RED - 61 : Praying to The Devil

1192 Kata
Kerusakan 61 “Saat mengetahui kebenaran yang terjadi, hati saya bagai tercabik jutaan belati. Saya … saya yang membuat Lord Lycaon merana sepanjang hidup, membuat Anda melakukan perbuatan yang tidak Anda sukai. Bahkan sekarang, gara-gara saya, Lord Lycaon berada di situasi seperti ini. Semuanya, gara-gara saya yang ceroboh. “Meskipun begitu, yang ingin saya lakukan hanyalah menyelamatkan Anda, membuat diri ini berguna untuk keluarga Lycaon. Sebab, keturunan Lycaon adalah satu-satunya yang mau membukakan tangan untuk orang hina dan berdosa seperti saya. Sejak dulu … sejak beratus tahun lalu, impian saya hanyalah melihat keluarga Lycaon bahagia. “Sayangnya, saya mengacaukan segalanya. Meskipun sudah hidup beratus tahun, saya masilah seorang yang tidak berguna.” Di tempatnya berdiri, Neuri diam seperti boneka. Netranya mungkin tampak seperti memperhatikan pasien di atas tempat tidur, tapi sebenarnya dua iris itu tak bisa sama sekali fokus. Semua ucapan Dannis merasuk dalam telinga dan pikirannya, terlalu mengejutkan untuk segera dicerna. Ia bahkan tidak mengerti harus bertindak sebijak apa untuk mengatasi semua pengakuan tersebut. Setelah mengambil napas kecil, Neuri pun mulai membuka suara. “Jika melihat bagaimana semua peristiwa ini berlangsung, sebenarnya, Bapa tidak salah apa-apa. Pada dasarnya, aku sendirilah yang berdoa pada iblis. Semua kejadian ini, berasal dari keputusan pribadiku. Mungkin saja, Lycaon memang harus berakhir di generasiku.” Dannis membeliakkan mata. Ia segera berdiri dan mengambil kedua tangan Neuri untuk digenggam erat. “Tidak, Lord Lycaon. Saya mohon jangan berkata demikian. Saya yakin, masa depan Anda masih bisa diperbaiki. Masih ada harapan ….” Mata pendeta itu berkilauan seperti berlian yang menyedihkan. Neuri tersenyum kecil, tahu jika Dannis benar-benar ingin memberikan dukungan padanya. Sayangnya, harapan di mata pendeta kuil itu hanya seperti ilusi untuk Neuri. Ia tidak sanggup lagi berkhayal terlalu tinggi. “Sekarang, harapanku hanyalah agar Miss Loqestilla bisa selamat. Setelah itu, baru kupikirkan bagaimana bisa bertahan hidup ke depannya.” Pelan-pelan, Neuri melepas genggaman tangan Dannis yang hangat sekaligus berkeringat. Ia duduk dengan hati-hati di tepian ranjang. “Lord Lubbock sudah tiada, ia tewas di tanganku. Rumahnya kini menjadi ladang darah. Sebentar lagi, Lady Freya mungkin akan mengerahkan pasukan lebih banyak untuk memburuku dan Miss Loqestilla. Selain itu, pihak kerajaan juga mungkin akan ikut andil dalam pencarianku. Aku tidak bisa lagi berada di sini … tanah Lunadhia ini, kuserahkan pada warga.” “My Lord ….” “Bapa, tolong siapkan perkamen dan alat tulis.” “Tapi, My Lord!” Neuri tersenyum kecil, tampak getir dan menyedihkan. “Hanya untuk jaga-jaga,” ujarnya lirih. “Setelah itu, bisakah Bapa membantuku memanggil kembali iblis itu? Dia tampaknya memiliki ikatan yang kuat dengan Miss Loqestilla, mungkin saja … dia bisa membantu menyelamatkan anak kesayangannya ini.” Dannis mengangguk lemah. “Baik, My Lord.” . . . Dannis membawa sebuah baskom bersih yang sepertinya terbuat dari besi yang dipoles perak. Ketika ia memasuki kamar yang ditempati Loqestilla, ia bisa melihat Neuri yang tak berhenti membaca bait-bait dalam kitab suci. Sebenarnya, Dannis merasa sangat miris dengan pemandangan tersebut. Neuri adalah jiwa yang dirasuki iblis, yang hidupnya sudah jauh dari rahmat Tuhan, tapi mengapa jiwa seperti itu bisa tetap berdoa sangat khusyuk? Apakah Neuri tidak tahu jika semua ibadah yang dilakukannya akan berakhir sia-sia? Namun, Dannis sebenarnya cukup mengerti bahwa sebusuk apa pun seseorang, selalu ada harapan di hatinya. Selalu ada perasaan ingin menjadi yang terbaik, menjadi orang suci yang hidup dengan bersih dan dirahmati. Seperti Dannis yang dulu … seperti Dannis beratus-ratus tahun lalu. “My Lord, saya sudah mengirimkan surat yang Anda tulis ke kepala desa,” ujar Dannis ketika berjalan mendekat secara perlahan ke samping Neuri. Menutup kitabnya, Neuri pun menghentikan ritualnya. Ia menoleh pada Dannis yang tampak kalem seperti biasa. “Terima kasih, Bapa. Lalu, bagaimana kondisi orang-orang di desa?” “Saat ini mereka baik-baik saja, para prajurit hanya mengepung desa dan membatasi pergerakan penduduk, tapi tidak melakukan kekerasan. Mungkin karena penduduk pun hanya diam tanpa melakukan perlawanan berarti.” Neuri mengambil napas panjang, cukup merasa lega mendengar berita singkat tersebut. “Lalu … rumahku dan pelayan yang ada di sana?” “Rumah Anda disegel. Para pelayan tidak boleh keluar dari kastil. Mereka pun tidak diapa-apakan, entah mengapa … saya merasa para prajurit ini terlalu lembut untuk memperlakukan tawanan.” “Mereka prajurit Lady Freya. Didikan untuk mereka memang sedikit berbeda. Biasanya, selain target yang diincar, prajurit Lady Freya tidak akan menyakiti warga biasa.” “Sangat baik hati. Semoga Tuhan memberkati.” Neuri tersenyum kecil. “Bapa masih saja berperilaku seperti pendeta.” Dannis pun membalas dengan senyuman sama kecil. “Saya memang pendeta. Meskipun saya orang berdosa, saya masih memiliki keinginan untuk membimbing orang lain ke jalan yang benar.” “Sungguh baik hati.” “Anda juga baik hati, My Lord. Sangat baik hati.” Mengabaikan pujian Dannis, Neuri segera mengalihkan pembicaraan. “Lalu, bagaimana dengan ritual yang akan kita lakukan? Apakah Bapa sudah menyiapkan semuanya?” Dannis mengangguk, matanya melirik bejana yang dibawanya. “Kita bisa memulainya sekarang, My Lord.” . . . Selalu ada syarat dalam sebuah ibadah. Entah itu ketika beribadah kepada entitas suci atau yang terhina. Tubuh yang bersih, pikiran yang pasti, dan kesunyian yang magis adalah salah satu syarat paling umum untuk bertemu dengan sang penguasa. Dari celah-celah ventilasi, sinar rembulan menembus tanpa halangan. Debu-debu yang tersorot tampak khidmat melayang. Di bawah sinar yang seperti garis-garis panjang, tubuh Loqestilla dibaringkan. Di bawah tubuh gadis itu, kain putih bersih dilampirkan. Di samping kanan dan kiri tubuh yang terbujur, Dannis dan Neuri duduk bersila. Sebuah kitab bersampul kulit kambing ada di pangkuan Dannis Forester, sedangkan bejana berlapis perak diletakkan di depan Neuri. “Bulan masih tampak terang, saya rasa ini sudah cukup untuk memanggil sosok dalam diri Anda sekali lagi,” ujar Dannis. Seraya menatap ventilasi yang bersinar, Neuri mengambil napas lelah. Ia tidak begitu senang dengan ‘sesuatu’ dalam tubuhnya, apalagi jika harus memanggil makhluk itu secara sengaja. Namun apa mau dikata, semua ini ia lakukan untuk Loqestilla. Lagi pula, sudah sejauh ini kelakukannya, tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. “Silakan dimulai,” ucap Neuri kemudian. Dannis mengangguk. Ia membuka kitab suci yang tulisannya sudah pudar sana sini. Mulutnya pun melantunkan kidung-kidungan. Pelafalannya begitu fasih, bahkan dengan tulisan yang sudah hampir menghilang, ia tetap membacanya tanpa ragu. Sepertinya, Dannis memang terbiasa membaca kitab itu. Selagi mendengarkan bait-bait yang dikumandangkan oleh pendeta kuil, Neuri mulai memotong kuku-kukunya menggunakan pisau kecil yang sedari tadi ada di samping bejana. Kuku-kuku dikumpulkan jadi satu, dimasukkan ke dalam wadah perak yang berkilau. Setelah itu, sejumput rambut dari kepalanya ia campurkan pula, bersatu dengan bagian tubuhnya yang lain. Selain miliknya sendiri, Neuri juga mengambil kuku dan rambut Loqestilla, dikumpulkan jadi satu bersama miliknya. Saat semua sudah masuk ke dalam bejana, Neuri mengiris telapak tangannya, memeras darah yang mengalir dari sana. Setetes dua tetes terus mengucur, hingga darah mulai terkumpul dan menenggelamkan tumpukan rambut serta kuku yang tergeletak tak berdaya. Sinar rembulan masih menyorot, tapi perlahan tertutupi debu-debu yang bergerak berputar-putar. Di ruangan yang tak begitu luas, kabut mulai melayang-layang. “Pejamkan mata Anda, My Lord.” Neuri menurut. Ia memejam dengan erat. Setelahnya, yang bisa ia dengar hanyalah suara Dannis Forester yang menggumamkan mantera. Namun, semakin lama suara itu semakin samar. Ketika Neuri membuka kedua mata, yang bisa dilihatnya hanya suasana samar yang buram. Hingga pada suatu waktu, pemandangan di hadapannya berubah sangat drastis. Di depannya adalah sebuah ruangan, seperti kamar yang dinding-dinding dan perabotannya terbuat dari kayu pinus berwarna coklat muda. Kamar itu sempit tapi sangat rapi karena tidak banyak perabotan yang diletakkan. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dari luar, memperlihatkan seorang laki-laki tinggi dengan rambut berwarna merah dan bertelinga rubah. “Suamiku, kau sudah pulang?” Neuri lantas menoleh, di depan meja rias, ada seorang wanita berparas menawan tengah tersenyum bahagia. Wanita itu … wanita itu bertelinga rubah pula, juga berambut merah, mirip seseorang yang Neuri kenal. Mirip Loqestilla Vent.  . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN