RED - 37 : Thank You

1060 Kata
Kerusakan 37 . Sebelum senja benar-benar tertelan malam, penduduk Lunadhia sudah memenuhi kuil sampai terlihat saling berdesakan. Berita mengenai ditangkapnya tuan tanah mereka membuat semua orang begitu panik dan bersedih. Atas dasar itu pula mereka sangat bergegas ke kuil ketika mengetahui bahwa pendeta kepercayaan Lunadhia mengatakan memiliki sebuah rencana penyelamatan. Saat Dannis Forester masuk ke dalam kuil dari pintu belakang, ia langsung disuguhi pemandangan suram yang begitu menyedihkan. Orang-orang menangis, beberapa tampak komat-kamit memanjatkan doa, anak-anak kecil saling menggenggam tangan sahabat mereka. Semuanya benar-benar sedang dalam kedukaan. “Selamat malam semuanya.” Dannis langsung menyapa ketika ia berada di depan mimbar. Patung Dewi Bulan di atas kepalanya tampak bersinar dan benderang seperti biasa, tetapi sebuah siluet dari dedaunan merambat di luar kuil membuat patung tersebut seolah b***k dan cacat, seolah ada air mata yang keluar dari Dewi Bulan yang sedang terpejam. Seakan-akan, Dewi Bulan pun ikut menangisi nasib Neuri yang malang. “Kita semua telah mendengar berita mengenai kejadian buruk yang menimpa Lord Lycaon. Tuan tanah kita sudah begitu menderita sejak beliau masih muda, oleh sebab itu kita harus melindunginya bagaimana pun caranya.” Salah seorang warga pun menyahut dengan tidak sabar. “Lalu, bagaimana caranya kita menyelamatkan Lord Lycaon? Beliau berada di tangan Duke of Clemente, jika warga desa seperti kita menyerang langsung untuk mengambil Lord Lycaon, kita pasti akan mati sia-sia.” Dannis mengangguk. “Ya, benar. Kekuatan kita tidak sebanding dengan prajurit terlatih yang dimiliki Duke of Clemente. Oleh sebab itu, kita harus menggunakan cara lain.” Warga pun diam mendengarkan, tidak ada yang berani menyela atau sekadar membuat kerusuhan kecil. “Duke of Clemente memiliki prajurit terlatih yang bisa melindunginya dari serangan fisik, dan dia juga punya prajurit sihir yang mampu membentengi dari serangan magis. Orang biasa bahkan bisa terpental begitu saja ketika berusaha menerobos masuk ke kediamannya. Kita semua tidak memiliki kedua hal itu, tetapi kita bisa mencobanya dengan meminjam kekuatan dewa.” “Kekuatan dewa?” Kali ini warga tidak bisa menahan diri untuk tidak saling melempar tanya. Beberapa sedikit meragukan ucapan Pendeta Kuil, tetapi tidak berani mengungkapkannya secara gamblang. “Apa kekuatan seperti itu bisa didapatkan oleh manusia biasa seperti kita?” Seseorang pun bertanya. Disahuti oleh orang yang lain. “Benar, benar. Dewa hanya memberikan kekuatannya pada orang-orang terpilih, seperti para raja atau juru selamat. Sedangkan kita di sini adalah orang-orang biasa, bagaimana bisa meminjam kekuatan dewa? Apa Pendeta Kuil memiliki cara untuk itu?” Dannis mengangguk tenang. “Ya, aku memiliki cara. Namun, aku tidak bisa melakukannya sendirian, karena untuk memanggil dewa diperlukan ritual serta kepercayaan yang mendalam.” “Apa kita akan memanggil Dewi Bulan?” Seseorang bertanya kembali. Kali ini Dannis menggeleng. “Bukan.” “Bukan? Tapi yang selama ini kita sembah adalah Dewi Bulan. Apakah mungkin ada dewa lain yang mau membantu kita meskipun tidak rutin disembah?” Dannis menjawab tanpa ragu. “Ada.” Suara bisik-bisik semakin keras terdengar. Namun, dengan suara yang lantang, di kerdil Boby menghardik mereka semua. Setelah suasana cukup kondusif, Dannis pun mulai kembali bicara. “Dewa yang ini mungkin tidak pernah kalian dengar namanya, tapi semua orang bisa meminta kepadanya dengan suatu syarat.” Ia mengambil napas dalam sebelum melanjutkan. “Jika kalian ingin memakai kekuatannya, kalian harus memberikan persembahan yang dia inginkan. Biasanya, persembahan akan terasa berat jika dilakukan seorang diri. Namun, kalian semua ada di sini, sehingga kemungkinan syarat persembahan pun jadi lebih ringan dan mudah.” “Lalu, seperti apa persembahan yang harus kita semua lakukan?” Kali ini Dannis menggeleng. “Aku masih belum tahu, mari cari tahu terlebih dulu.” Tanpa berkata apa pun lagi, Dannis mengambil tempat pembakaran dupa yang selalu ia letakkan di dekat mimbar. Tempat pembakaran tersebut tampak usang karena sepertinya tidak pernah dipakai dan hanya digunakan sebagai pajangan. Ketika Dannis mengambilnya, ia meniup-niup permukaan tutup pembakaran tersebut sebanyak tiga kali, mencoba mengusir debu yang menumpuk cukup tebal. Ia kemudian berjalan meninggalkan mimbar, tapi masih berdiri paling depan. Setelahnya, ia buka tutup tempat pembakaran dupa tersebut dan memasukkan sehelai rambutnya ke dalamnya. Warga yang tidak mengerti, hanya menatap tindak-tanduk Sang Pendeta Kuil tanpa banyak bertanya. Terlebih, setelah itu mereka bisa melihat bahwa Pendeta Kuil sedang fokus menggumam mantera. Tanpa menyalakan api, tempat pembakaran dupa tersebut mulai mengeluarkan asap tipis. Seolah menjadi suatu pertanda yang hanya Pendeta Kuil mampu mengerti. Perlahan, asap pun hilang begitu saja meskipun tak ada angin. Dannis menutup tempat pembakaran dupa yang baru saja menjadi perantara antara dirinya dan Sang Dewa. Dengan suara yang keras tetapi lembut, ia pun mengumumkan, "Dewa menginginkan setetes darah dan rambut kalian sebagai persyaratan. Apakah kalian mau memberikannya?" Salah satu warga bertanya dengan cepat, "Apa benar hanya setetes darah dan sehelai rambut? Kami akan berikan! Bahkan jika harus botak pun, aku tidak masalah." Dannis mengangguk. "Ya, syaratnya hanya itu. Namun, jika bisa, tolong lakukan ritual seperti ini setiap bulan purnama tiba di kemudian hari. Sebab, meskipun dewa tidak mengatakan ada hukuman tertentu, bencana bisa saja dikirimkan kapan saja." Mendengar itu, dahi semua orang mengernyit. "Maksud Pendeta Kuil apa?" "Dewa yang ini tidak membutuhkan pemujaan setiap hari, kalian masih dapat memuja Dewi Bulan seperti biasa. Hanya saja, karena dia sudah bersedia membantu kita, maka ada harga yang harus dibayarkan meskipun sedikit. Kalian semua pasti tahu apa maksudku, bukan?" Semua orang mengangguk. "Oleh sebab itu, sebelum ritual dilakukan, pastikan hati kalian sudah mantap. Jika memang tidak ingin melakukan ritual seperti ini setiap bulan, kalian bisa memilih untuk pergi sekarang." Kali ini, semua orang mulai saling berpandangan. Namun, hal itu hanya berjalan sebentar, karena tidak ada satu pun penduduk yang memilih pergi. Tampaknya, warga benar-benar telah memilih untuk melakukan yang terbaik demi tuan mereka. Usai mendapat persetujuan, Dannis mulai mengumpulkan sehelai rambut dan setetes darah. Warga Lunadhia yang cukup banyak membuat proses pengumpulan tersebut memakan waktu yang cukup lama. Hingga pada sekitar jam sembilan malam, semua orang telah mendonorkan rambut dan darah mereka. Di bawah patung Dewi Bulan, Dannis mulai menyenandungkan sebuah kidung. Suaranya lembut dan bulat, sehingga semua orang bisa mendengarnya dengan khidmat. Ketika Dannis bersenandung, warga desa menautkan kedua tangan di depan d**a, ikut berdoa. Hanya saja, mereka tidak ada yang tahu bahwa doa yang dipanjatkan, sebenarnya bukanlah kepada dewa. "Sang Malpas, Sang Malpas, penuhilah permintaan inangmu. Lindungilah anak-anakmu. Berilah ia kekuatan seperti ketika Engkau menghancurkan jagat raya." "Sang Malpas, Sang Malpas. Dewaku, Sang Malpas." Sang Malpas, bukanlah dewa. . TBC 04 Agustus 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN