RED - 33 : The Truth

2501 Kata
Kerusakan 33 Di dalam kabut yang gelap, Neuri meraba-raba tanpa henti. Namun, meskipun membuka mata selebar yang ia bisa, tak ada setitik pun cahaya yang tampak di penglihatannya. Mengapa semuanya gelap? Mengapa semuanya kosong? Dengan panik, Neuri berlari tak tentu arah. Setiap kakinya melangkah, seolah ia tidak benar-benar berpijak di sana. Takut, rasanya begitu gelap dan dingin. Seperti sebuah mimpi tak menyenangkan yang tiba-tiba datang, seperti ilusi yang tak akan membiarkannya pergi. Semua yang ada di sekitarnya benar-benar hanya sesuatu yang gelap, kosong melompong, kehampaan yang sunyi. Air mata Neuri berguguran tiada henti. Ia tersandung kakinya sendiri dan akhirnya jatuh telungkup. Seraya mengusap kasar air matanya, ia mencoba duduk dan menenangkan diri. Entah mengapa, tidak ada lagi perasaan sebagai orang dewasa. Di saat-saat seperti itu, yang Neuri ingat hanyalah dirinya yang berusia delapan belas tahun. Usia yang seharusnya paling menyenangkan bagi dirinya. Di usia delapan belas, ia memiliki adik perempuan yang sangat cantik dan menggemaskan, ia bebas bermain di kota bersama teman-teman tanpa memikirkan kedudukan, ia berlarian di perbukitan bersama anak-anak desa untuk mengejar tupai. Semuanya, sangat menyenangkan di usia delapan belas. Namun, mengapa sekarang ia seorang diri? Di mana ia sebenarnya? Tidak adakah seseorang yang bisa ia tanya? Tidak adakah seseorang yang akan memegang tangannya dan membawanya pergi dari sini? Di mana ayah dan ibunya? Di mana keluarganya? Di mana orang-orang kepercayaannya? Mengapa tidak ada seorang pun yang datang menemuinya? “Lord Neuri … Lord Neuri.” Ah, ada suara yang sangat halus. Suara siapa itu? “Lord Neuri ….” Ada bau yang menyenangkan, seperti aroma mawar balerina. Perlahan Neuri menyipitkan mata, karena di ujung sana, ada setitik cahaya berwarna merah yang terlihat menawan. Warna apakah itu? . Red Disaster . Di tengah kerumunan yang semakin besar, tubuh Neuri diselimuti oleh kabut yang membumbung. Warnanya hitam lagi pekat, seperti asap pabrik batu bara yang mengepul pagi hari. “Apa yang terjadi padanya?!” Seseorang berteriak, nadanya bergetar meskipun terdengar lantang. “Semuanya! Menjauh dari sini. Hanya penyihir yang boleh berada di tempat ini. Cepat, lari!” Dengan suara yang bergemirisik dan kacau, orang-orang tanpa kemampuan sihir lari tunggang langgang. Sebagian meskipun ketakutan, tapi tetap bertahan karena penasaran. Pada akhirnya, para pengawal Duke of Clemente harus mengusir mereka dengan paksa. Di tengah carut-marut suasana saat itu, Neuri yang terlilit rantai sihir dari berbagai arah semakin bergerak membabi buta. Raungannya memakakkan telinga, tenaganya menjadi lebih kuat sehingga sulit dikekang. Di sisi lainnya, Loqestilla masih berusaha membebaskan diri dari rantai yang juga melilit tubuhnya. “Lord Neuri! Lord Neuri!” Berulang kali ia berteriak, memanggil-manggil tuannya yang tampak sudah kehilangan kesadaran, sepenuhnya dikendalikan oleh sosok magis yang seperti iblis. “Miss Vent, berhentilah bergerak dan aku akan membawamu pergi dari sini. Jika kau memberontak, aku akan kesulitan menyelamatkanmu.” Duke of Clemente yang terlindung oleh beberapa penyihir, terus-menerus membujuk Loqestilla. Matanya menatap khawatir pada keadaan sekitar yang benar-benar semerawut. Bukan orang-orang itu yang dikhawatirkannya, tapi Loqestilla lah yang menjadi pikirannya. Rowland benar-benar merasa cemas. Cemas bahwa meskipun dengan kondisi yang seperti itu, Loqestilla akan tetap memihak Neuri. Cemas bahwa Loqestilla akan menolak ajakannya untuk pergi. Cemas bahwa hati Loqestilla ternyata memang tidak pernah diberikan padanya. Rowland tidak mau menerima kenyataan seperti ini. Semua hal sudah direncanakan dengan matang, seharusnya seperti itu, seharusnya Loqestilla takut dan jijik pada Neuri, seharusnya rubah betina itu mengalihkan pandang padanya, seharusnya, seharusnya … tapi mengapa Loqestilla tetap tidak bisa menjadi miliknya? Apa yang kurang dari dirinya? Cinta dan harta, semua sudah Rowland berikan. Lalu, apa lagi yang kurang? “Miss Vent. Aku harus membawamu dengan paksa jika kau terus seperti ini!” teriak Rowland pada akhirnya. Namun, yang tidak Rowland sangka-sangka, Loqestilla berani menatapnya dengan tatapan yang …. tatapan yang seolah-olah menganggap bahwa semua kekacauan dan kejahatan di dunia adalah salah Rowland. Itu adalah tatapan yang tidak pernah Rowland lihat selama ini dari gadis lembut itu. Mengapa, Miss Vent-nya bisa memberikan tatapan yang sama seperti seseorang dari masa lalunya? Begitu menyakitkan, begitu menusuk jiwa. “Enyahlah Rowland Lubbock. Enyahlah dari dunia ini.” Mendengar hal itu, tanpa sadar Rowland melangkah dua kali ke belakang. Matanya membelalak dengan tubuh gemetaran. “Kenapa … kenapa kau … KENAPA KAU SEPERTI INI PADAKU?!” Mata yang teduh dan penuh kasih milik Rowland, seketika berubah seperti api yang membakar harapan, dipenuhi kecemburuan dan kemurkaan. “Kenapa kau selalu membuatku terhina! Semua hal sudah kuberikan padamu! Tapi apa yang kau berikan?! cacian?! menyuruhku mati, hah?! kau benar-benar sudah gila! Kalau kau memang ingin bersama laki-laki sampah itu! Pergi saja dengannya! Mati saja dengannya! Aku tidak peduli lagi!” Namun, tidak sempat menanggapi u*****n mati-matian yang dilakukan Rowland, perhatian Loqestilla lekas teralihkan pada suasana di depannya. Neuri semakin mengamuk, dan hal itu membuat para penyihir juga semakin gencar melancarkan serangan. Kali ini, bukan hanya energi sihir yang ditembakkan, tapi para penyihir juga mengirim mantra-mantra kutukan. Lima penyihir melayang ke atas, mengirim pedang-pedang mereka untuk melesat menusuk tubuh Neuri. Walaupun bisa menangkis beberapa serangan, tetapi dua pedang yang dilesatkan pada akhirnya menancap di d**a Neuri. Raungan Neuri pun menjadi-jadi kembali. Tidak menunggu hingga Neuri dapat melepas dua pedang yang menancap padanya, para penyihir melesatkan anak panah dari berbagai arah. Sepuluh ksatria yang baru datang pun mulai bersiap di tempat mereka, lalu dengan bantuan sihir, mereka melemparkan tombak secara bersamaan. Tubuh Neuri menggeliat tidak keruan, bergerak semampunya untuk menghindari dan menangkis setiap serangan yang diberikan padanya. Cukup lama hal itu berlangsung, sampai pada akhirnya tubuh Neuri sudah dipenuhi dengan berbagai macam senjata yang menembus hingga jeroan. “MY LORD!” Di posisinya yang tidak berdaya, Loqestilla berteriak menjadi-jadi. “MY LORD! MY LORD!” Berkali-kali ia memanggil Neuri, menangisi penderitaan di hadapannya yang sangat mengiris hati. Di saat seperti ini, mengapa kekuatannya tidak bisa digunakan dengan maksimal. Di mana dewa yang selalu membantunya ketika ia marah? Di mana suara lonceng yang selalu membangunkan kekuatannya? “MY LORD!” Loqestilla berusaha memanggil angin di sekitarnya, tetapi karena tangan dan kakinya terikat, sangat sulit untuk mengendalikan angin-angin itu. Dengan sekali tarikan napas melalui mulut, ia berusaha menarik udara masuk ke tubuhnya, kemudian dengan sangat cepat, ia mengembuskan udara tersebut ke beberapa penyihir yang berusaha mengirim serangan. Satu, dua, tiga. Hanya tiga orang yang tumbang. Melihat Loqestilla yang berusaha terlibat dalam pertempuran, seorang penyihir melilitkan rantai ke sekitar mulut Loqestilla, mencegah tiupan lanjutan yang mampu menyemburkan angin-angin seperti pedang. Rubah merah itu pun tidak bisa lagi melakukan serangan, titik-titik tubuh yang digunakan untuk menggerakkan kekuatannya telah tertali mati. Loqestilla hanya mampu menggeram, taring yang ingin keluar tertahan rantai sihir. Air matanya pun mengalir di sudut-sudut, membentuk anak sungai yang menetesi tanah dingin. Melihat Loqestilla yang kepayahan dan tidak berdaya, Rowland hanya memalingkan wajah, mencoba fokus pada para penyihir dan Neuri yang masih bertempur tiada henti. . *** . Pada akhirnya, bentrokan dan kekisruhan itu cukup mereda saat fajar tiba. Para penyihir tampak kelelahan, dan Neuri pun mulai berubah ke wujud manusianya. Hal itu berdampak pula pada kekuatan Neuri yang semakin memudar hingga perlahan-lahan menghilang. Ketika Neuri benar-benar sudah menjadi manusia, ia pun ambruk ke tanah tanpa daya. Tubuhnya penuh dengan senjata yang menancap, darahnya mengalir lancar ke permukaan kulit, lalu menetes ke tanah hingga berubah hitam. Melihat Neuri yang dianggap sudah tidak berdaya, para penyihir mengendurkan penjagaan mereka. Rantai ditarik, formasi dilemahkan. Bahkan rantai yang melilit tubuh Loqestilla pun ikut dileyapkan. Tanpa menunggu, Loqestilla yang bebas segera berlari ke tempat Neuri berada. Ia berusaha dengan keras mengecek kondisi tubuh Neuri, melihat apakah tuannya itu masih bernapas atau tidak. “Lord Neuri … Lord Neuri.” Berkali-kali ia menyebut nama Neuri, berusaha memanggil jiwa Neuri yang seolah tidak kunjung kembali ke jasadnya. “My Lord … My Lord.” Dengan cucuran air mata yang melimpah ruah, Loqestilla bersujud dan memeluk kepala Neuri yang masih tergeletak di tanah. “My Lord … saya di sini, saya di sini … saya tidak meninggalkan Anda.” Matahari menyingsing di atas langit, pemandangan yang tadinya suram kini tampak begitu cerah. Namun, di tengah kerumunan itu, ada seorang manusia bertelinga rubah yang merintih dan meratap, tangisannya sangat pilu hingga orang-orang yang mendengar ikut ngilu. Di dekapan manusia rubah itu, ada manusia tidak berdaya yang tubuhnya tertancap macam-macam senjata, darahnya ikut berlinangan, seolah menangis bukan lewat sudut mata tapi dari seluruh kulit di jasadnya. Ah, siapa pula yang bisa tega menyaksikannya. “Apa salah dia … apa salah dia?” Suara Loqestilla terdengar sayup-sayup. “Lord Neuri tidak pernah menyakiti siapa pun. Hatinya baik dan bersih. Tidak pernah mencaci orang lain, tidak pernah bergosip atau pun memfitnah. Ia hidup dalam dunianya yang kecil, tidak ikut campur dalam urusan kalian semua. Tapi kenapa begini … kenapa melukainya hingga begini?” Mendengar hal itu, semua orang terdiam mematung. Bibir mereka kelu dan sebagian besar tidak berani menatap langsung pemandangan di depan sana. Mungkin karena mereka semua memang menyadari hal itu. Sadar jika ucapan Loqestilla ternyata memang benar. Lord Neuri Turkadam Lycaon memang tidak pernah membuat ulah. Jika berbicara pun selalu sopan dan berusaha menghargai lawan bicaranya. Saat orang lain bergosip dan mencaci, Lord Lycaon hanya diam dan bersimpati. Ketika orang lain membutuhkan bantuan, Lord Lycaon bahkan bersedia membantu tanpa pamrih. Saat dulu keluarga Lycaon masih ada, mereka tidak ada yang pernah berbuat ulah. Selalu baik dan penyayang. Selalu jujur dan pengertian. Semua pengemis di jalanan pernah merasakan kebaikan hati para Lycaon. Pada pedagang kecil juga merasakan hal itu. Orang-orang sakit di sudut kota banyak yang berhutang budi pada mereka. Hingga akhirnya, Lord Lycaon tinggal satu-satunya. Namun, kebaikannya tetap tidak bisa dihitung dengan mata. Hanya saja … hanya saja … Lord baik hati itu berubah menjadi monster. Lalu, apa salahnya orang-orang berusaha melindungi diri? “Seandainya kita diam saja, dan membiarkan Lord Lycaon berubah di malam purnama, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Lagi pula, se-sepertinya Lord Lycaon juga tidak akan menyakiti manusia.” Seseorang dalam keramaian berbicara. Namun, seseorang yang lain juga menyahuti dengan cepat. “Tapi, dia tadi menggeramus satu orang! Bukankah itu artinya dia sudah membunuh?” “Mu-mungkin dia hanya melindungi diri.” “Ya-ya, mungkin dia hanya melindungi diri. Lagi pula, aku juga akan kaget jika tiba-tiba seseorang menyerangku tanpa alasan.” Setelah itu, semuanya kembali hening. Mereka saling melihat dan akhirnya menunduk menatap kaki-kaki sendiri, mungkin menyesal, mungkin merasa bersalah. Akan tetapi, ketika suasana mulai menjadi lebih damai, tiba-tiba Lady Freya datang dengan dua orang elf di kanan dan kirinya. “Jangan percaya omongan wanita rubah itu!” Suara lantang Lady Freya menarik perhatian semua orang. Mereka menoleh dengan serempak, mengernyitkan dahi dan memincingkan mata. Seolah menunggu, ada drama apa lagi yang akan terjadi. Apa yang Lady Freya bawa dengan keberaniannya itu? Mengapa wanita elf itu sangat percaya diri dengan bicara seperti itu di depan khalayak. “Dengarkan aku, semuanya. Di sini, aku telah membawa dua orang saksi yang sudah terjamin kebenarannya. Mereka akan mengatakan kebenaran yang harus kalian semua tahu. Terutama tentang wanita rubah itu.” Rowland yang sejak tadi berada di sana bahkan juga ikut-ikutan mengernyitkan dahi. Sama sekali tidak membayangkan bahwa istrinya akan datang ke tempat seperti ini. Apalagi, istrinya itu mengaku-aku telah membawa sebuah berita penting yang harus didengarkan semua orang. “Lady Freya, apa yang kau lakukan?” tanya Rowland pada akhirnya. Lady Freya mendekati Rowland, dengan wajahnya yang terlihat serius, ia menjawab, “Your Grace, Suamiku. Berikan aku kesempatan bicara beberapa kata. Aku memiliki berita sangat mengejutkan mengenai Miss Loqestilla Vent. Hal ini akan sangat berguna bagimu.” Dikarenakan rasa penasaran yang tinggi, Rowland menyetujui permintaan istrinya. Setelah mendapat izin dari sang suami, Lady Freya kembali berdiri tegak di depan puluhan pasang mata yang memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi. “Bagi yang belum tahu, namaku adalah Freya Clemente, istri ke tiga dari Duke of Clemente. Aku berasal dari Pulau Ivoria, di mana para elf menjadi mayoritas di sana. Di Ivoria, terdapat kerajaan-kerajaan kecil seperti halnya di sini. Dulu, aku tinggal di wilayah hutan bagian timur dari Kerajaan Wisteria. Hutan yang berhektar-hektar itu dijaga oleh keluargaa Forrest, keluargaku. Namun, sekitar dua bulan yang lalu, pemimpin keluarga Forrest, yang bernama Valens Forrest meninggal dunia.” Lady Freya mengambil napas sejenak, matanya menyorot tajam pada Loqestilla yang masih memeluk kepala Neuri seraya menatap kepadanya dengan begitu nyalang. “Kalian tahu, apa yang menyebabkan Valens Forrest meninggal? Dia dibunuh.” Suara bisik-bisik mulai terdengar lagi. Beberapa tampak heran apa hubungannya kisah yang dituturkan Lady Freya dengan pengumuman yang katanya sangat penting itu. “Apa kalian tahu bagaimana cara Valens Forrest dibunuh? Ia … ia dimakan sampai habis, darahnya diisap sampai kering hingga tinggal kulitnya yang sudah seperti kain tipis. Dan, apa kalian tahu siapa yang bisa melakukan pembunuhan semacam itu?” Lady Freya kembali menarik napasnya. Ia kemudian menunjuk ke satu arah dengan berucap, “Loqestilla Vent, wanita rubah itu yang melakukannya.” Semua orang terkesiap, pandangan yang tadi begitu penasaran pada Lady Freya seketika berganti mengarah kepada Loqestilla. Beberapa orang mulai berbisik seolah tidak percaya, beberapa yang lain malah memberi api yang lebih besar. “Bukankah demihuman biasanya tidak memakan orang?” seseorang bertanya. Seseorang yang lain menjawab, “Tidak tahu. Tapi, mungkin saja ada yang seperti itu. Di Kerajaan Trygvia sepertinya masih banyak yang begitu, tapi cukup bisa dikendalikan. Bahkan, para vampir saja mulai berhati-hati ketika ingin memakan manusia. Kudengar mereka hanya makan manusia yang diperdagangkan.” “Jika begitu, bagaimana dengan kasus gadis rubah itu?” Orang itu pun mengedikkan bahu. Di tempatnya berdiri, Lady Freya melanjutkan. “Benar, yang kalian dengar ini bukanlah sebuah dongeng atau pun desas desus. Sebab, aku sudah menyelidikinya selama ini. Orang-orang di sebelahku adalah para penyelidik dari Wisteria. Sekarang, biarkan mereka yang membeberkan apa saja kejahatan Loqestilla Vent kepada kalian semua. Setelah itu, terserah kalian, masih ingin terhasut oleh wanita itu atau tidak.” Namun, baru saja Lady Freya menyelesaikan pidatonya, tangannya segera ditarik oleh Rowland. “Lady Freya, apa maksud semua ini?!” tanya Rowland geram. Ia sangat tidak suka ketika istrinya menyudutkan Loqestilla, karena bahkan semua rencana yang ia persiapkan matang-matang adalah untuk mengambil Loqestilla ke sisinya, bukan untuk menghabisi nyawa wanita yang diinginkannya itu. “Aku hanya mengungkap kebenaran, Your Grace,” ucap Lady Freya. Dengan suara yang tertahan dan berbisik, Rowland menggeram. “Kau tidak mengatakan apa pun tentang ini. Dan bukankah kau bilang ingin membantuku mendapatkan Loqestilla Vent? Kenapa sekarang kau ingin dia dihukum mati?” Lady Freya membulatkan mata. “Apa Anda masih ingin bersama wanita seperti itu? Bagaimana jika suatu saat dia mengisap darah Anda sampai kandas? Mengapa Anda ingin mempertahankannya?” Napas Rowland menjadi cepat, ia menggemeretakkan giginya. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, ia melepaskan tangan Lady Freya dan memilih untuk pergi begitu saja. Beberapa pengawal tampak mendampinginya, dan seorang asisten ditugaskan untuk menyelesaikan konflik yang sedang terjadi tersebut. Seraya menahan sakit hati, Lady Freya pun kembali menghadap kepada kerumuman. Seorang pria elf di sampingnya diutus untuk berbicara. Dengan tenang, pria elf itu pun mengambil peran Lady Freya dan mulai menjabarkan satu demi satu kesalahan Loqestilla Vent. Entah apa saja kesalahan wanita rubah itu, tetapi setiap kali diutarakan, orang-orang yang mendengarnya seolah-olah terkena serangan jantung. . TBC 15 Juli 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN