RED - 35 : DANNIS FORESTER

1532 Kata
Kerusakan 35 . Penjara busuk yang sunyi itu, seolah menutupi seluruh keagungan Neuri. Penjara itu begitu gelap, sampai-sampai semua benda di dalamnya menyatu dengannya. Kegelapan itu juga dilengkapi dengan lantai yang dingin dan berlumut, aromanya lembap dan pengap, apek dan anyir, berbau pesing seperti kencing tikus. Di lantai seperti itu, tubuh Neuri terbaring payah. Seluruh luka di tubuhnya masih menganga, darah merembes pada borok-borok yang basah, menyelimuti kerak darah yang sebelumnya sempat mengering. Dengan kondisi yang seperti di ujung kematian, Neuri akhirnya mampu membuka mata. Saat kesadarannya perlahan-lahan menjadi lebih baik, luka di seluruh tubuhnya mulai terasa lebih sakit. Ah, jika begini, Neuri seperti tidak ingin sadarkan diri. Mati mungkin menjadi pilihan yang paling tepat. Sayangnya, sampai sekarang ia tidak juga mati. “Sialan ….” Benar-benar sialan. Namun, karena tenggorokannya terasa kering dan perih, Neuri tidak melanjutkan sumpah serapah yang terpikir di kepala. Ia diam dan hanya bernapas pelan, ingin bangkit tapi tidak sanggup beranjak. Menggerakkan tangan pun ia begitu kesulitan. Jika sudah begini, tidak ada jalan lain selain pasrah. Neuri berharap ia segera mati, entah karena kelaparan atau luka di tubuhnya yang pasti akan membusuk dan digerayangi belatung. Yang manapun, ia ingin seluruh prosesnya dipercepat. Ia sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk hidup, dan tidak ada alasan yang bisa membuatnya hidup. Untuk apa hidup jika pada akhirnya akan selalu dikhianati dan ditinggalkan? Neuri pun kembali menutup matanya, karena meskipun ia mencoba terjaga, semua terasa percuma. Dalam keheningan itu, Neuri mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Kepasrahannya begitu kuat dan mendalam, seolah tidak sanggup lagi menanggung beban di pundak. Akan tetapi, entah mengapa kelebatan bayangan-bayangan mulai merasuki alam sadarnya. Ia mulai melihat siluet-siluet yang bergerak, seperti kerumunan manusia yang berinteraksi satu sama lain, berbincang, bercanda, saling mengejek, menari-nari, memakan hidangan, tertawa … ah, itu warga desanya. Neuri dengan jelas mulai bisa melihat wajah-wajah yang dikenalinya. Ada kepala desa, Boby yang sedang marah-marah, anak-anak kecil yang bermain bola lempar, para wanita yang menyajikan makanan, pria-pria yang membuat perabotan, dan … dan seorang perempuan dengan rambut merah bertelinga binatang. Ah, itu Miss Loqestilla. Wanita itu sedang bicara padanya, tapi Neuri tidak bisa mendengar apa pun. Miss Loqestilla, apa yang sedang kau katakan? Apa yang ingin kau tuturkan? Neuri mencoba mengerti, tetapi sekeras apa pun mencoba, ia sama sekali tidak mendapatkan hasil. Saat Neuri semakin berusaha mengerti, ia pun akhirnya mampu menangkap suara yang dikeluarkan Loqestilla. Namun, setiap wanita rubah itu bicara, Neuri selalu mengernyitkan dahi karena merasa gelagat Loqestilla menjadi tidak familier baginya. “Anakku, Neuri Turkadam Lycaon. Apakah kau benar-benar tidak ingin hidup lagi? Lihatlah, betapa warga desa sangat mencintaimu. Mereka menunggumu pulang untuk kembali tertawa bersama dan menikmati hidangan di kala senja. Apakah kau ingin menelantarkan mereka?” Menelantarkan warga desa? Mana berani Neuri memikirkan hal itu. Mereka adalah alasannya mampu hidup hingga kini, bagaimana mungkin ia tega menelantarkan orang-orang yang begitu baik seperti makhluk suci. Akhirnya dengan suara yang tercekat, Neuri pun menjawab, “Mana mungkin aku menelantarkan mereka. Aku tidak tahu bagaimana akan bertahan sampai sekarang tanpa mereka! ” “Kalau begitu, tetaplah hidup. Jika kau hidup, kau bisa melindungi semua orang yang kau pedulikan. Kau tidak perlu kehilangan apa pun lagi.” Neuri terdiam sesaat, dengan mata yang seperti ingin menangis, ia kembali bicara. “Hanya saja, jika aku kembali, apakah mereka akan menerimaku lagi?” “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” Dengan perangai yang tampak gelisah, Neuri menjawab serampangan. “Seseorang yang sangat kupercayai, telah mengkhianatiku. Jika dia saja bisa berkhianat, lalu bagaimana dengan yang lain?” Kepala Neuri tertunduk dalam, wajahnya muram seperti merengek. Di benaknya, ada kelebatan wajah Ferguso yang seperti malaikat kemudian berubah menjadi iblis bertanduk tujuh. Neuri tidak sanggup mendapatkan pengkhianatan yang lain lagi. “Itu hanya satu orang, bukan berarti warga desa yang lain akan melakukan hal yang sama padamu, ‘kan?” Dengan pikiran yang berusaha ia jernihkan sendiri, Neuri mulai mengingat-ingat, kebaikan-kebaikan apa saja yang sudah ia terima dari warganya. Namun, di antara kebaikan tersebut, ia tiba-tiba saja teringat sebuah wajah. Sebuah wajah yang ramah dan polos, wajah yang sama seperti yang berhadapan dengannya sekarang. “Miss Loqestilla,” gumamnya lirih. Wajah Loqestilla tersenyum lembut. “Benar, Miss Loqestilla. Dia selalu menerimamu apa adanya, bukan?” Tanpa ragu, Neuri mengangguk. Ia mengingat-ingat bagaimana perlakuan Loqestilla selama ini padanya; selalu baik, selalu menurut. Meskipun Miss Loqestilla selalu memiliki rencana-rencana yang tidak pernah Neuri mengerti, tetapi wanita itu juga selalu mau menegakkan punggung untuknya, melindunginya, dan … menyembunyikan keburukannya. “Miss Loqestilla ….” Wajah Loqestilla di depan Neuri pun memudar, seolah menjadi asap yang terembus angin. Setelahnya, pandangan Neuri menjadi gelap kembali. Di tengah rasa sakit yang menyayat kulit, Neuri membuka matanya sekali lagi. Pemandangan di sekitarnya masih sama, tetapi tekad dalam hatinya telah berubah. Dengan mengeraskan niat, ia mulai menggerakkan satu per satu ujung jarinya, mencoba meraih tanah dan meraih kembali segala kehormatannya. . *** . Di kamar yang hangat dan nyaman, Loqestilla kini sendirian. Meskipun begitu, pikirannya telah penuh oleh rasa khawatir. Memikirkan Neuri yang entah nasibnya kini seperti apa. Syukur jika masih hidup, karena bila Neuri ternyata sudah tidak bernyawa, Loqestilla pun tidak bisa mencari alasan untuk membebaskan dirinya sendiri sekarang ini. Menurutnya, untuk apa berusaha melarikan diri dan berususah-susah kabur ketika tidak ada yang butuh bantuannya? Sia-sia saja, menghabiskan waktu. Jika seperti itu, lebih baik ia berpasrah di tangan Rowland. Lalu jika ada kesempatan, ia akan menggigit habis leher pria tua itu sampai mati, dan barulah ia akan pergi untuk kembali mencari kehidupan baru di luar sana. Menghela napas kecil, mata beriris merah milik Loqestilla hanya menatap sepi pada perapian yang menyala terang. Namun, melihat api yang berkobar itu, entah mengapa Loqestilla tiba-tiba teringat sesuatu. Seperti … sebuah kenangan yang samar-samar semakin terlupa olehnya. “Ibu … apa yang kau lakukan dulu di depan perapian?” Ia pun beranjak, berdiri diam hanya untuk melihat api yang terus menyala tenang. Lewat api yang menyala berwarna jingga kemerahan, ia seolah melihat sebuah wajah yang begitu penuh kenangan. Entah mengapa, ia tiba-tiba teringat wajah ibunya. Berusaha diingatnya kembali, apa saja yang pernah ia lakukan bersama sang ibu sewaktu kecil. “Ibu, bagaimana bisa aku membunuhmu saat itu? Apa yang sudah kau berikan padaku?” Seraya bermonolog, Loqestilla mulai berjongkok, menatap perapian lebih dekat dan intens. Diulurkan satu tangannya, berusaha menyentuh api dan merasakannya panasnya. “Panas,” keluhnya. Loqestilla pun menarik kembali tangannya. “Tapi, kenapa saat itu tidak panas?” Pikirannya pun terus melayang ke belakang, berusaha sangat keras untuk mengingat kepingan yang tercecer entah di mana. Sekelebat ingatan tentang api yang membara dan tubuhnya yang sengaja dibakar, menerobos satu demi satu. “Api … api ….” Loqestilla semakin bergumam tidak menentu. Ia beranjak sekali lagi, mengambil gelas teh yang masih berada di atas meja. Isi di dalam gelas pun dibuang begitu saja ke lantai, membasahi permadani mahal yang selalu wangi. Seraya memegang gelas kosong, Loqestilla berjongkok kembali di depan perapian. Dengan pelan, diambilnya sehelai rambut yang keluar dari sanggulnya, ditarik begitu saja hingga patah. Sehelai rambut pun dimasukkan ke dalam gelas. Kuku-kuku Loqestilla yang semula pendek pun mulai ia panjangkan, membentuk cakar runcing seperti rubah hutan. Dengan cakar yang begitu tajam, ia iris pelan pergelangan tangannya hingga muncul rembesan darah dari sana. Darah yang mulai menetes, ia tampung pula dalam gelas. Seraya membiarkan darahnya menetes-netes, ia meletakkan gelasnya ke atas lantai. Kemudian menggunakan ujung taringnya, ia menggigit kecil kuku jari kelingkingnya. Potongan kuku tersebut juga dimasukkan begitu saja ke dalam gelas, langsung tenggelam bersama darah yang sudah mulai menggenang. Merasa apa yang diinginkannya telah sempurna, ia duduk bersila di depan gelas dan perapian. Seraya memejamkan mata, mulutnya bergumam pelan, seperti mendendangkan sebuah kidung yang lembut dan sakral. Hanya saja, meskipun sudah bermenit-menit berlalu seperti itu, hal yang diharapkan Loqestilla tidak juga kunjung tiba. “Apa yang kurang?” tanyanya pada diri sendiri. Setelah berdiam diri agak linglung, Loqestilla tiba-tiba merangkak untuk mengambil sendok perak di atas meja. Ting! Ting! Ting! Suara sendok berdentangan ketika dipukulkan ke bibir gelas. Senyum Loqestilla melebar liar. Ia pun duduk bersila dengan lebih khusyuk, berdendang lebih lembut. Tanpa menutup matanya, Loqestilla tampak sangat fokus melihat api yang bergerak-gerak di depannya. “Seperti napas makhluk fana, kau adalah kehidupan yang tidak tampak di depan mata. Belaianmu merengkuh hati dan jiwa yang rusak, mengubahnya menjadi kehadiran serupa dewa. Di dalam kegelapan yang ditakuti, kau berbisik dengan lembut dan meyakinkan. “Aku adalah inang yang bahagia. Kau memberiku kehidupan tanpa merasakan penderitaan. Aku adalah inang yang bahagia, gunakanlah aku jika kau berkenan. Sang Malpas, Sang Malpas, aku menyebutmu dan menyambutmu. Hinggapilah jasadku dan biarkan aku merengkuh kesenangan yang agung.” Ting ting ting! Sendok perak itu diketuk-ketuk kembali. Hingga hitungan ke sembilan, tubuh Loqestilla pun ambruk begitu saja membentur lantai. Sendok di tangan terlepas, darah di dalam gelas mengering seolah tersedot, kuku dan rambut pun kandas entah hilang ke mana. Ketika Loqestilla membuka matanya kembali, bukan hanya irisnya yang saat itu berwarna merah, melainkan seluruh bola matanya sudah pekat seperti darah. Wajahnya tidak tersenyum maupun berduka. Dengan pandangan yang lurus tanpa berupaya menoleh ke berbagai arah, ia berjalan selangkah demi selangkah. Pintu yang dikunci dari luar, dibukanya tanpa perlu bersusah payah, mengagetkan penjaga yang selalu bersiaga. . TBC 02 Agustus 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN