua itu mengatur nafasnya yang tak beraturan, kemudian menghembuskan nafas panjang tanda kepuasannya. Sementara Asuka menggigil gemetar menahan perih sambil mengutuk laki-laki tua tidak tahu malu itu. Dia hanya menangis dan menangis tersendu di lantai kamarnya dalam keadaan tak berpakaian. Laki-laki tua itu berjalan keluar kamar Asuka sambil tertatih-tatih karena kelelahan, namun tawanya menunjukkan kepuasan. “Ah, rasamu sama saja dengan ibumu! Aku sudah menikmati setiap jengkal bagian tubuh ibumu, ah p*****r tua itu kini pergi dengan tuannya yang baru, biarlah. Harusnya kau belajar bagaimana cara memuaskan laki-laki, ah tapi semua wanita sama saja! HAHAHAHAHA !!!” ucapnya dari luar. * * * Keesokan harinya, Taiki kembali mendatangi kamar Asuka. “Hei, aku sudah memutuskan, kau akan kuserahkan saja kepada Kosaku, lagipula kau tidak berguna di sini, kerjamu hanya makan tidur saja, dan kau adalah pelayan yang buruk sama seperti ibumu!” “DASAR KAU LAKI-LAKI TUA HINA!!” Serta merta tamparan mendarat di wajah Asuka, darah segar mengalir dari mulutnya, Asuka menjerit diiringi isak tangis. “Masukkan p*****r ini ke kereta, dan kirim dia ke Kurosa!!” perintah Taiki. Asuka ditarik paksa untuk masuk ke kereta kuda dan dikunci di dalamnya, beberapa pasukan diperintahkan mengawal untuk mengantarnya ke prefektur Kurosa, tempat kediaman Kosaku. “Ada apa ini?” Riki hadir setelah mendengar adanya keberangkatan kereta kuda. “Sudah, kau tidak perlu ikut campur Rikiguro, ini bukan perintah untukmu. Aku sudah memerintahkan pengawalku yang lain untuk tugas ini.” Riki bertanya-tanya apa yang terjadi, namun Taiki menyuruhnya pergi berpatroli saja. * * * Lost to Deep ForrestDi tengah perjalanan, Asuka mencoba mengguncang-guncangkan kereta kudanya hingga kereta tersebut kehilangan keseimbangan dan mulai oleng. “Hei tuan putri, diamlah, kalau tidak kita semua akan celaka, kita akan menyebrangi jembatan, kalau anda tidak diam kita akan…” Terlambat, kuda-kuda yang menarik kereta terlalu gelisah karena kereta yang ditariknya berguncang-guncang terus dan akhirnya kereta, kuda, beserta rombongannya itu jatuh ke sungai yang mengalir deras. Kereta terlepas dari kuda dan rombongan, sementara para prajurit berenang ke pinggir sungai, kereta Asuka mengambang dan hanyut mengikuti arus, kemudian menghilang dari mata para prajurit itu. “Celaka, bagaimana ini? Tuan putri hanyut dan hilang.” Sahut seorang prajurit. Arus semakin deras dan sungai mulai berbatu, kereta Asuka membentur bebatuan sungai, dan air pun merembes masuk, sementara Asuka masih terjebak di dalamnya. “TOLOOONGG!! TOLOOONNGG!!” Asuka tidak berdaya ketika air merendamnya di dalam kereta yang terkunci itu. Kereta naas itu hanyut tersedot arus ke air terjun dan karam saat terjun bebas dari atas air terjun itu. Kereta tersebut pecah dan tubuh Asuka yang tidak sadarkan sungai hanyut ke tepian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN