RED - 63 : Possessed

522 Kata
“Berdoalah kepadaku, maka hasrat dan harapanmu akan kukabulkan. Berdoalah kepadaku, maka akan kubimbing jiwamu selama hidup dan juga ketika mati. Hanya dengan berdoa kepadaku, kekosongan dalam hatimu menjadi sembuh dan penuh. Gagak bersayap hitam, paruhnya berwarna emas mengilat. Yang kupatuk bukanlah batu maupun tanah, melainkan permata dan harta benda-harta benda. Jika kau persembahkan bangkai dari orang-orang yang tak kau suka, aku menerimanya dengan lapang d**a. Untuk itu, potonglah seujung kuku jarimu, cabut sehelai rambutmu, dan tusuk dagingmu hingga meneteskan darah sebulat biji jagung. Dan, di malam purnama yang harum nan benderang, aku datang kepadamu. Aku datang kepadamu.” Neuri mendengar dengan saksama dan hati-hati setiap kata yang dibaca oleh Caeli. Meskipun tidak begitu mengerti tentang syair di dalamnya, tetapi perasaan yang damai dan tentram tiba-tiba merasuki hatinya. Namun, meskipun pikirannya menjadi sangat teduh, ada gejolak aneh yang mulai tumbuh di dalam dadanya. Gejolak yang tidak bisa ia jelaskan dengan bahasa sederhana. Seolah-olah, ia akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk sebuah entitas asing yang akhirnya datang seperti Tuhan. Seolah-olah, ia harus segera pergi ke depan perapian dan memotong kukunya, mencabut sehelai rambutnya, lalu menenggelamkan keduanya dengan darahnya. “Perasaan apa ini?” Neuri memegangi dadanya yang berdebar-debar. Saat ia memperhatikan Caeli, barulah ia sadar bahwa syair yang dibaca wanita rubah itu seperti mantera hipnotis yang tak dapat dielak. Sebab, kini Neuri bisa melihat sendiri bagaimana Caeli yang tadinya memiliki binar mata secerah permata, tiba-tiba saja sinarnya redup dan kosong. Namun, wajah wanita itu tampak gembira dan lega, seolah baru saja menemukan harapan baru di ujung dunia. Mungkinkah, perasaan euforia yang baru saja Neuri rasakan adalah perasaan Caeli saat wanita itu selesai membaca syair di atas prasasti? Jika memang benar, ada kemungkinan bahwa sesuatu yang lain telah merasuki tubuh Caeli tanpa disadari. . . . Usai kejadian di dalam goa, tiba-tiba Neuri sudah berada di rumah Caeli kembali. Ia masih dengan khidmat menjadi bayangan yang senantiasa mengawasi gerak-gerik Caeli, seperti hantu yang melayang-layang tanpa bisa dilihat manusia. Mau bagaimana lagi, ia masih terjebak dalam ilusi yang tak berkesudahan ini, dan ia sendiri pun yakin bahwa jika sudah waktunya, ia akan bisa kembali. Entah keyakinan itu datang dari mana, tapi ia tahu begitu saja. Kini, di dalam kamar yang terasa lebih suram daripada sebelumnya, Neuri mengawasi Caeli yang tampak tepekur di depan cermin rias. Cermin berbentuk bulat yang tidak begitu besar dan buram itu memperlihatkan wujud Caeli yang jelita seperti biasa, tetapi jika diperhatikan dengan lebih jeli, ada sesuatu berwarna hitam yang melayang di sekitar tubuh wanita itu. Neuri tak tahu dari mana warna tersebut berasal, karena ketika dilihat secara kasat mata, tubuh Caeli tampak normal-normal saja. Hanya ketika melihat ke dalam cermin, barulah Neuri tahu bahwa wanita rubah tersebut diliputi sesuatu yang seram dan suram. Padahal, kemarin tidak ada yang seperti itu, tapi mengapa kini terlihat menghinggap di tubuh Caeli seperti selimut kusam. Apakah ada hubungannya dengan prasasti tadi? Jika memang benar … ada kemungkinan bahwa Caeli bukan hanya terhipnotis, tetapi juga terasuki entitas gelap yang tidak diketahui. Neuri punya firasat buruk tentang hal ini. Sebab, aura hitam yang menyelimuti Caeli itu terasa familier. Sangat familier sampai rasanya ia tidak terganggu dengan hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN