Kerusakan 64
Matahari telah tenggelam, pintu-pintu rumah ditutup dari dalam. Hewan-hewan ternak digiring ke kandang, dan para wanita mulai memasak di dapur untuk makan malam. Saat Neuri mengintip dari jandela yang masih terbuka lebar, ia tak lagi mendapati seorang pun yang berlalu lalang. Bahkan anak kecil pun tidak ada yang terlambat untuk pulang, sehingga kondisi jalanan dan lingkungan sekitar terasa hening dan sedikit mencekam.
Neuri yakin wilayah ini tidak suram begini. Namun, karena untuk beberapa hari ke depan para lelaki dewasa masih berburu di luar wilayah, maka para wanita, orang-orang tua, dan bahkan para bocah, menjadi lebih waspada. Suasana di sini tidak jauh beda dari Lunadhia, hanya saja lebih gelap karena tidak ada pelita di tepi-tepi jalan.
Saat Neuri sedang terpukau dengan pemandangan di luar jendela, Caeli yang tak dapat melihatnya pun mulai bergerak untuk menutup setiap ventilasi rumah. Pintu-pintu dikunci, dan jendela digerendel dengan saksama. Ruangan yang sempat sedikit terang, kini menjadi benar-benar gulita.
Neuri dengan sabar menunggu Caeli menyalakan lilin atau apa pun penerangan yang ada, tetapi hingga menit-menit berlalu cukup panjang, tak juga rumah kecil itu diberi lampu. Apa mungkin biasanya seperti ini? Neuri tidak yakin.
Bahkan sampai benar-benar malam, Neuri tidak mendapati Caeli memasak atau memakan apa pun. Kudapan siang tadi di atas bukit, bukanlah porsi yang besar untuk mengganjal perut hingga semalam ini. Namun, mengapa Caeli tidak merasa lapar? Alih-alih bergerak untuk melakukan kegiatan rumah, wanita itu sedari tadi hanya berdiam di kursi depan perapian yang mati. Tepekur di sana seperti tidak punya kesadaran sendiri.
Melihat Caeli yang seperti itu, rasa khawatir Neuri semakin meninggi.
.
.
.
Benar saja, di tengah malam hampir dini hari, Caeli bangkit dari duduknya. Seraya membawa cangkul suaminya, wanita itu pergi ke luar rumah sendirian lewat pintu belakang. Suara kakinya samar, seperti melayang. Bahkan embusan napasnya pun tipis seperti benang.
Neuri terus mengikuti. Berjalan melewati ladang-ladang, hingga masuk ke dalam hutan yang terlalu sunyi. Di ujung perjalanan, ada gapura sederhana yang dibuat dari kayu. Di bawah gapura, terdapat bunga-bunga layu yang sepertinya dipersembahkan untuk sesuatu. Mungkin bunga-bunga itu sengaja diletakkan di sana oleh warga, Neuri hanya bisa menduga.
Namun, saat melewati gapura tersebut, rupaya banyak batu nisan yang tampak di sana. Melihatnya sekilas, Neuri sudah bisa menyimpulkan bahwa tempat tersebut adalah makam desa. Hanya saja, untuk apa Caeli membawa cangkul ke makam desa? Terlebih, wanita itu datang ketika petang, ketika seharusnya orang-orang asik lelap di peraduan. Seolah-olah, kunjungan Caeli memang tidak ingin diketahui siapa pun, dan anehnya juga, tidak ada siapa pun yang tahu. Padahal, para rubah itu seharusnya punya pendengaran yang bagus. Mengapa kepergian Caeli ke luar tidak disadari siapa pun?
Seperti … seperti ada sesuatu yang membuat desa tertidur di malam itu.