Kerusakan 54
.
Kabar tentang pertunangan Yurilian sangat banyak menyita pikiran Rowland, hingga ia bahkan tidak sadar bahwa di belakangnya, keluarganya tengah merencanakan sesuatu yang benar-benar biadab dan hina.
Pada suatu malam, ketika bulan sama sekali tidak tampak di langit, Rowland tiba-tiba dibangunkan dari tidurnya yang tidak pernah nyenyak. Salah satu saudara lelakinya menyeretnya ke luar rumah, sebelumnya ia bahkan didandani dengan pakaian terbaik yang ada di dalam lemari.
Tanpa mengatakan apa pun, kakak laki-lakinya tersebut melemparkan Rowland pada orang asing dengan topeng dan jubah besar menutup seluruh wajah. Orang bertopeng tersebut tiba-tiba saja mengambil tangan Rowland dan memborgolnya dengan kuat.
“Ka-kakak, apa yang sebenarnya kakak lakukan?” Rowland yang ketakutan, mencoba meminta penjelasan pada kakak yang jarang diajaknya bicara itu.
Namun, alih-alih memberi penghiburan, kakaknya menjawab dengan tenang dan tanpa perasaan. “Aku menjualmu.”
Hanya dua kata, tapi dunia Rowland yang sudah hancur kini seolah semakin tidak berbentuk. Dunianya yang gelap, benar-benar menjadi terasa lebih menyakitkan. Padahal, sebelumnya ia selalu mencoba dan berusaha keras menerima kondisi yang seperti ini. Diabaikan keluarga pun tidak masalah, asal ia tidak disakiti terlalu jauh.
Akan tetapi, kali ini … kali ini semuanya terasa keterlaluan. Sangat keterlaluan hingga Rowland yang sudah mulai jarang menangis, kini menjerit-jerit pilu. Hatinya begitu perih, rasanya lebih menyakitkan dibanding ketika ia diolok-olok pelayan di rumahnya sendiri, lebih sakit dibanding ketika ia dicibir dan dijauhi bocah-bocah desa yang bahkan hanya anak seorang petani. Ini lebih, lebih sakit dibandingkan ketika ia diabaikan oleh semua anggota keluarganya selama ini.
Mengapa hal-hal buruk terus terjadi padanya tanpa henti?! Mengapa selalu seperti ini! Tidak cukupkah dengan dia yang terlahir cacat di sana sini! Tidak cukupkah dengan semua kesepian dan rasa kosong yang dialaminya sejak ia bahkan belum mengenal dunia.
Tuhan … mengapa seperti ini. Mengapa seperti ini.
“Aaaaarrrg! Kenapaaaa! Kenapa kakak melakukan ini! Aaarrrrrg!”
Jeritan itu benar-benar menyahat hati. Tupai yang bersembunyi di balik pepohonan pun sampai ikut bergetar dan merasakan sedihnya hati Rowland. Angin berdesir-desir, turut prihatin.
Namun, seperti apa pun jeritannya saat ini, masih saja tidak ada yang sungguh-sungguh peduli padanya. Kakaknya tetap kukuh menjualnya, anggota keluarganya yang mengintip dari balik jendela tetap menatapnya tanpa sedikit pun rasa iba.
Yurilian … Yurilian … jika begini. Bisakah bertemu kembali suatu saat nanti? Bisakah Rowland yang terhina ini menerima uluran tanganmu kembali.
Yurilian … Yurilian.
.
***
.
Pada akhirnya, Rowland dibawa ke sebuah rumah tersembunyi. Tubuhnya dilemparkan ke dalam kurungan besi, bercampur dengan anak-anak lain yang sama-sama tampak hina sepertinya. Rowland yakin, jika mereka semua pun memiliki latar cerita yang hampir serupa dengan dirinya. Mereka mungkin anak-anak miskin yang dijual orang tua sendiri untuk mendapatkan sejumput koin emas. Beberapa mungkin adalah gelandangan yang sengaja diculik untuk keperluan seperti ini.
Walaupun Rowland tidak berpengalaman di dunia luar, tapi ia sering menghabiskan waktu membaca koran sisa-sisa ayahnya. Dalam koran yang sudah lecek itu, sering sekali mengulik mengenai penculikan gelandangan atau anak-anak di panti asuhan. Motifnya macam-macam, ada yang diperjual belikan dan dijadikan b***k ke negara lain, ada yang dibunuh untuk dimakan dagingnya, dan ada juga yang digunakan sebagai sesembahan bagi pemuja iblis.
Rowland tahu semua itu. Sangat tahu sampai rasanya ia menjadi cukup terbiasa ketika harus membaca berita-berita sadis yang membuat darah berdesir hebat. Bahkan, ketika sekarang ia berada di situasi seperti berita di koran, Rowland tidak merasa begitu takut.
Sebab, sebab ia sudah terlanjur sakit hati. Perasaannya sudah mati beberapa saat lalu ketika kakaknya yang cukup ia hormati tega menjualnya. Pasti, pasti bukan hanya kakaknya, pasti semua ini persekongkolan dengan semua anggota keluarganya.
Betapa biadap keluarganya. Mereka pantas dilaknat Tuhan. Mereka pantas dilaknat oleh seluruh alam semesta.
Kemudian, tanpa menghitung seberapa lama waktu berjalan, kurungan Rowland diangkut oleh orang-orang berbadan besar. Mereka dibawa ke sebuah aula luas dengan banyak sekali orang-orang berjubah dan bertopeng. Semuanya membawa cawan perak, seolah-olah menunggu diberi sesuatu.
Anak-anak di dalam kurungan dikeluarkan satu persatu, tubuh dirantai di sebuah tiang besar, berjubelan dan berdempetan. Akibatnya, napas Rowland terasa begitu sesak. Sekadar bergerak untuk menyamankan diri pun tak bisa.
Setelah selusin anak terantai kuat di tengah-tengah aula, orang-orang bertopeng mulai datang mendekat. Mereka berjalan mengitari anak-anak yang menggeliat, cawan diletakkan di depan d**a dengan hikmat, puji-pujian pun dilantunkan secara serempak.
Usai tiga putaran, seorang pria bertopeng lepas dari formasi, mendatangi anak-anak yang sudah menangis pasrah tanpa bisa meronta. Pria itu membawa belati, sangat mengilap dan tampak tajam.
Benar saja, belati yang terlihat agung itu dipakai untuk menyayat satu demi satu leher anak-anak yang terikat di tiang. Setiap satu leher tergorok, beberapa orang akan menadahi tetesan darahnya, mengumpulkan ke dalam cawan yang sudah mereka jaga segenap jiwa. Saat satu cawan terisi penuh, pemiliknya akan langsung meminumnya dengan rakus. Lalu puji-pujian kepada dewa mereka dilantunkan dengan teriakan dan lolongan.
Benar-benar menakutkan, menjijikkan, sangat tidak masuk akal.
Pada awalnya, Rowland memang sudah kehilangan daya hidupnya, sudah pasrah dengan semua yang mungkin akan terjadi pada dirinya yang tidak berharga.
Sayangnya, setiap kali ia melihat satu anak digorok, setiap kali itu pula rasa takutnya mulai kembali mendera. Semakin lama semakin menakutkan, semakin lama semakin membuatnya gemetar.
Hingga ketika tiba gilirannya, Rowland benar-benar tidak lagi bisa menggerakkan lagi tubuhnya. Akan tetapi, saat dipikirkan lagi, mengapa ia menjadi ketakutan begini? Untuk apa merasa takut? Jika mati, maka hidupnya yang tragis dan penuh duka akan segera berakhir. Dia merasa tidak banyak berbuat dosa, pasti akan mudah masuk surga, pasti Tuhan memiliki banyak belas kasih ketika ia sudah tiada.
Namun, di sisi lain, ia masih memiliki cita-cita. Meskipun hanya satu, tapi ia sangat ingin mewujudkannya.
Ia … ia ingin bersama Yurilian. Menjalin kehidupan yang bahagia layaknya pasangan dalam novel romansa. Bahkan … bahkan jika hanya menjadi teman pun tak mengapa, asal selalu bersama Yurilian selamanya.
Untuk bersama Yurilian, Rowland tidak boleh hanya sekadar hidup seadanya. Dia harus menjadi pria yang tampan, yang pantas untuk Yurilian di masa depan. Dia harus memiliki gelar yang tinggi, harus memiliki harta lebih banyak dibanding raja sekali pun. Dia harus memiliki segalanya, segalanya untuk bisa memiliki satu-satunya harta paling menakjubkan di dunia.
Oleh sebab itu, dia tidak boleh mati di sini. Tidak boleh mati sia-sia hanya untuk menjadi tumbal penganut aliran setan.
Itulah mengapa, ketika pria bertopeng mulai perlahan mengiris leher Rowland, ia pun mulai berdoa. Berdoa pada siapa pun yang dapat mengabulkan permintaannya dengan cepat dan jelas. Tidak peduli entah itu entitas suci atau hina. Rowland akan menyerahkan semuanya demi bisa kembali melihat Yurilian.