RED - 40 : A Room

1392 Kata
Kerusakan 40 . Kuil Lunadhia begitu penuh dengan pengunjung, tetapi keheningan di sana mirip suasana pemakaman. Pendeta Kuil mengucap mantra tiada henti, pembakaran dupa di tangannya menyala-nyala oleh api. Setiap satu bait kidung selesai diperdengarkan, suara lonceng raksasa di puncak kuil berdentang sendiri. Teng! Teng! Teng! Begitu terus, berulang-ulang. Hingga pada pukul sepuluh malam, pembakaran dupa di tangan Dannis Forester sepenuhnya telah terbakar oleh api. Dannis yang terkejut bahkan tidak sengaja melempar pembakaran tersebut ke lantai, dan akhirnya menggelinding beberapa kali. Yang lebih mengejutkan adalah tempat pembakaran dupa tersebut langsung terlalap dan menjadi debu putih. Teng! Teng! Teng! Suara lonceng terdengar lagi. Entah siapa yang membunyikannya, tetapi suara itu seolah menjadi semacam pertanda tersendiri. Di depan semua warga desa yang berdoa, Dannis berkata, “Dewa telah menunjukkan kuasanya. Dewa telah pergi ke tempat Lord kita berada. Mari, semuanya kembali ke rumah masing-masing. Silakan berdoa sendiri-sendiri, dan siapkan segala hal yang diperlukan untuk menyambut kembali tuan kita. Namun, yang paling penting adalah siapkan tempat persembunyian yang benar-benar tidak akan bisa ditembus sesiapa. Tuan kita mungkin saja pulang dengan kondisi yang tidak kita duga.” . *** . Tidak ada yang benar-benar tahu, apakah orang yang berdiri tegap itu benar-benar Loqestilla Vent atau bukan. Wanita rubah itu berbeda, sangat berbeda dengan yang selama ini dikenal orang-orang. Bola matanya merah kehitaman, taringnya begitu panjang, cakar-cakar di tangannya begitu hitam dan tajam. Siapa sebenarnya orang itu? Benarkah dia Loqestilla Vent yang lemah lembut dan memiliki wajah sepolos bayi? “Haah.” Bunyi debasan Loqestilla terdengar tidak mengenakkan. Mengapa suara debasannya begitu kasar dan serak. Seperti monster, seperti hewan buas di tengah hutan. Saat itu, suasana benar-benar terasa menegangkan. Tidak ada satu pun prajurit yang berani bergerak lebih dulu, bahkan penyihir pun kaku membisu. Lagi pula, siapa yang tidak akan terkejut ketika tiba-tiba tahanan yang dirantai dengan kuat, lalu diseret tanpa bermartabat, tiba-tiba saja melepaskan diri hanya dengan sedikit cengkeram kecil. Seolah tanpa mengeluarkan sedikit pun tenaga, rantai sihir yang melilit tubuh wanita rubah itu hancur berkeping-keping. Padahal, seorang penyihir bahkan membutuhkan beberapa keahlian untuk lepas dari jeratan sihir pengikat tersebut. Terlebih, bukankah sebelumnya Loqestilla Vent tidak berdaya? Bukankah wanita itu sempat menangis dan mengumpat karena tidak dapat membebaskan diri sendiri? Lalu, mengapa sekarang ia begitu terlihat menakutkan? “Aah, rasanya sudah lama aku tidak dipanggil.” Tiba-tiba Loqestilla berbicara, tetapi lagi-lagi suaranya sangat tidak enak didengar. Wanita itu kemudian berjalan tanpa beban menghampiri Neuri yang masih tergeletak dililit rantai sihir. Dengan sedikit cengkeraman, rantai di tubuh Neuri terlepas begitu saja lalu hancur seperti kaca. Meskipun sudah melihat untuk yang ke dua kali, para prajurit dan penyihir di sana tetap saja tidak bisa tenang. Rasa kejut yang dihasilkan masih sama dengan yang sebelumnya. Melihat Loqestilla yang mulai berjongkok ingin membantu Neuri, para prajurit pun merasa ini waktu yang tepat untuk kembali melancarkan serangan. Beberapa menembakkan panah, beberapa yang lain sengaja melempar tombak. Namun, dengan sekali sapuan tangan, panah-panah dan tombak yang beterbangan menuju Loqestilla dihempas begitu saja oleh angin yang begitu tebal dan ganas. Sapuan angin itu bahkan melukai beberapa prajurit dan menciptakan luka goresan yang begitu dalam di kulit mereka. Loqestilla Vent yang seperti itu, sangat membuat frustasi. Daya kejut yang sebelumnya mulai tidak berefek, kini kembali datang dan rasanya semakin brutal. Bagaimana wanita itu bisa menciptakan dinding angin sekaligus memberi serangan hanya dalam satu sapuan?! Mengabaikan orang-orang di sekitar yang semakin tegang, Loqestilla mengusap-usap kepala Neuri yang tergeletak di tanah. “Anakku, anakku. Aku dipanggil untuk membuatmu tetap hidup dan kembali para mereka. Jadi hiduplah, dan pulanglah ke rumah,” bisik Loqestilla seraya menyeringai. Mendapat usapan yang begitu menenangkan, Neuri akhirnya membuka mata. Entah mengapa visinya menjadi begitu jelas, dan tubuhnya tidak begitu sakit. Merasa sehat-sehat saja, ia pun beranjak duduk sembari memandangi Loqestilla yang tersenyum padanya. “Siapa kau?” tanya Neuri kemudian. “Aku yang memberimu kekuatan. Apakah kau lupa padaku?” jawab Loqestilla masih dengan senyumnya yang begitu lembut nan menakutkan. Napas Neuri seakan tertahan. Jika benar entitas yang berada di hadapannya adalah sesuatu yang memberinya kekuatan, maka … “Kau iblis?” “Aha ha ha, tidak sopan. Aku dewamu.” “Kau iblis!” Neuri berteriak geram. Meskipun begitu, Loqestilla yang seolah berubah itu hanya memberi senyum ringan. “Kenapa kau marah? Berkatku, kau bisa hidup sampai sekarang. Seharusnya kau bersyukur padaku.” Neuri hanya memalingkan wajah, enggan mengakui bahwa selama ini ia telah bersekutu dengan musuh Tuhan. Namun, sudah kepalang tanggung, nasi pun sudah lumer menjadi bubur, apa lagi yang bisa dia lakukan sekarang jika bukan terus bergantung pada makhluk di depannya kini. “Lalu, sekarang apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Neuri bersikap lebih tenang. Matanya menatap para prajurit dan penyihir yang masih tidak berani mendekat ke tempatnya dengan gegabah. “Terserah padamu. Aku hanya memenuhi permintaan orang-orang yang memanggilku untuk membawamu pulang.” Neuri berpikir sejenak, kemudian bertanya sekali lagi. “Apa kau memberiku kekuatan seperti dulu? Tapi mengapa sekarang aku tidak berubah?” “Bukankah sebelumnya kau bisa mengendalikan kekuatanmu? Ingat, kau pernah bertarung bersama ‘wadah’ ini sebelumnya. Saat itu, kau bisa mengeluarkan cakar tanpa perlu berubah secara penuh, bukan?” jawab Loqestilla seraya menunjuk dirinya sendiri ketika mengucap kata ‘wadah’. “Jangan bicara seolah-olah Miss Loqestilla hanyalah sebuah objek untukmu,” geram Neuri. Namun, Loqestilla yang bersuara serak itu malah tertawa. “Aah, kau tidak tahu. Gadis ini sudah menjadi milikku bahkan jauh sebelum kau bersedia menjadi anakku.” “Apa maksudmu?!” Loqestilla tidak menjawab, hanya memberi seringai aneh yang menjengkelkan. “Sekarang kau ingin terus mengobrol atau pergi dari sini?” Neuri tersentak. Ia melupakan hal paling penting yang seharusnya menjadi perhatian utamanya. Ia pun bangkit berdiri, menepuk-nepuk celananya yang sangat kotor dan penuh cabikan. Bagian atas tubuhnya telanjang, dan luka-luka yang sebelumnya menganga mulai menutup sendiri meskipun sangat pelan dan bertahap. Loqestilla pun ikut berdiri. Senyumnya tersemat sangat menakutkan. “Carilah jalan keluar. Aku akan mengikutimu dari belakang dan melindungimu.” “Jangan berlebihan. Jangan sampai kau membuat Miss Loqestilla terluka parah.” “Kau banyak bicara. Hidupnya sudah menjadi milikku. Bukan urusanmu dia mati atau tidak.” Neuri hampir tersulut emosi. Namun, ia tidak terpancing begitu saja. Dengan sedikit menganalisa kondisi di sekelilingnya, Neuri mulai melangkah pergi. “Mereka akan kabur. Serang sekarang juga!” Sebuah komando terdengar. Anak panah pun mulai meluncur dengan cepat dan gesit ke arah Neuri dan Loqestilla. Bola-bola api beterbangan dari tangan para penyihir. Namun, sebelum semua senjata itu berhasil mampir melukai, Loqestilla menyapukan angin ke sekitarnya. Angin yang dia lempar, anehnya berwarna merah, yang ketika diembuskan bukan hanya menghempas panah-panah, tetapi juga menghancurkan bola-bola api sihir hingga mengubahnya menjadi asap yang tidak berharga. Seketika, suasana yang sebelumnya cukup tenang, menjadi penuh ketegangan. Para penyihir yang mampu melihat aura, sebenarnya tahu bahwa makhluk di depan mereka tidak bisa dimusnahkan begitu saja. Sebab, aura makhluk itu, yang berada di tubuh Loqestilla Vent, benar-benar seperti entitas kuno dari dalam neraka. Sangat menjijikkan tetapi penuh kengerian. . . . Siapa yang menyangka, rumah besar Duke of Clemente berubah menjadi ladang p*********n. Mayat-mayat bergelimangan sepanjang jalan, darah membasahi tanah maupun lantai marmer yang dingin, menyiprat ke dedaunan di taman atau bahkan pada perabotan mahal di dalam ruangan. Seolah-olah, rumah besar Duke of Clemente baru saja tersapu badai. Namun, yang paling membuat ngeri adalah pelaku perusakan itu sedang berjalan-jalan santai di koridor rumah utama. Di depannya, ada Neuri yang tampak tergesa-gesa mencari sebuah ruangan untuk menemukan seseorang yang ingin segera ia temui. “Orang-orang Lunadhia mempersembahkan darah dan rambut mereka untuk membawamu kembali pada mereka. Kenapa kau masih repot-repot mencari Rowland Lubbock? Kau mau balas dendam?” Loqestilla yang suaranya masih aneh, membuka obrolan dengan sebuah pertanyaan. Neuri yang mengendus-endus sedari tadi, menjawab dengan sedikit kesal. “Aku tidak ingin balas dendam. Aku hanya ingin menemui orang itu.” “Untuk apa? Untuk membunuhnya?” Mendengar itu, Neuri tiba-tiba menghentikan langkah. Matanya menerawang jauh, menembus gelapnya lorong yang entah di mana ujungnya. “Tidak tahu. Mungkin hanya ingin mendengar ocehannya mengenai kegilaannya pada Miss Loqestilla.” “Hmm … benarkah?” “Mungkin saja jika aku bicara dengannya, semua hal ini bisa berakhir tanpa masalah.” “Hmm.” Loqestilla hanya tersenyum aneh tanpa mencoba memberi tanggapan lainnya. Tanpa ingin bercakap-cakap kembali, Neuri melanjutkan langkahnya seraya mengendusi udara yang aromanya terlalu pekat oleh darah. Membuatnya sulit mencari keberadaan Rowland dengan tepat. . TBC 07 Agustus 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN