Kerusakan 57
.
Sejak menjadi Rowland Lubbock, ada banyak sekali keterampilan yang Rowland pelajari. Ia belajar bermain musik, berdansa, politik, dan juga bela diri. Salah satu bidang yang cukup mahir ia kuasai adalah cara berpedang. Ia selalu berusaha keras untuk menjadi ahli, bahkan jika bisa, kemampuannya harus lebih tinggi daripada para pengawalnya sendiri.
Mungkin Rowland sadar diri. Hidupnya yang agung pasti akan melalui banyak liku dan perselisihan. Ada banyak musuh di luar sana yang siap mengincar nyawanya, siap memenggal kepalanya untuk bisa menduduki wilayah kuasanya.
Apalagi, jika Rowland bisa ditakhlukkan, istri-istri beserta para gundik yang jelita itu dapat ikut dimiliki. Harta melimpah ruah dapat diraih dan dipakai foya-foya.
Untuk itulah Rowland harus mampu menjaga dirinya sendiri. Bahkan, meskipun bukan penyihir, ia sering meminta mantra atau amulet sekali pakai yang memungkinkannya dapat mengeluarkan sebentuk sihir tertentu meskipun dengan kapasitas terbatas.
Namun, seperti apa pun kemampuan fisiknya, Rowland hanya manusia biasa. Cadangan sihirnya pun dapat cepat terkuras karena memang bukan merupakan kekuatan asli dari dirinya sendiri.
Kemampuan Rowland itu sangat berbeda dengan Neuri. Manusia yang sudah terkutuk dan bahkan menyerahkan jiwanya pada iblis akan sangat sulit ditakhlukkan. Hal itu sebanding dengan konsekuensi yang diterima. Neuri sudah merasakannya sendiri.
Oleh sebab itu, sekeras apa pun Rowland mencoba bertarung mengalahkan Neuri, ia cukup banyak dihantui kegagalan. Hampir setiap serangan pedangnya dapat ditangkis. Bahkan, meskipun ia berhasil melukai Neuri, lawannya itu memiliki tingkat pemulihan yang lebih baik daripada manusia pada umumnya. Memang tidak seperti vampir atau makhluk lain dengan tingkat penyembuhan instan, tapi setidaknya lebih dari cukup untuk membuat tubuh Neuri lebih stabil daripada Rowland.
Tingkat kecepatan Neuri juga bertambah secara signifikan. Bukan berarti tak bisa diimbangi, tapi setidaknya lebih unggul dalam pertarungan.
Dalam beberapa menit saja, luka-luka yang dialami Rowland lebih banyak daripada Neuri. Lengan dan punggungnya dipenuhi cakaran, sangat dalam sampai darahnya mengucur begitu banyak. Amulet yang dimilikinya pun hanya tersisa dua buah. Tidak cukup untuk meneruskan pertarungan yang semakin tidak seimbang.
Neuri juga bukannya tidak terluka. Rowland berhasil menggoreskan pedang ke punggungnya, tapi luka itu mulai sembuh perlahan dengan sendirinya.
“Ha ha ha ha!” Rowland tiba-tiba tertawa kencang, matanya yang sedari tadi melotot menatap Neuri lebih nyalang. “Tidak adil! Sangat tidak adil! Kenapa hanya kau yang diberkahi kekuatan seperti itu! Bukannya diriku!”
Mendengar itu kemarahan Neuri tersulut cukup tinggi, tidak membayangkan ada orang sinting yang ingin memiliki kutukan pada dirinya. Entah mengapa ia begitu kesal. Tidak tahukah Rowland bahwa Neuri menderita siang malam karena dihantui rasa takut bahwa suatu saat dirinya akan menjadi monster sepenuhnya. Monster peminum darah yang bahkan bisa melukai orang-orang yang disayanginya?!
Kekuatan yang dijalin dari iblis selalu berakibat pada hal buruk di kemudian hari, harus ada yang dikorbankan, harus ada yang menanggung penderitaan. Jika terlena, cahaya di dalam hati bahkan ikut lenyap dalam sekejap, kehilangan kemanusiaan, kehilangan hati nurani.
“Diamlah kau sinting!” Pada akhirnya, karena kemarahan yang meluap setinggi langit, Neuri menggasak wajah Rowland dengan sekali serangan. Sebuah cakaran ia layangkan dengan segenap tenaga, hilang sudah kesabarannya yang sedari tadi mencoba ia tekan.
“Arrrg!!! Arrrg!” Rowland pun menjerit-jerit. Wajahnya yang selalu rupawan itu kini dipenuhi borok dan darah, lukanya menganga, cakaran di wajahnya terlalu dalam dan perih. Sangat menyakitkan sampai baru kali ini ia ingin segera mati.
Dengan kemarahan yang ikut tersulut, Rowland berlari menerjang Neuri. Lakunya terhuyung-huyung dengan wajah babak belur. Ia mengayunkan pedangnya ke sana ke mari, lupa dengan semua teknik yang sudah pernah dipelajari.
Namun sayang, ketika Rowland akan menebaskan pedangnya ke kepala lawan, Neuri menghindar dengan cepat. Tangan dan kuku Neuri yang tajam kembali melayangkan serangan, reflek menancapkan senjata tajamnya itu ke d**a Rowland hingga tembus belakang.
Mata Neuri membelalak, agaknya terkejut dengan tindakannya sendiri. Ia pun mundur dengan sigap, tangannya ditarik dengan cepat sambil gemetaran.
Di tempatnya, Rowland terbatuk-batuk hebat. Napasnya kembang kempis dan terlihat begitu kesulitan. Kedua lututnya menjadi tumpuan, tak lagi dapat berdiri dengan gagah seperti biasa. Darah mengucur dari berbagai lubang, dari dadanya yang menganga dan dari sudut bibirnya. Setiap kali ia muntah, darah segar keluar dari mulutnya, terkadang juga gumpalan-gumpalan yang lebih pekat ikut terbawa ke luar. Penampakannya kini benar-benar seperti prajurit di medan perang, merah sekujur badan, seolah puluhan gentong saus tomat telah diguyur ke atas kepalanya.
“Ha ha ha, ha ha ha!” Namun, alih-alih merintih dan menangisi nasibnya yang babak belur, Rowland menghiasi ruangan tersebut dengan tawa keras membahana, terbahak ia bagai orang gila.
Neuri yang melihatnya bahkan sempat mengira bahwa Rowland memang sudah benar-benar gila, atau lebih buruk lagi, Duke of Clemente itu mungkin saja sedang kerasukan setan yang tiba-tiba menempel entah dari mana.
“Your Grace, mari hentikan ini. Hidup Anda sudah di ujung jurang. Melawan pun, Anda akan habis,” ujar Neuri. Meskipun ia begitu marah, tapi melihat orang sekarat seperti itu, ada rasa kecil di hatinya yang menyuruh untuk segera menolong, segera memaafkan. Ah, mungkin benar apa kata orang-orang, dia terlalu penyabar.
Sayangnya, Duke of Clemente tak ingin mengindahkan. Entah mengapa, ia begitu lelah, ingin binasa saja. “Aku sudah begini, kenapa tidak kau bunuh saja aku, hah?!” teriaknya terdengar memaksa. Namun, suara yang dihasilkan sangat gemetaran dan serak. Orang yang mendengar pun tahu seberapa merana pria itu sekarang. Seperti sapi yang siap disembelih, sudah tahu ajalnya datang dengan segera. Tidak ada lagi harapan.
Neuri pun mengambil napas dalam. Ia mendekati Rowland yang sudah tergeletak tanpa daya. Dipandanginya tubuh kini sangat ringkih dan penuh duka itu. Diamatinya wajah Rowland baik-baik, mengingat-ingat sekiranya ada kebaikan Rowland yang membuatnya dapat memaafkan pria tersebut.
Namun, yang diingat Neuri hanya Rowland yang selalu menatapnya sinis, mencoba membunuhnya dengan berbagai cara, dan bahkan menghabisi nyawa keluarganya. Neuri tidak ingin menyerah, seperti apa pun Rowland, seharusnya ia bisa menemukan secuil kebaikan yang pernah dibagikan dengan tulus.
“Apa yang kau tunggu, Lycaon … cepat bunuh aku,” pinta Rowland dengan suara yang terlalu lirih dan gelagat yang begitu menyedihkan.
“Aku sedang mengingat-ingat, pernakah Anda berbuat baik kepadaku dengan tulus meskipun hanya sebuah tindakan kecil.”
Dengan mulut yang berdarah-darah, Rowland terkekeh lemah. “Tidak pernah. Tidak pernah aku melakukan hal tulus untukmu. Untuk apa? Untuk mengakui bahwa kau adalah anak dari wanita yang kukasihi dengan lelaki lain? Jangan mimpi!”
Buku-buku jari Neuri mengepal, mencengkeram begitu erat. “Benarkah seperti itu?”
“Diam berengsek! Kau mau bertanya apa lagi denganku?!”
Menutup matanya, Neuri mengambil napas begitu dalam. Entah mengapa, perasaannya menjadi benar-benar kacau. Dia membenci Rowland, tapi di sisi lain juga tidak ingin menyakiti siapa pun. Diam-diam ia berharap bahwa di masa depan, tidak ada lagi kisah tragis yang terjadi karena perkara dendam yang beruntun. Ia tidak ingin keturunannya membenci keturunan Rowland, begitu pula sebaliknya. Jika bisa memaafkan dan menyelesaikannya dengan manis, mengapa harus berpahit-pahit sampai mengorbankan nyawa satu sama lain?
Ah, apakah harapan Neuri terlalu muluk dan tak masuk akal? Apakah rantai dendam dan kebencian akan semakin panjang tanpa bisa dihancurkan menjadi kepingan?
“Your Grace, jika saya memaafkan Anda, apakah … apakah Anda masih akan terus membenci saya?” Neuri meneguk ludahnya, suaranya bahkan terdengar lebih sayup dan lembut. Seolah-olah, suara itu diliputi harapan yang begitu tinggi dan teguh.
Sayangnya, yang diharapkan tidak sama sekali sesuai impian kecil Neuri. Di depan Earl of Lunadhia, Duka of Clemente yang sudah tidak berdaya itu meludah begitu mudah. Decihannya, tatapan matanyya, semuanya menyiratkan rasa permusuhan yang kentara. Ah, hati Neuri terasa beradarah-darah.
“Daripada mendapat maaf darimu dan menerima belas kasihmu, lebih baik aku mati! Lebih baik mati tercincang menjadi seribu!”
Neuri tidak tahan lagi, sangat tidak tahan sampai rasanya semua pandangannya menjadi segelap gorong-gorong. Tangannya, kakinya, tubuhnya, semua bergerak sendiri tanpa ia bisa mengerti.
Saat semuanya menjadi jelas, tahu-tahu Neuri mendapati dirinya tengah memeluk tubuh Rowland. Tangannya menancap dalam pada d**a Rowland yang sudah berlubang, mengeluarkan jantung yang masih berdetak-detak berwarna merah.
Di tengah nyawa yang sudah hampir disedot keluar dari jasad, Rowland memandangi wajah Neuri yang berurai air mata. Mulutnya yang tak lagi mampu bergerak normal, berkedut beberapa kali, seolah ingin mengatakan banyak hal tetapi tak dapat dilakukan. Pada masa-masa seperti ini, entah mengapa Rowland tiba-tiba ingin menjawab pertanyaan Neuri dengan benar, ingin menjawab bahwa pernah sekali waktu, saat usia Neuri tiga tahun, Rowland pernah memberi anak itu perhatian tulus yang bahkan ia sendiri pun terkejut dengan tindakannya tersebut.
Saat itu hari gelap dan hujan di kediaman Lycaon. Di dalam rumah yang hangat dan berkiluan oleh lilin, tamu pesta saling bercengkerama dan menikmati segelas wine. Anak-anak kecil berlarian begitu gembira di hari ulang tahun Neuri Lycaon yang ke tiga. Sayangnya, tokoh utama yang berulang tahun, malah berada di luar rumah, kehujanan dan basah.
Di tangan seorang anak kecil yang menggigil itu, ada seekor anak anjing tengah meringkuk dalam pelukan.
Rowland tidak sengaja melihatnya. Namun, kakinya bergerak sendiri, menghampiri Neuri yang sudah berbibir putih dan berkali-kali mengeluarkan bersin kecil. Tanpa bicara, Rowland mengangkat tubuh kecil Neuri dan membawa anak itu ke dalam rumah. Kemudian, sebelum Rowland berlalu pergi, ia sempat memberikan sebungkus permen coklat pada anak rapuh yang sangat baik hati itu.
Rowland tidak berharap kebaikannya yang hanya sejumput garam itu dibalas di kemudian hari. Ia hanya merasa, Neuri layak mendapatkan perhatian seperti itu darinya. Anak itu, anak dari Yurilian, memang benar-benar seseorang yang berhati lembut, sangat penyayang, dan bahkan selalu memberikan senyum tulus dengan binar mata cemerlang pada Rowland. Kadang, di malam-malam ketika Rowland merencanakan sesuatu yang kejam untuk menghabisi Neuri kecil, ia selalu mengurungkan rencana yang paling berbahaya.
Jika saja Neuri anak kandungnya, mungkin Rowland bahkan rela menyerahkan tahtahnya untuk Neuri. Semua harta benda dan kedudukan, akan ia wariskan hanya untuk Neuri. Sayang sekali, anak itu adalah buah kasih dari Yurilian dan orang lain, dari orang yang sangat ia dengki.