RED - 58 : The Day for Escape

1004 Kata
Kerusakan 58 Aula luas yang tadinya dipenuhi penyihir, kini berubah menjadi medan berdarah. Mayat bergelimpangan, lantai dipenuhi goresan dan cekungan, tembok retak di banyak bagian. Entah seperti apa pertarungan yang terjadi, tapi yang tersisa dari semua kekacauan tersebut hanya seorang wanita berambut merah. Wanita itu, berdiri tegap dengan tubuh mandi darah. Pakaiannya compang camping, lengan bajunya yang tadinya panjang, kini hanya sebahu, memperlihatkan lengan yang putih dilumuri warna merah. Ujung-ujung rambut tampak gosong kehitaman, seperti baru saja dibakar dengan obor. Kuku-kukunya yang runcing dan tajam masih tampak begitu menakutkan, hanya saja, dua di antara kuku yang cantik telah lepas dari kulitnya. “Uhuk!” Loqestilla Vent, si wanita berambut merah, terbatuk sekali dengan sangat keras. Gumpalan darah berwarna hitam lolos dari mulutnya. Bersusah payah, Loqestilla mencoba mengendalikan napasnya yang semakin sulit dan sesak. “Payah. Aku sudah berada pada batasan.” Namun, meskipun menggerutu dengan kaki gemetaran dan hampir kehilangan kesadaran, wanita itu tetap menegapkan tubuhnya, lalu melangkah pergi tanpa sedikit pun rasa ragu. Kakinya berjalan cepat ke lorong yang sebelumnya dibuka oleh Neuri, mencari jejak aroma Neuri yang berseliweran di udara. Hingga pada saat ia sampai di sebuah ruangan dan masuk ke dalamnya, yang Loqestilla lihat adalah Neuri Turkadam Lycaon dan sesosok mayat tanpa daya bermandikan cairan kental berwarna merah. . *** . “My Lord.” Loqestilla memanggil dengan suara seringan kapas, lirih tapi masih dapat didengar. Yang dipanggil sayangnya tidak menanggapi sama sekali. Neuri seolah enggan untuk bicara meskipun hanya sekecap. Ia tepekur di depan mayat Rowland dengan pandangan mata yang begitu menderita. “Miss Loqestilla,” ucapnya kemudian setelah beberapa menit hanya mematung tanpa daya. “Ya, My Lord.” “Mari kita pergi. Sepertinya tidak baik berlama-lama di tempat seperti ini.” Neuri pun mulai berdiri. Saat ia akhirnya dengan waras melihat penampilan Loqestilla, senyum di bibirnya tersungging getir. “Apa Anda baik-baik saja? Anda tampak lelah, Miss Loqestilla?” tanyanya khawatir. Loqestilla pun memberi senyum kecil. “Saya sudah sampai batas. Jika setelah ini masih ada prajurit Lord Rowland yang mengejar, saya mungkin sudah tidak bisa lagi bertarung.” Tanpa banyak bicara, Neuri mencoba mencari kain di sekitar, dan menemukan sebuah taplak meja yang masih bersih di atas meja kecil. Diambilnya taplak tersebut dan disampirkan ke bahu Loqestilla. “Maaf aku cuma bisa menemukan ini.” “Tidak apa, My Lord. Terima kasih banyak karena sudah memperhatikan saya.” “Ya, ini tanggung jawabku.” Neuri pun terkekeh, seolah melupakan kemurungan yang sempat menghampirinya beberapa saat lalu. Sedangkan Loqestilla tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mayat Rowland yang begitu tragis akhir hidupnya. Ia menghampiri mayat tersebut, menata posisi berbaring, mengusap darah di wajah Rowland, dan bahkan merapikan rambut pria tua itu. Saat melihat ke sekitar ruangan, ia menemukan sebuah bunga yang tidak begitu segar di dalam vas. Diambilnya bunga tersebut dan diletakkan di atas d**a Rowland. “Selamat tidur dalam damai, Your Grace.” Di samping Loqestilla yang sedang berjongkok, ada Neuri yang berdiri. Lord Lunadhia itu pun turut serta memejamkan mata dan memanjatkan doa. Memberi penghormatan terakhir pada musuh yang telah meluluhlantakkan kehidupan mereka berdua. . *** . Sebelum benar-benar pergi, Neuri dan Loqestilla lebih dulu mengganti busana menggunakan pakaian para prajurit. Seragam berwarna hitam dipilih karena lebih mudah digunakan untuk bersembunyi. Setelah itu, keduanya tertatih-tatih keluar dari kediaman Duke of Clemente yang sudah seperti medan perang. Perjalanan untuk sampai ke Lunadhia membutuhkan waktu yang cukup panjang, terlebih jika harus sampai berjalan kaki dengan seluruh tubuh penuh luka menganga. Saat melewati sebuah rumah dengan kandang kuda terbuka, secara sembunyi-sembunyi Neuri mencuri satu kuda yang ada. Ia tidak mungkin membawa dua kuda karena tahu Loqestilla sudah tidak mampu untuk memacu sendirian. “Miss Loqestilla, apa kau masih bisa bertahan sebentar lagi?” tanya Neuri ketika membantu Loqestilla naik ke atas kuda. “Akan saya usahakan tetap sadar.” Neuri mengangguk. Ia sendiri pada akhirnya ikut menunggang pada kuda yang sama, seraya menjaga Loqestilla yang seperti bisa pingsan kapan saja. Tanpa basa basi, kuda tersebut dipacu dengan kecepatan tinggi menuju Lunadhia, satu-satunya tempat di mana mereka bisa pulang dan merasa terlindungi. . Sayangnya, ketika hampir sampai di tempat tujuan, barisan pasukan berseragam putih memenuhi jalanan. Neuri menghentikan laju kudanya, bersembunyi di berbagai tempat yang sekiranya dapat melindungi keberadaannya. Di samping batu tinggi di antara semak belukar, Neuri turun dari kudanya. Ia pun turut membawa Loqestilla bersama. “Miss Loqestilla, Anda masih bisa berjalan?” tanya Neuri kemudian. Tanpa menjawab, Loqestilla mengangguk lemah. Melihat keadaan Loqestilla yang benar-benar telah di ambang batas, Neuri pun menggendong rubah betina itu di punggungnya. “Pasukan itu kemungkinan dikirimkan oleh Lady Freya, seragam yang dikenakan menandakan mereka adalah pasukan khusus istri-istri Lord Rowland,” jelas Neuri. Setelah melihat keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya, Neuri pun mulai berlari sebisanya, mencari jalan sepi yang sekiranya tidak ada prajurit berkeliaran. Dalam pelarian yang melelahkan di tengah terik matahari berada di puncak kepala, Neuri hampir-hampir tidak sanggup untuk meneruskan perjalanan. Semakin terang matahari, tubuhnya semakin lemah tanpa daya. Penyembuhan lukanya juga melambat, dan seolah energinya tidak sebesar ketika di malam hari. Selain itu, di punggungnya, Loqestilla juga sama sekali tidak bergerak. Meskipun masih bisa Neuri mendengar degup jantung wanita itu, tapi kesadaran Loqestilla jelas-jelas sudah pergi entah ke mana. Sampai pada akhirnya, perjalanan yang panjang itu membawa keduanya berada di tepi rawa. Ada banyak rawa-rawa di sekitar Lunadhia, dan untungnya Neuri cukup paham dengan berbagai jalan tersembunyi yang ada di tanah kuasanya. Di tepi rawa itu, Neuri menurunkan Loqestilla. Ia sendiri terduduk seraya mengatur napas yang mulai putus-putus. Keadaan seperti ini adalah yang paling Neuri khawatirkan, karena jika ada yang menemukannya, tamat sudah perjalanan hidupnya. Melawan pun ia sudah tidak akan sanggup, apalagi jika sampai diserbu oleh sepasukan prajurit. Mengambil napas dalam-dalam, Neuri mengistirahatkan dirinya sejenak, berharap kelelahannya yang mulai semakin terasa, bisa sedikit mereda. Hanya saja, ketika ia mengendurkan sedikit kewaspadaannya, sebuah suara grasak-grusuk tiba-tiba terdengar dari rimbunnya semak belukar. Neuri berjengit, dengan cepat ia memosisikan diri di depan Loqestilla yang terbaring tidak berdaya. Namun, siapa sangka jika dari rerimbunan itu yang muncul adalah wajah terlalu familier, yang seketika membuat hati Neuri tenang hanya dengan keberadaan orang itu. “My Lord.” Orang di seberang, memanggil dengan penuh suka cita. Langkah kakinya ketika menghampiri Neuri begitu ringan sekaligus tergesa, seolah-olah ingin segera berada di dekat orang yang sejak kemarin dikhawatirkan sampai membuat tidak bisa tidur. Neuri tersenyum lega, dengan suara yang lembut, ia pun memanggil orang tersebut. “Pendeta kuil.” . TBC 15 Sept 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN