RED - 41 : That Man Secret

1321 Kata
Kerusakan 41 . Malam semakin larut. Mendekati dini hari, Neuri mulai putus asa dengan pencariannya terhadap Rowland Lubbock. Di ballroom yang begitu luas dan megah, mayat-mayat prajurit tampak berceceran. Di salah satu sudut pilar, mayat-mayat itu bahkan menumpuk seperti sampah. Neuri pun duduk di salah satu kursi yang masih tegap berdiri. Di depannya, ada meja dengan sebotol wine yang terguling, hampir kandas semua isinya. Namun, Neuri mengambil botol tersebut, dan meneguk sisa-sisa alkohol yang ternyata masih cukup untuk meredakan dahaga. “Anakku, sebentar lagi jam dua belas akan lewat, dan aku harus pergi. Apa kau masih ingin berleha-leha seperti ini? Tidakkah kau ingin pergi saja dan bersembunyi di Lunadhia?” Loqestilla bertanya dengan suara seraknya. Sesekali ia menjilati tangannya sendiri yang sudah berlumuran darah. “Jika masalahku dengan Lord Rowland tidak selesai sekarang juga, percuma aku pulang. Ia pasti akan mengerahkan pasukan yang lebih besar untuk menghancurkan Lunadhia.” “Heee, kau benar-benar pemikir, ya?” Neuri tidak ingin menyahuti. Ia pun kembali berdiri, lalu berjalan lagi menyusuri ruang demi ruang di istana Duke of Clemente yang megah dan membingungkan. Pukul dua belas malam, suara lonceng dari gereja terdengar sampai ke tempat Neuri kini berada. Dua belas kali pula lonceng tersebut berdentang, memberi tahu semua orang bahwa sekarang sudah tengah malam, waktunya tidur dan bermimpi dalam gelap, bukannya berkeliaran dan membunuhi setiap orang seperti monster gila. Akan tetapi, setelah lonceng tersebut berhenti, tubuh Loqestilla tiba-tiba tergeletak ke lantai. Neuri yang tidak waspada, tersentak kaget dan segera menghampiri Loqestilla. Dibawanya kepala Loqestilla ke pangkuan, lalu diusap lembut untuk membuat rubah tersebut tersadar. “Miss Loqestilla, Miss Loqestilla,” panggilnya dengan nada cukup khawatir. Pelan-pelan, mata Loqestilla pun terbuka. Kali ini, iris matanya sudah kembali seperti biasa, warnanya merah cerah dan memikat. Selain itu, taring dan cakarnya pun seolah ditarik ke dalam tubuhnya sendiri, membuat penampilan Loqestilla tampak seperti manusia normal yang bersahaja. “My Lord ….” Loqestilla mencoba bangkit untuk sekadar duduk. Matanya memandang ke sekitar dan tampak kebingungan. “Di mana kita sekarang?” Neuri ikut memandang ke sekitarnya, ke ruangan besar dengan lemari-lemari buku dan meja kerja yang tampak begitu agung. “Tidak tahu. Tapi dilihat dari perabotan di sini, mungkin ini ruang kerja atau ruang baca.” “Apa kita masih berada di rumah Lord Rowland?” tanya Loqestilla lagi. Kali ini Neuri hanya mengangguk. Loqestilla menunduk, merasakan sakit di sekitar kepalanya. Ketika ia memegang ujung dahinya, rasa sakit itu terasa semakin menekan. “Miss Loqestilla, dahi Anda lebam,” jelas Neuri. “Mungkin karena Anda tiba-tiba jatuh,” tambahnya. Loqestilla hanya mengangguk, tidak ingin mengatakan bahwa luka-luka di kepalanya disebabkan karena para penyihir yang sempat menyeretnya sembarangan. Mengabaikan lukanya sendiri, Loqestilla merasa ada hal aneh yang terus mengganggunya sejak tadi. “Lord Neuri, mengapa saya mencium aroma darah yang begitu pekat?” “Bukan apa-apa,” jawab Neuri asal. Enggan menjawab bahwa Loqestilla lah yang sebelumnya melakukan p*********n tanpa pandang bulu. Meskipun bukan benar-benar Loqestilla yang melakukannya, tetapi p*********n tersebut terlalu mengerikan untuk diceritakan. Padahal, Loqestilla yang asli pun tidak asing dengan hal-hal berdarah, tetapi melihat betapa lugunya wajah yang sekarang berada di depannya, Neuri menarik semua kalimat penjelasan yang hampir terlontar tanpa sadar. “Aku sedang mencari Lord Rowland. Apa Miss Loqestilla masih mau membantuku?” “Saya akan ikut ke manapun Lord Neuri pergi,” jawab Loqestilla tegas. Neuri pun mengulurkan tangannya. Menarik Loqestilla berdiri dan membantu wanita tersebut merapikan gaun yang tampak kusut di mana-mana. Namun, ketika Neuri akan melangkah pergi, Loqestilla mencengkeram pergelangan tangannya. “Lord Neuri, apakah Anda masih dapat membedakan aroma darah seseorang?” Dahi Neuri mengernyit tidak mengerti. “Ya, aku masih bisa. Ada apa?” “Sekarang, apa Anda bisa melakukannya?” “Karena rumah ini dipenuhi darah, penciumanku sedikit terganggu. Bahkan aroma darah Anda tercium sekilas-sekilas, semuanya bercampur dengan aroma banyak orang.” “Bagaimana dengan aroma orang lain? Atau orang yang hidup?” “Saya hampir tidak bisa membedakan apa pun.” “Hmm.” Dahi Loqestilla tampak mengerut. “Sepertinya, saya mencium aroma darah segar,” ujarnya kemudian. “Darah orang hidup?” Wanita rubah itu mengangguk. “Ya, sepertinya tidak jauh dari sini, dan berada di ruangan ini. Tapi entah berada di mana, sepertinya sedikit jauh dan tersembunyi.” Seraya berpikir lebih dalam, Neuri kembali melihat ke sekitar ruangan. Ia menjelajahi ruang tersebut dengan lebih teliti. Mulai dari sudut satu ke sudut lainnya, termasuk di rak-rak buku, hingga bawah karpet. Loqestilla pun mengikuti, ia turut serta mengecek setiap perabotan di dalam ruangan, berharap menemukan sesuatu. Namun, karena tidak menemukan apa-apa, ia pun hanya berdiri diam seraya memikirkan cara lainnya. Pada akhirnya, dengan mengandalkan indera penciumannya, Loqestilla mencoba mengendusi setiap sudut. Ia mencari-cari sumber aroma darah yang cukup membuatnya yakin bahwa itu adalah darah Rowland Lubbock. Sekitar hampir satu jam berkutat di ruangan tersebut dan hampir putus asa, Loqestilla akhirnya mencoba untuk mengeruk sisa-sisa arang dan abu di perapaian. Sebab, di tempat tersebut lah aroma tersebut cukup kuat terendus. “My Lord! Lihat ini!” Benar saja, dari balik abu perapian yang bertumpuk dan berantakan, ada semacam garis samar yang menjadi pertanda bahwa tempat itu sedikit berbeda. Neuri segera membantu Loqestilla untuk mencoba mencari cara membuka sesuatu yang misterius tersebut. Pada akhirnya, ketika Loqestilla menekan salah satu batu bata di dalam perapian, garis samar tersebut bergerak dan membuka seperti pintu. “Ruangan rahasia?” gumam Loqestilla. “Ada aroma orang hidup,” ucapnya tegas dan pasti. Neuri mengangguk. “Ya, ini aroma darah Rowland. Ayo Miss Loqestilla.” Tanpa banyak bicara lagi, Neuri segera masuk ke dalam pintu rahasia tersebut. Tubuhnya dengan lincah bergerliat seperti ular dikarenakan pintu masuk yang tidak begitu besar. Sedangkan Loqestilla yang bertubuh kecil, memasuki ruangan tersebut dengan lebih mudah dan merdeka. Keduanya menuruni tangga yang curam, dan berakhir di sebuah tempat yang gelap seperti lorong. “Jalan rahasia?” tanya Loqestilla memastikan. Untung saja, berkat ketajaman matanya yang seperti binatang, kondisi gulita yang terlalu pekat masih bisa ditolerir oleh Loqestilla, ia masih dapat leluasa melihat ke sekitar meskipun seperti melihat dunia abu-abu. “Apa penglihatan Anda masih baik di sini?” tanya Neuri kemudian. “Ya, saya masih dapat melihat sekitar. Bagaimana dengan Lord Neuri?” “Aku akan terbiasa tidak lama lagi. Namun, sebelum itu tolong bantu saja melihat jalan.” Loqestilla mengangguk. Ia pun menggenggam pergelangan tangan Neuri dan menuntun tuannya itu berjalan. . *** . Mengandalkan daya penciumannya, Loqestilla menghentikan langkah tepat di sebuah pintu besi yang terlihat menyatu dengan dinding-dinding batu. Menggunakan tangannya yang bebas, ia meraba-raba pintu tersebut untuk mencoba membukanya. Namun, karena tidak menemukan cara membuka pintu tersebut, ia pun mengerahkan sejumlah angin untuk menyabet dan menghancurkan benda tersebut. Setelah pintu besi hancur, Loqestilla mengendus-endus kembali. “Aroma Lord Rowland sangat kuat di sini.” Namun, Neuri mengernyit. “Mungkin yang Miss Loqestilla cium adalah aroma tubuhnya, tapi aku sama sekali tidak mencium aroma darahnya di sini. Mungkin dia memang tidak berada di sini.” “Mungkin saja. Tapi … tempat ini benar-benar unik. Ada banyak lukisan yang terpajang sepanjang dinding.” “Lukisan?” Loqestilla mengangguk. “Ya, sepertinya lukisan potrait. Dan … hmm, saya seperti tidak asing dengan gambar di dinding.” “Apakah lukisan itu terlihat penting? Jika iya, mari cari petunjuk di ruangan ini,” usul Neuri. “Baiklah. Ada sebuah lilin di meja, akan saya coba nyalakan.” Masih dengan menggenggam pergelangan tangan Neuri, Loqestilla berjalan menuju sebuah meja kecil di tengah ruangan yang berjejer dengan sebuah sofa besar. Anehnya, sofa tersebut tidak menghadap ke pintu masuk, melainkan menghadap dinding. Seolah sengaja diletakkan di sana sehingga pemilik ruangan dapat duduk seraya memandangi lukisan-lukisan potrait yang begitu banyak di dinding. Saat lilin sudah dinyalakan menggunakan pemantik yang juga ada di sana, ruangan gelap tersebut terlihat lebih jelas. Neuri yang semula hanya bisa melihat gelap dan siluet-siluet samar, kini bisa melihat warna-warna dan apa saja yang berada di sekitarnya. Akan tetapi, ketika lilin dinaikkan, dan Neuri mampu melihat lukisan di dinding, hati dan jantungnya seakan dihantam batu. “Lukisan ini ... Ibu.” Loqestilla yang semula tidak mengerti, akhirnya mampu memahami mengapa Neuri begitu tampak terkejut dan membeku. Ia pun teringat, jika gambar di lukisan tersebut memang cukup familier baginya. Gambar tersebut adalah gampar potrait seorang wanita, dan Loqestilla mengingat jelas di mana pertama kali ia melihat wanita tersebut. Di tempat kerja Neuri. Potrait tersebut adalah ibu Neuri, Nyonya Lycaon sebelumnya yang sudah meninggal akibat p*********n. Hal yang paling mengerikan adalah bahwa bukan hanya satu lukisan ibu Neuri yang terpajang, tetapi puluhan dengan berbagai ukuran dan ekspresi. Bahkan, ada setiap judul di tiap-tiap lukisan. “Kenapa … kenapa Rowland Lubbock memiliki lukisan ibuku?” Tanpa Loqestilla perlu menjawab, tentu Neuri sudah tahu jawabannya. Rowland Lubbock mencintai ibunya. Pria tua itu tergila-gila pada Nyonya Lycaon yang memiliki senyum selembut dewi dan paras seayu bidadari. . 09 Agustus 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN