RED - 62 : The Girl Called Caeli

1422 Kata
Kerusakan 62 Neuri hanya berdiri mematung melihat pemandangan tidak familier di hadapannya. Ia berpikir cukup lama untuk memahami situasinya sekarang. Apakah ia terhempas ke ruang dan waktu yang berbeda, atau semua ini hanya ilusi yang diciptakan dari sebuah ingatan? Satu-satunya yang Neuri pahami sekarang adalah bahwa ia sepertinya telah menjadi penonton dari berbagai adegan yang bergerak di depannya. Ia ada di sana, bersama dua orang bertelinga rubah, tapi mereka seolah menganggap Neuri hanya seperti udara. “Apakah ini ingatan Miss Loqestilla?” pikirnya. Meskipun begitu, tak lantas Neuri menyimpulkan begitu saja. Ia amati sekali lagi dua orang yang sejak tadi saling berinteraksi. Keduanya saling memanggil dengan sayang, menyebut satu sama lain sebagai suami dan istri. “Apa sebelumnya Miss Loqestilla sudah punya suami?” pikiran Neuri melanglangbuana. Jika Neuri ingat lagi, usia Loqestilla barulah sembilan belas tahun. Wajahnya masih begitu muda dan bersemangat, tetapi wanita berambut merah di depannya ini tampak lebih dewasa dan lebih lembut. Caranya bertutur pun sangat berbeda dengan Loqestilla yang selama ini Neuri kenal. Lalu, siapa sebenarnya wanita itu? “Bagaimana dengan kondisi tubuhmu, Istriku? Aku sangat khawatir ketika pergi berburu beberapa hari ini. Aku khawatir kau terlalu banyak bekerja sampai membahayakan kandunganmu sendiri.” Laki-laki berambut merah bicara lagi, otomatis Neuri pun kembali mengamati dengan saksama. Kemudian, seraya tersenyum dan bersandar di d**a suaminya, wanita yang mirip Loqestilla tersebut berujar ringan, “Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat, Suamiku. Para tetangga bergantian membantuku mengurus rumah.” Suami wanita itu pun membelai rambut istrinya yang semerah mega. Belaian yang lembut dan berhati-hati, seolah memamerkan pada dunia bahwa cinta yang dimilikinya sebesar semesta. “Aku tidak sabar menunggu kelahiran anak pertama kita, Caeli Istriku. Semoga ia lahir dengan sehat, dan begitu pun dengan dirimu.” “Aku juga berharap demikian, Rufus.” Ah, betapa indah pemandangan yang terus terhidang di depan hidung Neuri. Sekilas, ia teringat akan keharmonisan ayah dan ibunya di masa lalu. Tiba-tiba saja, ia merasakan rindu yang menyempil di ujung hati. Benar-benar perasaan yang tidak terduga. Namun, lamunan yang datang mendadak itu tidak berlangsung lama, sebab kabut setebal selimut segera mengelilingi tubuh Neuri. Membungkus tubuh pria itu ke dalam kegelapan yang hanya sekejap. Saat kabut-kabut sudah tiada, pemandangan di depan Neuri berganti lagi. Kali ini yang tampak adalah pemadangan desa yang sederhana, terlihat agak terbelakang dengan rumah-rumah kayu beratap jerami. Satu rumah dengan rumah yang lain tidak begitu berdekatan, karena pekarangan yang dimiliki cukup lebar. Namun, jejeran rumah itu tampak rapi, berpagar kayu rendah dan dirambati tanaman semak maupun bebungaan. Antar tetangga bisa saling menyapa dengan mudah meskipun ada pembatas. Saat ini, yang Neuri lakukan hanya mengikuti gerak gerik perempuan bernama Caeli yang parasnya sangat mirip Loqestilla itu. Entah mengapa, tubuh Neuri bergerak sendiri, mengekor seperti hantu di belakang Caeli. Saat Caeli berjalan seraya membawa keranjang, wanita itu banyak mendapat sapaan dan pujian. Beberapa menanyakan tentang kandungannya, mendoakan supaya Caeli dan bayinya sehat dan selamat. Seorang nenek tua bertelinga rubah memberikan bingkisan daging bakar, tampak gembira bisa membuat Caeli tertawa. “Jangan jauh-jauh, kau sedang mengandung dan suamimu juga sedang berburu selama beberapa hari bersama para pria. Tidak ada yang melindungimu jika kau main terlalu jauh ke hutan. Sebelum siang hari, sebaiknya kau segera pulang.” Mendapat nasihat yang penuh kekhawatiran itu, Caeli tersenyum maklum. “Tenang saja, Bibi. Aku hanya jalan-jalan untuk menyegarkan hati. Sudah hampir seminggu hanya di rumah saja membuatku sedikit gila.” Wanita tua itu pun tertawa kecil. “Dari dulu kau memang begini, tidak bisa duduk diam.” Setelah betukar sedikit cerita, Caeli pun melanjutkan perjalanannya. Neuri masih menempel seperti setan. Namun, dalam hati cukup senang melihat perilaku Caeli yang banyak tingkah, mengingatkannya pada adik yang telah lama tiada. . . . Jika tidak salah ingat, Miss Loqestilla pernah bilang jika ia berasal dari Wilayah Merah, dari desa Campanella. Sebenarnya, Neuri tidak pernah menyangka jika Wilayah Merah pun memiliki sebuah permukiman yang dihuni oleh sebuah ras. Ia pikir, wilayah itu masih berupa kawasan liar yang penghuninya tidak mengenal sistem sosial. Jangankan membayangkan adanya sebuah desa, Neuri bahkan tidak berpikir bahwa Wilayah Merah mungkin saja memiliki sekumpulan makhluk yang tinggal secara bersama-sama. Sebab, sepanjang pengetahuannya, Wilayah Merah hanya diisi oleh makhluk-makhluk buas. Mereka saling memakan dan bertarung tiada henti hingga menyipratkan darah di setiap jengkal tanah. Namun, nyatanya desa Campanella tempat asal Miss Loqestilla sama saja dengan desa lainnya. Masyarakatnya begitu ramah, saling membantu dan mendoakan, para pria berburu bersama kelompok, para wanita di rumah untuk memasak atau membuat kerajinan. Tidak ada bedanya dengan orang-orang di Lunadhia. Hanya ras mereka yang memang bukan manusia, dan itu tak mengapa. Bukankah di Trygvia yang sebagian besar penduduknya adalah ras monster juga begitu? Lalu, mengapa Wilayah Merah begitu ditakuti selama ini? Siapa yang menyebar cerita mengerikan tentang Wilayah Merah? Cukup melegakan mendapati kenyataan yang sedikit manis, tetapi Neuri tidak bisa merasa lega. Sebab, sebuah tempat mendapat julukan seserius itu pasti ada asal muasalnya. Tidak mungkin cerita seram tentang Wilayah Merah selama ini hanya bualan tak berharga. Neuri menyimpan pikiran-pikiran itu tidak terlalu lama, karena ketika ia mengikuti Caeli sampai ke puncak bukit, ia bisa melihat pemandangan berbeda dari sudut ia berdiri sekarang. Di atas bukit yang dipenuhi ilalang dan rumput gajah, pedesaan di bawah terlihat berbentuk segi enam. Gapura dan balai desa, tampak paling menonjol dengan atap jerami yang diwarnai merah gelap. Saat mata Neuri melihat lebih jauh, tentakel raksasa menyambuk-nyambuk di udara. Beberapa makhluk terbang di sekitarnya terhempas tanpa ampun. Tentakel tersebut terlalu besar untuk seekor gurita biasa, jadi Neuri pikir pasti itu adalah bagian tubuh seekor raksasa. Lokasinya sangat jauh dari desa, tapi bisa terlihat dengan jelas oleh Neuri yang berada di atas bukit. Benar-benar mencengangkan. “Aha ha ha, dia mengamuk lagi. Gurita pemarah.” Neuri melotot pada Caeli yang asik tertawa. Seraya menikmati penganiayaan nan jauh di sana, Caeli menyamankan dirinya dengan duduk di sebuah gelondongan kayu yang menempel kuat di tanah. Ia meletakkan keranjangnya di atas tanah, kemudian mengambil bungkusan daging bakar yang tadi diberikan bibi tua. Angin berembus sepoi, Caeli mengudap bekalnya. Sementara itu, pemandangan yang tersaji selalu seperti anomali. Aroma darah yang menyengat dari seluruh penjuru. Neuri pun sadar bahwa memang beginilah Wilayah Merah tercipta. Selalu berbau darah hingga lupa seperti apa aroma udara murni yang sesungguhnya. . . . Dari ingatan Caeli yang perlahan merasuk ke jiwa Neuri, baru ia tahu bahwa setiap desa yang berada di Wilayah Merah selalu memiliki ‘benteng’ magis yang membuat tempat tinggal mereka aman sentosa. Namun, saat keluar dari perisai sihir yang dibuat oleh tetua, kehidupan yang sesungguhnya harus dihadapi sekuat hati. Iblis dan monster berdarah dingin berserakan bagai jentik nyamuk. Hilang waspada, nyawa taruhannya. Neuri sedikit mengerti, mengapa Caeli tampak sangat tenang ketika melihat berbagai atraksi pembunuhan yang tersaji meski dari jauh. Penduduk Wilayah Merah sepertinya memang harus menghadapi hidup yang seperti itu setiap hari. Jika tidak berburu, merekalah yang diburu. Kesadisan yang dipertontonkan tidak pandang bulu. Bahkan hewan-hewan hutan pun tampaknya lebih penyayang daripada makhluk yang harus bertahan hidup di Wilayah Merah. “Sudah terlalu terik, aku harus pulang.” Gumaman Caeli mengalihkan pikiran Neuri yang sempat mengembara. Dilihatnya wanita itu yang merenggangkan tubuh setelah berdiri. Saat Caeli pergi, Neuri kembali membuntuti. Di perjalanan pulang, Caeli dengan asik memungut berbagai macam tumbuhan yang dilihatnya. Ia memanen jahe, mengambil beberapa talas, dan memetik dedaunan obat. Dimasukkan semua itu ke dalam keranjangnya yang tidak begitu besar, dijejalkan bersama daging bakar yang tersisa secuil. Langkah kaki wanita itu begitu ringan dan mulus, melewati jalan yang menanjak atau menurun tanpa sedikit pun masalah. Padahal di dalam perutnya ada seorang bayi, tapi ia tak terlalu mengkhawatirkan hal-hal seperti itu. Kadang ketika melihat Caeli melompat riang, Neuri yang ketar-ketir sendiri. Tanpa sadar merasa khawatir bahwa wanita itu bisa saja tersandung dan tergelundung. Khawatir dengan bayi di dalam perut yang masih belum membelendung. Benar saja, pada langkah ke sekian, wanita itu tergelincir hingga memasuki lubang goa. Caeli terperosok sedemikian rupa. Seraya memegangi perutnya, ia berusaha berdiri dan sesekali menepuk bagian tubuhnya yang bergesekan dengan tanah. “Hmm? Ada goa di sekitar sini rupanya? Kenapa selama ini aku tidak pernah tahu?” Wanita rubah itu bergumam pelan dengan kepala menengok ke sana ke mari, berusaha memperhatikan lokasi yang kini dijejakinya. Di belakang Caeli, Neuri pun melakukan hal yang sama. Ia turut memperhatikan suasana sekitar, menimang-nimang ada apakah gerangan di tempat seperti ini. Di tengah petualangan karena ketidaksengajaan itu, Caeli tiba-tiba memfokuskan pandangan pada satu titik mencurigakan. “Hm?” kepalanya meneleng penuh penasaran. Didekatinya sesuatu yang menarik perhatiannya itu, yakni sebuah batu yang menyembul ke permukaan, hampir penuh lumut dan tekamuflase oleh tumbuhan kecil yang mengitarinya. Caeli berjalan mendekat. Ia duduk berjongkok di depan batu tersebut dan dengan perlahan membersihkan tanaman-tanaman serta lumut yang kotor. Beberapa kali ia pun berusaha keras menggali tanah di sekitar batu, terlalu bersemangat sampai tidak begitu peduli dengan tangannya yang kotor bernoda. “Sebuah prasasti?” gumam Caeli. Matanya mengernyit, ekspresi wajahnya tampak kebingungan sekaligus penasaran. Di belakangnya, Neuri pun penasaran. Batu apakah itu sebenarnya? Jika memang prasasti, apa yang tertulis di atasnya? “Tulisan suku atsune … hmm … tulisannya ….” . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN