Kerusakan 65
.
Tanah digali menembus peti. Di dahan pepohonan yang gelap, mata bulat burung hantu mengawasi berkilat-kilat, seolah penasaran mengapa ada atsune betina yang malam-malam begini menggali lubang kuburan. Dasar atsune tidak ada kerjaan, kelakuannya itu sangat menyebalkan. Sebab, tikus-tikus yang biasa berkeliaran di sekitar kini tidak kelihatan. Tidak ada makan malam lezat yang bisa disantap sampai puas.
Seekor burung hantu pun terbang, sayapnya mengepak dan menembus langit gelap, seolah menuju bulan yang malam ini sedang melengkung seperti sabit rumput.
Namun, Neuri tidak peduli dengan seberapa banyak burung hantu yang melihat Caeli, karena Neuri pun menjadi bagian dari makhluk-makhluk malam di pemakaman yang merasa penasaran. Bertanya-tanya, mengapa Caeli seperti ini? Apa yang direncanakan wanita ini sampai menggali lubang kubur begini?
Seandainya Neuri memiliki wujud nyata, dia pasti sudah menghentikan Caeli dan membawa rubah wanita ini pulang. Meskipun harus menyeret dengan paksa dan bahkan mengikat Caeli seperti kambing yang akan disembelih.
“Wanita gila ini, apa yang dia lakukan?” Meskipun panik, Neuri pun tidak bisa melakukan apa-apa. Keberadaannya yang serupa hantu, sama sekali tidak membantu. Sehingga meskipun cukup frustasi melihat pemandangan di hadapannya, Neuri harus bisa menahan diri.
Bahkan, Neuri tidak bisa melakukan apa-apa ketika Caeli dengan mudahnya merusak sebuah peti.
Menggunakan cangkul yang dibawanya, Caeli memukul-mukul peti sampai hancur. Jenazah di dalam kotak kayu itu pun terlihat oleh mata, sudah mengering dan menjadi tengkorak. Kemudian tanpa basa-basi, Caeli mengeluarkan setiap potongan tulang yang ada di dalam peti. Ia geletakkan begitu saja di sudut lubang sebelum akhirnya mengangkat peti mati ke tanah di atas kepalanya.
Usai melakukan kegilaan itu, Caeli merangkak ke luar. Cepat-cepat dan teratur, ia menutup lubang yang sudah dibuatnya. Ia menabur tanah, lalu menginjaknya, menabur, menginjak, berkali-kali sampai tanah kubur itu tampak rata dan tidak menggunduk. Setelahnya, bergegas mengambil dedaunan kering dan menutup kuburan dengan cukup sempurna.
Jika tidak banyak kunjungan ke makam, maka tindakan Caeli ini tidak akan ketahuan. Terlebih, sepertinya desa ini tidak memiliki penjaga khusus yang mengawasi pemakaman, sehingga dengan berlalunya waktu, tanah kubur tersebut pasti akan rata dengan alami.
Selesai berurusan dengan kuburan, Caeli pun mulai menghancurkan peti yang memang sudah cukup lapuk. Ia hancurkan menjadi beberapa keping kayu yang tampak tidak berharga. Setelahnya, ia kumpulkan kayu-kayu tersebut dan diikat menjadi satu.
Caeli pun pulang dengan menggendong kayu peti mati di punggungnya. Neuri yang mengikutinya bahkan tidak bisa lagi berkata-kata.
.
.
.
Pagi pun datang dengan sempurna, sejuk dan indah seperti biasa. Rubah-rubah atsune tampak menawan dengan rambut merah yang tersorot sinar matahari, berkilauan seperti pikat untuk menjaring ikan.
Melihat suasana desa yang damai, Neuri tiba-tiba saja teringat tanah kuasa miliknya. Lunadhia juga tidak kalah tenang dengan tempat ini, tapi sayangnya hanya masa lalu. Neuri bahkan tidak bisa membayangkan, betapa takut dan khawatirnya anak-anak di Lunadhia ketika para prajurit Lady Freya datang. Orang-orang tua mungkin hanya akan meringkuk sembari menunggu ajal, pasrah saja entah akan dibiarkan hidup atau mati terpenggal.
Harapan Neuri sebenarnya ada pada para pelayan di kastilnya, tapi mereka pun terpenjara, tidak diizinkan ke luar dan menolong rakyatnya.
Mengambil napas panjang, Neuri pun mencoba mengalihkan pikiran dengan kembali mengawasi gerak-gerik Caeli.
Kali ini, wanita rubah itu tampak terang seperti kemarin pagi. Matanya bercahaya, langkahnya riang, dan ketika bercermin, tidak ada warna hitam yang menyelimuti tubuhnya.
Apa mungkin setan yang merasuki Caeli sudah pergi? Neuri tidak begitu yakin, karena dirinya sendiri pun bisa seperti orang normal ketika pagi menjelang, dan akan berubah menjadi iblis saat purnama datang. Bisa saja, Caeli pun mengalami kasus yang serupa.
Sayangnya, wanita itu tidak seperti Neuri yang bisa sadar ketika kerasukan. Lihatlah sekarang, ketika bangun pagi pun, Caeli seperti tidak mengingat kegilaan yang dilakukannya semalam. Lupa bahwa kedua tangannya yang rapuh itu, bisa menggali kuburan dan bahkan mencuri peti mati dari dalamnya.
Di belakang rumah, Caeli bahkan menjemur kayu-kayu rusak yang dibawanya dari makam. Dijemur bersama kayu perapian yang lain, dan matanya yang berkilau itu seperti bertanya-tanya, sejak kapan dia memungut serpihan kayu-kayu lapuk ini? Tapi seolah tidak peduli, ia membiarkan begitu saja keanehan yang dialaminya pagi ini.
.
.
.
Namun, ketika malam datang lagi, perangai Caeli mulai berubah kembali. Pintu-pintu rumahnya dikunci, ia pun tidak memakan apa pun meski bunyi perutnya cukup keras untuk didengar. Hanya saja, kali ini wanita itu menyalakan perapian, juga mempersiapkan beberapa benda yang dengan hati-hati ia tata di atas lantai.
Di antara berbagai barang tersebut, ada kayu peti mati yang mengering, bejana tanah liat yang bersih, juga pisau kecil yang terlihat tajam.
Di depan perapian yang membara jingga, Caeli mengucap doa. Syair yang dikumandangkan terdengar familier, dan sepertinya memang sangat familier. Neuri ingat, itu adalah syair yang digunakan Dannis Forester untuk melakukan ritual pemanggilan.
Jika memang seperi itu … mungkin saja … Caeli juga merupakan seorang pemuja.