Perdebatan Tanpa Ujung

1145 Kata
Diego menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Gadis yang memiliki suara melengking seperti petir, kini dihadapannya dan di depan matanya sendiri menyanyi dengan sangat indah. Lagu yang dia bawakan membuat si pendengar terbawa arus lirik. Dug Tendangan yang menghantam kakinya, menyadarkan Diego dari keterpakuan dirinya yang menatap cengo. Ia berdehem pelan dan menegakkan tubuhnya agat tidak terlihat seperti tertangkap basah.. Nancy tersenyum tipis dan sinis melihat Diego yang mengagumi dirinya. Sebelum lagu benar-benar habis, ia sengaja menendang kaki Diego. Wajah kaget yang terlihat sangat jelas, membuat Nancy ingin tertawa kencang. Ia akui, pria yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sangat tampan dan- sexy. “Astaga, sadarlah Nancy. Sejak kapan otakmu terisi pria, huh!” makinya sendiri dalam hati. Setelah ia bisa menguasai diri, Diego memukul not sehingga menimbulkan bunyi yang keras tak beraturan. Ia berdiri dari tempat duduk lalu menghadap Nancy dengan kedua mata nyalang nan tajam. Ia tidak mengerti apa yang diingkan gadis di depannya ini, seolah sengaja mencari gara-gara. Ayolah! Ia bukan pria remaja yang labil. Tapi sejak pertemuannya satu minggu lalu dan dipertemukan kembali disini, ia masih menyimpan dendam. Biasanya ia akan menyeret wanita manapun ke ranjang jika bertindak kurang ajar kepadanya. Sangat berbeda dengan wanita saat ini, mungkin sebelum masuk kamar sudah dipatahkan pusaka kesayangannya. “Apa maumu?” tanya Diego dingin sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Tidak ada,” jawab Nancy santai. Pandangannya menatap lurus ke arah mata Diego tanpa rasa takut apapun. Diego menghembuskan nafas pelan. Apa ia tidak salah dengar, baru beberapa menit wanita itu sengaja menendang. Sekarang mengatakan ‘tidak ada’ gadis ini benar-benar menguji kesabarannya. Saat ini ia akan mencoba damai dan mengalah, meski ‘mengalah’ dalam kamus hidupnya adalah sebuah pantangan, berbeda dengan kali ini. Ia akan melegalkan apa itu ‘mengalah’. “Lalu, kenapa kau menendangku?” tanya Diego pelan dan dingin. “Karena- aku ingin,” jawab Nancy enteng sambil melipat tangan di depan d**a. Cukup sudah Diego bersabar. Ia bukan tipe pria yang sabar dan berbasa-basi. Apa yang terjadi dengan ketampanannya malam ini, bukankah ia sangat tampan dan cukup untuk membius para wanita. Gadis di depannya memang kebal. Buktinya, wajah tampan dirinya tak mampu melumpuhkan hati gadis ini. “Kau.... aargghh” geram Diego sambil menunjuk, lalu meremas tangannya sendiri di depan wajah karena menahan amarah. Seluruh Diego memerah karena amarah yang ia tahan. Harga diri Diego seakan diremas lalu dihempaskan jauh oleh Nancy. Kedua kali ia permalukan di depan orang banyak. “Apa? Itu tidak sebanding dengan satu sendok cheese cake yang kau makan tadi,” desis Nancy tajam. “Dasar! Gadis perhitungan. Aku akan membayar 100x lipat!” ucap Diego lantang. “Kau! Mengataiku pelit!” teriak Nancy tak kalah lantang. “Aku tidak menyebutkan kata itu!” balas Diego dengan suara tinggi. Semua yang ada di aula diam sambil menyaksikan perdebatan yang terjadi. Anggap saja drama gratis. Mereka baru tahu jika Nancy si gadis berandal juga bisa berdebat. Selama ini yang mereka ketahui, Nancy pendiam dan tidak banyak bicara. Saat di sekolah, Nancy lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Berbeda dengan Elvrince sahabatnya yang lebih ramah. “Halah... kau! Jelas-jelas mengataiku perhitungan. Lalu apa bedanya? Sama!” teriak Nancy yang masing menggebu untuk menyaerang Diego, karena tidak terima dengan ucapan Diego. “Kau menuduhku! Aku mengatakannya untuk satu tempat dan satu waktu. Aku hanya satu sendok saja, sedangkan temanmu- merampas mobilku,” ucap Diego dengan suara yang tinggi, bahkan suara Diego sampai menggema. Siapa yang ingin mengalah untuk membela diri sendiri. Tentu sangat jarang. “Itu karena kau kalah!” jawab Nancy cepat dan lantang. Diego melirik kesekitar. Ia mengumpat dirinya berkali-kali. Ia lupa jika berada di tempat yang tidak tepat. Gadis yang berada di depannya terus saja mengoceh tanpa berhenti. Otak Diego berputar untuk mencari jalan agar perdebatan ini segera berakhir. Diego menarik nafas dalam-dalam lalu membuang pelan. Detik berikutnya ia menyambar tubuh Nancy dan memanggulnya seperti karung beras. Ia membawa Nancy keluar dari ruangan dan menjauh dari tempat pesta. Ia hanya takut jika ada seseorang yang merekam dan menggunggah ke sosial media, hingga wajah tampannya terpampang di berita harian. Jika itu terjadi, sudah ia pastikan akan mendapat omelan dari sang mama. Diego terus berjalan menuju ke parkiran tanpa menghiraukan teriakan Nancy sambil memukul punggungnya. “Hey! Turunkan aku! Dasar b******k,” maki Nancy sambil meronta di panggulan Diego. Sampai di mobil, Diego melempar tubuh mungil Nancy ke dalam. Ia mengunci otomatis terlebih dahulu selagi ia berputar agar Nancy tidak kabur. Begitu ia menempati bangku kemudi, ia menginjak pedal gas dengan cepat. Ia juga tidak keluar dari pintu utama, melainkan pintu samping. Pintu yang dikhususkan untuk orang-orang penting saja. Janga ditanya dari mana ia tahu, pemilik hotel telah memberikan denah rahasia dan mempercayakan dirinya untuk mengawasi. “Darimana kau tahu lorong ini?” tanya Nancy pada Diego yang terus melajukan mobil. “Bukan urusanmu,” jawab Diego sekiranya. “Kau penyusup!” teriak Nancy panik. Ia menyibak gaunnya ke atas hingga terlihat paha mulus Nancy. Kedua matanya membulat sempurna, karena benda yang ia cari telah hilang dari tempatnya. Sudah menjadi kebiasaan Nancy yang selalu membawa senjata kemanapun ia pergi untuk sekedar berjaga-jaga. Sedangkan Diego yang berada disamping harus meneguk saliva dengan berat, karena tidak sengaja melihat paha mulus milik Nancy. Pusaka kesayangan seketika bangun dan mencoba mendesak dibalik celana yang ia kenakan. ia menggeram pelan, sangat pelan hingga ia ingin tersedak karena menahan. ia mengumpat dalam hati berkali-kali karena jiwa primitifnya iba-tiba muncul disaat yang tidak tepat. Salahkan dirinya juga yang sangat menyukai muara wanita yang nikmat. “Benda itu sudah aku amankan,” ucap Diego datar. “Apa hakmu mengamankan barang milikku,huh! Cepat kembalikan!” pinta Nancy dengan membentak. “Kau belum cukup umur untuk menggunakan senjata,” ucap Diego datar. “Jangan asal bicara kau. Aku sudah cukup umur dan mahir menembak,” jawab Nancy cepat. Ia tidak terima ada orang yang meremehkan. “Tidak bisakah kau diam!” bentak Diego. “Tidak.” jawab Nancy cepat. “Berhenti!” bentak Nancy dan memerintahkan Diego untuk berhenti. “Terserah” seru Diego singkat. Ia tidak ingin lagi berdebat. Tapi, gadis yang duduk di sampingnya terus saja mengomel. Dia juga tidak segan memaki dan mengumpat dirinya. Sumpah serapah juga dia layangkan pada Diego. Diego lebih fokus ke jalan. Ia tidak tahu kemana ia akan pergi, tujuannya tadi hanya menyingkir dari keramaian. Tidak disangka jika ia mengemudikan mobil terlalu jauh dari perkotaan. “Hey! Kita mau kemana?” tanya Nancy dengan suara normal. Hatinya mulai berdebar tidak karuan. Jalan yang dilalui sudah jauh dari perkotaan. “Tidak tahu,” jawab Diego singkat. Ia hanya fokus pada jalanan agar tidak tersesat. Bukan ia tidak tahu jalan, tapi sudah sangat lama tidak berkunjung ke London karena jabatannya sekarang hampir menyita seluruh waktu bersenang-senangnya. “Kau akan mati mengenaskan, jika menyentuhku” ucap Nancy sambil menyilangkan tangan di depan tubuh bagian atas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN