Sekali potongan kayu peti dilempar ke perapian, Caeli segera menyenandungkan sebuah syair. Dua, tiga kali potongan kayu dilempar lagi, Caeli akan selalu bersenandung lirih. Saat semua potongan kayu itu habis, nyala api menjadi lebih besar merah. Anehnya, udara di sekitar menjadi lebih berat dan sesak. Meskipun begitu, Caeli seolah tidak begitu terpengaruh dengan kondisi sekitar yang mulai terasa aneh. Wanita rubah tersebut duduk bersila di depan api yang menyala. Di hadapannya, ada bejana dan sebuah pisau. Menggunakan pisau tersebut, Caeli memotong ujung-ujung kukunya. Ia kemudian mencabut sehelai rambut, dan mulai menggoreskan pisau ke telapak tangannya sendiri. Darah menetes-netes, ditampung dalam bejana tanah liat yang hanya terisi kuku dan rambut. Saat darah yang tertampung telah me

