“Nona, anda belum tidur?” Higashi menyapa setelah mengetuk pintu kamar utama Miyu di pondok pribadinya.
“Ah, ya, masuklah, aku hanya ingin berbicara sebentar.” sahut Miyu. Tampak ia sedang membaca sebuah catatan dan beberapa berkas berantakan di meja bacanya.
“Apakah ada suatu hal penting?” tanya Higashi.
“Ah, tidak, ini hanya…” Miyu segera memasukkan kertas dan surat-surat itu ke dalam sebuah amplop. “Tuan Higashi, pemuda itu berasal dari Geisaku.”
“Ya, benar.”
“Geisaku itu adalah sebuah daerah kekuasaan yang dipimpin oleh Taiki Yoshikuni bukan?”
“Ya begiulah.”
“Hm, besok aku ingin mengunjungi tempat itu.”
“Hah, yang benar? Memang anda bisa semudah itu masuk ke sebuah daerah kekuasaan milik negara, anda bisa ditangkap nanti. Apa ini karena anda ingin bertemu dengan tuan Samurai muda pujaan anda itu?”
“Tidak hanya itu saja tuan Higashi.”
“Saya mengerti walaupun anda menyukai pemuda itu, tapi apa tidak ada cara lain untuk bertemu dirinya selain nekat bertamu ke tempatnya?”
“Tuan Higashi, kurasa ini adalah takdir, pemuda itu bekerja kepada seseorang yang namanya tidak terasa asing lagi di telingaku. Dan kurasa ini saatnya aku melakukan sesuatu yang seharusnya sudah lama kulakukan.”
“Memang anda mengenal tuan Taiki?”
“Mungkin, tapi tidak dalam kehidupanku yang sekarang.”
“Apa maksud anda???” Higashi terheran-heran dengan jawaban Miyu.
“Tuan Higashi, persiapkan dirimu, esok kau temani aku ke sana.”
“Ya, baiklah kalau begitu.”
* * *
Keesokan paginya, Higashi menjemput Miyu yang menunggu di pondok pribadinya. Ketika melihat penampilan Miyu Higashi pun terkejut dan terpana, “Nona, dirimu… astaga… Anda… sungguh…”
Hari itu Miyu mengenakan Kimono terbaiknya yang belum pernah dia pakai sebelumnya, Kimono yang ia kenakan adalah baju yang selama ini ia simpan milik seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Tidak hanya itu, riasan wajah, bedak dan polesan lipstik merah merona turut semakin menyempurkan kecantikannya. Penampilannya bak putri bangsawan yang sungguh sangat memukau, membuat siapapun terpana dan pangling melihatnya.
Semua pakaian milik Miyu telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memudahkannya bergerak dan menaiki kuda.
Higashi menaiki kudanya, Lady Miyu dan Tuan Higashi menuju gerbang, warga Takamanomon menghentikan pekerjaan mereka karena terpana melihat penampilan tuan putri mereka bak seorang putri bangsawan. Mereka belum pernah melihat tuan putrinya berpakaian seperti itu sebelumnya.
“Nona, biarkan kami juga ikut, kami mengkhawatirkan dirimu dan tuan Higashi. Biasanya engkau membawa pasukanmu bersamamu.”
“Ini bukan pemburuan atau mengantar perbekalan seperti yang biasa kita lakukan, aku hanya ingin memberikan kunjungan untuk tetangga kita yang sudah lama tinggal bersebelahan dengan kita.”
“Tentu saja, sebagai seorang putri bangsawan Takama, anda juga perlu pengawal-pengawal anda, kami akan ikut sebagai pengawal anda. Lagipula sudah lama kami tidak memakainya, dan hari inilah kami dapat memakainya kembali. Kali ini kami memakainya untuk anda.”
Betapa terkejutnya Miyu melihat beberapa prajuritnya ternyata sudah memakai kostum formal prajurit pengawal. Tentu saja, beberapa dari mereka tadinya juga adalah prajurit-prajurit hebat seperti Higashi yang kemudian menyingkirkan diri dari pemerintah feodal.
Setelah pasukannya lengkap dan ajudannya berdiri di sampingnya, Miyu memulai perjalanan menuju Geisaku. Dalam perjalanannya, Miyu diam-diam menitikkan air mata, dia tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi sosoknya yang sekarang mengingat kehidupannya pada masa lalu.
“Nona, anda baik-baik saja?” tanya Higashi yang menyadari sesuatu.
“Tidak apa-apa…” balas tuan putrinya kembali mengangkat kepalanya dengan senyuman.
* * *
Sesampainya di depan gerbang Geisaku, para penjaga di gerbang menyadari kedatangannya mendekati rombongan.
“Ada yang bisa saya bantu?” Namun menyadari rombongan siapakah itu, penjaga itu berteriak. “HA!! ANDA!! ANDA KAN!! PENJAGA!! PENJAGA!!”
Spontan para penjaga di gerbang keluar dan membunyikan lonceng, rombongan Lady Miyu dikepung di gerbang. Beberapa orang mencoba mendekat sambil membawa senjata.
Higashi dan pengawal lainnya melompat dan mengangkat pedang mereka.
“Tidak akan selangkah pun, bahkan darah kalian yang mengotori pedangku tidak akan pernah barang setetes pun mengotori kain Kimononya!” ucap Higashi.
Namun, Lady Miyu turun dari kudanya dan menurunkan tangan Higashi yang menghunuskan kedua bilah pedangnya yang berkilau ke langit itu.
“Saudara dari Geisaku, kedatanganku hari ini untuk menemui pemimpin kalian, tidak ada keinginan untuk mengadakan pertumpahan darah. Tolong sampaikan pada padukamu.” ucapnya di depan gerbang.
Tiba-tiba beberapa pasukan berpakaian serba hitam menyeruak pintu gerbang dan kerumunan prajurit di sana. Mereka membentuk barisan pagar betis dan seorang pemuda menampakkan wujudnya. Dirinya tak lain adalah sang panglima tertinggi yang disegani di seluruh Geisaku, Kokunosaki Rikiguro.
Betapa terkejutnya Riki melihat kedatangan Miyu beserta rombongannya.
Miyu tak dapat menyembunyikan senyumnya melihat panglima pujaannya, Riki yang sedang menjalankan tugas tetap menampakkan wajah dinginnya di depan seluruh anak buahnya. Namun sesungguhnya Riki pun tak dapat menahan getaran hatinya melihat wanita impiannya berdiri di depan gerbangnya saat dirinya sedang menjalankan tugasnya.
“Kalian! Turunkan senjata kalian! SEMUANYA!!” suara tegasnya menunjuk para pasukan Geisaku yang segera menurunkan senjata mereka. “Nona, apakah tujuan anda datang kemari di siang hari ini?”
“Tuan, pertemukanlah aku dengan tuanmu, aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadanya dan juga kepada kalian semua yang berada di sini.” ucap Miyu.
Riki membalik badannya dan memberikan kode kepada para pasukan berbaju hitam itu, mereka membentuk barisan lurus, membuka payung-payung hitam dan mengawal rombongan Miyu hingga ke istana Taiki.
Di bawah payung hitam, diam-diam kedua pasangan itu saling berpegangan tangan.
“Demi Tuhan, apa yang engkau lakukan di sini?” bisik Riki.
Miyu hanya tersenyum kecil dan membalas bisikannya, “Aku merindukan dirimu.”
Spontan wajah Riki memerah tak tertahankan, tetapi dia berusaha mengendalikan dirinya.
“Tidak hanya itu saja, memang ada hal yang harus kulakukan dengan pimpinanmu.” bisik Miyu lagi.
“Apa yang mau kau lakukan? Jangan bertindak bodoh, kau mau menembak dadanya dengan senjata api mu?”
Miyu tersenyum dan tertawa kecil, “tentu saja aku tidak akan sebodoh itu tuan.”
* * *
Sampai di istana Taiki, betapa terkejutnya Taiki mendapati tamu tak diundang dibawa masuk oleh panglima kepercayaannya itu.
“HEEII RIKIGURO!!! APA LAGI INI!!?? APA YANG KAU PIKIRKAN MEMBAWA PARA PEMBERONTAK INI MENGOTORI ISTANAKU!!?”
“Tuan Taiki, anda seorang pejabat negara, sambutlah tamu anda dengan hormat dan jangan mempermalukan diri anda dengan duduk di kursi anda dengan cara seperti itu.”
Pria tua itu duduk dengan malas di pelatarannya yang dipenuhi bantal-bantal empuk, makanan enak dan dikelilingi gadis-gadis yang selalu siap melayaninya.
“HEEAAHHH DIAA!!! PENYIHIR ITU!!! WANITA HINA ITU!!!”
Lady Miyu tetap berjalan dengan anggunnya, matanya menatap tajam ke arah Taiki yang asik mengunyah buah-buahan yang disuapkan oleh gadis-gadis yang melayaninya.
“Benar! Saya adalah orang yang kalian bicarakan sebagai penyihir yang membusukkan daging melalui api dari tanganku.”
Taiki menyorot sosok Miyu dan tak lama makanan di mulutnya terjatuh. Dia terkejut dan terdiam kaku seperti orang mati, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga kaku. Tiba-tiba tubuhnya gemetar hebat dan tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Miyu dan mengeluarkan suara yang tertahan di tenggorokan dengan gemetar seperti orang sekarat.
“K—KAU!!! BAGAIMANA MUNGKIN???”
“Apakah anda teringat sesuatu dengan wajah ini? Pakaian ini dan semua perhiasan ini?” seru Miyu.
“SETAN!!! PENGAWAL!!! TANGKAP DIA!!!!” teriak Taiki dengan nada yang sangat panik.
Beberpa pengawal hendak maju, namun Riki menahan mereka, “TAHAN!! Biarkan wanita muda ini berbicara hari ini, tidak ada pertumpahan darah. Tuan Taiki! Apa yang anda takutkan dari wanita muda ini?”
“A—Apa maksudmu Rikiguro!?”
“Kalau begitu biarkan wanita muda ini menyelesaikan maksud kunjungannya hari ini.”
“HUUH!! Baiklah! Apa mau kalian datang kemari?”
“Tuan Taiki yang terhormat, aku ingin kau mengingat hari ini sekali untuk selamanya, aku mau kau tau bahwa aku telah kembali membawakan masa lalumu, baju Kimono indah ini adalah milik seseorang yang dahulu anda usir dengan BIADAB dari kediaman anda setelah pengabdiannya kepada anda!” seru Miyu.
Serentak hadirin di ruangan itu terkejut mendengarnya. Pejabat-pejabat Daimyo, pekerja istana dan beberapa orang yang juga hadir di sana turut terkejut dan saling menatap satu sama lain.
“A—apa maksudmu? Bicara apa kau?” tanya Taiki dengan nada ketakutan.
“Ingatlah pada seorang wanita yang mendampingi anda dengan setia seumur hidupnya, dialah orang yang setia melayani anda dan setiap jengkal tubuh anda tak luput dari belaian dan rawatannya. Dia mengandung seorang anak perempuan, hari itu dia telah mencapai hamil tuanya, malam itu juga di tengah hujan lebat dan badai yang hebat di kota ini, anda membuangnya dari hidup anda. Anda tidak pernah tahu bagaimana wanita tua itu melahirkan seorang anak gadis dibawah hujan badai, dengan nyawanya yang tersisa dia mengantarkan anak itu untuk dititipkan kepada seorang saudagar barat murah hati yang kemudian membesarkannya.”
“K—KAU!! KAU ADALAH… Akh… ti… tidak mungkin…” Taiki gemetar setengah mati.
“Tentu, wanita itu adalah IBU KU tuan. IBUKU adalah seorang wanita yang mengabdi kepadamu sepanjang hidupnya, hingga kau membuangnya setelah menggagahinya dan memberikan kelahiran pada anak perempuan yang berdiri di hadapanmu ini.”
Serentak, seluruh ruangan bagai disambar halilintar yang sangat besar, yang mampu membelah kapal di tengah badai besar.
Riki pun kaget setengah mati memandang Miyu menceritakan hal tersebut. Seluruh hadirin ricuh riuh.
Taiki membeku terdiam seribu bahasa.
Miyu hanya memandang tajam lelaki yang ketakutan setengah mati di pelataran singgasananya dikelilingi gadis-gadis polos yang turut ketakutan melihat tuannya gemetar.
“Aku tak pernah melihat dan mengetahui wajah Ibundaku. Tetapi setelah melihat menembus matamu, aku menjadi yakin, aku akan selalu melihatnya dalam hatiku setiap kali melihat diriku.”
Taiki sudah gemetaran bukan main, “PPP—Pergi… Pergi kau dari sini!!” ucapnya dengan suara parau dan gemetar.
“Baiklah Tuan Taiki, kurasa tak ada lagi yang perlu kukatakan.” Miyu membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju rombongannya.
“HEI PRAJURIT HINA!! DIA ITU ANAKMU!! SETIDAKNYA BERIKANLAH PENGHORMATAN YANG PANTAS KEPADANYA!!” tiba-tiba Higashi berteriak spontan yang mengejutkan seluruh hadirin. Seorang Ronin telah menghina Shogun di hadapan para pejabat-pejabatnya.
Namun, tidak ada yang berkutik di ruangan itu, bahkan Riki pun hanya menatap Taiki yang terlihat salah tingkah.
“Nona, biar kuantar.” Riki mendekati Miyu yang berjalan hendak meninggalkan ruangan itu.
Tanpa sadar Miyu menghempaskan tangan Riki yang hendak menggandengnya.
“Tidak usah tuan, engkau jagalah tuanmu ini sebelum aku berbuat bodoh dengan menembakkan sesuatu yang dapat menghancurkan hatinya yang memang telah lama busuk itu.” Miyu berkata dengan nada dingin dan menatap Riki dengan nanar. Nada bicaranya jelas menunjukkan intonasi kemarahan.
Riki dapat melihat cahaya dari raut wajah dari paras cantik itu kini redup dengan amarah yang bercampur kesedihan, bola mata sebening kristal itu nampak berkaca-kaca ketika menatapnya. d**a Riki terasa sakit luar biasa seperti ada yang merobek-robeknya dari dalam ketika melihat pemandangan itu, rasa sakit luar biasa yang membuat tubuhnya bergetar hebat ketika melihat raut kesedihan di wajah itu.
Namun paras itu berubah nanar ketika menengok ke belakang, tatapan matanya melirik tajam ke arah Taiki. Tangan wanita itu terkepal begitu kencangnya, air matanya mengering di pipinya.
Entah kenapa melihat tatapan tersebut, Taiki nampak seperti ketakutan setengah mati, bagaikan ada seribu pedang terhunus ke arahnya, Taiki gemetar di atas singgasananya. Wajahnya pucat, tubuhnya dingin dan kaku seperti mayat.
Tubuh molek itu, baju kimono itu, hiasan rambut dan anting-antingnya, dia membeku seperti melihat hantu, samar-samar dia melihat sosok wanita yang dahulu diusirnya nampak dari tubuh wanita yang berdiri tak jauh di hadapannya itu.
Perlahan Miyu dan rombongannya meninggalkan istana, menghilang dari pandangan Taiki, keluar dan pintu istana ditutup. Seluruh hadirin yang menonton bubar dan kembali ke aktivitas mereka.
Riki menatap Taiki yang masih terdiam gemetar.
“Kau!! Apa yang telah kau lakukan!?” tanyanya kepada tuan Shogunnya yang masih teridam membeku itu.
“RIKIGURO! Perbaiki bicaramu, kau pikir kau berbicara dengan siapa!?”
“Tuan! Anda! Sebagai seorang bushido, dengan sikap anda yang seperti itu…” Riki kehabisan kata-kata, perasaannya bercampur aduk dan kacau.
“Aku ingin dimandikan dengan air hangat…” ucap Taiki pelan.
“Baiklah ayo tuan, kami mandikan…” sahut para gadis-gadis pelayannya.
Taiki meninggalkan ruangan itu dan Riki masih berdiri terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Aikawa sedari tadi hanya diam saja menyaksikan semuanya, dia mendekati Riki dan menepuk bahunya. Riki menatap Aikawa dan segera tersadar dari lamunannya. Segera saja dia melompat dan berlari keluar istana dan menuju gerbang Geisaku. Dan belum terlambat, di depan gerbang Geisaku, Lady Miyu dan rombongannya baru saja akan bersiap menaiki kuda mereka dan hendak pulang.
Riki menatap wanita pujaannya itu yang balas menatapnya, mereka hanya saling menatap. Saat itu dunia serasa berhenti berputar, sunyi senyap dalam sekejap.
Terlihat air mata menitik, setetes demi setetes dari sepasang bola mata indah itu, tetesan air mata itu mengalir tanpa henti, paras cantik pujaan Riki itu menggambarkan kesedihan yang luar biasa.
Mereka hanya melihat satu sama lain beberapa saat, hingga Miyu hendak menaiki kudanya.
“Persetan…” katanya dalam hati, dia berlari ke arah Miyu.
Miyu menoleh melihat Riki yang berlari ke arahnya, Miyu pun tak kuasa menahan langkahnya dia pun tidak jadi menaiki kudanya dan justru berlari menuju tuan Samurai pujaannya itu. Miyu melompat ke dalam pelukan Riki yang langsung menangkap tubuh Miyu dan mendekapnya dalam-dalam dalam pelukannya.
Miyu merasakan dirinya seperti meleleh dalam pelukan Riki, dia memejamkan matanya dan melupakan sekelilingnya. Akhirnya isak tangisnya pun meledak dalam pelukan ksatria pujaannya itu. Air matanya banjir meleleh tumpah ruah membasahi kain Hakama Riki.
“A—Aku… Aku… Aaaa…” Miyu menangis tersedu-sedu sampai tersengal-sengal meluapkan rasa sesak yang memenuhi dadanya.
Miyu menangis sejadi-jadinya, derai tangisnya begitu memilukan hingga ia sesenggukan sesak nafas, ia meluapkan semua perasaan yang memenuhi batinnya. Pemimpin Takamanomon itu belum pernah tampak lemah di hadapan siapa pun, namun kali ini dia ingin pasrah, dia tidak kuat menahan luapan perasaannya, dia tidak mampu berpura-pura kuat membendungnya.
“Tu—Tuan Riki… aa… aku… aku…”
“Sudah… cukup, sudah… tidak perlu mengatakan apapun, tenangkan dirimu tuan putriku.” hibur Riki.
Riki memeluk Miyu begitu erat, hingga akhirnya emosi gadis itu sudah nampak mereda. Riki mengangkat wajah Miyu menatapnya, perlahan ia menyeka air mata yang membekas di pipi gadis pujaannya itu.
“Tuan putriku sayang, biarkan aku ikut bersamamu, aku akan menjagamu seumur hidupku. Ingin rasanya aku tinggalkan saja semua ini dan biarlah diriku turut menjadi pemberontak.” ucap Riki.
Miyu mengangkat wajahnya menatap wajah Riki, dia membelai wajah Riki, menyelipkan jemarinya di antara rambut panjang Riki.
Riki kemudian spontan menciumnya. Mereka saling berciuman sambil berpelukan selama beberapa saat, Riki semakin menarik Miyu ke dalam pelukannya, begitu pula Miyu juga tidak mau melepaskan Riki. Mereka tidak peduli siapapun di sekitar mereka yang melihatnya.
“Tuan Riki…” Miyu menatap lembut mata Riki. “Aku sangat ingin sekali hal itu terwujud, aku pun mencintai dirimu, tetapi kurasa tidak seperti itu caranya. Aku percaya dengan kata-katamu bahwa kau akan memperbaiki keadaan dan menyelesaikan semuanya dengan cara yang baik. Sekarang, aku harus pulang dan engkau harus melanjutkan pekerjaanmu. Tuan, tuntaskanlah tugas-tugasmu dan datanglah kepadaku.”
Riki mendekap Miyu seakan tak rela melepaskannya, Miyu merasakan hawa tubuh Riki yang hangat mendekap dirinya seakan tak rela dilepaskan. Tetapi, mereka tidak bisa berlama-lama, karena mereka tetap harus berpisah dan memikirkan langkah selanjutnya.
“Tuan, terima kasih…”
“Nona… Aku…”
Tangan mereka sudah tak lagi berpegangan, Riki merasakan tubuhnya begitu kosong setelah pintu gerbang Geisaku ditutup dan wujud Miyu tak lagi terlihat. Dia meninggalkan gerbang, berjalan lemas dan tatapannya kosong.
Pintu gerbang telah ditutup dan dikunci kembali.
“AAARRRGHHH!!!” Riki meluapkan amarahnya menendang tiang bambu yang ada di sampingnya hingga patah. Prajurit penjaga gerbang ketakutan melihatnya.
* * *
Way Back HomeDi tengah perjalanan, Miyu merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya hingga nafasnya terasa sesak. Semakin lama nafasnya semakin terasa berat, tubuhnya menjadi lemah, Miyu goyah dan terjatuh dari kudanya.
“Nona Miyu!” Higashi segera menghentikan kudanya dan melompat ke arah Miyu. Rombongan berhenti saat itu juga.
“Nona Miyu!! Anda tidak apa-apa?? Sadarlah…”
Higashi terkejut melihat Miyu terjatuh, terkapar, tubuhnya nampak begitu lemah.
“Tuan Higashi, tolong… Aku…” suara Miyu nampak lemah.
“Nona, anda baik-baik saja?”
Air mata terlihat mengalir, titik demi setitik tanpa henti membasahi wajah yang terang bagai rembulan itu.
Higashi melompat ke atas kudanya.
“Kalian, tolong aku, bantu naikkan dia.” Higashi memerintahkan kawan-kawannya.
Para pengawalnya membantu Lady Miyu mengangkat tubuhnya, betapa terkejutnya mereka, tubuh tuan putri mereka dingin dan gemetar hebat. Miyu tak mampu menunggangi kudanya sendiri, Higashi kemudian membawa Miyu bersamanya. Dalam perjalanan pulang Miyu diam seribu bahasa dia menyandarkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya belakang punggung Higashi, kuda berjalan pelan.
“Nona, anda baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu?”
Tak ada jawaban, namun lama kelamaan Higashi merasakan punggungnya basah oleh air yang hangat dan tubuh di belakangnya berguncang pelan. Yang terdengar hanyalah suara rintihan isak sendu yang sangat pelan. Jari jemari gadis itu mencengkram erat kain baju punggung Higashi.
“Dadaku sakit…” ucap Miyu dalam bentuk sebuah bisikan parau.
Betapa miris hatinya mendengar isak tangis dari tuan putrinya itu yang dijaganya sepenuh nyawanya bagai buah hatinya sendiri.
“Seumur hidup aku menjagamu dengan nyawaku, tidak ada seorang pun yang pernah menyakitimu, karena aku akan membunuh siapapun yang berani menyakitimu. Tetapi hari ini, seorang lelaki tua terkutuk, dia memberi rasa sakit yang begitu dalam kepadamu. Aku pasti akan membunuhnya, aku akan membantainya hingga jasadnya tidak bersisa, tidak ada yang boleh membuatmu bersedih sampai seperti ini.” Higashi menjerit dalam batinnya, amarahnya berkobar dalam dadanya mengutuk segala kebejatan Taiki.
Tak ada lagi yang dapat dikatakan Higashi untuk menghibur perasaan tuan putrinya itu. Pasukan yang turut mengawal Miyu tak mampu melihat tuan putrinya itu, mereka tetap mengawalnya hingga mencapai Takamanomon.
Perjalanan pulang itu sunyi senyap, menembus rimbunnya hutan Takama.
* * *
Sesampainya di Takamanomon rupanya Miyu sudah pingsan karena kelelahan.
Higashi menggendong Miyu yang tak sadarkan diri dan mengistirahatkan di kamarnya. Setelah itu prajurit yang lain meninggalkan ruangan itu.
Sebuah tumpukan berkas dalam sebuah kotak kayu menarik perhatian Higashi, rupanya itulah barang-barang yang semalam sedang dibongkar oleh Miyu di ruang bacanya.
Karena penasaran Higashi memeriksa barang-barang tersebut satu persatu, dia mendapati beberapa pucuk surat dengan tulisan tangan. Kertas lusuh itu ditulis oleh seseorang bernama Tomoe.
Isi surat-surat tersebut seperti sebuah catatan harian, dan menjelaskan segalanya.
“Tomoe adalah ibunya Nona Miyu…” ucapnya dalam hati.
Higashi tak sanggup berkata apa-apa lagi setelah membaca isi surat-surat tersebut.
* * *
Sementara itu di Geisaku…
Taiki sedang asyik berendam air hangat dengan anak-anak gadisnya yang melayaninya di sekelilingnya. Ada yang menyabuni dirinya, menyuapi buah-buahan segar, mereka semua memanjakannya dan ikut mandi bersamanya. Selanjutnya yang terdengar adalah kicau-kicau manja dan erangan nakal dari para wanita-wanita yang melayani Taiki, diakhiri dengan geraman panjang sang lelaki bandot tua.
Hening sesaat.
“Ingin rasanya kubunuh laki-laki tua itu…” ucap Riki pelan.
Rupanya Riki berada di depan pintu kamar mandi mewah Taiki dan tidak sengaja mendengar riuh canda tuannya dengan anak-anak peliharaannya itu.
Aikawa lewat dan melihat Riki yang ekspresi mukanya memancarkan aura kematian.
“Eh… Maaf tuan, sepertinya saya salah jalan ya…” ucap Aikawa yang ketakutan melihat ekspresi Riki.
“Eits, mau ke mana dirimu…” wajah Riki bagaikan tokoh-tokoh film horror yang siap menyantap korbannya.
“Maafkan saya tuan… Ampun…” Aikawa nampak gugup dan ketakutan.
“Heh… aku hanya ingin memintamu untuk menemaniku minum koq.” ucap Riki.
“Oh? Begitu… baiklah…” jawab Aikawa yang merasa lega.
“JADI DI MANA AKU BISA MINUM DI TEMPAT INI!!??”
“Baik-baik akan kuantar.” langsung Aikawa buru-buru mengantar Riki ke kedai minum terdekat di dalam Geisaku.
* * *
Crippled BoarCrippled Boar adalah sebuah Bar yang sangat ramai dan terkenal di sudut kota Geisaku, tempat orang-orang mencari hiburan dan melepas lelah setelah bekerja seharian. Kedai minum favorit warga yang dinamakan “Crippled Boar” itu dibuka pertama kali oleh mantan pemburu babi hutan. Mereka membuat tuak fermentasi hasil produksi resep sendiri. Minuman yang mereka sajikan sangat enak dan mereka juga punya menu makanan yang sangat lezat.
“Aku ingin sekali membunuh laki-laki tua itu.” geram Riki sambil menenggak gelas tuaknya.
“Wah, sabar tuan, anda bisa jadi penjahat kalau melakukan hal itu.” balas Aikawa.
“Aku sudah tidak sabar dengan sikapnya yang hina itu.” balas Riki lagi.
“Aku tahu apa yang membuat anda begitu membenci dirinya, tapi kita hanya melaksanakan tugas, inilah pekerjaan kita.”
“Aku tidak mengerti apa yang orang-orang pikirkan? Budaya kita ini sudah ketinggalan jaman, budaya feodal yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Bagaimana seorang pemimpin negara bisa hidup di atas penderitaan bangsanya sendiri.”
Aikawa hanya diam dan meneguk minumannya pelan-pelan. Mereka berdua menghabiskan malam hingga Riki pingsan karena mabuk, entah sudah berapa gelas tuak ia habiskan. Ia tidak peduli walaupun Aikawa sudah melarangnya, sampai akhirnya Aikawa terpaksa membopoh Riki saat pulang.