Nancy mendengus kesal. Ia minta dipulangkan, akan tetapi si pria yang belum ia ketahui namanya itu malah membawa dirinya ke tempat yang cukup berbahaya. Tebing yang mengarah langsung ke laut lepas dan hanya sinar rembulan berpadu dengan gelapnya malam.
Nancy keluar dari mobil dan menyandar di bagian depan mobil sambil bersedekap d**a. Ia tidak mau melakukan hal konyok seperti pria di depannya. Diam bersama desir angin menanti pria itu ritual. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan pria itu, jadi ia berinisiatif sendiri jika pria itu sedang melakukan ritual. Mungkin ritual membuat dirinya takut. Bukankah film dengan dunia nyata tidak jauh berbeda, jadi itu hanya kesimpulan yang di dalam otak Nancy saat ini
“Heh! Pria bodoh. Mantra apa yang kau baca?” seru Nancy lantang.
Diego yang sangat menikmati desir angin laut menerpa dirinya, tersentak dan terpaksa harus membuka mata. Ia baru sadar jika dirinya tidak datang sendirian, melainkan bersama gadis cerewet yang sangat menjengkelkan. Ia menghembuskan nafas kasar lalu membalikkan badan.
“Kau pikir aku paranormal,huh!” sembur Diego tak terima.
“Hanya menebak. Lagi pula buat apa kau melakukan hal seperti itu? Kau butuh angin, sini! Aku masukkan angin lewat pompa ban,” ucap Nancy enteng.
“Tebakkanmu itu konyol dan tak masuk akal. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Tuan Edruze memiliki anak sepertimu.”
Kedua mata Nancy melotot mendengar makian yang dilayangkan Diego padanya. Selama ini tidak ada satupun yang berani mengatai dirinya. Semua yang mengenal dirinya cenderung takut. Tapi pria di depannya ini terlalu berani menyulut api dalam dirinya. Nancy menghembuskan nafas kasal, lalu menegakkan tubuhnya dan melangkah mendeka Diego. Mungkin satu pukulan lagi atau berkali-kali.
Diego tetap berdiri di tempat. Ia memperhatikan gadis yang melangkah kepadanya. Dalam hati ia tertawa sinis, semoga dugaannya tidak melesat.
Buugg
Kepalan tangan Nancy melayang ke arah wajah Diego. Belum sempat menyentuh kulit Diego, tangan itu sudah ditangkap terlebih dahulu oleh Diego. Sebelah tangan Diego menarik pinggang ramping Nancy. Tubuh mereka menempel tanpa jarak,
“Sudah ku katakan, kau ini wanita. Kenapa senang sekali memukulku,” ucap Diego.
Gerakan tangan yang menarik tubuh Nancy hingga wajahnya membentur d**a bidang Diego, sontak membuatnya menahan nafas beberapa detik. Niat hati ingin memukul malah terperangkap dalam dekapan. Wangi parfum mint dan menthol masuk ke indra penciuman, wangi yang segar dan membuat siapapun betah untuk berlama-lama dalam dekapan.
Tidak berbeda jauh dengan Diego. Wangi Fruity yang menyegarkan rongga hidung, membuat Diego semakin betah untuk terus mendekap. Wangi yang unik dan aneh bagi Diego. Ia sering berganti ratusan wanita dengan bermacam bau parfum, tapi tidak satupun yang memiliki wangi sama seperti wanita dalam dekapannya ini. Kalau wanita lain akan lebih menyukai aroma bunga atau aroma manis seperti permen, berbeda dengan wanita ini. Diego tersenyum kecil, sambil menikmati wangi fruity yang segar.
Saat otak waras Nancy kembali, ia harus cepat-cepat menarik diri dari dekapan pria asing. Jangan sampai tingkah laku yang terjadi sekian menit diketahui dan berakhir dirinya diejek.
“Lepaskan aku! Sialan!” Nancy meronta dalam dekapan Diego.
Diego yang masih menikmati titik ternyamannya, harus tersentak karena gerakkan perlawanan dari gadis yang ia dekap erat. Sungguh, ia tidak ingin mengakhiri ini terlalu cepat. Senyum miring tersungging di bibir Diego. Ia membawa tubuh Nancy mundur beberapa langkah, ia juga menulikan telinga saat Nancy berteriak untuk melepaskan. Tempat ini sepi dan jauh dari pemukiman warga, jadi aksinya tidak akan tersorot lampu atau bidikan lensa yang sangat ia benci.
Brukkk
Tubuh bagian belakang Nancy membentur bagian depan mobil. Tubuh Nancy terbaring di atas kap mobil dan Diego berada di atas tubuh Nancy. Diego terus menatap wajah Nancy yang tersorot sinar rembulan. Meski berada di bawah cahaya yang redup, sedikitpun tidak merubah kecantikan Nancy. Mata Hazel yang berkedip polos, menambah keindahannya berkali lipat.
Nancy terus mencoba menahan tubuh Diego yang saat ini menindihnya. Ia meletakkan kedua telapak tangan di d**a Diego untuk memberi jarak diantara mereka. Di usia yang cukup dewasa ini, sekalipun belum pernah berurusan dengan seorang pria. Apalagi berada di posisi seperti sekarang. Pria dalam hidupnya selama ini hanya kakak dan Migael. Kehidupannya hanya ia habiskan untuk berlatih bela diri, menembak dan rutin mengikuti balap liar bersama sahabatnya. Mengoleksi mobil modifikasi dari hasil balapan, hobi terpentingnya saat ini.
Kedua mata polos Nancy menatap kedua mata biru yang berada tepat di depan wajahnya dengan jarak beberapa senti saja. Pandangannya beradu dengan mata biru itu dan semakin tenggelam.
“Aww” pekik Nancy
“Berhenti berpikiran buruk kepada orang lain,” ucap Diego sambil menyentil jidat Nancy pelan.
Ia bangun dari atas tubuh Nancy. Melihat wajah polos Nancy semakin membuat Diego pusing. Kecantikkannya bisa membius siapapun, termasuk dirinya yang hanya bertemu dua kali. Salah. Ia selalu terbius oleh kecantikkan wanita. Tapi untuk dua kali juga ia masih terbius. Itu tandanya, ada bagian yang rusak di dalam dirinya. Ia kembali berbalik menatap lautan lepas lagi. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana. Pandangannya menatap jauh. Menatap sesuatu yang tidak bisa ia jangkau sambil menggeleng pelan untuk menepis sesuatu yang tidak seharusnya ada.
“Dasar! Pria tidak waras.” Gumam Nancy pelan sambil bangun dari posisinya terbaring.
“Ini adalah tempat kesukaanku jika aku berkunjung ke negeri ini,” seru Diego tanpa membalikkan badan.
Nancy mengangkat kedua alisnya, lalu melangkah mendekat Diego yang masih setia menatap rembulan. Ia berhenti tepat di samping Diego dan melipat kedua tangan di depan d**a. Ia merasa seru juga menatap rembulan yang melingkar sempurna. Bayangan dan cahayanya memantul di atas air laut yang terlihat tenang.
“Apa kau bukan asli warga sini?” tanya Nancy dengan suara normal.
“Ya. Aku kewarganegaraan Amerika. Lebih tepatnya California. Pekerjaanku yang mengharuskan diriku berkeliling dunia,” jawab Diego santai. Keadaan keduanya sudah mulai mencair.
“Pekerjaan? Kau, memiliki hubungan bisnis dengan keluargaku?” tanya Nancy beruntun.
“Tentu saja. Aku mengenal orang-orang penting di seluruh dunia,” jawab Diego lagi.
“Waow. Kau tahu, sebenarnya aku tidak menyukai dunia bisnis. Aku lebih menyukai balapan dan ring,” ungkap Nancy.
“Benarkah? Aneh.” ucap Diego heran.
“Uang tidak bisa menukar kebahagian” ucap Nancy.
Kalimat yang Nancy utarakan menambah poin lebih penilaian Diego. Ia selalu berkeliling dunia dan menjumpai banyak wanita berbagai umur. 99% para wanita atau gadis dari keluarga terhormat, akan lebih senang liburan, belanja barang-barang mewah, pesta, tentunya pria tampan. Meski Diego sendiri seorang penjelajah wanita, tapi ia akan hanya tidur dengan wanita berkarir, partner kerja, anak atau sepupu dari rekan kerja. Alasan dirinya memilih dengan wanita itu karena para wanita karir atau wanita yang berkelas, hanya akan memilih teman tidur daripada hubungan resmi yang dinamakan pernikahan.
Malam ini, Diego dikejutkan dengan sesuatu yang luar biasa. Putri seorang profesor sekaligus pebisnis yang sukses, tidak menyukai sesuatu yang biasa wanita kaya umumnya. Menakjubkan bukan. Mempertaruhkan nyawanya di lintasan balap karena hobi. Melibatkan diri ke dalam dunia gelap karena dianggap lebih seru dan menantang. Ia pikir wanita seperti itu hanya ada dalam film saja, ternyata di negara kesukaan ayahnya ada wanita seperti itu.
“Pasti uang ayahmu semakin menumpuk. Orang yang seharusnya menguras menjadi pembendung,” ucap Diego bercanda.
“Hahahaha...” tawa Nancy pecah mendengar lelucon kecil yang Diego lontarkan.
“Kenapa kau tertawa? Aku tidak lagi membuat lelucon,” ucap Diego sambil menoleh ke samping, tepat Nancy berdiri.
“Tidak semua anak orang kaya menghamburkan uang. Mereka hanya menghibur diri untuk menyejukkan diri dari penjara yang dibuat orang tua mereka,” ucap Nancy memberi pngertian.
“Penjara?” ulang Diego memastikan ucapan Nancy. Bagaimana ia tidak tahu dengan tindakkan kriminal itu.
“Iya. Aku dan sahabatku juga merasakan hal sama. Jika aku bisa mengikuti balap liar, tentu karena bantuan sahabat kakakku.” Jelas Nancy.
“Kau memiliki saudara?” tanya Diego baru tahu.
“Kakak kandung dan sebentar lagi aku coret dan menjadikannya kakak tiri.” Ucap Nancy kesal.
“Adik durhaka,” Maki Diego.
“Aku. Bukan kau. Jadi gak peduli, dan bodo amat.” ucap Nancy penuh rasa kesal.