Danisa duduk bersimpuh di bawah terik matahari. Dia tidak mengindahkan sengatan panas dari bola api raksasa yang terasa kuat meski berjarak seratus lima puluh juta kilometer. Pun tak menghindari tanah dan rumput yang mengotori celana berbahan kain yang dikenakannya. Peluhnya menetes, juga air mata berlinang jatuh. Untung saja matanya ditutupi kaca mata aviator hitam berlabel Calvin Klein, dirabat separuh harga ketika membelinya di Pondok Indah Mall bersama Stanny. Bibirnya tak henti komat kamit, khusuk merapalkan doa tanpa suara, setelah satu surah penting dalam kitab suci selesai dibacanya. Danisa meyakini, apa yang baru saja dilakukannya itu adalah satu cara memeluk kekasihnya. Melipat jarak yang terentang lebar antara dua alam berbeda hingga lebih dekat dari nadinya. Mengecup raga ya

