RED - 59 : Resting

876 Kata
Kerusakan 59 . Dannis Forester, seorang pendeta kuil yang biasanya berpenampilan rapi dan bersih, kini datang dengan jubah compang-camping seperti gelandangan. Dari dedaunan kering yang tersangkut di ujung jubahnya, orang itu pasti telah melewati berbagai jalan sulit di dalam hutan. Sepatu bootnya bahkan telah terkotori oleh tumpukan lumpur yang mulai mengering dan terselimuti debu. Namun, meskipun penampilannya begitu berbeda dari biasanya, wajah di sana tampak sangat ceria, seolah baru saja menemukan harta karun setelah sekian abad berburu di samudera. “My Lord! Anda selamat!” teriaknya girang. Dannis lantas menghampiri Neuri dengan tergesa-gesa, memastikan bahwa yang ditemukannya ini adalah benar-benar orang yang dicarinya. “Ya, aku selamat.” Neuri menjawab lirih, senyum kecil tercetak di sana. Tanpa diminta, Dannis lekas menubruk tuan tanah yang tampak berantakan tersebut. Memeluk dengan erat dan hangat. “Syukurlah … syukurlah dewa benar-benar mengabulkan doa kami semua.” Satu dua tetes air mata menetes hingga ke ujung rumput di bawah. Neuri menepuk-nepuk pelan punggung Dannis yang gemetar, seolah memberi kenyamanan dan perlindungan meskipun dalam hati, ialah yang sebenarnya sangat bersyukur dapat bertemu Dannis. Setelah melepas pelukan penuh kasih itu, Nerui pun berujar, “Sekarang, bisakah kau membawaku ke tempat yang cukup nyaman? Miss Loqestilla sedang kritis, aku perlu mengobati luka-lukanya.” Dannis mengangguk cepat. “Tentu saja, My Lord.” Tanpa diperintah, Dannis kemudian berjalan ke tempat Loqestilla dan menggendong wanita rubah itu di punggungnya. Raut prihatin lantas tercetak di wajahnya ketika melihat bagaimana wujud Loqestilla sekarang ini. Dalam hati berpikir bahwa gadis digendongannya ini pasti sudah melalui pertempuran yang terlampau sulit, luka-luka yang tercetak di permukaan kulit sampai rambut Loqestilla seakan telah menceritakan semua penderitaan gadis itu. “Mari, My Lord,” ucap Dannis, ketika mengajak Neuri pergi bersamanya. . *** . Neuri duduk tepekur di depan meja, secangkir teh panas mengepul-ngepul dan belum sama sekali dicicipi rasanya. Ia belum sanggup untuk meneguk apa pun ke dalam mulut. Selama Loqestilla belum dinyatakan hidup dan baik-baik saja, Neuri tidak akan mungkin sanggup membuat dirinya sendiri nyaman. Berkali-kali ia melihat ke pintu di sampingnya yang tertutup rapat. Di dalam pintu, ada dokter, perawat, dan pendeta kuil yang sedang melakukan operasi besar pada Loqestilla. Mereka bilang, organ-organ tubuh wanita itu banyak mendapat kerusakan, tulang yang patah, hingga serangan sihir yang tidak bisa begitu saja diobati dengan obat-obatan biasa. Padahal, peralatan yang ada sangat terbatas, dan dokter yang datang juga bukan spesialis bedah. Meskipun begitu, pendeta kuil bilang semuanya akan baik-baik saja asal dewa menjawab doa-doanya. “Dewa … dewa siapa yang dia maksud.” Dalam lamunannya yang tiada ujung, Neuri bergumam sendiri. Jika tidak salah ingat, iblis yang merasuki Loqestilla saat itu mengatakan bahwa warga desalah yang mendoakan dan memanggil ‘dewa’, yang pada akhirnya ‘dewa’ tersebut merasuk ke dalam jasad Loqestilla dan membantunya bertarung hingga menciptakan ladang darah. Seandainya ‘dewa’ yang dimaksud pendeta kuil adalah makhluk sama yang telah membantunya, berarti yang mereka puja selama ini bukanlah dewa sesungguhnya. “Apa mereka tahu jika mereka menyembah iblis?” gumaman Neuri seakan hanya terbawa angin lalu. Hingga beberapa jam pun berlalu tanpa terasa. Ketika dokter dan perawat keluar dari kamar yang dipakai operasi, Neuri tidak tahan untuk segera bertanya. “Kalian bisa menyembuhkannya?” cecarnya tidak sabar. Dokter yang baru keluar bahkan sampai berjengit kaget mendapati sambutan mengejutkan seperti itu. Namun, dengan sabar dokter tersebut menjawab, “Kami hanya mampu mengobati luka-luka luarnya. Sayangnya, Miss Loqestilla juga terkena serangan sihir yang terus menerus menggerogoti tubuh fisik maupun kesadarannya. Untuk kasus seperti itu, saya tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa untuk kesembuhannya.” Neuri memejamkan matanya beberapa detik, mencoba menahan apa pun emosi luar biasa yang mungkin akan dimuntahkannya. “Kalian telah berusaha keras. Terima kasih banyak. Sekarang pulanglah dan pastikan kalian berdua selamat sampai rumah.” Dokter dan perawat yang bersamanya mengangguk bersamaan. Setelah mengucap selamat tinggal, keduanya pun berlalu pergi melewati pintu lainnya. . . . Ketika memasuki kamar yang digunakan Loqestilla, Neuri mendapati bahwa kepala pendeta sedang membacakan ayat-ayat dalam kitab bersampul hitam. Neuri pun mendekat, ikut mengamini apa pun itu doa yang dipanjatkan kepala pendeta. “Apa Bapa bisa menyembuhkan Miss Loqestilla?” tanya Neuri lirih. Matanya menyorot tubuh Loqestilla seolah-olah telah kehilangan harapan. “Apa dia akan mati?” Dannis Forester menggeleng cepat. “Tidak akan saya biarkan Miss Loqestilla pergi begitu saja. Saya akan berusaha membuatnya sehat kembali.” “Bagaimana caranya?” “Dengan berdoa pada dewa.” “Siapa dewa yang kau maksud?” Dannis menghentikan doanya, ia mendongak untuk menatap Neuri yang juga sedang memperhatikannya sangat intens. Keduanya diam dalam hening yang tidak mengenakkan. Namun, setelah itu Dannis memutus kontak mata lebih dulu. Ia menutup kitabnya, lalu memandang Loqestilla yang terbujur kaku seperti mayat. “Apa Anda sudah tahu?” tanya Dannis kemudian. “Ya,” jawab Neuri tanpa ragu. Seraya menunduk dalam, Dannis berucap, “Maafkan saya, My Lord. Saya telah membohongi Anda selama ini. Saya … saya bukanlah pendeta suci. Saya adalah pengikut iblis.” Mendengar sendiri pengakuan dari mulut Dannis, rasanya udara di sekitar Neuri jadi lebih padat dan sesak. Ia mengambil napas dalam-dalam, berusaha membuat dirinya sendiri tegar. “Jadi, selama ini dewi yang disembah rakyat Lunadhia, bukanlah Dewi Bulan seperti yang kau khotbahkan.” Dannis mengangguk kecil. “Sejak kapan kebohonganmu itu kau lakukan? Apakah orang tuamu, pendeta-pendeta terdahulu, juga melakukan hal yang sama?” Akan tetapi, Dannis menjawab dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka. “Tidak ada orang tua, tidak ada pendeta terdahulu.” “Apa maksudmu?” Dannis mengangkat kepalanya, mendongak untuk bersitatap dengan Neuri sekali lagi. “Mereka semua … dan saya saat ini adalah orang yang sama. Sejak lima ratus tahun yang lalu, pendeta kuil di Lunadhia hanya ada saya seorang, tidak ada yang lain,” jawabnya. Ah, kejutan apa lagi ini. Mengapa akhir-akhir ini Neuri selalu mendapatkan kebenaran yang sukses membuatnya ingin memaki hingga gantung diri. . TBC_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN