RED - 39 : I am Your God

1027 Kata
Kerusakan 39 Rowland Lubbock mengepalkan tangan sangat kuat. Dalam hati yang sejak awal sudah diliputi kemelut, kini ia juga merasa begitu takut. Beberapa prajuritnya ditemukan tewas, bergelimpangan dengan leher yang terkoyak dan tubuh yang kering kerontang kehabisan darah. Tanpa diberitahu siapa yang melakukan semua hal kejam ini, Rowland sudah tahu. Sudah sangat tahu. “Your Grace, seorang biarawati gereja juga meninggal dalam kondisi serupa.” Tanpa sadar, Rowland meneguk ludah begitu dalam ketika mendengar laporan yang dituturkan padanya. “Selain itu, apakah ada korban lainnya?” Belum sempat prajurit tersebut menjawab, seorang prajurit lainnya datang dengan raut yang benar-benar tidak enak dilihat. Bisa dipastikan, berita yang dibawa pun sama tidak enaknya. “Your Grace, Lord Neuri sudah tidak ada di dalam selnya. Dan beberapa penjaga yang berada di pintu luar juga semuanya tewas.” Rowland sudah tidak tahan lagi, giginya bergemelutukan di dalam mulut. Sudut bibirnya bahkan ia gigit dengan sengaja, hingga berdarah-darah dan membuat dirinya merasakan sakit yang begitu menyengat. “Mereka berdua ….” Geramannya serak dipenuhi amarah. Begitu pula dengan tatapan matanya yang mulai memerah murka. “Segera panggil semua penyihir di Norland! Perintahkan mereka untuk mengejar Loqestilla Vent dan Neuri Lycaon! Hidup atau mati, aku sudah tidak peduli!” “Siap, Your Grace!” . *** . Loqestilla sudah tidak bisa melangkahkan kaki sembarangan lagi. Di seluruh rumah Rowland, penjaga berkeliaran seperti lebah. Bukan hanya itu, satu demi satu penyihir yang kemarin sempat pulang pun mulai berdatangan kembali. Wilayah Duke of Clemente dilindungi oleh perisai magis yang begitu kuat dan mematikan. Jika Loqestilla memaksakan diri menerobos perisai tersebut, dia pasti akan langsung tercabik menjadi ribuan daging. Di balik semak, di bawah lubang besar yang tidak sengaja ditemukan, Loqestilla menyembunyikan diri bersama Neuri. Ia menutupi tubuh dan kepala menggunakan rumput atau pun dedaunan kering, mengintip keadaan di luar dengan begitu waspada. “Miss Loqestilla.” Bahu Loqestilla tersentak, ia pun menoleh untuk melihat Neuri yang mulai membuka mata dan tersadar dari tidur yang nyaman. “My Lord, Anda sudah sadar?” Neuri mengangguk lemah. Tubuhnya terbaring tidak berdaya berselimut tumpukan sampah, tapi ia sama sekali tidak memikirkan hal itu. “Miss Loqestilla, jika Anda bisa melarikan diri sendiri, pergi saja. Aku sudah begini, mati dalam waktu dekat bukanlah hal yang mustahil.” Namun, Loqestilla menggeleng cepat. “Tidak mau. Saya akan membawa Lord Neuri pergi dari sini. Jika Anda mati, saya akan bunuh diri.” Neuri hanya menghela napas pasrah. Memang cukup sulit berkompromi dengan Loqestilla yang pemaksa. Ia pun tidak lagi ingin membantah. Namun, untuk menjaga dirinya tetap terjaga, Neuri pun mulai kembali bicara.“Miss Loqestilla,” panggilnya. “Ya?” “Kenapa Anda sekarang bersembunyi? Bukankah Anda bisa membebaskanku dengan mudah? Apa Anda lelah?” Loqestilla menggeleng, cukup lama terdiam seolah sedang mencari alasan yang tepat untuk menjawab. “Sebenarnya, saya tidak tahu,” ujarnya kemudian. “Tidak tahu tentang apa?” “Saya tidak tahu mengapa bisa berada di depan sel tahanan Lord Neuri,” jawab Loqestilla sedikit mencicit. Neuri mengernyit kurang paham. “Maksudmu?” “Seingat saya, saya sedang berada di dalam kamar yang disediakan oleh Lord Rowland. Saya melamun di depan perapian, dan sepertinya saya tertidur karena merasa hangat. Tapi, tiba-tiba saja saya sadar di tempat yang tidak saya ketahui.” “Apa Anda ingin mengatakan bahwa Anda berjalan sambil tidur?” Loqestilla mengedikkan bahu. “Tidak tahu.” Mendengar jawaban yang sangat tidak pasti itu, Neuri sebenarnya ingin bertanya lagi sampai ia puas. Sayangnya, beberapa prajurit melewati depan semak-semak dan lubang yang dijadikan persembunyian. Ia pun diam membisu layaknya batu. Bernapas pun ditahan sekuat tenaga, tidak ingin memancing curiga. Saat suasana di sekitar menjadi lebih sepi, Loqestilla memberanikan diri untuk melongokkan kepalanya ke luar. Ia memperhatikan kondisi sekitar dengan sangat teliti dan waspada, hidungnya juga mengendus-ngendus kuat untuk merasakan aroma darah manusia di sekitarnya. “Bau darah di mana-mana.” Neuri pun menyahut dengan agak terkekeh. “Itu bau tubuh Anda sendiri, sangat amis.” Loqestilla mengernyitkan dahi. Ia mengendus tubuhnya untuk memastikan ucapan Neuri yang seolah menuduh. Saat ia melakukannya, ternyata memang tubuhnya begitu amis oleh darah. “Aneh, padahal saya tidak membunuh atau memakan orang.” Neuri yang seperti menyadari sesuatu dari ucapan Loqestilla, hanya tersenyum kecil. “Tidak perlu dipikirkan, Miss Loqestilla.” Loqestilla mengangguk patuh. Ia pun memastikan sekali lagi keadaan sekitarnya, dan dengan berani memutuskan bahwa tidak ada seorang pun yang sedang berkeliaran di dekatnya. “Mari, My Lord, kita pergi,” ujarnya yakin. Tanpa ragu, Loqestilla menyibak tumpukan rumput dan sampah di atas lubang yang ia dan Neuri tempati. Perlahan, digendongnya Neuri di punggungnya seperti tadi. Usai menoleh kanan-kiri, ia pun melangkah untuk kembali melarikan diri. Sayangnya, baru sepuluh langkah Loqestilla berlari, segel sihir tiba-tiba terbentuk di bawah kakinya, membuatnya membeku dan tidak dapat bergerak. Setelah itu, rantai-rantai yang terbuat dari cahaya mulai melilit tubuhnya dengan kuat. “Tangkap buronan itu!” Suara seorang pria terdengar, entah suara siapa. Namun, setelah itu tubuh Loqestilla dan Neuri dipisahkan dengan paksa. Keduanya dililit oleh rantai yang tidak mudah dipatahkan. “Bawa mereka!” Setelahnya, dua tubuh yang terlilit rantai itu diseret tanpa welas asih. Kepala Loqestilla berulang-ulang membentur bebatuan, menciptakan luka gores dan berdarah. Sedangkan tubuh Neuri yang awalnya sudah rusak, kini semakin rusak dan hampir hancur. “Sialan! Manusia-manusia k*****t! Lepaskan Lord Neuri! Lepaskan Lord Neuri!” Teriakan Loqestilla yang seperti salakkan anjing sama sekali tidak didengar. Neuri yang bahkan hampir-hampir tidak lagi merasakan sakit di tubuhnya, hanya tersenyum ringan pada Loqestilla. Setidaknya, ia tetap merasa senang, karena Loqestilla tetap mengutamakan dirinya meskipun kondisi rubah itu pun sama-sama tidak berdaya. Melihat Neuri yang diam saja tanpa perlawanan, Loqestilla menghentikan raungannya. Namun, bertetes-tetes air mata tiada henti merembesi pipinya. Tidak ingin merasakan dan melihat penderitaan yang menyayat hati, ia memejamkan matanya erat-erat. Teng teng teng! Akan tetapi, suara lonceng samar-samar terdengar. Suaranya jauh tetapi seolah berjalan mendekat. Loqestilla merasa sangat mengenal suara tersebut, seolah ia pernah mendengarnya dahulu kala. Suara lonceng yang merdu, dibarengi dengan bisikan-bisikan penuh hasutan. Bisikan yang entah datang dari siapa tetapi terdengar jelas di telinga. Loqestilla pun kembali membuka matanya. Kali ini seluruh bola matanya menjadi merah pekat kehitaman. Sangat mengerikan. . TBC 07 Agustus 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN