Kerusakan 32
.
Ini sudah hari ke tujuh Neuri berada di kediaman Duke of Clemente. Selama beberapa hari ini, pembicaraan di kalangan bangsawan sampai pelayan hanya seputar gosip menghilangnya pelayan Lady Amy.
Menurut Neuri ini aneh. Padahal ada sekitar sepuluh orang yang berhasil mengintip kondisi mayat di taman waktu itu, termasuk Neuri di dalamnya, tapi entah mengapa tidak semua orang tahu bahwa pelayan Lady Amy telah tewas dibunuh.
Beberapa menganggap bahwa wanita pelayan itu hanya menghilang atau malah kabur bersama kekasihnya, beberapa yang lain bahkan menolak tahu jika ada pembunuhan di rumah Duke of Clemente. Lalu, ke mana suara dari sembilan orang yang bersama Neuri waktu itu? Mereka tidak mengatakan apa pun, seolah menghindar dari pembicaraan ketika berkumpul, atau bahkan mencoba mengalihkan topik saat ada seseorang yang mulai membawa-bawa perihal pelayan Lady Amy. Pengawal-pengawal Duke of Clemente juga memilih menjadi bisu jika sudah berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Lady Amy yang meraung-meraung itu dibawa ke tempat Lady Freya dan dipulangkan begitu saja. Bahkan dengan wajahnya yang bak malaikat, Lady Freya selalu mengatakan pada semua orang bahwa Lady Amy sedang tidak sehat, kram perut hebat sehingga perlu pulang untuk mendapat perawatan dari dokter keluarga.
Ada apa sebenarnya ini? Jika semua orang bermaksud untuk menyembunyikan mengenai pembunuhan waktu itu, mengapa Duke of Clemente tidak mengajak Neuri berdiskusi? Seolah-olah, hanya dia yang ditinggal.
Untung saja, dia bukan tipe yang suka mengumbar-ngumbar masalah, sehingga tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Sedangkan Miss Loqestilla? Ah, wanita itu selalu tahu cara menyesuaikan diri. Neuri bahkan tidak perlu memberi peringatan untuk diam.
“My Lord.”
Neuri melirik sekilas, terlalu familier dengan suara yang memanggilnya kini. Ia pun tidak perlu bersusah hati menutup buku di pangkuan yang sedang dibacanya. “Ada apa Miss Loqestilla?” tanyanya.
“Boleh saya menemani Anda?”
Tanpa bicara, Neuri menggeser duduknya, membiarkan Loqestilla menempatkan diri di sebelahnya.
Setelah menyamankan diri di samping Neuri, Loqestilla tidak memulai pembicaraan apa pun. Ia memperhatikan Neuri yang khusyuk membaca, dan sesekali mencuri tahu kalimat seperti apa yang tertera di dalam buku. Namun, karena hal itu tidak membuatnya begitu antusias, ia pun menyudahinya, lebih memilih memandang ke sekitar untuk melihat bebungaan dan serangga-serangga yang beterbangan di taman.
Angin pagi mengembus tenang, dedaunan pada pohon yang menaungi Loqestilla dan Neuri mulai bergoyang-goyang santai. Loqestilla mendongakkan kepala, mengamati ranting-ranting pohon dengan cermat, menunggu seekor belalang yang sedari tadi beterbangan untuk hinggap. Saat belalang tersebut benar-benar berhenti di sebuah daun, Loqestilla menggerakkan sedikit jarinya, mengirim angin untuk memotong belalang tersebut menjadi dua. Potongan belalang yang jatuh disambut langsung dengan mulut Loqestilla yang sudah terbuka. Dengan senang hati, Loqestilla mengunyah camilannya. Bunyi geramusannya terdengar jelas karena kaki-kaki belalang yang cukup keras.
Neuri pun menutup bukunya, agaknya tidak bisa konsentrasi lagi jika Loqestilla sudah mengganggunya seperti ini. “Apa itu enak?” tanyanya kemudian.
Loqestilla yang awalnya mendongak pun mengalihkan pandang kepada Neuri. “He he he, iya.” Ia mengusap sudut bibirnya yang sempat tercemar cairan lembek perut belalang.
“Akhir-akhir ini aku sudah jarang melihat Miss Loqestilla melakukannya. Aku pikir, Anda sudah tidak suka belalang.”
Loqestilla tersenyum malu seraya menggosok belakang lehernya. “Sejak saya ‘makan’ banyak waktu itu, keinginan untuk memakan camilan jadi berkurang.”
“Oh, apakah karena sudah lama tidak makan, Anda pun mulai suka nyemil belalang lagi?”
Mata Loqestilla yang bulat dan beriris merah berkedip-kedip, ia menelengkan kepala seolah sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Neuri. “Mungkin begitu, mungkin juga tidak. Saya hanya suka makan belalang.”
“Anda memang selalu aneh. Entah sampai kapan saya bisa terbiasa dengan tingkah laku Anda.” Neuri pun menggeleng-gelengkan kepala.
“Saya lihat, Anda mulai terbiasa.”
Sebelah alis Neuri terangkat. “Benarkah?”
“Sepertinya begitu.” Loqestilla pun terkekeh kecil. “Sebenarnya, Anda manusia yang paling mudah beradaptasi dengan saya daripada teman-teman yang pernah saya temui dulu,” lanjutnya.
“Duke of Clemente sangat menyukai Anda. Apa dia bukan kriteria seseorang yang mudah beradaptasi?”
Mendengar hal itu, Loqestilla mengembungkan pipinya. “Hal ini dan itu berbeda.”
“Apa bedanya?”
Loqestilla memegang dagunya, tampak menggumam sendiri seraya merenung. “Pokoknya berbeda. Cara His Grace memandang saya sangat berbeda dengan Anda, meskipun beliau selalu bilang cinta ini cinta itu, tapi dia seperti sedang menatap orang lain.”
“Benarkah? Dia tampak tergila-gila pada Anda.”
Loqestilla menggeleng cepat. “Tidak tidak. Beliau sedang melihat orang lain.”
Kernyitan di dahi Neuri menjadi sangat dalam. “Bagaimana Anda bisa tahu? Mungkin saja itu hanya perasaan Miss Loqestilla.”
Namun, dengan tatapan yang begitu serius, Loqestilla menjawab, “Saya tahu. Saya tahu.”
Melihat bagaimana Loqestilla tampak ngotot dan tidak mau dibantah, Neuri pun tidak lagi ingin mendebatnya. “Baiklah jika Miss Loqestilla mengatakan demikian. Yang lebih penting sekarang adalah perhatikan sikap Anda di depan orang-orang. Hal itu akan membahayakan Anda sendiri jika terlalu mengekspose diri.”
Loqestilla mengangguk dalam. “Benar, saya harus lebih berhati-hati. Tapi, biasanya saya memang selalu berhati-hati.”
“Anda selalu ceroboh jika bersama saya.”
Loqestilla terkekeh geli. “Mau bagaimana lagi, Anda seperti tidak pernah mempermasalahkan sikap saya. Meskipun sering mengomel.”
“Oh, saya sering mengomel?”
Wajah Neuri yang serius dan seperti tidak terima dengan ucapan Loqestilla, terlihat sangat menarik dan lucu. Loqestilla tidak bisa menahan tawanya. “Lord Neuri memang suka mengomel. Tapi saya tahu itu untuk kebaikan saya, bukan?”
“Bukan, dan saya tidak suka mengomel.”
“Anda suka.”
“Miss Loqestilla!”
Loqestilla tertawa sangat keras, terpingkal-pingkal. “Baiklah … baiklah, maafkan saya. Anda tidak suka mengomel, hanya suka memberi tahu. Anda memang baik hati, My Lord.”
Neuri mendengkus kecil, tapi kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Namun, karena Loqestilla terus tertawa, ia pun mencubit kedua pipi Loqestilla dan memainkannya dengan gemas. Ternyata, rasanya sangat menyenangkan.
“Aduh, aduh, My Lord, jangan menganiaya saya.”
“Anda patut mendapatkannya.”
“Ha ha ha ha, maafkan saya, maafkan saya.”
.
***
.
Rowland sedang berjalan-jalan di sekitar taman dengan istrinya, Lady Freya, di gandengan. Menikmati pagi yang seharusnya damai dan tenang, mendengar celotehan istrinya yang suaranya bagai bidadari, menghirup aroma bebungaan yang menyenangkan hati.
Akan tetapi, semakin lama ia melangkah, semakin ia merasa menyesal. Ketika pandangan matanya terarah pada bangku di bawah pohon, pemandangan yang selalu dihindarinya, tiba-tiba saja tertangkap mata.
Di sana, ada gadis favoritnya. Namun, di sana juga ada manusia yang paling dibencinya. Miss Loqestilla Vent dan Lord Neuri Turkadam Lycaon. Keduanya tampak riang, bahagia di atas kepedihan hatinya. Rowland benar-benar tidak bisa menerima hal ini. Tubuhnya gemetaran, dan tangannya terkepal erat, berkeringat sampai rasanya ingin pingsan, menahan amarah sampai rasanya ingin meledakkan diri.
“Suamiku?”
Rowland tersentak, lalu memandang istrinya yang menatapnya iba.
“Suamiku, mari pergi dari sini.”
Meskipun kakinya terasa tidak sanggup lagi melangkah, tapi Rowland akhirnya menuruti ajakan sang istri. Ia pergi bersama Lady Freya sambil menahan benci.
“Suamiku, semua akan berakhir dengan cepat. Setelah ini, wanita itu akan menjadi milikmu. Bersabarlah.”
Rowland kembali mengepalkan tangannya. Tanpa kata, ia memeluk erat Lady Freya. Pandangan matanya penuh angkara dan rencana. Seolah-olah kabut hitam sudah menutupi kedua pandangannya tentang kebaikan dunia.
Rowland menyakinkan dirinya sendiri, jika ia bersabar, semua yang diinginkannya akan segera berada dalam genggaman. Ia akan menghancurkan apa pun yang menghalangi kebahagiaan hidupanya. Seperti yang selama ini ia selalu lakukan. Seperti yang selama ini.
.
***
.
Di malam ke tujuh, seharusnya pesta panen sudah selesai. Seharusnya semua orang sudah boleh pulang tanpa merasa bersalah di hari ke delapan. Namun, tiba-tiba saja Rowland mengumumkan bahwa ia tiba-tiba saja mengundang semua orang untuk pesta lanjutan.
“Setelah pesta pertunangan dengan Lady Bolia Evergreen, saya memutuskan untuk melangsungkan pernikahan esok hari. Surat-surat sudah saya serahkan ke pihak gereja dan pemerintahan, dan sudah ditandangani serta mendapat persetujuan. Oleh sebab itu, jika saudara-saudaraku sekalian tidak keberatan, saya pun mengharapkan kehadiran kalian semua untuk pernikahan saya esok hari.”
Setelah pengumuman panjang di waktu sarapan itu, semua orang berdiri dari kursi mereka dan bertepuk tangan.
Neuri yang mendengarnya tidak bicara apa-apa, dan hanya ikut memberi tepuk tangan meskipun wajahnya diliputi kegelisahan.
Ini tidak baik, sama sekali tidak baik. Malam ini seharusnya ia sudah berada di Lunadhia, mengunci diri di kuil, dan melalui malam bulan purnama dengan tenang tanpa ada siapa pun yang mengetahui perbuatannya.
Apakah ia harus tertahan di sini hanya karena sebuah pesta pernikahan esok hari? Sebisa mungkin, Neuri harus bisa keluar dari keadaan yang pasti akan menyulitkannya ini.
Oleh sebab itu, usai sarapan pagi, ia menghampiri Duke of Clemente secara langsung. Ia tidak ingin membuang waktu dan malah membuat semua hal lebih kacau.
Namun, saat Neuri berusaha mengutarakan niatnya untuk kembali ke rumah, Duke of Clemente seolah tidak ingin membiarkannya pergi. Dengan suara yang lantang, Rowland Lubbock itu malah berlagak sebagai orang yang teraniaya dan sengsara.
“Earl of Lunadhia, apakah terlalu hina pesta pernikahanku bagimu sehingga kau tidak ingin menghadirinya? Semua orang rela meluangkan waktu untukku dan calon istriku. Namun, mengapa kau begini kejam padaku?”
Hampir-hampir Neuri menyangkal dengan meninggikan suara, tapi ia sebisa mungkin mengontrol emosinya yang sudah kepalang membara. Apa-apaan duke satu ini? Berusaha membuat namanya buruk di hadapan semua orang?
“Saya tidak bermaksud demikian, Your Grace. Namun, banyak hal yang mestinya saya lakukan hari ini.”
“Apa yang lebih penting daripada undangan dariku, Lord Lycaon?”
Tidak mungkin Neuri berkata jujur dengan tujuannya, bukan? Selain itu, sebenarnya ia pun tidak memiliki hal terlalu penting yang dilakukan di rumah. Ia hampir kehilangan alasan.
“Maafkan saya, Your Grace. Namun, desa yang saya naungi sedang melakukan proyek pembangunan untuk sekolahan. Banyak hal yang tidak mereka mengerti dan memerlukan bimbingan saya. Rasanya sangat tidak bertanggungjawab jika saya meninggalkan mereka begitu saja.
Akan tetapi, alasan tersebut rasanya tidak begitu kuat. Hal itu malah membuat seorang bangsawan lain menyahuti tanpa tahu malu. “Lord Lycaon, Anda adalah seorang pemimpin wilayah. Masalah pembangunan seperti itu bisa Anda serahkan pada orang yang ahli. Anda tinggal membayarnya saja, ‘kan? Lagi pula, bukankah sudah biasa bangsawan seperti kita hanya menyumbang dana tanpa perlu campur tangan?”
Seseorang yang lain juga ikut terlibat begitu saja. “Benar, benar. Lagi pula ini hanya satu hari, lusa Anda sudah bisa pulang, bukan? Mengapa terburu-buru. Atau, apakah Anda ingin mempermalukan Duke of Clemente dengan tidak menghadiri undangannya?”
“Jika benar demikian, Anda sangat tidak sopan Lord of Lunadhia. Duke of Clemente adalah kerabat Raja Norland, bagaimana bisa Anda menghina orang yang disayangi Raja Norland. Apakah Anda ingin mengejek Kerajaan Norland secara tidak langsung?”
Setelah itu, suara demi suara datang silih berganti. Memojokkan Neuri yang bungkam tanpa berusaha membantah. Sebab, jika dia berujar sekecap, orang-orang akan menghajarnya dengan serentetan kalimat yang saling bersahutan.
Ada apa dengan orang-orang ini, mengapa mereka terlihat mendendam sekali padanya?
“Lord Lunadhia, kami bukannya membela Duke of Clemente, kami hanya berusaha mengingatkan Anda, bahwa kedudukan Anda saat ini tidak membuat Anda bisa membantah.”
“Lagi pula, setelah calon tunangannya Anda ambil, apakah Anda masih berani untuk menghina Duke of Clemente?”
Mengambil calon tunangan? Apa maksud mereka adalah Miss Loqestilla?
Pada akhirnya, dengan suara yang hampir tercekat dan telinga yang rasanya sudah terbakar hangus, Neuri pun memilih mengalah. Sebelum semuanya bertambah kisruh, ia memilih menghindari kerumunan.
.
***
.
Di lorong menuju taman belakang, Neuri berjalan sangat cepat. Dia ingin sendiri, ingin menenangkan diri. Jika bisa, dia harus mengawasi keadaan sekitar. Berusaha mencari tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi malam nanti.
“My Lord, My Lord!”
Namun, seseorang tampak memanggil-manggil Neuri. Ketika ia menoleh, ia bisa melihat Loqestilla yang berusaha mengejarnya.
“Lord Neuri,” ucap Loqestilla ketika sampai di depan Neuri yang terlihat begitu murung. “Apa kita tidak akan pulang?”
Neuri menggeleng. “Duke of Clemente mengundang kita semua untuk merayakan pesta pernikahannya esok hari.”
Mata Loqestilla membulat lebar. “Lalu, bagaimana dengan Anda?”
Neuri menggeleng. “Aku akan berusaha mencari tempat yang baik untuk nanti malam. Jika Miss Loqestilla bisa membantu, tolong bantu saya.”
Melihat betapa kusut dan putus asa wajah Neuri, Loqestilla pun mengiyakan tanpa banyak membantah. “My Lord.” Sebelum ia benar-benar berlari pergi, Loqestilla menggenggam tangan Neuri erat. “My Lord, apa pun yang terjadi, saya akan selalu berada di samping Anda. Jika seluruh orang di dunia memusuhi Anda, saya akan berada di sisi Anda meskipun tubuh saya hancur dan jiwa saya tercabik-cabik. Saya berjanji.”
Neuri terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang dan tersenyum samar. “Miss Loqestilla, bolehkah saya memeluk Anda?”
Bola mata Loqestilla membulat, ia mengangguk dengan mantap. Tanpa berkata apa pun lagi, ia merentangkan kedua tangannya. Setelah itu, Neuri memeluknya dengan sangat erat. Pelukan yang begitu erat dan dingin, dipenuhi ketakutan dan kehawatiran.
Melihat Neuri yang demikian rapuh, Loqestilla memberikan pelukan terbaiknya. Ia mengelus punggung Neuri dengan sabar dan diliputi kasih sayang. Berusaha memberi tahu jika dia ada dan hidup, bahwa dia bisa diandalkan kapan pun Neuri butuh. Loqestilla sama sekali tidak keberatan jika dia hanya dijadikan tempat penampungan kesedihan. Lagi pula, sudah lama ia tidak begitu berguna untuk orang lain. Mendapat kepercayaan yang besar dari orang yang dihormatinya adalah sebuah pencapaian yang membuat hatinya berbunga.
.
TBC
30 Juni 2020 by Pepperrujak