RED - 28 : Looking

1847 Kata
Kerusakan 28 Ketika membuka pintu kamar yang seharusnya ditempatinya bersama Opal, Loqestilla tidak menjumpai Opal di sana. Meskipun suasana sudah sangat ramai karena hampir semua pelayan yang mendampingi para bangsawan sudah tiba, tapi kehadiran Opal seolah lenyap begitu saja. Di mana temannya itu berada? Mengapa tidak menunggunya jika ingin pergi ke suatu tempat? Namun, bau ini …, “Bau darah.” “Maaf, permisi kakak-kakak sekalian. Apa kalian melihat temanku yang berambut ikal seleher?” Pelayan yang lain melihat Loqestilla sekilas, tapi mereka kemudian berpura-pura seolah tidak melihatnya. Beberapa tampak gugup, tapi beberapa yang lain memang tidak begitu peduli. Loqestilla pun mengambil napas panjang. Ia maju sekali lagi, mendatangi seorang gadis berkacamata yang sedari tadi melirik-lirik padanya. “Apa kakak tahu, ke mana temanku pergi?” Gadis berkacamata menggeleng cepat. “Tidak, aku tidak tahu, jangan tanya padaku.” Menyipitkan mata, Loqestilla semakin mendekat ke tempat si gadis kacamata. Dengan cepat, ia mencengkeram kedua pipi gadis itu memakai satu tangannya, sedangkan tangan lain yang mulai tumbuh cakar, diarahkan tepat ke mata di balik kacamata. “Aku sedang tidak ingin berbaik hati,” ucapnya dengan suara rendah dan terdengar mengancam. Air mata si gadis kacamata pun sudah hampir jatuh ke pipinya. Sambil bergetar, dia menjawab gugup, “Temanmu di-dibawa pergi oleh pelayan Lady Amy.” “Pelayan Lady Amy?” Seseorang pun menyahut. “Dia wanita pelayan yang tadi sempat bertengkar denganmu.” Loqestilla menoleh, melihat seorang gadis pelayan lainnya yang tampak asik duduk di ranjang. Oh, rupanya salah satu dari dua gadis asing yang tadi menonton pertunjukan antara dirinya dengan seorang gadis pelayan menyebalkan. “Begitu ya.” Loqestilla melepas cengkeramannya dari pipi gadis berkacamata. “Terima kasih banyak, Nona. Tapi, apakah Anda tahu ke mana teman saya dibawa?” Yang ditanya pun menggeleng. “Aku tidak tahu. Tapi sepertinya temanmu dalam masalah. Ada baiknya kau cepat menemukannya.” Loqestilla mengangguk kecil. “Terima kasih banyak. Saya permisi.” Tanpa menunggu lama, Loqestilla pun pergi lagi. Disusurinya lorong-lorong rumah Duke of Clemente. Ada banyak lorong dan taman yang sangat besar dan membingungkan, Loqestilla tidak tahu mana jalan yang benar. Bahkan mungkin ia tidak yakin bisa kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, yang menjadi acuannya kini hanya aroma darah samar yang terus menari-nari di udara. Sebenarnya, ia sudah mencium aroma ini sebelum sampai kamar, tetapi di dalam kamar pelayan, bau yang sedikit amis dan masih segar lebih terasa di hidungnya. Ia tidak tahu apakah itu bau darah Opal, tapi entah mengapa firasatnya cukup buruk dengan hal ini. Saat sampai di taman belakang yang lebih sepi daripada taman lainnya, Loqestilla memfokuskan penciumannya. Tidak disangka, seseorang segera tertangkap matanya. “My Lord!” panggilnya dengan suara cukup keras. Di bawah pergola yang panjang dengan hiasan tanaman merambat, ada Neuri yang dari tadi seperti panik dan berusaha berjalan secepat mungkin. Saat mendengar teriakan Loqestilla, Neuri berbalik. “Miss Loqestilla!” sahutnya. Cepat-cepat, Loqestilla pun menghampiri Neuri. Ia berlari-lari kecil seraya menyingsing roknya. “Lord Neuri, saya mencari Opal,” ujarnya tanpa basa-basi. Neuri mengangguk. “Ya, aku juga sedang mencarinya. Samar-samar ketika sampai di taman ini, aku mencium aroma darahnya. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya.” Loqestilla mengangguk sangat kencang. “Ada, ada yang terjadi. Sepertinya seseorang membawanya. Saya tidak menemukannya di kamar pelayan.” “Aku bisa mencium darahnya dengan lebih akurat. Ikut aku.” Neuri berjalan lebih dulu, Loqestilla mengikuti. Cukup lama mereka mencari-cari keberadaan Opal, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat sepi yang berada cukup jauh dari rumah utama. Seperti rumah para bangsawan lainnya, selain memiliki taman yang luas tidak terkira, di dekat rumah Duke of Clemente juga terdapat hutan pribadi yang selalu dijaga oleh seseorang yang dipercaya. Benar saja, di jalan masuk utama hutan, ada seorang kakek tua berpenampilan lusuh yang duduk terpekur sambil meminum bir. Tidak mau mengambil risiko, Neuri dan Loqestilla pun tidak lantas memasuki hutan. . Di balik pepohonan taman, Loqestilla dan Neuri berdiri berdampingan, mata sama-sama memandang ke jalan masuk hutan dan seorang pria tua yang sedang bermalas-malasan di sana. “Apa orang itu akan mengizinkan kita masuk ke dalam sana?” tanya Loqestilla seraya sesekali melihat sekitar, mencoba mencari jalan alternatif. Di sampingnya, Neuri menjawab cepat, “Tidak.” Loqestilla mengangguk mafhum. “Sepertinya begitu. Terlebih, di sekitar hutan tampaknya juga dipasangi sihir pendeteksi.” “Benar. Bangsawan selalu melakukan hal itu untuk melindungi wilayah hutan mereka.” “Lord Neuri tidak melakukannya.” Neuri tidak menjawab segera. “Keluargaku tidak ada yang pernah punya hubungan dengan penyihir.” “Bahkan penyihir dari kuil?” “Ya.” “Tapi Lord Neuri bisa berubah menjadi ….” “Miss Loqestilla, fokus pada tujuanmu.” Cepat-cepat Loqestilla membungkam mulutnya sendiri menggunakan kedua telapak tangannya. Ia mengangguk-angguk, menurut seperti tupai yang diberi kacang. “Lalu, bagaimana kita akan mencari Opal ke sana?” tanya Loqestilla lagi. Neuri diam sejenak, ia memandang Loqestilla intens dan tampak menemukan solusi yang dianggapnya cukup baik. “Miss Loqestilla, coba terbanglah ke sana. Aku akan mengalihkan perhatian kakek tua itu. Sihir pendeteksi biasanya dipasang hanya di bagian bawah, tapi tidak untuk bagian atas.” Loqestilla mengangguk-angguk. “Saya mengerti,” ujarnya. “Pergilah ke sisi lain, aku akan ke tempat kakek itu.” “Yes, My Lord.” Setelah itu, Neuri langsung melangkahkan kaki, mendekat ke pintu masuk hutan yang dijaga seorang lelaki tua. Sedangkan Loqestilla berlari cepat ke tempat lain, mencoba mencari lokasi yang pas supaya ia bisa terbang dan menghindari pandangan orang lain. Di tempat yang sepi, dan tidak satu pun terdengar suara kaki maupun napas seseorang, Loqestilla mengumpulkan angin di kedua kakinya. Semakin lama, angin yang terkumpul seolah membentuk putaran tornado, lalu angin tersebut mengangkatnya tinggi ke atas. Kedua tangan Loqestilla terentang, dan angin yang kuat juga berkumpul di masing-masing lengannya. Seolah memiliki sebuah sayap, Loqestilla mengepakkan lengannya, dan sayap-sayap transparan itu benar-benar mengepak seperti burung-burung di angkasa. Loqestilla terbang, melesat dengan cepat ke arah hutan. Matanya sempat melirik Neuri yang berbincang entah apa dengan kakek tua penjaga hutan, tapi ia segera mengabaikan hal itu. Usai terbang cukup jauh, Loqestilla turun perlahan ke dalam hutan. Angin yang mengelilingi tubuhnya memudar dan menyisakan sepoi-sepoi yang lembut. Di dalam hutan yang lebat dan hampir gelap, Loqestilla mengendus-endus seperti anjing hutan. Dicarinya aroma darah di sekitar. Tapi, cukup banyak aroma darah yang dapat tercium olehnya, dan Loqestilla tidak tahu yang mana milik Opal. Dia tidak seperti Neuri yang mampu membedakan darah orang lain, sehingga cukup membuatnya kesulitan ketika mencari darah dari orang tertentu. “Mungkin aku harus belajar dari Lord Neuri untuk hal yang satu ini,” gumamnya pelan, bermonolog. Cukup lama Loqestilla mengendus-endus, dan langkah kakinya membawa semakin dalam masuk ke hutan. Langit semakin gelap, Loqestilla mendongakkan kepala ke atas, memandang ke angkasa yang tampak berkerlap-kerlip. “Sudah malam.” Ia pun menghela napas panjang. Dalam hati sedikit resah karena tak kunjung menemukan Opal. Sejak tadi ia melangkah ke sana - ke mari, mencari jejak darah yang bisa terendus hidungnya, tapi yang ditemukan hanya hal-hal ringan seperti hewan yang terluka, atau darah yang hampir mengering. Akan tetapi, di dalam hutan yang gelap, dari jauh tampak samar sebuah siluet bangunan. Siluet itu terlalu rapi untuk sebuah bukit atau pepohonan, jadi Loqestilla menyimpulkan, mungkin saja itu sebuah rumah. Cepat-cepat ia berlari ke arah siluet tersebut. Hidungnya pun semakin dalam merasakan aroma yang menggebu-gebu. Aroma darah segar yang begitu menakjubkan. Ah, Loqestilla menggelengkan kepalanya berkali-kali. Jika itu darah Opal, ia seharusnya tidak merasa senang saat menghirupnya. Betapa tidak tahu malu. Jika Lord Neuri tahu, dia pasti sudah dimarahi. Ia harus bisa membedakan mana darah yang perlu disyukuri dan tidak. “Aku benar-benar seorang amatir,” gerutunya, merasa payah dan malu pada diri sendiri. Setelah beberapa saat, Loqestilla akhirnya sampai di depan bangunan yang tampak kusam dan hitam. Bangunan tersebut mirip sebuah rumah, tapi seperti lama tidak ditinggali karena di bagian bawahnya sudah tumbuh lumut-lumut tebal. Bahkan tanaman merambat juga tumbuh subur, seolah ingin membungkus rumah tersebut secara perlahan. Loqestilla melangkah dengan mantap. Di depan pintu bangunan, ia mencoba untuk mengongkel gagangnya, tapi tidak berhasil. “Dikunci, ya.” Ia pun menoleh ke sekitar, mencoba mencari jalan masuk lain yang ia rasa bisa dilalui dengan mudah. Namun, karena tidak menemukan apa-apa, dan jendela depan pun terlalu tinggi baginya, ia akhirnya memilih untuk menghancurkan pintu depan tersebut dengan sabetan angin andalannya. Meskipun ia bisa terbang, tapi cara itu sangat menyulitkan, dan membutuhkan banyak sekali energi. Ia tidak ingin terbang lagi untuk saat ini. Setelah menghancurkan pintu, Loqestilla buru-buru masuk ke dalam, mengendus lagi dan lagi. Untung saja, rumah terbengkalai ini cukup kecil, sehingga tidak butuh waktu lama bagi Loqestilla untuk menemukan Opal. Di sebuah kamar yang kosong melompong, Loqestilla akhirnya menemukan Opal yang tengah meringkuk di lantai seraya merintih-rintih. Mata Loqestilla membuka lebar, tidak percaya bahwa temannya yang setia dan baik hati menderita seperti ini. “Opal!” panggilnya. Didekatinya Opal, lalu dengan cekatan ia mengecek tubuh Opal yang penuh luka cambukan dan goresan. Hal yang paling memilukan, di pipi kanan dan kiri Opal, terdapat sayatan yang cukup dalam. Tampak rapi dan disengaja. “Opal … Opal … siapa yang berani melakukan ini padamu?” “Miss-Miss Loqestilla ….” Opal mencoba berbicara, tetapi tubuhnya lemah dan terasa sakit di seluruh bagian. “Tahan, tahan sebentar.” Loqestilla mengambil sesuatu di kantung gaunnya. Itu adalah sebuah cepuk obat yang sama, yang pernah ia berikan pada murid-muridnya dulu. Obat itu dari Opal, dan kini Loqestilla mengembalikan obat itu pada pemberinya. Dengan lembut dan hati-hati, Loqestilla mengolesi luka-luka Opal dengan obat yang di tangannya. Ia juga menggunakan sapu tangan yang selalu dibawanya untuk mengelap darah yang masih basah di tubuh temannya. “Miss Loqestilla … wanita pelayan itu, dia bisa melakukan hal ini pada saya. Miss Loqestilla juga … juga berhati-hatilah padanya. Ia dan majikannya ….” “Lady Amy? Majikannya bernama Lady Amy, bukan?” Opal mengangguk. “Tidak masalah. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Hal ini bisa kuurusi sendiri. Sekarang, aku akan mengantarmu pulang saja.” Mata Opal terbelalak. “Tapi, Miss Loqestilla akan sendiri di sini. Tempat ini berbahaya … para lady itu, bisa melakukan apa saja pada Anda.” Loqestilla menggenggam tangan Opal dengan sangat lembut. “Opal, kau tahu, tidak ada yang bisa menyakitiku di sini. Lord Neuri akan melindungiku. Sama seperti dia yang mencarimu saat kau terluka.” “Lord Neuri mencari saya?” “Ya, dia yang membimbingku sampai ke sini. Kami berbagi tugas untuk mencarimu.” Mata Opal yang bulat dan lembut mulai berkaca-kaca. “Beliau adalah orang yang baik. Beliau selalu menjadi orang baik. Miss Loqestilla … jika bisa, jika bisa tetaplah berada di sisi Lord Neuri. Beliau … selalu butuh teman bicara yang memadai.” Loqestilla mengangguk. “Ya. Aku akan selalu berada di sisinya.” Bibir Opal melengkung ke atas tanpa dapat ditahan. Rasanya, ia ingin sekali memeluk Loqestilla, tapi terganjal keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan. Ah, sangat tidak menyenangkan. “Aku akan membawamu pergi dari sini. Pulanglah ke Lunadhia dengan kereta kuda. Biarkan dokter di sana yang merawatmu. Apa kau bisa bertahan selama beberapa jam di jalan?” Opal mengangguk. “Saya bisa.” . TBC 27 Juni 2020 by Pepperrujak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN