Kerusakan 38
.
Kediaman Duke of Clemente sedang dalam kekacauan. Pasalnya, salah satu tawanan telah lepas dan kini sedang berkeliaran tanpa dapat terdeteksi.
Tawanan tersebut tentu saja adalah Miss Loqestilla Vent, yang entah dengan cara apa wanita itu bisa membuka pintu sendiri dan bahkan menumbangkan dua prajurit yang menjaganya.
Duke of Clemente, alias Rowland Rathmore Lubbock, begitu kalut dan gugup. Ia mengerahkan seluruh prajurit di rumahnya untuk bergegas menemukan keberadaan Loqestilla. Hanya saja, permintaannya terlalu rumit, karena ia memerintah supaya Loqestilla tidak dilukai dan dikembalikan padanya dengan selamat. Padahal, hal tersebut malah berbahaya untuk prajuritnya yang bisa saja tewas karena tidak berani menyakiti si rubah.
Namun, meskipun hampir semua orang menggerutu dengan tingkah ceroboh Rowland, tidak ada satu pun yang berani menentang perintahnya. Oleh sebab itu, para prajurit, pelayan, dan siapa pun yang berada di rumah besar Rowland, berusaha sebaik mungkin untuk bisa menangkap Loqestilla Vent. Lebih cepat lebih baik, sebab tidak ada satu pun yang ingin melihat Rowland murka dan melampiaskan emosinya kepada orang sekitar.
Di tengah kemalut yang terjadi, siapa yang menyangka bahwa orang yang dicari sedang duduk tepekur di dalam gereja.
Wanita bersurai merah itu duduk santai seraya memangku dan menyesap darah seorang wanita lainnya yang berpakaian biarawati. Di depannya, patung seorang dewa tengah berdiri membawa cemeti dan bunga lily.
Dewa laki-laki yang matanya terpejam itu hanya tersenyum melihat bagaimana Loqestilla tengah menikmati santapan di kala petang. Seolah enggan peduli pada pengikutnya yang sudah kehabisan nyawa. Jika saja Loqestilla menjadi penyembahnya, mungkin ia sudah kehilangan kepercayaan saat ini juga.
Usai merasa kenyang, Loqestilla menggendong jasad si wanita ke depan altar. Dibaringkan tubuh kosong itu di sana. Ia bahkan sempat mengambil bunga lily dari dalam vas dan diletakkan bunga tersebut di atas si biarawati yang terbujur kaku.
“Terimalah ibadahnya,” gumam Loqestilla memanjatkan doa.
Darah di ujung bibir diusap pelan, lalu dengan langkah setenang domba di padang rumput, Loqestilla pergi begitu saja. Ia tutup pintu gereja seolah berperan sebagai orang berdosa yang telah bertaubat.
Matanya yang merah penuh menatap ke sekililing. Tidak dijumpainya seorang pun yang berkeliaran di sekitar rumah ibadah. Mungkin tidak ada yang berpikir bahwa seorang tawanan sepertinya akan berkunjung untuk menemui sebuah entitas suci.
Loqestilla kemudian mengambil sebuah lonceng kecil dari saku gaunnya. Lonceng tersebut ia dapatkan tanpa sengaja, tergeletak begitu saja di atas mimbar. Mungkin sebelumnya digunakan sebagai ritual. Namun, hal itu tidak penting, karena ia membutuhkan lonceng tersebut juga untuk ritualnya sendiri.
Seraya mulai melangkah, lonceng kecil tersebut dibunyikan sesekali.
Teng teng teng.
Iramanya terdengar tidak beraturan, tetapi sebenarnya memiliki melody tertentu.
Setiap bunyi yang dihasilkan akan membawa kesadaran Loqestilla semakin tenggelam dan menghilang. Meskipun begitu, tubuhnya tetap bisa bergerak dengan normal dan teratur. Semakin lama, dari bawah kakinya akan muncul semacam asap hitam yang menari-nari kecil.
Dengan kesadaran yang lenyap total, Loqestilla terus melangkah maju, menuju tempat tuannya yang sedang berjuang seorang diri di dalam penjara gelap nan sunyi.
.
***
.
Napas Neuri semakin putus-putus ketika ia berhasil berdiri. Tangannya berlumuran darah karena sedari tadi digunakan untuk memukul pintu besi yang dikunci dan digembok. Rasanya benar-benar menyakitkan ketika ia ingin keluar tapi tidak memiliki satu pun alat untuk diandalkan.
Percuma juga ia menunggu pemulihan tubuhnya, tidak ada waktu untuk itu. Terlebih, karena tidak akan ada penjaga yang bersedia mengiriminya makan atau minum. Mereka sengaja membiarkannya mati kelaparan dan membusuk di sini.
Meskipun ia berusaha menumbuhkan cakar-cakarnya, tapi kekuatannya seperti habis tidak bersisa, entah pergi ke mana semua kemagisan yang selama ini selalu membuatnya khawatir siang dan malam. Ketika tidak dibutuhkan, kekuatannya datang dengan beringas, tetapi saat ia terdesak seperti sekarang, kekuatan mengerikan itu lenyap.
“Sial, di saat seperti ini, ke mana iblis itu pergi?!”
Neuri membenturkan tinjunya ke pintu besi sekali lagi. Tidak memiliki tenaga berlebih, ia pun merosot penat, tidak berdaya.
Namun, di saat ia hampir mati putus asa, sebuah suara tiba-tiba memanggilnya dari luar.
“Lord Neuri, Lord Neuri.”
Suara yang begitu familiar itu menyentak kesadaran Neuri. Dengan tenaga yang tersisa, ia menguatkan diri untuk merangkak menuju pintu. “Miss Loqestilla?” tanyanya dengan suara parau.
“Iya, iya, ini saya, Loqestilla. Apa Anda baik-baik saja? Apa Anda masih bisa bertahan?”
Mendengar suara Loqestilla yang begitu mencemaskannya, tanpa sadar Neuri pun tersenyum kecil, merasa bahagia. “Ya … aku masih bisa bertahan,” ujarnya begitu pelan, hampir-hampir tidak bisa lagi mengeluarkan suara.
Meskipun suara Neuri sangat lemah dan samar, tetapi Loqestilla mampu mendengarnya dengan akurat. Mendapat jawaban seperti itu dari Neuri, Loqestilla pun tidak tahan untuk mengurukan air mata. “Syukurlah … syukurlah … saya akan membebaskan Anda. Kumohon bertahan sebentar lagi. Kita akan pulang.”
Tidak sanggup menjawab, Neuri hanya mengangguk samar.
Tanpa menunggu lama, Loqestilla pun segera menghancurkan kunci pintu penjara dengan sabetan-sabetan anginnya. Ketika pintu sudah dapat dibuka, ia langsung menghampiri Neuri yang benar-benar tergeletak hampir sekarat di lantai yang bau.
“Lord Neuri, apakah Anda masih sadar?” tanya Loqestilla panik. Ia membawa Neuri ke pelukannya, dan memeriksa dengan sigap setiap jengkal tubuh Neuri yang benar-benar carut marut.
“Ya, aku masih bisa mendengarmu.”
Loqestilla mengusap setetes air mata yang tiba-tiba jatuh dari sudut matanya. Ia pun segera membawa Neuri di punggungnya, menggendong dengan mantap tanpa kesulitan. “Ayo, kita pergi dari sini,” ujarnya.
Neuri hanya memberi gumaman.
Di perjalanan, ketika melewati lorong penjara yang begitu gelap, Neuri tiba-tiba teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Loqestilla. “Saat itu, saya juga menggendong Anda seperti ini,” gumamnya parau.
Loqestilla mengangguk antusias. “Benar. Anda menggendong saya yang sudah hampir mati. Sekarang, saya pun menggendong Anda dengan kondisi yang sama. Saya merasa, ini seperti takdir.”
“Ya, mungkin memang takdir.”
Setelahnya, Loqestilla tidak menyahuti sama sekali, tahu bahwa Neuri sebenarnya begitu susah payah hanya untuk bisa bicara. Ia tidak ingin melanjutkan obrolan yang tidak perlu, supaya tuannya itu dapat beristirahat dengan baik di punggungnya.
Namun, sebelum Neuri benar-benar terpejam untuk tidur, ia sempat bergumam, “Miss Loqestilla, terima kasih karena tidak meninggalkan saya.”
Saat itu Loqestilla hanya memberi senyum. Entah mengapa, ia merasa bangga dan gembira mendapat ucapan terima kasih tersebut.
.
TBC
05 Agustus 2020 by Pepperrujak