Kerusakan 30
Pesta panen raya akan dilakukan selama tujuh hari penuh. Begitu pula undangan yang disebar kepada para bangsawan.
Namun, sejak hari pertama para tamu tiba, Lady Freya sudah berulang kali menggigit kukunya. Mau bagaimana lagi, di tengah keceriaan dan kemeriahan yang diadakan di rumah suaminya, seseorang yang paling tidak ingin dilihatnya ternyata berani menampakkan diri tanpa rasa bersalah.
Bukan salah orang itu sebenarnya, tapi dendam dan kebencian dalam hati lah yang membuat Lady Freya merasa marah setiap kali melihat wajah Loqestilla.
Iya, benar. Loqestilla Vent yang paling dibencinya itu ada di rumahnya.
Terlebih, suaminya juga begitu pilih kasih pada rubah betina yang tidak tahu diri itu. Suaminya, Rowland Rathmore Lubbock yang memang sedari awal sudah playboy, berani sekali menyiapkan ruangan khusus untuk Loqestilla Vent.
Ruangan khusus itu diisi dengan berbagai ornamen mahal berwarna tosca. Kata suaminya, warna tersebut selalu mengingatkan pertemuan pertama mereka.
Miss Vent dengan gaun tosca yang lembut dan menawan. Penampilan yang tanpa ampun bisa menyita perhatian Rowland Lubbock tanpa perlu menimbang-nimbang seberapa sukanya Duke of Clemente tersebut kepada Loqestilla.
Terdengar romantis? Romantis-romantis, sialan.
Istri mana yang tidak cemburu jika suaminya begitu pilih kasih. Mungkin benar jika Rowland punya banyak istri dan gundik, tapi selama ini tidak ada yang benar-benar diperlakukan istimewa. Rowland selalu loyal dan baik pada wanita-wanitanya, termasuk pada Lady Freya. Namun, semua wanita itu tetap saja tidak boleh melampaui batas, semua harus ada di bawah telapak tangan sang Duke. Tidak boleh membantah, tidak boleh menuntut hal-hal yang tidak disukai Rowland.
Akan tetapi, berbeda dengan Loqestilla. Wanita rubah itu berani menuntut, berani membantah. Tapi, mengapa Rowland tidak marah? Setiap malam selalu saja menyelipkan pujian untuk Loqestilla Vent. Setiap tindakan kecil selalu mengingatkan pria tua itu pada Loqestilla Vent. Apa pun Loqestilla Vent. Loqestilla ini, Loqestilla itu.
Loqestilla Vent benar-benar sialan.
“Wanita itu benar-benar sialan.” Di balik jendela kamarnya, Lady Freya mengumpat pelan.
Lelah dengan kemarahannya yang hampir-hampir tidak berujung, Lady Freya akhirnya menarik napas dalam. Mencoba menenangkan dirinya untuk bisa berpikir lebih baik.
“Setidaknya, aku sudah cukup menghinanya dengan menempatkannya di kamar pelayan.” Senyum Lady Freya mengembang bak bunga mekar, tapi itu hanya bertahan sebentar.
Ia berharap suaminya tidak akan pernah tahu mengenai apa saja yang sudah ia lakukan pada Loqestilla. Selama butler pribadi Rowland tidak mengadu, Rowland hanya akan menganggap bahwa Loqestilla memang benar-benar ditempatkan pada kamar khusus yang sudah disiapkan. Bahkan, jika wanita itu melapor pada suaminya, Lady Freya hanya tinggal mengarang sebuah cerita. Semuanya bisa dikendalikan selama ia bisa berpikir waras.
Namun, jika dipikir-pikir lagi, ini sudah lewat satu hari, dan tidak ada tanda-tanda suaminya murka padanya perkara Loqestilla.
“Mungkin wanita itu tidak membicarakannya. Itu lebih baik.”
Tapi, mengapa Loqestilla tidak mengadu? Menurut laporan yang diterimanya, sedari kemarin suaminya bertemu secara langsung dengan Loqestilla. Bahkan, suaminya pun mengundang secara pribadi Loqestilla ke ruangan khusus. Seharusnya mereka membicarakan sesuatu. Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan sampai tidak ada waktu bagi Loqestilla untuk berkeluh kesah pada suaminya? Apa yang rubah betina itu rencanakan dengan tetap tutup mulut?
“My Lady.”
Bahu Lady Freya tersentak, tidak meyangka ada yang memanggilnya ketika ia sedang tenggelam dalam pikirannya. Ketika ia menoleh, rupanya seorang pria muda memasuki kamarnya. Itu butler suaminya, Mario. Jika pria ini mengunjunginya, berarti ada hal penting yang seharusnya dilaporkan.
“Apa saya membuat Anda kaget? Saya sudah memanggil Anda tiga kali,” ucap Mario lagi.
Lady Freya menggeleng singkat. Dengan sebuah isyarat tangan, dayang-dayang Lady Freya menyingkir ke tepi ruangan. Menutup telinga mereka dengan kapas dan menunduk tanpa berani melihat interaksi majikannya.
“Ada apa?” tanya Lady Freya kemudian.
“Kemarin malam, His Grace bersama wanita itu berjalan-jalan di festival. Tampaknya mereka menghabiskan waktu cukup lama.”
Lady Freya meremas tangannya sendiri. “Apa mereka hanya berdua?”
“Tidak, My Lady. Bersama mereka, ada Earl of Lunadhia. Beberapa pengawal pribadi His Grace juga ikut dalam pertemuan tersebut.”
“Lalu, apa yang mereka bicarakan?”
“Saya tidak begitu tahu. Saya tidak berani mengikuti mereka terlalu jauh. Tapi, tampaknya mereka bersenang-senang sepanjang festival.”
“Bersenang-senang? Suamiku bersenang-senang di tempat rakyat jelata?!”
Mario mengangguk. “Benar, My Lady.”
Ini tidak mungkin, sangat tidak mungkin. Setahu Lady Freya, suaminya itu cukup pilih-pilih dalam bergaul maupun ketika memilih tempat untuk bersenang-senang.
Tidak suka tempat yang kotor, tidak suka orang yang kotor.
Saat memberi sumbangan di hari minggu pun, suaminya hanya berada di depan, sedangkan sumbangan akan dibagikan oleh pelayan-pelayannya. Meskipun suka memberi, tapi Rowland tidak akan turun tangan sendiri untuk mengulurkan tangan pada orang yang kotor dan terlihat tidak layak di matanya.
Lady Freya sangat tahu betapa suaminya itu menjunjung tinggi martabatnya sebagai seorang bangsawan. Namun, apa yang baru saja Mario katakan? Suaminya bersenang-senang di festival? Di tempat rakyat jelata berada? Lelucon macam apa ini yang baru didengarnya.
“Jangan berusaha membodohiku, Mario,” sergah Lady Freya. Matanya melotot, mengancam.
“Saya tidak berani berbohong, My Lady.” Mario membungkukkan badannya, memperlihatkan kesungguhannya. “His Grace bahkan memakan makanan yang dijual penduduk di pinggir jalan.”
“Apa?!”
Tanpa berani bicara kembali, Mario segera berlutut di depan Lady Freya. Tahu betul jika lawan bicaranya sedang murka dan ingin mengamuk.
“Apa yang betina itu lakukan pada suamiku sampai dia mau mamakan makanan pinggir jalan?! bahkan, bahkan sayur yang berlubang sedikit saja dia sudah tidak mau memakannya. Mana mungkin … mana mungkin suamiku ….!” Ia sudah tidak dapat lagi melanjutkan ucapannya. Dengan tubuh sempoyongan, Lady Freya berjalan ke kursi paling besar di kamarnya. Terduduk lemas ia di sana.
“Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi begitu saja.” Lady Freya memijat pelipisnya perlahan, mencoba meredam lonjakan emosi yang sempat menguasai dirinya.
Namun, sebelum ia mampu mengembalikan kewarasannya, seseorang menggedor pintu kamarnya dengan keras.
“My Lady, My Lady!”
Suara di luar sana memanggil-manggil.
Lady Freya menggunakan isyarat tangannya, para dayang yang sebelumnya sempat membungkam telinga pun melepas kapas dari lubang pendengaran mereka. Seorang dayang berjalan untuk membukakan pintu. Setelah pintu dibuka, seorang lady menerobos masuk begitu saja. Pelayan lady tersebut mengikuti seraya tergopoh-gopoh.
“Lady Amy, ada apa?”
Sambil tergugu-gugu pilu, Lady Amy menubruk tubuh Lady Freya dan memeluk wanita elf itu erat. “Milady, Milady, kemalangan tengah menimpa saya.”
Seraya mengelus punggung dan rambut Lady Amy, Lady Freya bertanya lembut, “Apa yang terjadi, Milady, temanku? Tarik napasmu dan ceritakan padaku mengapa kau datang sambil menangis seperti ini. Hatiku sakit melihat temanku bersedih. Jika bisa, aku akan membantumu, Milady.”
Setelah berkali-kali meraung, Lady Amy akhirnya mau melepaskan pelukannya pada Lady Freya. Pelayannya yang canggung memberikan sebuah sapu tangan untuk mengelap air mata yang membuat pipi majikannya basah.
“Milady, ini benar-benar bencana. Pelayan kepercayaanku dibunuh.”
“Dibunuh?”
Lady Amy yang hari ini rambut coklatnya tampak belum digelung dengan benar, mengangguk-angguk cepat. “Benar, Milady. Ini sungguh mengerikan, huhuhu.” Setelah itu ia kembali tergugu-gugu dramatis.
“My Lady, bisakah kau menceritakan padaku, bagaimana hal ini bisa terjadi?”
Lady Amy pun memulai kisahnya di pagi yang dingin dan mendung. Seraya berurai air mata, ia memohon-mohon menuntut keadilan.
.
***
.
Di taman belakang kediaman Duke of Clemente, suasana tengah ramai oleh sekumpulan pengawal yang berlalu lalang. Orang biasa tidak diizinkan lewat dan melihat, sehingga meminimalisir orang-orang untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi dan sedang dilindungi.
Di lantai dua, Loqestilla dan Neuri melihat keramaian itu dari balik jendela. Sebenarnya penasaran, tapi tidak ingin terlibat dalam perkara yang tidak mereka tahu awal mulanya.
“Bau darahnya sangat menyengat. Sepertinya, pelayan wanita itu dihabisi oleh binatang buas.” Loqestilla memberi komentar. Neuri di sampingnya, hanya menyipitkan mata, berusaha melihat keadaan di kejauhan lebih jelas. Sayangnya mustahil, jadi ia menyerah begitu saja.
“Ya. Aku tadi sempat melihatnya sekilas, dan tubuh wanita itu benar-benar telah dicabik-cabik oleh sesuatu. Tubuhnya sudah tidak keruan,” sahut Neuri pada akhirnya.
“Apa Lord Neuri tahu, makhluk seperti apa yang berbuat begitu di kediaman Duke of Clemente ini?”
Neuri menggeleng pelan. “Makhluk itu tidak mengisap darahnya, sepertinya hanya ingin membunuh atau melampiaskan emosinya.”
“Mungkin juga untuk bersenang-senang,” tambah Loqestilla.
“Apa Miss Loqestilla pernah menjumpai makhluk yang mirip?”
Loqestilla mengedikkan bahu. “Sebenarnya ada banyak yang seperti itu di luar sana, terutama di Kerajaan Trygvia dan Wilayah Merah. Namun, di Leifia ini, saya jarang menjumpainya. Apalagi di Kerajaan Norland yang rata-rata penduduknya adalah manusia biasa.”
“Bisa saja makhluk dari luar negeri itu mampir ke sini, bukan?” tanya Neuri lagi
“Tapi, makhluk itu melakukannya di rumah Duke of Clemente yang penjagaannya ketat, dan rumah ini juga banyak dipasangi perangkap sihir. Makhluk yang suka bersenang-senang dengan membunuh pun, masih harus memikirkannya berulang-ulang jika ingin membuat keributan di rumah seorang bangsawan.”
“Miss Loqestilla benar.”
Loqestilla menghela napas kecil. “Jika pelakunya tidak ditemukan, saya khawatir, saya akan dilibatkan dalam hal ini,” ujarnya.
“Mengapa?” Neuri menoleh, melihat Loqestilla lebih intens seraya mengernyitkan dahi penasaran.
“Wanita itu, kemarin sempat bertengkar dengan Opal. Dan dugaan saya, dia juga yang membawa Opal ke hutan untuk disiksa. Anda tahu sendiri, kan bahwa Opal datang bersama saya? Kemudian, saya juga seorang manusia separuh binatang. Jika mereka tahu saya punya kebiasaan menggigit, saya akan langsung dicurigai.”
“Kalau begitu, jangan sampai orang tahu. Saya pun tidak akan bicara apa-apa tentang kebiasaan Anda itu.”
Loqestilla terkekeh ringan. “Lord Neuri, Anda benar-benar suka sekali melindungi saya.”
Bahu Neuri tersentak, cepat-cepat ia mengalihkan pandangannya kembali ke jendela, merasa canggung jika harus bersitatap dengan Loqestilla langsung. “Anda tanggung jawabku.”
Kali ini Loqestilla mengangguk. “Benar, saya orang yang Anda pekerjakan. Saya juga akan lebih berhati-hati supaya tidak membuat masalah untuk Anda.”
Neuri mengangguk kecil. “Itu bagus.”
.
***
.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Duke of Clemente tengah sibuk dengan laporan yang ia terima dari orang-orangnya. Ketika larut dalam pikirannya yang berkelit-kelit, seseorang mengetuk pintu.
"Suamiku, ini aku Freya. Bolehkah aku masuk?"
Rowland mengernyit heran, tumben sekali istrinya menemuinya ketika ia sibuk bekerja. "Masuklah, Istriku."
Mendengar izin dari suaminya, Lady Freya pun segera membuka pintu. Dihampirinya sang suami yang asyik masyuk dengan berbagai kertas-kertas dan dokumen penting. Meskipun khawatir kehadirannya akan mengganggu, tapi ia terus menerobos pikiran itu.
"Suamiku, apakah kau sudah menemukan siapa pelaku pembunuhan pelayan Lady Amy?" tanya Lady Freya tanpa basa basi.
Rowland pun mengembus napas lelah. "Tidak. Aku masih belum menemukannya."
"Suamiku, kudengar, wanita itu kemarin sempat bertengkar dengan Miss Vent. Aku khawatir, karena terbawa emosi, Miss Vent pun ...."
"Tidak mungkin Miss Vent seperti itu!"
Lady Freya sempat terhenyak, tidak menyangka, suaminya bisa secepat itu menyangkal tentang tuduhan halusnya kepada Loqestilla.
"Maafkan aku, Suamiku. Aku tidak bermaksud menuduh. Hanya saja, wanita itu separuh binatang, dan di luar sana, yang seperti itu biasanya bisa berubah menjadi monster. Aku hanya berusaha mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Aku minta maaf jika hal itu menyakiti perasaanmu." Air mata yang bening mengalir di ujung-ujung mata Lady Freya, membuatnya tampak lemah dan patut dikasihani.
Melihat istrinya seolah tertekan, Rowland pun tidak bisa melanjutkan kemarahannya. Ia berdiri, lalu berjalan menghampiri sang istri. Dipeluknya Lady Freya ke dalam dekapan. "Maafkan aku, Istriku. Kau pasti sangat bersedih dan ketakutan."
Di dalam pelukan suaminya, Lady Freya mengangguk lemah. "Dia pelayan teman baikku. Aku tidak tega melihat Lady Amy yang terus menerus menangisi pelayannya yang baik itu. Mereka sudah bersama sejak kecil. Aku tidak bisa membayangkan betapa terluka hati Lady Amy."
"Kau benar, Istriku. Tapi, aku hanya tidak suka jika kau menuduh orang lain seperti itu. Terutama Miss Loqestilla Vent. Dia wanita yang lembut dan baik, sekasar apa pun aku padanya, dia tetap tersenyum untukku. Jadi kumohon, jangan menuduhnya."
Gigi-gigi Lady Freya sebenarnya sangat bergemelutukan, kepalan tangannya menguat. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun di depan suaminya. Jika Rowland marah padanya, ia pasti akan dihukum tanpa ampun. Untuk itulah dia hanya mengangguk seolah setuju.
"Aku mengerti, Suamiku."
Saat kedua sejoli tersebut masih saling memeluk, seseorang pun mengetuk pintu kembali dari luar.
"Your Grace, ini saya."
Ah, orang itu. Rowland segera melepas pelukannya untuk sang istri. Buru-buru, ia membuka pintu dan menyuruh seseorang itu masuk. Ditutupnya cepat pintu ruang kerjanya, dan dikunci rapat.
"Sudah kubilang, jangan sembarangan ke tempatku, Ferguso," ujar Rowland dengan nada yang begitu kesal.
Tamu tidak diundang tersebut, Ferguso Albanero, hanya mengucap maaf singkat. "Saya ke sini, untuk membawa laporan."
"Benarkah? Apa yang kau temukan?"
"Ini tentang Lord Neury Lycaon."
Rowland mengernyitkan dahi. Ia menunggu dengan sabar Ferguso yang mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya.
"Tolong baca laporan ini, Your Grace."
Cepat-cepat, Rowland membuka sebuah kertas yang dilipat rapi. Di dalam kertas, berisi tulisan yang cukup banyak, ditulis dengan rapi dan terstruktur. Namun, setelah melihat laporan dalam kertas itu, mata Rowland pun membulat lebar.
Entah mengapa, setelah berwajah terkejut begitu, ia tersenyum sangat lebar. Senyum yang menyiratkan kemenangan dan keserakahan. Seolah-olah ia sudah siap membalas dendam pada siapa pun yang sudah membuatnya terluka.
Di samping Rowland, Lady Freya yang masih tidak tahu apa yang terjadi, hanya mengernyit kebingungan. Memangnya, apa yang sudah didapat suaminya tentang Lord Lycaon sampai wajahnya begitu bahagia.
Apa pun itu, Lady Freya ikut senang jika suaminya senang. Sekarang, tinggal masalahnya yang belum terselesaikan. Ia berharap, ia pun memiliki sebuah bukti dan senjata untuk menghancurkan Loqestilla Vent. Sama seperti bagaimana suaminya mencoba menghancurkan Lord Lycaon yang baik hati itu.
.
TBC
29 Juni 2020 by Pepperrujak