RED - 60 : Reality in His Dream

1493 Kata
Berkali-kali, sudah berkali-kali Dannis Forester mengganti namanya selama hidup. Bahkan jika tidak membuka kembali catatan harian yang ia simpan di dalam peti, mungkin ia juga sudah melupakan nama pertama yang dimilikinya sebagai manusia. Dulu sekali, entah sudah berapa ratus tahun, Dannis adalah seorang manusia. Ia hidup dengan sewajarnya, menjalani hari yang merah jambu atau kadang abu-abu. Sekarang? Ah, ia tak tahu bagaimana mendeskripsikan dirinya sendiri. Tubuh fisiknya mungkin tidak begitu banyak berubah, tetapi jiwanya sudah benar-benar menjadi sosok yang lain. Di dalam jantung dan aliran darahnya sudah menyaru menjadi iblis, bukan lagi makhluk rapuh yang bisa dimaafkan Tuhan. Tidak ada yang bisa Dannis salahkan, ia menjadi seperti ini hanya karena memang sudah takdirnya. Ya, ia percaya bahwa takdir yang dimiliki oleh orang sepertinya memang hanya sebatas ini. Mau bagaimana lagi, dulu sewaktu kecil ia pun tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan kedua orang tuanya. Mereka dengan mudah menyimpang dari Tuhan demi Dannis yang sejak balita sudah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Seorang bocah kecil yang ringkih, seolah-olah tidak ingin mati tapi juga tak sanggup hidup. Demi Dannis yang seperti itulah kedua orang tuanya pergi ke seorang dukun, menyembahkan keimanan dan cahaya di hati mereka untuk bergelung di dalam gelapnya hasutan iblis. Semua itu, hanya demi Dannis yang dikasihi sepenuh hati. Siapa yang menyangka, jika berkat perjanjian sepintas lalu itu ternyata mengubah jalur hidup Dannis ketika ia bertumbuh dewasa. Di saat teman-teman dan saudaranya mengalami penuaan sebagai manusia, Dannis sama sekali tidak berubah. Wajahnya tetap muda, tubuhnya tetap kokoh. Ketika semua teman seumuran sudah terkubur dalam tanah, Dannis masih juga tak menunjukkan tanda bahwa ia akan mati begitu saja. Ah, ada yang salah. Dannis menyadari bahwa ada yang salah pada dirinya. Demi mencari misteri yang menyelimuti kehidupannya, Dannis pun memutuskan pergi dari tanah kelahiran dan rumah yang nyaman. Istrinya sudah wafat bertahun-tahun karena sakit, ia pun tidak memiliki penerus. Entah mengapa, takdir seperti sangat memihaknya dan mendukung bahwa Dannis memang harus pergi sendiri untuk memecahkan rahasia pada dirinya. Berbagai tempat ia singgahi, berbagai dukun ia sambangi, berbagai tempat ibadah ia masuki. Semua itu demi mengumpulkan kepingan-kepingan kisah yang mengarah pada rahasia dirinya sendiri. Dalam pikiran naif Dannis kala itu, ia sempat meyakini bahwa keabadiannya mungkin saja adalah berkat Tuhan yang hanya diberikan pada orang-orang terpilih. Ia sempat mempercayai hal itu sepenuh hati. Akan tetapi, kadang rasa sup dalam mangkuk yang berbau harum ternyata terasa hambar di lidah, begitu juga kenyataan yang menghantam hidup Dannis ketika ia mengetahui rahasia yang sebenarnya. Nyatanya kehidupan abadi tersebut bukanlah sebuah berkat Tuhan, tapi sebuah persekutuan sebagai b***k setan. Di dalam gereja yang suci dan agung, Dannis meraung-raung. Ia tidak pernah tahu jika orang tuanya berani menjadi sesat demi kelangsungan hidup Dannis. Ia tidak pernah menyangka jika kehidupannya yang baik-baik saja selama ini ditopang oleh persekutuan hina. Padahal saat itu ia sudah menjadi pengabdi di gereja, ia sudah membaktikan diri dan bersumpah untuk terus di jalan Tuhan yang Esa. Pada akhirnya, Dannis hanya bisa melarikan diri. Setelah mendapat cap sebagai anak iblis dari orang suci, ia pergi luntang lantung tak tahu arah. Mencoba bertahan hidup, tapi juga tak punya tujuan hidup. Ingin mati, tapi tak berani bunuh diri. Hingga pada suatu kondisi, ia dipungut oleh seorang bangsawan dermawan nan murah hati. Bangsawan tersebut adalah generasi ke dua Lycaon, yang saat itu masih berstatus sebagai Baron Lunadhia. Dannis tidak bisa menampik tawaran tak terduga itu, ia pasrah seperti sehelai daun yang gugur ke tanah. Dalam benak sempat terpercik sedikit harapan, bahwa mungkin saja setelah ini ada keajaiban yang bersedia berpihak padanya. Ia bermimpi jika pasti ada masa di mana hari-hari kelabunya bisa diterangi cahaya. Ia pun mengikuti bangsawan tersebut, patuh dan mengabdi. Kemudian berkat pengetahuannya yang luas tentang ilmu keagamaan, ia pun dipasrahi menjadi seorang pendeta kuil. Meskipun Tuhan yang ia sembah berbeda, tapi ia tetap merasa senang dengan permulaan tersebut. Dannis menjadi pendeta di sebuah wilayah kekuasaan, yang masyarakatnya begitu patuh dan hidup berdampingan secara damai. Masyarakat yang tidak banyak membuat masalah atau terlalu berambisi. Mereka beribadah dengan khusyuk dan ikhlas pada satu-satunya dewi yang paling dicintai, yakni Dewi Bulan bernama Dewi Kuu. Dewi yang digambarkan sebagai sosok putih, jernih, dan rapuh. Dewi yang dipenuhi kasih sayang dan berkat yang melimpah. Masih Dannis ingat bagaimana perasaannya yang merasa bersalah pada rakyat Lunadhia. Ia merasa menjadi pengkhianat hanya dengan berdiri di mimbar. Sebab, sebagai orang yang selalu berkotbah tentang iman dan kebajikan, malah dirinya sendiri yang menyimpang. Satu tahun, dua tahun, lima puluh tahun waktu berlalu. Bangsawan Lunadhia yang baik hati dan dicintai rakyatnya itu pun semakin tinggi gelarnya. Keturunan dan keturunannya lagi, berhasil mendapatkan gelar Earl yang akhirnya diturunkan kembali pada anak pertama. Namun, meskipun pewaris gelar pemimpin Lunadhia selalu berganti, pendeta kuil di tempat itu masilah orang yang sama. Tetap Dannis Forester seorang. Tidak ada yang tahu jika Dannis abadi, terlalu pandai pendeta satu itu menutupi jejak rahasia. Setiap sekian puluh tahun sekali, ia akan pergi ke kota besar, lalu berpura-pura meninggal setelah menyerahkan tugas sebagai pendeta kuil pada ‘seorang kenalan’. Dengan sedikit gaya rambut dan riasan wajah yang baru, ia akan menjadi orang lain. ‘Seorang kenalan’ ini akan kembali ke Lunadhia dengan menyerahkan surat wasiat dari ‘Dannis Forester’ dan menjadi pendeta baru di Lunadhia. Padahal, ‘seorang kenalan’ tersebut adalah Dannis Forester yang sudah berubah nama dan penampilan. Seratus, dua ratus, hingga usia Dannis mencapai lima ratus sekian tahun, ia tetap mengabdi sebagai pendeta kuil di Lunadhia. Keluarga Earl of Lunadhia menjadi bagian hidupnya yang paling berharga. Rasanya, tidak ada orang lain lagi yang bisa ia panuti sampai mati. Akan tetapi, keluarga yang baik hati lagi suci ini entah mengapa selalu saja diselimuti prahara yang Dannis tidak bisa mengerti. Terlebih pada keturunan paling baru, pada Neuri Turkadam Lycaon. Tak henti-hentinya pria itu mendapat masalah yang terus menerus bertambah seiring usia. Perkara yang paling tak terlupakan adalah ketika keluarga Neuri mengalami p*********n besar-besaran oleh orang tidak dikenal. Di malam yang gelap dan sunyi, kediaman Earl of Lunadhia tiba-tiba saja diserbu oleh para pembunuh terlatih. Hampir semua pelayan tewas dalam insiden itu. Selain para pelayan yang tewas demi melindungi keluarga Lycaon, tuan mereka juga satu per satu dihabisi tanpa pandang bulu. Mulai dari kepala keluarga, nyonya rumah, hingga putri bungsu, semuanya tidak ada yang selamat. Saat peristiwa itu terjadi, Dannis tidak bisa berbuat banyak. Sebab, ia pun tidak tahu menahu mengenai kejadian bagai serial horor di buku-buku novel tersebut. Warga desa pun baru tahu jika keluarga Lycaon tewas keesokan harinya. Namun, di malam itu, Dannis mendapat bisikan yang tidak pernah ia harapkan. Sebuah suara yang nyata dan jelas, merasuk dalam kepalanya. Ia mendengar seseorang berdoa dalam mimpinya. Orang itu, berdoa bukan kepada Tuhan yang Esa, melainkan pada sesuatu yang selalu Dannis benci seumur hidupnya. Orang itu, berdoa pada iblis yang terkutuk. Di dalam mimpi samar yang berkabut dan dipenuhi aroma anyir darah, Dannis melihat seorang pemuda meraung-raung dengan tangan dan kaki terantai. Saat Dannis mendekat, ia bisa melihat bahwa Tuan Muda Neuri lah yang berada di sana. Di depan wajah yang berlumur darah dan bercucuran air mata, ada tiga mayat yang tergeletak tragis tak berdaya. Mayat-mayat para Lycaon yang tidak dapat selamat dari tragedi yang menimpa. Walaupun mimpi, tapi Dannis bisa melihat bagaimana hal itu seolah nyata. Ia pun ikut meraung-raung di samping Neuri yang sudah seperti orang gila. Bahkan Dannis bisa melihat dengan jelas sosok mengerikan yang tiba-tiba menghampirinya. Sosok besar dengan tanduk dan ekor yang melecut tajam, berwarna merah kehitaman dengan senyuman lebar yang mempertontonkan taring-taring berwarna hitam dan runcing. Sosok besar yang mengintimidasi itu, anehnya tidak membuat Dannis takut. Anehnya pula, ia berharap pada sosok itu untuk menawarinya pertolongan. Benar saja, ketika sosok itu bertanya, apakah Dannis ingin membantu Tuan Muda yang tidak berdaya itu? Dannis segera menyanggupinya. Ia memohon-mohon supaya Tuan Muda Neuri bisa selamat dari tangan-tangan jahat yang coba menghancurkan hidup majikannya itu. Ia memohon-mohon seperti anjing yang kelaparan di jalanan. Hingga pada akhirnya, sosok besar mengerikan itu memberi Dannis sebuah bola seukuran tangan, berwarna merah oleh darah yang melumurinya. Sosok itu berkata, jika Dannis ingin menyelamatkan tuannya, ia harus bisa membuat Neuri memakan bola itu seutuhnya. Namun, tanpa memberikan penjelasan yang lebih detail, makhluk itu menghilang begitu saja bagai tersapu angin. Dannis yang tidak sanggup melihat penderitaan Neuri lebih lama pun menawarkan bola merah tersebut, mengatakan bahwa semua akan selesai jika Neuri memakan bola itu. Oh, Neuri yang putus asa, menerima tawaran pengikut iblis dan membuang sisi kemanusiaannya. Buah iblis yang dimakan bersatu dengan darah dan jiwa, mengubah Neuri baik hati menjadi binatang buas nan keji. Di atas langit, bulan sedang bulat sempurna, membara oleh cahaya yang ditiupkan Dewi Kuu. Namun, sinar berkat yang selalu diagungkan manusia, tidak pernah tersampikan ke dalam raga dan hati Neuri. Dalam mimpi yang samar-samar itu, Dannis hanya bisa melihat Neuri yang berubah menjadi monster hilang akal tanpa bisa melakukan apa-apa lagi. Musuh-musuh yang awalnya merasa percaya diri, berusaha lari tunggang langgang selagi melawan. Panah-panah api ditembakkan, membakar wajah Neuri yang seperti serigala rakus dari goa antah berantah. Saat semuanya selesai, Dannis pun terbangun dari mimpi panjangnya. Namun, ketika esok hari ia membuka pintu, rupanya pemandangan di dalam mimpi semalam bukanlah sekadar bunga tidur. Semua perjanjian dan penderitaan yang Dannis lihat adalah kenyataan pahit yang harus diterima semua orang. Tanah Lunadhia berduka dan merana. . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN