RED 36 - The New God

1019 Kata
Kerusakan 37 . Dannis Forester, membuka dan menutup kitab di meja dengan begitu gelisah. Ia sudah melakukan hal itu sepanjang malam, dan tidak jengah juga untuk meneruskannya hingga kini matahari sudah berada tepat di puncak. Wajahnya yang lemah lembut itu terlihat begitu kusut. Mungkin karena telah melewatkan makan malam dan sarapan, bahkan ia juga tidak berencana untuk berjingkat dari tempat duduknya untuk sekadar mengambil roti di dapur. Perutnya tidak sama sekali merasa lapar, dan meskipun tenggorokannya begitu kering, tapi ia juga begitu takut untuk sekadar meneguk air. “My Lord … mengapa kau tidak berada di kuil tadi malam?” Jemari Dannis saling bertaut, lalu digunakan untuk mengetuk-ngetuk meja, kemudian ia membuka-menutup kitabnya sekali lagi. Ia terus menerus kehilangan kesabaran sampai akhirnya mendengar sesuatu. DOK DOK DOK! DOK DOK DOK! Pintu rumahnya yang kecil digedor dengan keras dan kuat. Dannis pun berjengit dan sejujurnya agak kesal dengan hal itu. Namun, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia mengambil napas begitu dalam dan kuat, lalu berjalan untuk membukakan pintu yang mungkin sebentar lagi rusak karena terlalu brutal dipukul. “Pendeta Kuil! Pendeta Kuil!” Suara seseorang memanggil-manggil, Dannis semakin terburu-buru untuk melangkah. Ketika ia telah membukakan pintu, bisa dilihatnya seseorang yang sangat ia kenal dengan baik. “Boby? Apa yang terjadi? Mengapa kau mengetuk pintu begitu keras?” Boby menggeleng kuat. “Ada masalah besar. Lord Lycaon … Lord Lycaon ditangkap di kediaman Duke of Clemente,” jelasnya begitu terburu-buru. “Ditangkap? Mengapa bisa?” Hati Dannis sudah tidak keruan, wajahnya yang sebelumnya kusut semakin kalut. Firasat buruknya sejak semalam seolah bukan hanya sekadar prasangka. “Tidak tahu! Tidak tahu! Seseorang yang melapor bilang, Lord Lycaon berubah menjadi monster dan menyerang orang-orang!” Boby berteriak histeris. “Tapi itu semua pasti hanya bualan! Orang-orang mungkin memfitnahnya!” tambahnya semakin marah, seolah ingin memaki seseorang yang bisa dengan tega memfitnah majikannya. “Pendeta Kuil, tolong lakukan sesuatu untuk Lord Lycaon,” pintanya dengan memelas dan hampir menangis. Dannis mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tiba-tiba saja, kepalanya pusing bukan kepalang. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh menabrak lantai, tetapi Boby yang pendek itu membantu menahannya. “Pendeta Kuil, Anda tampak pucat. Mari, mari duduk terlebih dulu. Berita ini memang sangat mengejutkan, tapi saya tidak ingin Pendeta Kuil pun ikut tidak berdaya. Anda satu-satunya yang dapat kami andalkan sekarang.” Boby mengoceh panjang lebar. Ia menuntun Dannis duduk di kursi kayu di ruang tamu. Tanpa diperintah, ia pergi sendiri ke dapur dengan buru-buru untuk mengambil segelas air. “Pendeta Kuil, minumlah lebih dulu. Ayo minum, minum. Anda harus sadar,” ujarnya sedikit memaksa, meskipun itu semua merupakan usaha terbaiknya untuk memberi Dannis penghiburan. Dannis tidak ambil pusing, diambilnya gelas dari Boby dan diteguk isinya dalam sekali sentakan. Setelah ia berhasil bernapas dengan benar, ia mulai kembali bicara. “Apa kau tidak menghubungi Ferguso? Di saat seperti ini, seharusnya dia paling bisa diandalkan.” Namun, Boby menggeleng kuat. “Persetan dengan Ferguso! Dia pengkhianat!” ucapnya keras. “Pengkhianat?” “Pria itu berada di rumah Duke of Clemente ketika Lord Lycaon ditangkap, dan tidak melakukan apa pun. Pria sesat itu bahkan ikut dalam kerumunan untuk menghancurkan Lord Lycaon! Saya tidak sudi lagi menganggapnya saudara sedesa.” Bahu Dannis sedikit tersentak, agaknya tidak menyangka jika Ferguso yang terkenal sangat loyal pada tuan tanah pemilik Lunadhia, bisa melakukan pengkhianatan sedemikian rupa. Namun, kemungkinan seperti itu memang selalu ada di hidup seseorang, sehingga Dannis pun tidak mau lagi memikirkannya. Ferguso bukan satu-satunya orang yang bisa diandalkan. Tanpa pria itu pun seharusnya ada jalan untuk membawa Lord Lycaon kembali. “Lalu, bagaimana dengan Miss Loqestilla?” tanya Dannis kemudian. Dengan wajah yang murung dan air mata yang hampir merembes, Boby menjawab, “Miss Loqestilla … dia … juga ikut ditangkap dan dikurung.” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menyembunyikan rautnya yang berantakan. “Jika Miss Loqestilla yang seperti itu saja bisa ditangkap … bagaimana dengan Lord Lycaon yang hanya manusia biasa. Mengapa semua ini bisa terjadi pada tuan kita ….” Air mata Boby mengalir tanpa henti meskipun ia menyekanya berkali-kali. Mata Dannis memandang sayu dan getir pada Boby yang mulai terisak-isak di depannya. Ah, sekarang Dannis jadi menyadari sesuatu. Ternyata, yang begitu peduli pada Lord Lycaon bukan hanya dia seorang, ada banyak sekali orang yang masih berhati tulus untuk menyayangi majikannya. Bahkan Boby yang dikenal tidak pernah gentar pun bisa berduka lara seperti itu. Jika banyak yang mencintai Lord Lycaon sedemikian rupa, seharusnya masih ada harapan di masa depan. “Boby.” Dannis memanggil. Boby yang sempat tergugu-gugu pilu itu pun menghapus air matanya dengan serampangan. “Ada apa, Pendeta Kuil?” “Bisakah kau mengumpulkan semua penduduk Lunadhia di kuil? Aku tunggu sampai nanti malam.” “Ada apa sebenarnya, Pendeta Kuil? Apa Anda memiliki sebuah cara untuk menyelamatkan tuan kita?” “Ya, aku memiliki rencana. Namun, semua itu bergantung pada kalian semua. Jadi, sekarang bergegaslah pergi.” Boby mengangguk tanpa ragu. Tanpa pamit, ia pun berlari begitu saja dari rumah Pendeta Kuil. Sementara itu, Dannis yang sebelumnya masih duduk tenang seraya melihat punggung Boby yang menjauh, mulai bangkit berdiri. Ia pergi ke kamarnya, lalu mengunci pintu dengan rapat dan teliti. Setelah itu, ia mengambil sebuah jubah berwarna putih di lemari. Jubah kebesarannya itu memiliki bordir bulan berwarna perak di bagian kanan dan kiri, juga yang berukuran paling besar di bagian punggung. Setelah mengenakan jubah yang begitu agung, Dannis mengambil sebuah kotak kayu berpelitur hitam di lemari bagian bawah, tersembunyi di antara kotak-kotak lain yang entah apa saja isinya. Dibawanya kotak tersebut ke depan cermin, lalu dibuka perlahan. Di dalam kotak, terdapat sebuah botol kaca berpenutup kayu. Ketika penutup kayu dibuka, aroma minyak wangi yang aneh segera menyengat indera. Dannis mengambil sedikit minyak wangi di dalam botol, dituang pelan-pelan ke telapak tangannya. Seraya memandang cermin, ia oleskan minyak tersebut ke kedua kelopak matanya yang mulai banyak timbul keriput. Ia oleskan pula ke rambut cepaknya yang masih hitam tanpa satu pun uban yang terselip. Setelahnya, ia usap-usap kedua telinganya. Di depan cermin yang memantulkan bayangan dirinya dengan sempurna, Dannis bergumam sendiri. “Aku akan meminta bantuanmu sekali lagi, Dewaku.” . TBC 03 Agustus 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN