RED - 42 : His Letters

1192 Kata
Lilin menyala begitu terang, tetapi sinarnya tidak cukup memberi kilau ke seluruh ruang. Namun, mungkin hal itu menjadi pertanda baik, sebab Neuri tidak perlu melihat kengerian di dalam ruangan tersebut. Bukan p*********n, bukan penyiksaan, yang membuat Neuri bergidik sebadan-badan adalah fakta bahwa Rowland Rathmore Lubbock adalah orang gila yang begitu memuja ibunya. Pantas saja, pantas saja selama ini Duke of Clemente tersebut sangat baik pada keluarganya. Sering memberi hadiah, membantu dengan suka rela, dan bahkan mau menyerahkan apa pun hanya dari sekecap ucapan Nyonya Lycaon. Kebaikan yang mencurigakan tentu saja, sebab meskipun begitu perhatian, nyatanya Rowland Lubbock selalu memandang aneh pada Neuri dan ayahnya. Neuri kira, Rowland bersikap demikian karena kecintaan pria itu terhadap wanita. Sudah sering ia melihat Rowland berperilaku begitu, sehingga Neuri pun memaklumi tanpa ingin menyimpan curiga. Akan tetapi, kenyataan yang diterima rupanya lebih mengejutkan dari sekadar prasangka seorang bocah. Rupanya, Rowland Lubbock benar-benar menaruh hati pada ibunya, dan entah sejak kapan Duke of Clemente itu menyimpan rasa pada Yurilian Lycaon yang dikenal sebagai wanita lemah lembut dan baik hatinya. “Pria itu … apa sebenarnya yang dia pikirkan.” Kedua tangan Neuri mengepal kuat, mencengkeram dagingnya sendiri hingga biru-biru telapak tangannya. Ia ingin tidak percaya, tetapi bukti yang terpapar terlalu jelas dan nyata. Padahal, Neuri bukan seseorang yang mudah membenci dan menaruh rasa jijik, tapi perilaku Rowland pada ibunya seolah memicu sesuatu dalam perutnya. Ia ingin muntah. Di sisi lain, sebagai orang yang hanya menemani tanpa memiliki sisi emosional yang setara, Loqestilla hanya mampu berdiam diri. Dia menatap Neuri tanpa tahu harus memberi hiburan yang bagaimana, ia pun tidak mengerti permasalahan yang sesungguhnya. Pada akhirnya, ia meletakkan kembali lilin ke atas meja, lalu berusaha mengalihkan perhatian dengan melihat-liat isi ruangan tersebut lebih teliti. Ketika Loqestilla berjalan menuju depan sofa, ia lantas menengok ke bawah meja. Rupanya, ada sebuah kotak yang tampak sakral dan misterius di sana. Diambilnya kotak tersebut dan dicoba dibuka. Sayangnya, kotak persegi panjang berwarna coklat itu terkunci rapat sekali. Namun, karena masih penasaran dengan isi yang mungkin menarik dari dalam kotak, Loqestilla membuka paksa dengan menghancurkan kotak coklat yang tampak kuat dan mahal itu. Ia menghempaskan sedikit angin, mencabik-cabik kotak dengan kebrutalan yang sudah biasa dilakukan. Hingga tidak berapa lama, kotak pun hancur penutupnya. Siapa sangka, bukan permata atau koin emas yang ada di dalamnya, melainkan berlembar-lembar amplop surat dengan segel lilin yang belum dibuka. Loqestilla pun membuka salah satu surat tersebut dan membaca setiap kata yang tercetak. Setiap kali ia selesai membaca satu kalimat, dahinya mengernyit tidak nyaman. “My Lord, sepertinya Anda bisa menemukan petunjuk mengenai perasaan Lord Rowland pada ibu Anda,” ujar Loqestilla. Neuri yang melihat Loqestilla tampak sibuk dengan kertas-kertas, lantas datang mendekat. “Ada yang Anda temukan?” tanyanya. Loqestilla mengangguk. Ia pun menyodorkan satu lembar surat di tangannya. Ketika Neuri menerima surat tersebut, Loqestilla berkata, “Sepertinya, Lord Rowland bertujuan mengirim surat-surat ini kepada Nyonya Lycaon. Tapi entah mengapa ia malah menyimpannya. Semua suratnya masih tersegel dan tidak ada tanda-tanda sudah pernah dibuka.” Neuri yang mulai membaca surat di tangannya, tanpa sadar mencengkeram erat kertas yang tidak berdaya itu. “Rowland Lubbock … dia sepertinya bukan hanya ingin memiliki ibuku, tapi juga ingin menghancurkan keluargaku.” Entah apa isi dari surat tersebut, tetapi Neuri begitu marah dan penuh kecewa. Bahkan di kegelapan yang dingin dan membutakan mata, hati Neuri terlampau panas sampai rasanya dapat melelehkan salju di Himalaya. . Entah mengapa, Neuri benar-benar geram hanya dengan sebuah surat. Kepalanya tiba-tiba berdenyut karena menahan emosi yang seharusnya siap meledak layaknya erupsi gunung berapi. “Orang itu … sejak kapan dia seperti ini.” Suara Neuri terdengar serak ketika ia menggeram. Seolah menuang minyak dalam kobaran api, Loqestilla yang tidak berperasaan itu malah menyodorkan surat lainnya kepada Neuri. “Tampaknya, Lord Rowland sudah seperti itu sejak lama. Bahkan sebelum Nyonya Lycaon mengenal ayah Anda. Lihatlah surat-surat lainnya, My Lord. Anda akan menemukan banyak sekali kenyataan yang mengejutkan.” Tanpa menunggu lagi, Neuri segera merampas surat-surat yang ditawarkan Loqestilla padanya. Sebelum Neuri mulai membaca lebih banyak, Loqestilla menambahkan,“Dan sepertinya, p*********n keluarga Anda juga ada hubungannya dengan Lord Rowland,” ujarnya tanpa banyak bersimpati. Neuri pun tepekur, tidak menyangka jika surat-surat seperti ini direncakan akan dikirimkan kepada ibunya. Ia merasa, kegialaan Rowland Lubbock melebihi apa yang bisa dibayangkan. Hanya saja, mengapa semua surat ini hanya terendam dalam kotak? Tidak dikirimkan, tidak pula dihancurkan? Apa sebenarnya tujuan Rowland menulis surat sebanyak ini tapi dia sendiri pun tidak memulai aksi untuk mengejar Yurilian. Pada akhirnya, dengan perasaan menggebu-gebu seperti seorang bocah yang menemukan sebuah rahasia besar, Neuri terlarut pada tiap-tiap lembar surat yang ada di dalam kotak. Loqestilla berada di sampingnya, menunggu seraya mencuri baca. . Surat pertama yang dibuka Neuri adalah yang paling usang. Loqestilla bilang terletak di bagian paling bawah dan hampir tidak pernah lagi dijamah. Saat Neuri membacanya, ia cukup terkesan dengan untaian kalimat yang ditulis begitu murni dan tulus. ‘Untuk yang terkasih, Yurilian. Pagi ini bunga mawar di kebun rumahku mekar dengan segar dan menawan. Di antara bebungaan berwarna merah mudah, ada satu yang warnanya putih memikat hati. Saat melihat bunga yang tampak terasing tetapi paling menakjubkan itu, aku jadi teringat padamu. Yurilian, sayangku. Bagaimana kabarmu hari ini? Semalam aku tidak dapat tidur dengan nyenyak, lelah memikirkan bahwa kau akan menikah dengan pria yang tidak begitu layak. Namun, jika kau mampu tersenyum bersama pria itu, aku tidak akan menganggu begitu dalam. Aku akan melihatmu dari tempat yang tidak dapat kau ketahui. Yurilian, sayangku. Jika masih ada umur, akan kutunggu kau sampai menua. Bahkan jika suatu saat suamimu tiada, aku pun tidak mengapa untuk menemanimu selamanya. Entah kau menganggapku sebagai teman, sahabat, atau keluarga. Yang manapun sama saja, dekat denganmu lebih utama. Kebahagiaanmu adalah impianku. Selamanya, kau adalah dewi di dalam hidupku.’ . Setelah membaca satu lembar, Loqestilla bahkan berkomentar. “Perasaannya tulus dan bersih. Dia benar-benar mencintai Ibu Anda, My Lord.” Neuri tidak lantas menanggapi. Ia pun memilih untuk membuka surat lainnya. ‘Kepada Yurilian yang kurindukan setiap pagi hingga petang. Yurilian, aku begitu sedih dan merana, tapi ketika melihatmu tersenyum hatiku juga bahagia. Rumit rasanya mencintaimu tanpa balasan yang sama. Perasaan panas dan dingin seolah berlomba-lomba di dalam d**a, dan aku takut suatu saat bisa membuatku hancur tanpa gejala. Yurilian, yang terkasih. Kau tahu mengapa aku merana? Sebab semalam kau berdansa dengan gembira bersama suami yang kau cintai. Kau memegang tangannya, tertawa bersamanya, menari gembira di lantai dansa, dan orang-orang memandangi kalian dengan mata takjub hingga bahagia. Aneh sekali, Yurilian. Aku sudah berjanji untuk ikut bahagia juga, bersama orang-orang yang melihat kalian, menjadi tokoh figuran. Namun, tetap saja, tetap saja ada duka di antara gemerlap itu. Dukanya ada di hatiku. Yurilian, Oh, kekasihku Yurilian. Malam ini aku pun memilih tidur dengan wanita yang memiliki rambut persis sepertimu. Kubayangkan wajahnya adalah dirimu. Dalam percintaan yang panas, yang kusebut hanya namamu.’ Neuri pun meremas surat yang tadi dibacanya. Tanpa belas kasih, ia buang remasan kertas tersebut ke sembarang sudut. Cukup marah dan terlihat nelangsa. “Cintanya sungguh kuat untuk Ibu Anda,” celetuk Loqestilla. Namun, Neuri lagi-lagi tidak menanggapi sama sekali. Dalam hati, ia merasa simpati pada Rowland, tapi ada juga perasaan merinding yang sulit dijabarkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN