Dibawa Kabur

1356 Kata
Nancy mulai panik karena jalan yang dilalui, samping kanan dan kiri hanya pepohonan yang menjulang tinggi. “Siapa yang tertarik dengan gadis preman sepertimu,” ucap Diego sinis. Jujur, dalam hati ia sangat tertarik. Wajah cantik alami, hidung mungil yang mancung, serta bibir tipis yang sexy. Ciptaan tuhan yang sempurna. Baru pertama kali Diego menemukan seorang wanita yang hampir memenuhi syarat kriteria seperti ia inginkan. Satu minggu lalu ia melihat wajah alami tanpa polesan, tapi malam ini ia sangat terpana karena gaun sexy yang melekat serta polesan make up yang tipis tapi sangat pas untuk wajahnya. Hanya tingkah laku seperti brandal saja, untuk yang lain tidak ada. Semoga saja ia terus waras agar tidak menerkam gadis belia yang duduk di sampingnya. Wajah polos ketakutannya sangat menggemaskan di mata Diego. Ia pun memilih fokus ke jalan. “Benarkah? Ciri-ciri pria pemangsa selalu berkata seperti itu,” sindir Nancy sambil mencondongkan tubuhnya pada Diego. Ia tidak tahu jika ucapannya tadi benar-benar menyentil hati Diego. Tubuh Diego menegang,tapi hanya sekilas. Ia tahu, apa yang di ucapkan Nancy. Kata yang keluar begitu saja dari mulut Nancy memang benar adanya. “Sial! Bagaimana ucapannya itu bisa tepat. Mungkinkah dia cenayang?” batin Diego menebak hal konyol. “Aku bisa terkena pasal berlapis jika memperkosamu. Astaga! Bagaimana bisa aku bertemu dan bermasalah dengan gadis brandal sepertimu,” desis Diego sambil menatap Nancy sekilas. Selanjutnya ia menatap jalan kembali. “Baguslah jika sadar,” ucap Nancy. Di dalam hati ia lega. Mereka terdiam, saling menyelami pikiran masing-masing. Tidak ada lagi sesuatu yang bisa dijadikan bahan untuk berdebat. Untuk saat ini, Nancy cukup diam dan menatap jalan yang gelap. Setidaknya, ia harus menyimpan tenaga. Bahaya tidak ada yang tahu kapan waktunya, apa lagi saat ini ia bersama pria yang masih menyimpan dendam. Ia tahu bagaimana kehilangan sesuatu yang sangat disayangi. Mobil yang dirampas Elvrince juga bukan mobil sembarangan. Modifikasi yang tak jauh berbeda dengan mobil milik sang kakak yang ada di beberapa negara. Selain itu, puluhan ribu dollar pasti sudah mengucur dari dompet pria itu untuk membiayai modifikasi yang tidak murah. Asik menyelami pemikirannya yang terus berlari ke segala arah, ia bahkan tidak menyadari jika mobil yang ia tumpangi telah berhenti. Suara pintu yang tertutup menyadarkan Nancy dari lamunannya. “Dimana ini? Astaga! Pria itu sepertinya akan bertindak kurang ajar kepadaku,” gumam Nancy sambil melihat area sekitar yang tampak sepi. Hanya minimarket dan pom bensin yang berada diseberang jalan. Ia menimbang bimbang, ingin kabur tapi mau kabur kemana? ponselnya jelas-jelas tertinggal di hotel. senjata untuk berlindung sudah di rampas oleh pria itu. Tempatnya saat ini juga jauh dari pemukiman warga. Jadi percuma saja ia kabur. Ia juga tidak mu menjadi santapan Srigala dan mati konyol. Nancy menghembuskan nafas pasrah. Biarlah takdirnya berjalan apa adanya malam ini. “Kau tidak mencoba untuk kabur?” ucap Diego dari jendela samping Nancy. Sontak Nancy menjerit karena terkejut. “Aaaakkkk.....” Diego tertawa sangat keras. Ia sampai mengeluarkan air mata karena merasa puas telah membuat Nancy menjerit kaget. sejak dari seberang ia keluar minimarket, ia melihat Nancy yang gelisah sambil berpikir sesuatu. ia juga sangat yakin jika Nancy berpikir akan kabur dan ternyata dugaannya benar. Gadis seperti Nancy akan berpikir panjang lebar untuk kabur di tempat seperti ini. Sepanjang perjalanan tadi, Diego telah memikirkan kemana akan ia singgahi. Tetapi, minimarket yang tidak sengaja ia lihat membuatnya berhenti untuk membeli sesuatu yang mungkin akan ia dan gadis bersamanya akan membutuhkan. Hanya beberapa minuman dan makanan kecil untuk mengisi perutnya. Jujur, ia tai belum sempat makan apa-apa di hotel, hanya satu sendok Cheese cake yang ia lahap dari piring gadis preman ini. Diego kembali masuk ke dalam mobil, tawanya belum reda meski sudah beberapa menit. “Kau! Pria paling gila dan satu-satunya pria gila yang aku temui di muka bumi ini!” teriak Nancy kesal di dalam mobil. Diego kembali tertawa keras. Wajah merah karena kesal dan tatanan rambut yang tak lagi rapi, semakin membuat Nancy terlihat menggemaskan di mata Diego. Rekor terbaru untuk dirinya. Hari ini, ia merasa sangat senang dan puas telah membuat gadis preman merasa kesal. Rasa kesal seminggu yang lalu sudah terbalaskan. Soal mobil, sebenarnya ia masih tidak terima. tapi ia sadar jika balapan seperti itu juga harus merelakan mobil kesayangannya diambil. Jika tahu ia kalah, tentu ia tidak akan membawa mobil itu. Tapi jika ia tidak memakai mobil itu, mungkin sudah menjadi abu di kilometer 25. Sejak lama Diego mengejar tahta Dragon light. Ia bisa masuk juga karena sahabatnya yang memiliki member. Bahkan untuk sekedar masuk saja harus menggunakan kartu khusus, apalagi terjun ke lintasan balap. komunitas itu terkenal sangat gila, tapi keuntungan menjadi member Dragon light juga sangat banyak. Siapapun yang menduduki tahta itu, tidak akan ada satupun kelompok gelap akan mencelakai. Jaringan dunia gelap di seluruh dunia telah bergabung dengan Dragon light. Komunitas itu juga pendistribusi senjata ke seluruh dunia dan dijamin keamanannya. Diego sendiri juga sangat kesulitan ketika mencoba menyegel peredaran senjata. Entah lewat apa mereka mengirim barang-barang ilegal itu. Ia juga berpikir untuk berdamai saja dengan gadis yang berada di sampingnya ini. Gadis ini sekarang adalah pemilik tahta itu, jika ia masih ingin melanjutkan misinya, ia juga harus menjalin kerjasama dengan gadis ini. “Siapa orang tuamu?” tanya Diego setelah tenang. Ia juga menjalankan mobilnya perlahan. “Kau tidak akan mengenalnya.” Jawab Nancy sewot. “Katakan saja! Aku perlu minta ijin sebelum membawa putrinya kabur,” ucap Diego memaksa. “Apa! Kabur! Kau sudah gila. Antarkan aku pulang saja!” teriak Nancy saat mendengar ucapan Diego tentang ‘kabur’. Diego menginjal rem mendadak hingga kepala Nancy terbentur dashboard yang ada di depannya. Nancy memekik lalu mengusap jidatnya. Seharusnya malam ini ia bersenang-senang dengan sahabat dan teman lainnya. Tapi pria ini sudah merusak malam bahagianya. “Tidak bisa. Cepat katakan!” perintah Diego mutlak. “Edr” jawab Nancy pelan. “Jawab yang jelas!” bentak Diego. Nancy tersentak “E-Edruze” jawab Nancy tergagap. Pandangannya tetap lurus ke depan. Diego meraih ponsel yang berada di dashbord. Ia mengetikkan nama yang disebutkan Nancy, setelah menemukan ia menekan tombol hijau dan panggilan itu terhubung ke earphone yang terpasang di kedua telingan Diego. “Selamat malam paman,” seru Diego setelah panggilan itu tersambung. “Malam. Ada masalah apa kau menghubungiku.” Jawab seseorang yang berada di seberang dengan suara dingin. “Saya membawa putri anda Tuan, ada hal penting yang perlu dibicarakan” Diego beralasan palsu. Nancy yang berada disamping Diego melebarkan kedua mata. Ia menoleh ke samping siap untuk menyembur Diego dan berteriak pada sang ayah bahwa yang dikatakan pria ini bohong. Belum sempat ia mengeluarkan kata dan baru membuka mulut, Diego sudah membungkam Nancy dengan telapak tangan besarnya. “Baiklah. Jika putriku lecet sedikit saja, akan ku copot jabatanmu saat itu juga.” “Dia akan aman bersamaku, Tuan.” Jawab Diego mantap dan meyakinkan. Setelah panggilan itu ditutup, Diego melepaskan tangan yang membungkam Nancy. Detik selanjutnya, Diego harus menerima bogem dari Nancy. Buugg “Aww...” teriak Diego. Ia tidak hanya mendapat bogem tapi kepalanya juga membentur pintu mobil dengan keras. “Rasakan!” ucap Nancy puas. Siapa yang menyuruhnya berbohong. Hello. Ia dan pria sialan ini tidak memiliki hubungan apapun atau proyek apapun. Tapi pria di sampingnya dengan mudah mengatakan ‘hal penting’ yang benar saja. “Kau sakit atau apa, huh!” bentak Diego. “Kau! Yang sakit!” balas Nancy tak mau kalah. Api diantara mereka mulai tersulut. Kedua mata mereka juga penuh dengan api permusuhan. Saling menatap tajam, seolah mangsa yang siap diterkam. Diego menghembuskan nafas kasar. Ia harus mengalah, lagi. Gadis belia di sampingnya tidak hanya kaya raya, tapi anak orang penting di negeri ini. “Sudahlah. Lupakan saja,” ucap Diego mengakihiri perdebatan diantara mereka. Diego menjalankan mobilnya kebali menuju tempat yang sudah sangat ia rindukan. Hanya membutuhakn 3-4 menit saja merek sudah sampai. Diego segera turun dari mobil dan melangkah le depan. Diego merentangkan kedua tangan dan menghirup dalam-dalam angin yang menyapa wajahnya. Suara deburan ombak yang menghantam tebing terdengar sangat menenangkan baginya. Tempat seperti inilah yang selalu membuat Diego melupakan semua permasalahannya dan beban yang berada di pundaknya. Sudah menjadi resiko untuk dirinya yang menjadi salah satu keamanan negara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN